
Amaya menghentikan langkahnya saat melihat Leo yang sedang menunggunya di teras indekos. Pria itu terlihat sekali begitu letih, dia ingin menghampiri dan menyapanya. Namun, mengingat yang pria tersebut lakukan kemarin membuatnya mengurungkan niat.
"Sudah, May, abaikan saja!" Amaya mengangguk. Dia menarik tangan Fhea memasuki indekos.
"May, kita perlu bicara!" Amaya berhenti tepat di ambang pintu. Dia menghela napas pelan lalu melepaskan genggamannya pada tangan Fhea. "May ...."
"Kamu masuk saja dulu!"
"Tapi, May, kamu tidak perlu pedulikan dia. Ingat apa yang kemarin dia lakukan di mal!"
"Aku harus bicara sama dia, Fhe. Kamu masuk saja dulu!" Fhea hendak protes, tetapi dengan cepat Amaya mendorong tubuh sahabatnya itu.
Amaya menghadap Leo yang terlihat sekali menyesali perbuatannya. Namun, Amaya tidak akan peduli. "Bicara saja di sini!" putus Amaya.
"Kita bicara di cafe dekat sini, ya!"
Amaya menggeleng. Dia menghindar saat Leo hendak meraih tangannya. "Bicara di sini atau tidak sama sekali!"
"Baiklah." Amaya memperhatikan Leo yang terlihat kesulitan untuk memulai pembicaraan. Dia gemas dengan tingkah pria di hadapannya itu.
Tidak tahan harus menunggu Leo bicara, Amaya akhirnya memilih untuk bicara terlebih dahulu. "Aku harap kamu tidak temui aku lagi. Entah di sini, di kantor, atau di mana pun. Dan kalau tanpa sengaja kita bertemu, anggap saja kamu tidak mengenalku!"
Leo menatap protes apa yang dikatakan Amaya. "Apa yang kamu lihat tidak seperti yang terjadi, May. Aku hanya menemani Femi belanja saja!"
Amaya tersenyum sinis. "Kamu sadar tidak, sih, kamu itu sudah bohong. Kamu bilang kalau akan berada di luar kota beberapa hari lagi, tapi setelah itu ... aku lihat kalian bersama. Kamu tahu aku paling tidak suka dibohongi!" Amaya mengatur napasnya yang memburu karena emosi.
Dia mendongak untuk menahan tangisnya. "May!"
"Tolong!" Amaya menahan diri saat ingin memaki. Dia lalu menatap tajam Leo. "Tolong, jangan begini. Kamu pria dan harusnya punya harga diri. Aku sudah melepasmu, jadi kamu bebas mau dekat dengan siapa pun!"
"Huh. Baiklah. Tapi, ingatlah ini. Sampai kapan pun aku masih cinta kamu!" Leo memilih mengalah. Setelah mengatakannya dia langsung pergi meninggalkan Amaya.
Tubuh Amaya merasa lemas, sampai berjongkok di teras. Dia akhirnya menangis setelah mencoba menahannya di hadapan Leo karena tidak mau terlihat lemah.
Amaya mengingat Leo, pria pertama yang tidak pernah memandang fisiknya. Leo pria yang selalu ada untuknya, mendengarkan semua ceritanya. Namun, semua itu harus dia lupakan. Amaya tidak sanggup bersama dengan pria pembohong.
Dia begitu takut dan merasa trauma dengan apa yang terjadi kepada orang tuanya. Ayahnya yang selalu berhasil membohongi ibunya dengan berselingkuh.
"May, kamu kenapa?" Amaya mengangkat wajahnya. Dia menatap wajah panik Fhea lalu menyeka air matanya.
"Bantu aku berdiri, Fhe!"
__ADS_1
"Leo ngapain kamu? Dia harus dikasih tendangan deh biar sadar diri!"
Amaya menggeleng dan meminta Fhea menuntunnya masuk, dia merasa tubuhnya begitu lemas dan tidak sanggup berjalan.
"Makasih, ya. Kamu tenang saja, aku baik kok!"
Amaya tersenyum tipis melihat wajah khawatir Fhea. Dia menggenggam tangan Fhea dan memeluk lengan sahabatnya itu. "Ya sudah, tapi kalau ada apa-apa kamu harus cerita sama aku, ya." Amaya hanya mengangguk.
"Jujur, May. Aku sebenarnya sudah lama pengin bilang sama kamu, tapi aku tidak tega!"
Amaya melepaskan genggamannya. Dia menatap Fhea lekat. "Memang ada apa?"
"Sebenarnya aku sudah sering lihat Leo pergi sama Femi. Tapi, aku takut mau bilang sama kamu. Aku takut kamu kecewa dan marah, apalagi aku tahu kamu cinta banget sama dia! Tapi, sekarang syukurlah kalau kamu lihat sendiri apa yang mereka lakuin dan sudah putus dari dia!"
"Iya, Fhe. Makasih sudah mau kasih tahu!"
"Hah, aku senang banget. Kok aku jadi kepikiran gimana kalau kamu pacaran sama Pak Dave. Wah, serasi banget loh, May!" canda Fhea yang berhasil membuat Amaya menjadi salah tingkah.
Ucapan Fhea yang menyinggung tentang Dave membuatnya mengingat tingkah pria tersebut kepadanya. Siang tadi, Dave sampai menghubungi Amaya dengan melakukan video call.
"Eh, kenapa, nih? Kok jadi senyum-senyum sendiri?"
***
Amaya masih membersihkan meja kerjanya, tetapi dia dikejutkan dengan sapaan pagi dari suara yang dikenalnya. "Pak Dave?"
"Pagi, May!"
Amaya hanya mengangguk. Dia memperhatikan Dave yang langsung masuk kerja. Merasa penasaran alasan Dave sudah masuk kerja walau sedang sakit, Amaya lekas menyusul Dave di ruangannya.
"May, ada apa?" Amaya dengan ragu mendekati Dave yang memperhatikan dirinya dengan tatapan bingung.
"Pak Dave kapan keluar dari rumah sakit? Kenapa tidak istirahat dulu? Wajah Pak Dave masih terlihat pucat, Pak!"
Bukannya menjawab pertanyaan beruntun Amaya, Dave malah tertawa pelan. Dave menghampiri Amaya dan mengajaknya duduk di sofa. "Kamu khawatir sama aku, May?"
Amaya mengangguk. "Apa itu salah, Pak?"
"Tentunya tidak, dong! Tapi, kamu harus tahu deh kalau hari ini kamu kelihatan beda. Kamu kelihatan sekali lagi khawatir sama aku!" Amaya mendengkus pelan karena mendengar ucapan Dave. "Jangan marah, May. Jujur aku senang sekali kamu khawatir!"
"Pak!"
__ADS_1
"Aku tidak betah di rumah sakit, May, dan untungnya dokter kasih izin asal ...." Dave menghentikan ucapannya dan menatap lekat mata teduh Amaya.
"Asal?"
"Asal nanti aku ke rumah sakit untuk kontrol. Kamu mau antar aku, kan, May?"
Amaya tanpa ragu mengangguk setuju. "Saya mau, Pak!"
"Baguslah. Tapi, kenapa wajahmu kelihatan sedih, May?"
"Saya hanya letih saja, Pak. Semalam tidak bisa tidur!" bohong Amaya. Padahal dia masih saja kepikiran tentang Leo.
"Apa terjadi sesuatu? Malam itu kamu minta aku untuk tepati janjiku, kan, May? Jadi kamu jangan sungkan cerita. Aku akan ada untukmu!"
"Pak Dave melakukannya karena rasa bersalah?"
"Kenapa tanya begitu? Apa yang aku katakan kelihatan seperti karena rasa bersalah di masa lalu?" Amaya melihat ketidaksukaan Dave atas ucapannya. Namun, dia ingin mengetahui alasan Dave berani berjanji seperti itu. "Kalau aku bilang aku melakukannya karena perasaanku sama kamu, akan tetap kamu anggap itu rasa bersalah, May?"
"Pak, saya harus kembali kerja!" Amaya langsung berdiri dan hendak pergi, tetapi Dave dengan sigap mencekal tangan Amaya dan menariknya sampai tubuh Amaya yang ringan itu terjatuh di pangkuan. "Pak!" protes Dave.
Sayang, Dave tidak memedulikan tatapan protes Amaya kepadanya. Pria itu melingkarkan tangannya pada pinggang Amaya erat dan memajukan wajahnya mendekati wajah Amaya. "Pak, jangan begini!" Amaya menahan dada Dave dengan tangannya. Dia tidak mau jika Dave melakukan hal yang lebih.
"Kenapa, May?" Amaya melihat seringai menyebalkan Dave.
Amaya menggeleng lalu memalingkan wajahnya saat wajah Dave makin mendekat. "Kamu wangi, May!" bisik Dave di dekat telinga Amaya.
Amaya menoleh dan terkejut saat Dave menempelkan bibir mereka singkat. Dia terlihat begitu terkejut atas yang Dave lakukan. "Pak!"
Dave menjauhkan wajahnya. Dia tersenyum tipis dan berkata, "Itu bukti kalau janjiku bukan main-main, May!"
Perempuan itu langsung melepaskan diri dari pelukan Dave dan lekas pergi. Dia begitu malu atas apa yang Dave lakukan kepadanya.
Amaya benar-benar tersipu dan menikmati sentuhan singkat itu. Dia menyentuh bibirnya dan tersenyum tipis kembali mengingat momen mendebarkan dan memalukan tersebut.
"Amaya, apa yang kamu pikirkan?" Amaya merutuki kesenangannya sendiri lalu memilih kembali ke mejanya.
"Kak Dave sudah datang?" Amaya mendongak dan menatap lekat perempuan muda yang kemarin dia temui di rumah sakit.
"Pak Dave ada di ruangan!"
Perempuan itu mengangguk lalu meninggalkan Amaya, tetapi saat akan membuka pintu perempuan itu menoleh ke arah Amaya dan berkata, "Tolong jangan ganggu dulu dengan masuk ke ruangan, kami harus membahas masalah serius. Tentang pertunangan!"
__ADS_1
Amaya tertegun dan mengangguk.