
Amaya dibuat terkejut dengan sapaan seseorang di belakangnya. Amaya berbalik, sapu di tangannya terjatuh melihat sosok di depannya itu. "Kamu kayak lihat hantu saja, May! Gimana, aku bisa datang ke sini, kan?"
Amaya tertegun. Mulutnya yang sedikit terbuka itu lekas menutup rapat lalu melengos agar tidak melihat senyum menawan milik Dave.
Perempuan itu sama sekali tidak menyangka jika pria di hadapannya akan benar-benar menepati janji. Amaya sadar, dia telah salah menantang seorang Dave. Seharusnya dia tahu, sejak dulu Dave orang yang tidak bisa untuk diberi tantangan.
"Kamu tidak menyambutku, May! Hah, padahal aku capek sekali setelah sejak kemarin kebingungan cari alamat rumah kamu. Untung saja aku bertemu keluarga baik, May!"
"Pak Dave sejak kemarin ke sini?" Dave mengangguk lalu memilih duduk di teras rumah Amaya. Dia menyeka keringatnya. "Mobil Pak Dave mana?" tanya Amaya yang tidak melihat mobil Dave terparkir.
Sangat tidak mungkin Dave pergi tanpa membawa mobilnya. "Dibawa Pak Budi cari bensin, mobilnya hampir kehabisan bensin!"
Amaya menghela napas pelan, dia mengambil sapu dan menaruhnya di samping rumah. Dia kembali lagi untuk menghampiri Dave dan duduk di samping pria tersebut.
"Akhirnya aku bisa lihat tempat-tempat yang indah di sini!" ucap Dave dengan bangga.
"Pak Dave maaf, tapi saya harus ke rumah sakit sebentar lagi. Saya tidak mungkin meninggalkan Ibu saya di rumah sakit, walau di sana ada Ayah dan Nenek!" Amaya merasa bersalah, janjinya terasa berat untuk dia lakukan.
Bukan karena tidak mau bersama dengan Dave lama-lama. Namun, dia tidak mau jauh dari ibu dan neneknya di saat tujuan pulangnya karena mereka.
"Tidak masalah, May. Ke rumah sakit juga boleh, aku bisa bertemu dengan orang tua kamu!"
Kening Amaya berkerut dalam, dia menatap Dave ragu. "Pak Dave tidak ada maksud macam-macam, kan, sampai mau bertemu orang tua saya?" Amaya menjadi panik. Dia takut Dave akan mengatakan hal yang bisa saja membuat orang tua dan neneknya salah paham.
Dave terkekeh. Dia lalu mengacak rambut Amaya. "Aku cuma mau menyapa mereka, berkenalan sama mereka dan kalau bisa aku mau minta maaf!"
"Minta maaf? Tentang apa?"
"Aku yang telah membuat anaknya menderita selama ini, May!" Amaya tertegun. Tidak menyangka sama sekali Dave akan berpikiran untuk melakukannya.
Amaya menggeleng. Dia melarang Dave melakukannya. "Kenapa?"
"Orang tua saya tidak tahu tentang apa yang terjadi dengan saya, Pak. Jadi, Pak Dave tidak perlu mengatakannya."
Dave menghela napas dan berdiri. "Baiklah, May. Tapi izinkan aku jenguk ibumu, ya?" Amaya mengangguk. Dia tidak akan melarang Dave melakukannya. "Sekarang boleh aku minta minum, May? Aku haus. Aku tidak berani minum di rumah tempatku menginap!"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Anaknya buat merinding. Aku takut minuman atau makananku dikasih sesuatu!" Amaya tertawa kecil melihat reaksi Dave yang terlalu berlebihan. Dia lalu mengajak Dave untuk masuk ke rumahnya.
"Pak Dave tunggu di sini dulu. Saya akan buatkan minum dan siapkan makanan!" Amaya pergi meninggalkan Dave di dapur, sebelum itu dia membalas senyum manis Dave untuknya.
Tidak butuh waktu lama, Amaya telah kembali. Dia membawa makanan dan minum untuk Dave dengan nampan. "Maaf, Pak. Di sini tidak ada ruang makan. Kami biasanya makan di dapur, tapi karena Pak Dave tamu jadi makan di sini saja!"
"Tidak masalah, May. Kamu yang masak sendiri?" Amaya mengangguk. Dia menyiapkan makanan untuk Dave. "Pasti enak banget, May!"
"Semoga Pak Dave suka."
"Permisi!"
"Pak Budi masuklah!" Pria yang merupakan sopir Dave itu masuk dan ikut duduk bersama mereka.
Menyadari jika pria tersebut bisa saja belum makan juga Amaya menawarinya. Benar saja, pria tersebut memang belum makan juga. Amaya kembali ke dapur mengambilkan makanan untuknya.
"Saya akan siap-siap untuk ke rumah sakit, kalian makanlah tanpa buru-buru!"
***
Amaya merasa ragu akan membawa Dave menemui ibu dan neneknya. Dia takut akan reaksi mereka berdua yang bisa saja menganggap jika Dave kekasihnya, seperti yang neneknya selalu harapkan.
Dave mengangguk. Tentu saja.
Amaya menghela napas pelan lalu berdiri menghadap Dave dan berkata dengan sepenuh hati. "Nanti saat masuk, Pak Dave langsung perkenalkan diri saja sebagai atasan saya, ya. Kalau Nenek saya bilang yang aneh-aneh jangan didengarkan apalagi ditanggapi!"
Kening Dave berkerut dalam, tetapi dia protes dan mengangguk. Tanpa sadar Amaya menarik tangan Dave dan masuk ke dalam. Beruntung saja, hanya ada ibunya yang sedang berzikir, tidak ada siapa pun lagi.
"Dia siapa, Maya?"
Dave menghampiri perempuan yang sedang berbaring itu dan menyalami tangannya dengan khidmat. "Saya teman kerja Amaya, Bu!"
Amaya memperhatikan interaksi ibunya dan Dave. Dia tidak menyangka ibunya akan melakukan hal yang seperti sering dilakukan kepadanya. Mengusap kepala Dave dengan senyum mengembang.
"Siapa nama kamu, Nak?"
"Saya Dave, Bu!"
__ADS_1
"Ibu kira kamu pacar Amaya!" Perempuan paruh baya itu menghela napas. Memperhatikan Dave dan Amaya bergantian.
"Ibu, Amaya sudah bilang loh tidak punya pacar. Dia itu atasan Maya di kantor, ke sini katanya mau jalan-jalan!" Amaya meluruskan.
"Yang benar?" tanya ibunya kepada Dave.
Dave mengangguk sambil tersenyum manis. "Loh, kenapa bilangnya teman kerja?"
"Sudah, Bu! Nenek mana?" Amaya menengahi. Dia tidak mau Dave menjadi tidak nyaman nantinya.
"Nenek di sini!"
Mereka bertiga menoleh ke arah pintu. Perempuan baya itu masuk setelah mengucap salam. Senyumnya tidak pernah surut, bahkan dia memeluk Dave setelah Dave memperkenalkan diri.
"Nenek minta tolong jaga Amaya, Le. Dia itu anaknya manja dan sekarang tinggal jauh dari orang tuanya. Jaga Amaya dan jangan buat dia sedih, ya!" Dave mengangguk, melirik ke arah Amaya yang tampak tidak tenang.
***
Mereka berada di islamic center. Amaya mengajak Dave di jembatan penyebrangan yang dia tidak tahu apa namanya. Setelah pamit kepada ibu dan neneknya, dia mengajak Dave untuk menepati janjinya.
"Pak untuk ucapan Nenek tadi, saya minta maaf. Pak Dave tidak perlu memikirkannya!"
"Kenapa begitu, May! Apa aku salah kalau ingin mematuhi permintaan nenekmu?"
Amaya menatap Dave lamat lalu menghela napas pelan dan kembali menatap banyaknya pengunjung yang sedang memberi makan ikan. "Kenapa Pak Dave mau melakukannya? Karena janji?"
"Bukan. Karena saya memang mencintai kamu!"
Amaya melirik Dave yang ikut memperhatikan anak-anak kecil bermain-main dan memberi makan ikan. "Apa menurut kamu aku salah melakukannya, May? Kalau kamu sekarang sudah tidak cinta aku lagi seperti dulu, tidak masalah, May. Aku yang akan berjuang sekarang. Aku akan buat kamu kembali cinta sama aku!"
Amaya terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dulu dia menyukai Dave, bahkan mencintainya walau Dave dengan terang-terangan menganggapnya tidak ada. Namun, setelah dia memilih membencinya dan melupakan semua perasaan yang dia punya, Dave malah merobohkan pertahanannya. Membuat hatinya gundah dengan pernyataan cintanya Dave.
"Lihatlah, mereka terlihat bahagia sekali, May. Pernah membayangkan tidak, akan memiliki keluarga seperti mereka?"
"Dulu sekali pernah, tapi setelah semua impian saya dihancurkan oleh Ayah. Saya tidak pernah lagi membayangkannya!" Dave menatap Amaya dengan heran lalu meraih tangan Amaya dan mengenggamnya erat.
"Aku akan membuat impian kamu tercapai, May!"
__ADS_1
Amaya hanya membalasnya dengan senyum tipis. "Mau jalan-jalan di sini sebelum ke tempat selanjutnya, Pak?"