Dia, Amaya

Dia, Amaya
Mengundurkan Diri


__ADS_3

Ketiganya seakan berada di tempat yang menyesakkan. Embusan napas masing-masing mereka dapat terdengar oleh yang lainnya, seakan cafe yang sedang ramai itu tidak ada siapa pun di sana.


Hanya terdengar denting sendok dan piring beradu di meja yang diisi oleh tiga orang dewasa.


Sesekali lirikan mata Dave tertuju kepada Amaya yang menunduk, terlihat tidak menikmati makan siangnya.


"Apa makanannya tidak enak?" Amaya menggeleng. Dia mencoba menikmati makanannya walau memang terasa berbeda.


Semenjak tahu siapa yang ikut makan siang bersama mereka, Amaya sama sekali tidak semangat. Dia merasa hambar dan cemas jika Danu akan mengatakan apa yang mereka lakukan berdua.


"Ini enak kok. Hanya saja saya ...."


"Pasti pedas!" Amaya mendengkus pelan karena Danu yang memotong ucapannya.


"Yang benar?" Amaya menggeleng. Dia memaksa tersenyum walau terasa kaku.


Tanpa keduanya duga, Danu tanpa mengatakan apa pun langsung saja mencicipi makanan yang Amaya pesan. Amaya dan Dave saling tatap sebelum akhirnya Amaya memutuskan untuk membuang muka.


"Makananmu pedas. Kenapa tidak bilang?"


"Memang kenapa kalau pedas?" tanya Dave yang terlihat kebingungan lantas menatap Amaya meminta jawaban. "May, kamu tidak bisa makan pedas?"


"Saya bisa. Kamu tahu itu!"


"Tapi, bukankah dulu kamu bilang tidak bisa makan pedas karena maag?" ungkap Danu yang berhasil membuat Amaya merasa begitu tercekik.


Dia menjadi bingung harus melakukan apa. Tatapan Dave jelas sekali meminta penjelasan kepadanya atas ucapan Danu sebelum akhirnya pria tersebut tersenyum. "Kamu tidak perlu panik, May. Aku sudah tahu kalau kalian sudah kenal lama, tapi kenapa tidak cerita?"


"Dave ...."


"Aku yang kasih tahu dia. Kemarin saat kamu tidak angkat teleponnya, aku yang hubungi Dave. Gimanapun dia harus tahu kamu di mana dan dengan siapa, May. Jangan ada yang ditutupi!"


Amaya memegang gagang sendok dengan kuat. Dia menatap tajam kepada Danu yang terlihat begitu tenang. "Aku tidak marah, May. Jangan cemas!"


Walau Dave mengatakan begitu, Amaya jelas tahu Dave berbohong. Tatapannya jelas sekali menyiratkan kekecewaan. Dave tidak menyukai dirinya berbohong.

__ADS_1


"Dave!" Amaya hendak mengejar Dave yang pamit keluar untuk menerima panggilan, tetapi Danu menahannya. Dia mencekal pergelangan tangan Amaya dengan kuat. Tanpa dosa sudut-sudut bibirnya terangkat. Membentuk lengkungan indah, tetapi Amaya menjadi muak dan menghempaskan tangan Danu.


"Lepas!" Tidak peduli dengan tatapan orang-orang di cafe, Amaya menyiram Danu dengan jusnya. "Itu balasan karena kamu berhasil buat Dave marah!"


Dia memutuskan meninggalkan Danu, benar saja jika dirinya telat beberapa detik bisa dipastikan Dave memutuskan pergi.


"Mau ke mana?" tanya Amaya panik. Dia tidak ingin Dave pergi begitu saja. Dia tidak mau Dave pergi dengan keadaan marah.


"Aku harus kembali ke kantor!" Dave membuka pintu mobil dan masuk. "May, maaf kalau kamu kesal makan siang kita berantakan. Jujur aku mengajak Danu untuk membuatnya mengatakan semua itu dan melihat reaksimu!"


Amaya diam.


"Tidak apa, May. Mungkin bertemu dengannya buatmu teringat masa lalu. Aku akan mengakhiri semuanya kalau kamu memilih dia!"


Amaya terkejut. Bibirnya tertutup rapat, tetapi mata bening yang selalu menatap orang-orang dengan tatapan teduh itu memerah. Tangisannya hampir saja tumpah jika Dave tidak memegang tangannya dan mencium punggung tangannya itu. "Akan lebih baik kamu dengannya, daripada denganku hanya karena kasihan!"


Dave menutup pintu mobil. Mengabaikan tangisan Amaya yang tidak dapat lagi dibendung. Sungguh, Amaya tidak menyangka sama sekali dengan yang Dave katakan.


Pria itu mengatakan jika dirinya hanya kasihan.


***


"Dave bisa kita bicara?" Dave berhenti dan mengangguk sebelum akhirnya memutuskan masuk ke ruangannya.


Amaya menghela napas pelan dan memutuskan ikut masuk ke ruangan tersebut. Dia melihat Dave terlihat begitu lelah. Menyandarkan tubuhnya di kursi kerja sambil memejamkan mata.


"Maaf!"


Tidak ada reaksi apa pun, Dave masih tetap sama dan berhasil membuat Amaya sedih. "Saya sudah memutuskan untuk berhenti bekerja. Percuma kalau kamu bersikap begini!" ucap Amaya. Dia tidak serius mengatakannya, tetapi ternyata reaksi Dave di luar dugaannya.


Amaya mengira Dave akan mencegahnya, tetapi tidak dan berhasil membuatnya kecewa. "Aku tahu, seharusnya sejak awal aku menolak permintaanmu. Seharusnya sejak awal aku benci kamu karena telah buat hidupku kacau juga kamu salah satu orang yang buat David mengakhiri hidup."


Dave diam sambil menatap Amaya yang masih bicara.


"Dave, sungguh aku tidak tahu apa yang Danu katakan. Tapi aku berani bersumpah kalau aku benar-benar cinta sama kamu!" Amaya tersenyum getir. "Tapi semuanya percuma. Kamu tidak percaya denganku! Permisi!"

__ADS_1


Amaya memutuskan keluar dari ruangan tersebut. Dia mengambil tasnya dan meletakkan surat pengunduran diri yang tadi dibuatnya di atas meja.


Ucapan Dave yang mengatakan dirinya hanya kasihan berhasil membuatnya marah. Dia tidak menyangka Dave tega mengatakannya setelah apa yang telah dia perbuat. Dave berhasil membuatnya yakin jika pria tersebut tidak pernah tulus mencintainya.


"Aku pergi, Dave!"


***


Semalaman di apartemen, Amaya masih berharap jika Dave akan datang. Namun, ternyata pria tersebut sama sekali tidak datang, bahkan menghubunginya pun tidak.


Amaya memilih duduk di lantai sambil memeluk lututnya sendiri. Dia melirik koper miliknya yang sudah terisi penuh pakaiannya.


Tatapan getir Amaya memindai seisi ruangan tersebut. Dia sama sekali tidak menyangka jika semuanya akan berakhir begitu cepat.


"Aku pergi, Dave!"


Amaya memutuskan pergi setelah menguatkan diri. Dia meninggalkan pakaian yang pernah Dave pinjamkan kepadanya.


Di lobi, Amaya menitipkan kunci kamar apartemen Dave kepada resepsionis sebelum dia memutuskan untuk pergi ke terminal dengan menggunakan taksi online.


"Ada apa, Pak?" Amaya terkejut saat mobil yang akan membawanya ke terminal itu berhenti mendadak. Dia melihat Danu berjalan ke arah mobil dan segera keluar.


Tanpa mengatakan apa pun Amaya menampar Danu dengan penuh amarah. "Apa yang kamu lakukan? Mengundurkan diri dan pulang kampung?"


"Bukan urusanmu."


"Itu jadi urusanku karena Dave memintaku untuk menjagamu!"


Amaya tertawa hambar lalu menunjuk wajah Danu. "Apa maumu? Kamu sengaja ajak aku pergi jauh dan katakan semuanya sama Dave? Dia itu adikmu, apa kamu tidak ingat itu?"


"Dia memang adikku, tapi aku sadar melepaskanmu hanya akan membuat penyesalan. Aku cinta sama kamu dan ingin memperjuangkanmu, May!"


"Sampai kamu rela buat Dave membenciku?" Danu mengangguk begitu saja dan berhasil menambah kekesalan Amaya. Dia telah salah menilai Danu, dia mengira pria tersebut akan menepati janjinya. Namun, pria di depannya itu tidak lebih dari seorang pengecut.


"Pergilah, aku tidak akan menerima kamu atau juga Dave. Kalian sama-sama tidak punya hati!" Amaya mendorong tubuh Danu dan memutuskan pergi.

__ADS_1


__ADS_2