
Ini kali kedua Amaya melihat ayah sambung Ari. Pria itu datang ke perusahaan dan sedang berbicara serius dengan Ari.
Amaya memilih mengabaikannya, meski saat dirinya memperhatikan interaksi mereka, pria yang usianya sudah mendekati kepala lima tersebut, sedang mencoba meraih tangan Lani yang berdiri di dekatnya.
Amaya tidak menyangka jika yang dikatakan Sekar memang benar. Melihat bagaimana tindakan tanpa takut pria paruh baya itu jika akan ketahuan, dirinya yakin memang ada hubungan antara mereka berdua.
"Bukankah Lani tidak kekurangan apa pun, tapi kenapa dia malah harus memacari ayah kekasihnya sendiri?" gumam Amaya. Dia segera mengalihkan pandangan saat Ari menatap ke arahnya.
Takut Ari akan melakukan sesuatu, Amaya terus berdoa agar lift segera terbuka dan dirinya bisa cepat pulang.
"Harusnya tadi aku tidak larang Dave Dave yang mau temani aku ke sini!" Amaya menyesali penolakannya kepada Dave dan sekarang dirinya terjebak dalam keadaan yang tidak mengenakkan.
Amaya sekali lagi melirik ke arah mereka, kini hanya ada Lani dan ayah sambung Ari. Pria yang terlihat jarang tersenyum itu sudah tidak ada di antara mereka.
Dalam jarak cukup jauh, Amaya dapat melihat kedua orang berbeda usia tersebut sedang bertengkar. Berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi, pintu lift terbuka. Amaya lekas masuk dan merutuki rasa penasaran dirinya yang berlebihan.
"Sadar, May!"
"Tapi, apa yang sedang terjadi sama mereka? Kenapa ayah Pak Ari datang ke kantor di saat jam pulang kerja begini?"
Amaya terus saja memikirkannya dan dia baru saja tersadar dari lamunannya saat terdengar bunyi "Ting" saat pintu terbuka.
"Gabriella sama Levi?" Amaya melihat kedua orang yang beranjak dewasa itu sedang bicara dengan Dave yang menunggunya.
Gabriella terlihat kesal, sedangkan Dave seperti baru mendapatkan mainan baru, Dave terus saja menggoda mereka.
"Mas?"
"May, kamu masih ingat sama yang aku bilang?" Amaya mengerutkan keningnya lalu menggeleng. Dia makin tidak paham saat Dave membuang napas kasar. "Aku pernah bilang kalau Ella itu lagi nunggu cinta pertamanya."
Gabriella melotot ke arah Dave karena kesal. Amaya mengangguk, dia akhirnya ingat dengan ucapan Dave saat itu. "Kamu tahu tidak kalau hari ini mereka baru saja jadian. Akhirnya aku terbebas dari rengekan bocah manja ini yang minta terus tunangan!"
"Kakak!" seru Gabriella tidak peduli dengan tatapan bingung Levi. "Sudah aku bilang, kita tidak ada hubungan apa-apa! Kasih tahu, Lev!"
__ADS_1
Pemuda berwajah manis itu mengangguk setuju. "Yang dibilang Ella memang benar, aku bukan cinta pertamanya dan lagipula aku sudah punya perempuan yang kucintai!" ucap Levi sambil malu-malu melirik Amaya.
Saat Amaya memperhatikan Gabriella, terlihat sekali gadis berambut sebahu itu tidak suka. Bahunya turun sambil mengangguk kaku. "Ah, sudahlah terserah kalian. Kita akan pulang, kalau mau susul Om Nata, pergi saja ke ruangan Ari!"
Dave meraih tangan Amaya dan menggenggamnya erat. Dia mengajak Amaya pergi meninggalkan keduanya yang hanya diam memperhatikan.
"Mas Dave kenapa kayak tidak suka begitu?" tanya Amaya saat Dave baru saja menutup pintu mobil.
"Kamu tidak lihat lirikan bocah tengil itu. Lele kumis pendek itu ke kamu gimana? Aku bukan pria bodoh yang tidak tahu arti tatapannya, May!"
Amaya terdiam. Dia melirik ke arah Pak Budi yang sedang menahan senyum.
***
"Kayaknya pesanan kita sudah sampai deh! Aku akan ambil ke lobi, ya!"
"Fhe, biar aku saja. Kamu tunggu di sini saja!" Amaya melarang Fhea untuk turun. Dia ingin bertanya kepada resepsionis tentang Ari. Beberapa menit lalu, saat membuka pintu hendak keluar. Amaya melihat Ari berjalan di lantai yang sama dengan unit apartemen Dave.
Beruntung saja sebelum Ari tahu, Amaya dengan cepat menutup pintu.
"Kamu yakin?" Amaya mengangguk. Dia langsung keluar, meninggalkan Fhea sendirian.
Di lorong menuju ke lift, Amaya menjadi waspada. Dia memperhatikan sekitar karena tidak mau jika tiba-tiba saja Ari datang di hadapannya. Namun, sampai dirinya di lobi dan mengambil pesanan, Ari tidak juga terlihat.
Saat menanyakan tentang pengunjung dengan ciri-ciri seperti Ari, petugas resepsionis mengatakan tidak tahu. Malah, mereka mengatakan jika bisa saja Ari salah satu penghuni di gedung apartemen yang sama dengan Dave.
"Apa Dave tahu kalau Pak Ari tinggal di sini juga?" gumam Amaya yang sedang berdiri di depan lift.
"Amaya!" Amaya terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berbalik. Dia melihat seorang pria yang sudah lama tidak bertemu sekarang berdiri di depannya dengan penampilan berbeda sambil tersenyum manis.
"Kamu?" Pria bertubuh sedikit lebih berisi dari terakhir kali mereka bertemu itu mengangguk. Melangkah lebih dekat dari Amaya yang mendadak tidak tenang.
"Apa kabar?"
__ADS_1
"Baik. Kamu ngapain ke sini?" Amaya heran. Pria tersebut bisa mengenalinya, padahal pria tersebut bertemu dengannya saat masih gemuk.
"Aku ... ah, tunggu sebentar, Ya!" Pria tersebut memilih menerima telepon daripada menjawab pertanyaan Amaya lebih dulu.
Amaya tidak mau ambil pusing, saat pintu lift terbuka dirinya lekas masuk. Mengabaikan pria tersebut yang makin menjauh sambil terus bicara.
Amaya memperhatikan sebelum pintu lift tertutup. Dirinya merasa harinya ke depan menjadi tidak tenang setelah kedatangan pria tersebut.
"Levi?" Amaya terkejut saat Levi tiba-tiba saja menghubunginya. Ingin dirinya mengabaikan panggilan tersebut, tetapi mengingat ucapan Dave yang cemburu dan mengira Levi menyukainya, Amaya memutuskan untuk menerimanya.
"Lev, ada apa?"
"Kakak apa aku mengganggu?"
Amaya ingin mengatakan iya, tetapi mulutnya berkata lain, "Tidak. Kenapa?"
Terdengar helaan napas panjang sebelum akhirnya Levi kembali bicara.
"Besok aku akan balik ke luar negeri lagi. Liburku sudah selesai, Kak. Nanti kalau aku pulang, Kakak mau tidak makan malam sama aku. Berdua saja?"
Amaya tersenyum tipis menanggapi ucapan Levi lalu berdeham. "Kamu tidak takut sama Mas Dave? Dia bisa saja buat kamu masuk rumah sakit kalau paksa pacarnya pergi kencan. Lagipula kenapa tidak ajak Ella saja?"
"Kenapa Ella? Dia cintanya sama pacarmu tuh! Lagipula aku tidak bisa suka sama orang yang sukanya sama orang lain."
"Jadi, harusnya kamu tidak suka juga sama saya dan yang saya lihat Ella suka sama kamu!"
Levi tidak langsung menjawab. Terjadi jeda di antara mereka. Ruangan seperti kubus itu, berhasil membungkam mulut Amaya untuk tidak kembali bicara karena tiba-tiba saja rasa bersalah menelusup di hatinya.
Bisa saja Levi kesal karena dirinya berhasil menyerang ucapannya. "Tapi, Ella menolak saat aku ajak kuliah di luar negeri. Itu artinya dia tidak ada perasaan apa pun denganku! Kami sempat bertaruh."
Mulut Amaya yang terkatup rapat, mendadak terbuka saat mendengar ucapan Levi yang lebih pantas disebut anak kecil.
Permainan macam apa itu? Namun, belum juga mereda keterkejutannya, Amaya mendadak panik saat melihat Ari berdiri di depannya ketika pintu lift terbuka.
__ADS_1