Dia, Amaya

Dia, Amaya
Jangan Menundukkan Kepala, May


__ADS_3

"Selamat, ya, akhirnya kalian menikah juga," ucap Amaya kepada Femi dan Leo. Akhirnya dia datang juga ke acara pernikahan mereka, setelah Dave membujuknya.


"May, maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk ...."


"Leo, apaan, sih! Dia itu bukan siapa-siapa kamu lagi!" tegur Femi yang terlihat kesal. Tidak peduli dengan para tamu undangan yang menunggu giliran untuk bersalaman. Dia beralih berdiri membelakangi Leo dan tersenyum sinis kepada Amaya. "Terima kasih karena sudah datang. Kamu tidak cemburu, kan?" tanya Femi sambil melirik Dave yang berdiri di samping Amaya.


"Tidak. Kalian serasi!" Amaya langsung menggamit lengan Dave untuk memamerkan kemesraan kepada mereka. Dia dapat melihat dengan jelas bagaimana Femi yang makin kesal.


"Syukurlah. Oh, ya, aku juga mau kasih tahu kamu kalau sebentar lagi kita akan punya anak!" bisik Femi dan berhasil membuat kebingungan pada Amaya.


"Hah? Maksudnya gimana?" Amaya memperhatikan Femi yang tersenyum senang sambil mengusap perutnya. Amaya langsung tertawa kecil. "Oh, astaga, kamu tenang saja karena aku sudah paham dan jujur saja aku malah bersyukur kamu bisa sama Leo! Kalian benar-benar pasangan serasi tanpa tahu malu."


Amaya langsung mengajak Dave untuk turun dari singgasana keduanya. Dia bahkan mengabaikan permintaan fotografer yang menyuruh untuk foto bersama dengan pengantin.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dave saat mereka sedang mengambil makanan di prasmanan.


Amaya menghela napas pelan. Dia menoleh ke belakang lalu tersenyum tipis kepada Dave. "Saya oke, Pak. Pak Dave tenang saja!"


"Aku harap kamu memang tidak menaruh rasa cemburu kepada mereka."


"Tidak! Saya tidak merasa cemburu sama sekali. Hanya saja sedikit kesal karena mereka berhasil membodohi saya selama ini," ucap Amaya sambil tersenyum kepada pelayan yang membantunya mengambilkan minuman.


Tidak ada percakapan lagi di antara mereka sampai berada di tempat duduk yang sudah disediakan.


Dave menggenggam tangan Amaya. "Tidak masalah. Itu wajar."


Amaya hanya mengangguk saja. Dia membiarkan Dave terus saja mengenggam tangannya. Dia juga sesekali melirik ke arah pengantin yang tidak pernah terlihat mengendurkan senyum. "Hah!"


Saat sedang mencoba makanan di pesta pernikahan mantannya, Amaya dikejutkan dengan kedatangan Fhea yang tiba-tiba. Sahabatnya itu langsung duduk, memperhatikan Amaya dan Dave bergantian.


"Pak Dave diundang juga sama Leo?" tanya Fhea sambil melirik Amaya yang terlihat gugup. "Atau ...."


Amaya meraih tangan Fhea dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


"Fhe, sebenarnya aku ...."


"May, tega banget ninggalin aku sendirian, mana bilangnya tidak mau datang lagi!" Fhea cemberut dan mengabaikan Dave yang belum memberi jawaban kepadanya. "Tapi, kok kamu bisa berdua sama Pak Dave? Apa dia pacar baru kamu itu?"


Fhea bertanya kepada Amaya tanpa peduli dengan Dave yang mendengarnya.


"Kita memang pacaran, apa Amaya tidak cerita?"


Fhea beralih menatap Dave. "Jadi, benar kalau Pak Dave sama Maya ada hubungan?" Dave hanya berdeham saja. Fhea kembali menatap Amaya. Dia menarik tangannya yang digenggam Amaya. "Jadi ini alasan kamu waktu itu main rahasia, May? Kenapa tidak jujur saja, sih?"


"Bukan gitu, Fhe. Aku cuma belum siap kasih tahu kamu!"


"Jadi belum ada yang tahu selain aku?" Amaya mengangguk. "Oke deh! Kalau mau tetap dirahasiakan aku mau sesuatu, ya!" Ucapan Fhea membuat Amaya jadi tidak tenang, apalagi saat Fhea beralih kembali menatap Dave.


"Pak, sebagai tutup mulut, bisa tidak saya naik jabatan?"


Dave berdeham. Terlihat tidak suka dengan permintaan Fhea barusan. Dia tidak pernah memberikan kenaikan jabatan atau bonus secara cuma-cuma kepada karyawannya, apalagi hanya karena alasan untuk menjaga rahasia. Dia lalu menatap Amaya yang menggeleng untuk menolak saja permintaannya.


"Maaf, tidak bisa. Kalau karena penolakan saya kamu mau memberitahu semua karyawan, tidak masalah! Itu lebih bagus," ucap Dave tenang. Dia memilih menikmati makanan yang sudah diambilnya.


Fhea tertawa keras, bahkan beberapa tamu undangan yang berada di sekitar mereka memperhatikan dengan heran.


Fhea mengibaskan tangannya. "Santai saja, May. Lagipula tadi aku cuma becanda saja kok. Aku turut senang kalau kamu sama Pak Dave. Beneran deh!" Amaya merasa lega. "Tidak sama pria kayak Leo itu!"


"Sudahlah, lagipula sebentar lagi mereka akan punya anak!"


Ucapan Amaya membuat Fhea membelakak. Dia mengepalkan tangan dan memukul meja dengan kuat. "Mereka memang jahat banget. Aku akan ke sana!" Tanpa berlama-lama Fhea benar-benar meninggalkan mereka berdua dan menyerobot antrean untuk bersalaman kepada pengantin.


"Apa yang akan teman kamu lakukan, May?" tanya Dave yang memperhatikan tingkah Fhea dengan heran.


"Entah, Pak, saya tidak tahu!" Baru juga selesai Amaya bicara, dia dan Dave dikejutkan dengan tindakan Fhea kepada Leo.


Tindakan Fhea yang bar-bar itu berhasil menarik perhatian para tamu undangan. Namun, Fhea tidak peduli dan malah terlihat puas telah menendang benda pusaka milik Leo.

__ADS_1


"Itu pasti sakit sekali, May!" Tidak ada jawaban apa pun dari Amaya. Dia merasa senang karena tanpa turun tangan pun, sudah ada Fhea yang melakukan untuknya.


***


Benar saja, baru juga semalam hubungannya dengan Dave diketahui oleh Fhea di pesta pernikahan Leo dan Femi. Pagi ini, berita itu sudah menyebar.


Baru saja Amaya memasuki lobi, beberapa karyawan yang berada di sana memperhatikan dirinya dengan tatapan yang berbeda.


Ada yang terlihat tidak suka dan terang-terangan mengatakan kalau Amaya berhasil menggoda Dave.


"Jangan menundukkan kepala, May!" Dave tiba-tiba saja meraih tangannya dan mengajaknya berjalan ke arah Lift.


"Temanmu itu sangat berbahaya, May. Walau karena dia semua orang akhirnya tahu tentang hubungan kita!" Amaya masih terdiam. Dia sama sekali tidak menyangka jika Fhea akan dengan cepat memberitahu semua karyawan dan dirinya belum siap.


"Apa kamu malu, May, karena berita tentang hubungan kita sudah tersebar?" Amaya menatap Dave yang tersenyum kepadanya lalu menggeleng. "Itu bagus. Aku akan sedih kalau kamu sampai malu!"


"Saya hanya belum siap saja, Pak, sama tatapan dan ucapan mereka!" Amaya menghela napas pelan. Dia merasa menunggu di depan lift sangat menyesakkan.


Beberapa ucapan karyawan masih terdengar dan dia harus bisa menahannya.


"Kita masuk, May!" Dave mengajak Amaya masuk ke lift.


"Pak Dave tidak marah dengan Fhea, kan, karena telah membuat semua karyawan tahu hubungan kita?" tanya Amaya saat mereka hanya berdua di dalam lift.


"Tidak. Aku malah senang. Mungkin seharusnya aku mempertimbangkan permintaannya untuk bisa naik jabatan!"


"Jangan, Pak!" tolak Amaya.


Kedua alis Dave berkerut. Membalas tatapan Amaya. "Kenapa? Dia sudah baik hati melakukannya sebelum aku memberitahu karyawan tentang hubungan kita."


"Memang Pak Dave sudah ada rencana melakukannya?"


"Tentu. Ngapain harus disembunyikan, May? Hubungan kita juga tidak terlarang!" Dave mengacak rambut Amaya yang dibiarkan tergerai sambil tersenyum tipis sebelum keluar dari lift.

__ADS_1


"Dia benar. Hubungan kami bukan hubungan terlarang yang harus disembunyikan!" ucap Amaya sambil merapikan rambutnya. Dia lalu mengejar Dave yang berjalan dengan langkah lebar meninggalkannya.


__ADS_2