
Amaya baru saja selesai menuntaskan hajatnya. Dia sudah merapikan pakaian sebelum keluar dari bilik sempit itu. Namun, baru saja akan memutar kenop pintu, terdengar suara dua orang yang dihapalnya.
Ragu dirinya untuk keluar, tetapi jika tetap berada di dalam toilet tersebut, Amaya takut Dave akan makin lama menunggunya.
Amaya menahan napasnya, berusaha sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara saat mendengar suara Ari yang sedang bicara. Dirinya mengerutkan kening saat mendengarkan ucapan Ari yang terdengar menyakitkan.
"Tuhan, aku harus gimana?"
Amaya bingung. Dia begitu takut untuk keluar saat mendengar ucapan Lani yang tersulut amarah. Dirinya hanya bisa menutup mulutnya dan tidak menyangka jika yang Dave katakan benar.
Mereka berdua sama-sama pemain.
"Sekarang kamu tahu, kan, kalau kamu cuma selingkuhanku. Jadi, aku tidak peduli apa orang tuamu terima aku atau tidak!"
"Putuskan Adam!"
"Kenapa aku harus putus dari dia? Dibanding kamu, dia lebih baik segalanya!"
Amaya mendengar suara kesakitan Lani, ragu dirinya untuk keluar dan membantu perempuan itu. Namun, sebelum niatnya terjadi, ponselnya berbunyi nyaring.
Amaya menepuk keningnya dan langsung menerima panggilan dari Dave. "Saya akan segera keluar, tunggu sebentar lagi," bisik Amaya dan langsung mengakhiri percakapan mereka.
Amaya berdeham, mencoba mengatur detak jantungnya yang berdetak begitu cepat, tetapi dirinya sudah kepalang basah ketahuan. Apalagi sudah tidak ada lagi suara di antara mereka.
Amaya memutar kenop pintu toilet, perlahan keluar dari bilik sempit itu dan melihat kedua orang yang merupakan sepasang kekasih tersebut menatapnya dengan ekspresi yang berbeda.
Amaya berdeham lalu tersenyum masam. Dia melirik ke arah pergelangan tangan Lani yang dicengkeram erat oleh Ari, bahkan saat Amaya menatap Lani, perempuan itu seperti sedang menahan sakit dengan menggigit bibirnya.
Perlahan dirinya berjalan ke arah wastafel dan mencuci tangannya, lewat cermin dirinya dapat melihat tatapan Ari yang menusuk. "Saya permisi!" ucap Amaya setelah selesai mencuci tangannya.
Tidak ada tanggapan apa pun dari keduanya. Amaya tidak tahu harus berkata apa, sehingga dia memutuskan untuk tidak ikut campur dan lekas menemui Dave yang duduk di sofa tunggu di lobi kantor yang berada di sebelah kiri pintu utama.
__ADS_1
"Mas!"
Dave yang sedang sibuk dengan ponselnya, mengangkat wajahnya dan tersenyum kepada Amaya. Pria tersebut langsung bangkit berdiri sambil memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Sudah selesai?" Amaya mengangguk malu. Bisa-bisanya di saat mereka seharusnya bertemu dengan salah seorang klien, perutnya sama sekali tidak bisa diajak kompromi.
Amaya yang sudah tidak sanggup menahannya, meminta agar Dave pergi lebih dulu, sedangkan dirinya pergi ke toilet yang ada di lobi. Namun, Dave dengan sikap keras kepalanya memilih untuk memundurkan waktu pertemuan agar mereka bisa pergi bersama.
"Makasih, ya, Mas!" Amaya mengambil berkas yang akan menjadi bahan untuk meeting di meja kaca.
"Makasih buat apa?"
"Ya, Mas Dave mau tungguin saya lama di sini!"
Dave mendekati Amaya lalu memperhatikan wajah Amaya yang berkeringat. Pria tersebut mengambil sapu tangan di saku kemejanya untuk mengelap keringat tersebut. "Kamu habis lihat hantu?"
Amaya menggeleng. Yang dilihatnya jelas lebih menyeramkan daripada hantu. Jika melihat makhluk astral begitu, dirinya bisa membacakan doa-doa, sedangkan tatapan tajam Ari lebih menakutkan.
Dia membiarkan saja Dave menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga. "Kalau begitu kita pergi sekarang!" Amaya hanya mengangguk.
Mereka melangkah keluar dari lobi, saat di teras dirinya penasaran dan menoleh ke arah toilet. Terlihat Ari berjalan seorang diri tanpa Lani.
"May, yuk!" Amaya mengangguk dan lekas masuk ke mobil.
***
Amaya merasa lega setelah pertemuan Dave dan kliennya selesai. Kini mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
Selain terus saja memikirkan tentang Ari dan Lani, dirinya juga merasa sangat tidak nyaman dengan pria yang berusia pertengahan tiga puluhan tadi. Pria yang terlihat begitu berwibawa, tetapi tatapannya kepada Amaya terlihat sekali seperti sedang menel*njang*.
"Aku memutuskan untuk tidak menerima kerja sama dengan perusahaannya, May!" Amaya yang sedang melamun mengerutkan keningnya dengan menatap Dave heran.
__ADS_1
Pria tersebut tersenyum begitu manis, semanis gulali. Makanan kesukaan Amaya saat kecil, jika mengingatnya Amaya menjadi ingin kembali menikmati gulali sambil naik bianglala.
"Aku tahu, dari tadi dia terus saja perhatikan kamu. Dia kelihatan sekali bukan pria baik-baik. Sebelum ke sini juga, aku sempat cari tahu tentang dia dan, ya, kamu harusnya bisa menebak kalau dia pernah punya skandal dengan salah satu karyawannya.
Amaya berdeham sebelum bicara kepada Dave saat sedang menyeruput kopinya yang mulai dingin. "Tapi, bukannya Mas Dave pengin banget bisa punya proyek di Sulawesi? Bukannya ini kesempatan bagus, Mas?"
Dave tersenyum miring saat meletakkan kembali cangkir kopinya. Sekarang hanya kopi tersebut sudah tandas. "Aku bisa cari klien yang lain, tapi tidak sama pria tadi. Aku tidak mau ambil risiko, May. Bahaya kalau dia ganggu kamu!"
Amaya mendengkus pelan, meski dirinya senang karena Dave lebih mementingkan dirinya. Dave memang telah membuktikan perkataannya.
"Makasih, Mas!"
Dave mengangguk lalu terdengar helaan napas kasar. Amaya memilih diam dan menunggu Dave untuk bicara. "May, aku berencana untuk meniadakan posisi direktur pemasaran! Menurutmu gimana?"
Tatapan mereka bertemu cukup lama. Amaya tidak tahu harus berkata apa, dia seolah tersihir dengan tatapan yang begitu dalam dari Dave. Apalagi alunan musik yang disetel di cafe juga embusan angin karena mereka memilih tempat berada di luar, seakan mendukungnya untuk lebih lama membalas tatapan Dave.
"Aku merasa perusahaan tidak butuh adanya posisi itu. Lagipula, yang aku tahu Ari sudah punya perusahaannya sendiri. Jadi, mungkin dia sudah waktunya mandiri!"
Amaya berdeham saat Dave yang terus saja diabaikannya mengangkat alis dan memperhatikan Amaya heran. "Saya mendukung apa pun yang Mas Dave akan lakukan!"
"Kamu yang terbaik, May! Tapi kenapa daritadi terus tatap aku? Kamu terpesona?"
Amaya kelabakan, dia langsung mengalihkan perhatian ke arah lain dan memilih kembali berbohong. "Percaya diri banget!"
Dave menggelengkan kepala karena tingkah Amaya yang menurutnya menggemaskan. "May, lusa makan malam di rumah, ya. Anak pertama Mama pulang, jadi mau ada perayaan kecil-kecilan!"
"Harus, Mas?" Dave mengangguk dan Amaya mendadak ragu. Namun, dirinya tidak enak hati untuk menolak.
Dave meraih tangan Amaya lalu mengusap punggung tangannya lembut. "Kamu tenang saja, dia bukan orang yang menyeramkan. Percaya sama aku."
Amaya berdeham, meski dirinya tetap saja belum merasa tenang dengan ucapan Dave. Amaya merasa ada hal yang akan terjadi nantinya.
__ADS_1