
Menjelang sore hari mereka telah sampai di rumah Amaya. Dave memaksa ingin menginap di rumah Amaya daripada kembali menginap di rumah seseorang yang telah menolongnya kemarin.
"Pak Dave yakin? Tapi, di rumah saya cuma ada tiga kamar dan itu ... eem saya tidak bisa izinkan Pak Dave dan Pak Budi pakai salah satunya!"
Amaya menjelaskan keadaan rumahnya yang sederhana. Dia berharap Dave mengurungkan niatnya untuk menginap di rumah, walau ada nenek yang nanti akan tidur di rumah.
"Tidak masalah, May. Aku bisa tidur di ruang tamu. Pak Budi bisa tidur juga di ruang tamu atau di mobil saja!"
Amaya memperhatikan Dave dengan curiga. Merasa aneh kepada Dave yang begitu keras kepala menolak untuk menginap di penginapan. "Pak Dave mimpi buruk lagi?"
Dave hanya berdeham dan memilih duduk di sofa yang sudah tua. Bagian pinggirnya sedikit robek. "Jadi, aku boleh menginap di sini, kan, May? Setidaknya ada kamu, aku merasa tenang."
"Boleh!"
"Terima kasih, ya."
"Kalau gitu saya mau ke dapur dulu, mau masak. Pak Dave bisa mandi dulu, kamar mandinya ada yang di luar juga. Pasti keringatan setelah keliling!"
Dave bangkit berdiri, berjalan keluar menghampiri Pak Budi. Amaya tidak menyiakan waktunya, dia akan memasak sehingga saat neneknya pulang makanan sudah siap.
Saat sedang mengeluarkan bahan-bahan masakan, Amaya mendengar suara perempuan yang dikenalnya di luar rumah. Penasaran dengan yang terjadi, dia memutuskan untuk keluar.
Amaya melihat Dave yang sedang bicara dengan Tina dan ibunya. Dia memilih meninggalkan mereka, malas bertemu dengan mereka. Namun, Tina memanggilnya yang membuat Amaya menghampiri mereka.
"Dia tamu aku loh, Mbak, kok malah paksa menginap di sini?"
Sebelah alis Amaya terangkat, memandang Tina yang marah kepadanya dengan tatapan heran. "Maksudnya?"
"Huh. Mentang-mentang dia bos kamu makanya kamu paksa dia menginap di rumah kamu! Iya, kan?"
"Sudah saya bilang, besok kami akan kembali jadi agar gampang saya menginap di sini!" Dave membuka suara.
"Kamu dengar sendiri, kan? Mending kamu pulang, bawa ibumu sekalian!" usir Amaya, dia melirik sinis perempuan paruh baya yang sejak tadi terus saja memperhatikan dirinya.
Merasa kalah, Tina menghentakkan kakinya kesal. Dia menurut saja saat ibunya mengajaknya pulang.
"Aku tidak tahu kalian saling kenal!"
"Kami kerabat jauh, ibunya sepupu ibu saya!" jawab Amaya mencoba untuk tetap tenang. Tidak menyangka Tina akan bicara seperti itu kepada dirinya. "Jadi, semalam Pak Dave menginap di rumah mereka!"
"Iya, perempuan tadi yang memaksa untuk menginap di rumahnya. Dia bohong, bilang rumah kamu masih jauh!"
__ADS_1
Amaya mendengkus kesal. Dia harusnya tahu, Tina pasti akan melakukan itu. Dilihat dari sikap Tina saja sudah dapat ditebak jika dia menyukai Dave. "Baiklah, malam ini Pak Dave dan Pak Budi menginap saja di sini!"
***
Saat ini mereka berdua sedang duduk di teras rumah, ditemani sepiring pisang goreng dan kopi untuk Dave.
Beberapa saat Amaya memilih diam sambil memperhatikan langit malam, hanya sedikit sekali bintangnya. "Boleh tanya sesuatu?"
Amaya hanya mengangguk, tanpa mengalihkan pandangan pada bintang-bintang tersebut. "Apa hubunganmu dan ayahmu tidak baik?" Amaya menatap Dave dan mengangguk. "Ternyata benar. Tapi, apa yang terjadi sampai kamu seperti begitu menjauh darinya?"
"Pak Dave ingat ibunya Tina?"
"Tentu saja. Tante itu baik sekali, berbeda dengan anaknya yang membuat tidak nyaman. Tapi, ada apa?"
"Dulu, sebelum menikah ayah dan Bibi Nani pacaran. Sayangnya, Ayah memilih menikahi Ibu dan pindah ke kota. Tapi, setelah hampir tujuh belas tahun tinggal di kota kita memutuskan kembali tinggal di sini. Saat itu, mereka kembali bertemu dan ... yah, mereka menjalin kembali hubungan."
Amaya tersenyum tipis memperhatikan Dave yang mencomot pisang goreng dan memakannya lahap. "Ibumu tahu?" tanya Dave dengan mulut penuh pisang goreng.
"Tentu. Saya yang memberitahu Ibu karena sudah sangat muak dengan kelakuan Ayah. Ternyata mereka bukan hanya sekali saja melakukannya, setiap ada kesempatan mereka selalu melakukannya."
"Sudahlah, saya tidak mau membahasnya lagi!" Amaya bangkit berdiri. Dia memilih masuk rumah, tetapi dia kembali lagi. "Pak Dave bisa menggunakan kamar saya. Biar Pak Budi tidur di ruang tamu, atau terserah kalian saja!"
Amaya mengangguk. "Selamat malam!" Amaya lekas masuk setelah memberikan senyum perpisahan kepada Dave yang terlihat girang.
Dia masuk ke kamar neneknya yang sudah tertidur lelap. Menatap perempuan baya itu, Amaya begitu merasa bersalah. Dia sadar yang dikatakan neneknya benar, tidak seharusnya terus mendiamkan ayahnya sendiri. Namun, mengingat semua pengkhianatan yang membuat ibunya menderita sangat sulit untuk dirinya lupakan.
***
Amaya merasa terkejut saat melihat Dave yang masih tertidur di lantai kamarnya. Dia berjongkok, membangunkan Dave yang terlihat begitu nyenyak.
"Apa semalam mimpi buruk lagi?"
Amaya menyentuh lengan Dave dan menggoyangkannya perlahan, tetapi Dave yang begitu nyenyak sampai tidak terbangun juga. "Pak, bangunlah. Sudah pagi!"
"Neng Maya, Pak Dave baru bisa tidur subuh tadi!" Amaya menoleh ke arah pintu kamarnya. Ada Pak Budi di sana. "Semalaman Bapak temani Mas Dave begadang karena tidak bisa tidur!"
Amaya berdiri. "Apa karena mimpi buruk lagi, Pak?"
"Bukan, Neng. Mas Dave memang tidak bisa tidur. Katanya masuk kamar Neng Maya terus lihat foto-foto itu buat Mas Dave takut tidur!"
Amaya memperhatikan foto-foto yang dia tempel di dinding kamarnya. Dia menghela napas pelan lalu memperhatikan Dave yang tidur begitu nyenyak. "Ya sudah. Saya akan bersiap untuk kita kembali ke kota, Pak!"
__ADS_1
Sebelum keluar dari kamar, Amaya mengambil semua foto di dinding. Dia akan membuangnya. Dirinya merasa sudah tidak ada gunanya lagi foto-foto David terus pajang.
Dave pasti sangat sedih saat melihat foto David. Teman mereka yang juga korban perundungan dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di sekolah.
Amaya melewati tubuh Dave yang tidur di kasur lantai dan keluar untuk membuang semua foto tersebut.
"Kamu buang apa, Nduk?"
"Foto-foto Maya sama David, Nek! Maya tidak mau terus mengenang David!" Amaya tidak hanya membuangnya, dia juga membakarnya bersamaan dengan sampah-sampah.
"Kenapa kok sampai dibakar? Katanya David teman Maya yang paling baik? Mengenangnya boleh saja, Nduk, tidak ada yang larang!"
"Tapi, karena lihat foto ini ada yang sampai tidak bisa tidur, Nek. Maya tidak mau buat orang itu terus menderita. Kasihan!" ucap Maya sambil terus memperhatikan kobaran api yang makin membesar.
Dia akan memastikan jika foto-foto tersebut semuanya terbakar. "Siapa, Nduk? Dave?"
Amaya mengangguk. "Oalah, lah kok melas gitu toh. Apa dia teman sekolahmu juga waktu di kota?"
"Iya, Nek!" Amaya menjadi salah tingkah saat bertatapan dengan Dave yang telah bangun. "Pak Dave?"
Pria tersebut mendekati mereka. Tidak memedulikan penampilannya yang berantakan setelah bangun tidur. "Yo wes, Nenek masuk dulu mau matikan kompor!"
"Terima kasih, May. Tapi, kenapa kamu lakukan ini?" tanya Dave setelah sekilas menatap kobaran api yang mulai mengecil.
"Sudah cukup Pak Dave menderita. Saya ingin Pak Dave melupakan semuanya dan hidup dengan tenang."
Dave meraih tangan Amaya lalu mengenggamnya erat. Dia juga tidak segan mencium punggung tangan Amaya. "Apa aku boleh kepedean, May? Kamu lakukan semuanya karena kamu punya perasaan sama aku?"
Amaya menarik tangannya kasar. "Sok tahu!" Amaya menjadi salah tingkah. "Mending Pak Dave mandi dan kita balik ke kota!" Amaya meninggalkan Dave yang senyam-senyum sendiri melihat tingkahnya.
"May, kamu suka, kan, sama aku? Kamu masih cinta, kan, makanya kamu mau lakuin hal tadi?" Dave menyusul Amaya yang sedang membereskan kamarnya.
"May, jawab, dong."
"Saya tidak mau jawab pertanyaan Pak Dave sekarang!" jawab Amaya sambil sibuk melipat kasur lantai yang tidak Dave bereskan. Ingin sekali dia mengomeli Dave yang tidak bertanggung jawab itu, tetapi dia menahan diri untuk tidak melakukannya.
"Ya sudah, aku mandi dulu. Setelah itu kasih jawaban, ya!" Dave segera pergi meninggalkannya.
Amaya melirik ke tempat Dave tadi berdiri. Dia membuang napas kasar lalu duduk di ranjang. "Memang aku harus kasih jawaban apa?" gumam Amaya.
Dia sadar diri, meski memang masih menyimpan perasaan untuk Dave. Memiliki pria tersebut rasanya tidak pantas. Status sosial mereka teramat berbeda. Bagai langit dan bumi. Sulit disatukan.
__ADS_1