Dia, Amaya

Dia, Amaya
Nanti Kita Makan Siang Bertiga, May.


__ADS_3

"Dari mana?" tanya Dave dengan sorot mata curiga. Memperhatikan setiap inci tubuh Amaya sebelum akhirnya menghampiri perempuan tersebut sambil mencengkeram erat kedua pundaknya.


Amaya baru saja keluar dari taksi. Beruntung saja dia berhasil membuat Danu mau menurutinya dengan menurunkan dirinya sebelum ke apartemen.


Sungguh, saat ini dalam jarak yang begitu dekat dengan Dave membuatnya ketakutan. Dirinya yakin Dave sedang mencurigainya, dia mengacaukan panggilan Dave dan kembali saat hampir pukul sebelas malam.


"May!" Amaya mendongak, menatap lekat mata Dave lalu memilih mengalihkan pandangan pada bibir pria tersebut. Dia menelan ludahnya kasar, bukan karena terpesona dengan bibir Dave yang tidak tebal itu.


Dia menatapnya karena ingin tahu apa lagi yang akan Dave ucapkan. Namun, prasangkanya salah. Dia mengira Dave akan berdecak karena Amaya abaikan, tetapi bibir itu tersenyum lalu dalam sekejap saat ini pandangannya menjadi terbatas, aroma parfum pria tersebut tercium jelas di indera penciumannya.


Amaya menghela napas lega, Dave memeluknya erat lalu dia merasakan kecupan pada kepalanya. "Aku takut kamu kenapa-kenapa, sejak tadi kamu tidak angkat telponku dan sekarang pulang malam sekali!"


Senyum yang pernah terukir di bibir Amaya sekejap menghilang berganti dengan penyesalan. Dia menyesal telah membuat Dave khawatir saat ini.


"Maaf!"


"Tidak masalah, kamu sudah di sini saja aku senang sekali!"


Dave mengurai pelukannya. Tatapan mereka saling bersirobok dan dengan terpaksa Amaya mengulas kembali senyum walau terasa sulit. Dia tidak tahu apa yang Dave rasakan saat ini, hanya pura-pura menerima atau merasa perlu mencurigai dirinya.


"Wajahmu pucat kenapa?" Amaya menggeleng lalu mengajak Dave untuk masuk ke apartemen dan beruntungnya pria tersebut menurut.


Selama di dalam lift, Dave sama sekali tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Sesekali Amaya melirik Dave, ketika tanpa sengaja mereka bertemu tatap maka tanpa bicara dan hanya menarik sudut-sudut bibir untuk tersenyum. Namun, ketika Amaya melihat Dave yang memandang lurus ke depan, dia melihat ada kegelisahan yang sedang dialami pria tersebut.


Sesekali Dave mengerutkan keningnya atau menghela napas pelan.


"Dave, sudah makan malam?" tanya Amaya saat mereka telah masuk ke unit apartemen milik Dave. Amaya membiarkan Dave langsung menyalakan televisi.


"Sudah, kamu?"


"Sudah juga!" Amaya melihat Dave menatapnya sambil menautkan alis lalu pria tersebut mengangguk begitu saja. "Saya mau mandi dulu!"


"May!" Baru saja Amaya memegang kenop pintu kamar dan akan membukanya, tetapi Dave memanggil. Amaya hanya menoleh kepala ke arah Dave sambil tersenyum tipis. "Tidak jadi!"


Dave memilih sibuk dengan tontonannya. Amaya menghela napas lalu mengangguk. Dia memutuskan masuk ke kamar untuk mengambil pakaian ganti.

__ADS_1


***


Amaya melihat Dave yang tertidur di sofa, dia memutuskan mengambil selimut di kamar untuk menyelimuti tubuh Dave.


Saat akan beranjak pergi ke kamar, Dave menahannya dengan memegang pergelangan tangan Amaya. "May!" Dave menyampirkan selimutnya dan bangun tanpa melepaskan tangan Amaya. "Aku tidak bisa tidur!"


Amaya memilih duduk di samping pria tersebut dan membiarkan Dave menyandarkan kepalanya di pundak. "Ada yang sedang kupikirkan, May!"


"Apa?"


"Entahlah, yang jelas ada sesuatu hal yang harus kupikirkan, May!" Amaya menoleh dan wajah mereka menjadi begitu dekat.


Amaya tercekat karena tatapan Dave menyiratkan dirinyalah alasan pria tersebut kembali sulit tidur.


"Danu?" Dave lekas menerima panggilan dari Danu dan beranjak menjauh. Amaya merasa lega, dia merasa Dave seperti mengetahui sesuatu tentang dirinya dan Danu.


Dia memperhatikan Dave yang sedang bicara dengan Danu dan sesekali melirik ke arahnya. Amaya benar-benar merasa bersalah, tidak seharusnya dia mengiyakan saja ajakan Danu untuk pergi ke sebuah pantai sebagai kebersamaan mereka yang terakhir.


Penyesalan itu makin terasa ketika Dave berdiri di hadapannya dengan sorot mata penuh curiga.


***


"Biar aku saja yang buka pintunya!" Amaya menurut, dia memilih menyiapkan makanan untuk sarapan mereka.


Dia meletakkan piring berisi telur ceplok di meja sebelum menjadi begitu terkejut saat mengetahui siapa yang bertamu pagi-pagi ke apartemen.


"Aku yang suruh dia ke sini. Maklum, di rumah tidak ada mama, jadi kadang kalau sarapan sendirian malah malas!"


Amaya terdiam, dia hanya mengangguk dan mengambil satu piring lagi untuk Danu.


Mereka sarapan dalam diam, Amaya merasa risih karena dia merasakan Danu terus saja memperhatikan dirinya.


"Ari sudah menjual apartemen miliknya di samping milikmu itu. Apa kamu tahu, Dave?" tanya Danu setelah kesunyian menjadi teman mereka sarapan.


"Benarkah? Jadi kami sempat bertetangga?"

__ADS_1


Danu berdeham lalu tatapannya dengan Amaya bersirobok sebelum Amaya memutuskan untuk kembali menunduk. "Aku yang beli!"


"Kenapa? Bukannya kamu tidak tertarik tinggal di sini? Buat apa kamu sampai mau beli apartemen miliknya?"


Danu terkekeh pelan karena rentetan pertanyaan Dave. "Tentu saja buat investasi. Aku berniat akan menyewakannya dan sepertinya sudah ada yang berminat!"


"Saya sudah selesai, kalau kalian sudah selesai bereskan saja piringnya tanpa dicuci. Biar saya yang lakukan!" Tanpa menatap kedua pria yang terus saja memperhatikannya dengan tatapan berbeda, Amaya memutuskan ke kamar.


Dia merasa begitu sesak berada di antara kakak dan adik itu. Tidak pernah terpikirkan bagi Amaya kalau mereka ternyata bersaudara.


"Tenang, May, dia sudah janji tidak akan ganggu kamu lagi!" Amaya mencoba untuk tenang dengan menatap pantulan dirinya di cermin.


Dia menoleh ke belakang saat pintu kamar terbuka. "Danu sudah pergi!"


Kedua alis Amaya bertautan, tetapi dia memilih untuk tidak bertanya dan membiarkan Dave duduk di tepi ranjang. "Baru saja ada yang hubungi dia, sepertinya Ari!"


Dave menghela napas pelan. Amaya memilih menghampiri Dave. "Ada apa?"


"Tidak ada!"


"Kamu pasti bohong!" Amaya menangkup wajah Dave dan membuat pria tersebut mau menatapnya. "Saya bisa tahu sejak semalam kamu gelisah. Apa masih kaitannya sama mampir buruk? David?"


Dave memegang kedua tangan Amaya dan menjauhkan dari wajahnya. "Ini berbeda." Kening Amaya berkerut samar. "Sudah selesai? Kita berangkat kerja sekarang!"


Dave segera keluar dari kamar meninggalkan Amaya yang terdiam. Kecurigaannya makin besar, ada yang sedang Dave tutupi dan dia takut jika Dave ternyata mengetahui jika dirinya dan Danu kemarin pergi ke cafe dan pantai.


"Baiklah, kita akan buktikan kamu sebenarnya tahu atau tidak!" Amaya mengambil tasnya dan keluar dari kamar.


Dia melihat Dave sedang berbicara dengan seseorang, tetapi saat menyadari keberadaannya Dave segera mengakhiri percakapan tersebut.


"Kamu bicara sama siapa?"


"Adam!"


Amaya mengangguk. Dia berinisiatif mengenggam tangan Dave terlebih dahulu. "Nanti kita makan siang bertiga, May. Tidak masalah, kan?"

__ADS_1


"Sama siapa? Adam?" Dave tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Amaya tersebut.


__ADS_2