
Amaya sedang sibuk memilih buah apel, tetapi tiba-tiba saja seseorang mengambil satu buah apel dan memasukkan ke plastik bening yang dipegangnya.
Dia menoleh dan langsung menghela napas pelan, memilih mengajaknya pria yang berdiri di sampingnya tersebut. "Kenapa sendiri?"
Amaya memilih mengabaikan pertanyaan tersebut dengan pergi menuju ke kasir, tetapi pria tersebut mengikuti. "May, kenapa selalu menghindar? Kamu takut Dave tahu kalau kita sudah kenal lama?"
Langkahnya terhenti tepat di depan seorang perempuan yang sedang mengambil kecap, bahkan tanpa sadar perempuan tersebut menaruhnya ke strollernya.
Belum sempat Amaya memindahkan kecap yang salah alamat itu karena pemiliknya sedang sibuk memilih, pria yang terus saja mengajak Amaya bicara memindahkannya.
"Kamu sudah janji kita akan bicara, May! Jangan menghindar terus atau aku terpaksa kasih tahu Dave!" Amaya kesal. Dia menepis tangan pria tersebut dan menatapnya kesal.
"May!"
"Aku akan bayar dulu belanjaan ini!"
"Biar aku yang bayar!" Amaya hendak protes, dia tidak mau jika Danu melakukannya, meski dengan suka rela sekali pun. "Jangan menolak, May. Harusnya kamu tahu kalau uangku lebih banyak dari Dave, jadi jangan khawatir aku tidak bisa bayar," ucap Danu dengan nada bicara yang sedikit pongah lalu mengambil alih stroller belanjaan milik Amaya.
Tidak mau ambil pusing, Amaya akhirnya memilih mengalah. Dia memperhatikan Danu dari jauh dan memilih menunggu di luar. Namun, saat baru saja melangkah keluar dirinya bertemu dengan Femi dan juga Leo.
Mereka tampak serasi, Femi bergelayut pada lengan kiri Leo.
Tepat di depan Amaya, mereka berhenti. Femi memperhatikan Amaya dari bawah ke atas dengan tatapan tidak suka lalu mempererat pelukannya. "Sendiri, May? Pacar kamu mana?" tanya Femi yang diabaikan Amaya.
"Kenapa dengan wajahmu? Tertekan?" Amaya lebih tertarik memperhatikan Leo, bukan karena perasaan suka karena hal itu sudah menghilang tidak bersisa. Namun, Amaya melihat keterpaksaan Leo yang tidak bisa disembunyikan.
"Apa yang kamu bilang, May? Leo itu cinta sama aku, jadi dia tidak mungkin merasa tertekan!" bantah Femi kesal karena Leo yang diam saja dan memilih membuang muka.
__ADS_1
"Tapi suamimu memang kelihatan tertekan sekali, Fem. Lihat deh!" Amaya menyunggingkan senyum sinis saat memperhatikan Femi yang tampak kesal lalu menarik paksa Leo masuk meninggalkan Amaya.
"Siapa mereka? Sepertinya kalian tidak akur?" Danu sudah selesai membayar belanjaan Amaya.
"Kemarikan, biar aku yang bawa!"
"Jangan, May. Biar aku saja!" Danu melarang Amaya membawa sendiri barang belanjaannya. Karena kesal dengan sikap Danu membuat Amaya memilih meninggalkan pria tersebut. "May, tunggu!"
***
Amaya terpesona dengan tempat yang mereka kunjungi. Rasa lelah dan kesal karena Danu begitu keras kepala mengajaknya jauh pergi ke Metro, tetapi melihat keunikan konsep dari cafe yang mereka datangi lelah dan kesal itu lenyap begitu saja. Tidak bersisa.
Amaya tersenyum tipis saat merasakan sensasi menginjak pasir ketika memasuki cafe yang mengusung tema pantai di dalam ruangan itu, seakan mereka memang berada di pantai walau kenyataannya cafe tersebut terletak di kota yang jauh dari pantai.
"Aku baru tahu tempat ini kemarin, May. Aku yakin kamu pasti suka dan ternyata benar!" Senyum Amaya meredup karena ucapan Danu. Dia berdeham lalu menatap Danu lekat. "Kenapa? Ada yang salah?"
"Mau duduk di mana? Di dalam atau luar?" Kening Amaya berlipat-lipat, belum sempat dirinya menjawab Danu sudah menariknya ke bagian luar yang ternyata memiliki sensasi seakan pengunjung berada di Jepang.
"Gimana? Unik, kan?" Amaya mengangguk, dia tidak menyangka akan mendatangi tempat yang unik dan memutuskan untuk masuk ke ruangan karena ingin menikmati suasana pantai.
"Kukira kamu akan pilih di luar!"
Amaya hanya menggeleng. Dia lalu memanggil waiters untuk memesan kopi. Saat Danu menawarkan jika dirinya lebih baik memesan makanan, Amaya menolak karena tidak mau makan di depan Danu.
"Sekarang kamu katakan apa yang mau kamu katakan, setelah itu jangan begini lagi!" Amaya memilih untuk langsung bicara tanpa basa-basi. Dia teramat malas melakukannya, apalagi kepada Danu yang ternyata tidak hanya melukainya dengan janji palsu, tetapi juga membohonginya. Berkenalan dengan menggunakan nama orang lain.
"Kita tunggu pesanan datang dulu, ya!"
__ADS_1
Amaya akan protes, tetapi ponselnya berdering karena Dave menghubungi . Dia menatap Danu yang tampak tenang seakan tidak akan terjadi apa pun dan memilih untuk tidak menerima panggilan tersebut. "Kenapa tidak diangkat?"
"Biarkan saja, nanti akan kujelaskan."
"Bukankah kalau begitu dia akan salah paham, May?" Amaya menggeleng. Dia mematikan ponselnya dan memasukkan ke tas.
Tidak lama pesanan mereka sampai, Amaya kembali menagih Danu untuk segera bicara.
"Oke, May. Jujur selama beberapa tahun ini aku merasa bersalah, tapi aku tidak berani untuk menemui kamu dan minta maaf!"
Amaya hanya memperhatikan lekat wajah Danu yang tampak serius. "Waktu itu aku tidak berniat berbohong dengan mengatakan namaku Will, aku hanya merasa tidak percaya diri, May!"
"Kenapa?" tanya Amaya heran, padahal jika diingat saat itu yang seharusnya merasa tidak percaya diri itu dirinya. Mereka bertemu di saat Amaya sedang kesulitan diet.
Danu datang, mengejek dan membantunya untuk dietnya yang ternyata salah dan berakhir susah untuk turun berat badan. Dia sudah mengikuti saran neneknya untuk rajin makan buah, rajin oleh raga juga. Namun, beberapa hal dia abaikan begitu saja.
"Sungguh, May. Aku sama sekali tidak pernah melihat dari fisikmu, tetapi dari hati dan pemikiranmu itu, May!" Amaya terdiam. Dia tidak ingin menyela ucapan Danu sama sekali.
"Untuk itu aku melakukannya. Dan, kesalahan terbesar yang membuatku sampai sekarang merasa bersalah karena aku tidak bisa menepati janji. Aku memintamu menungguku, tapi aku tidak pernah datang dan untungnya sekarang kamu bersama dengan Dave!" Danu tersenyum getir saat mengatakan kalimat terakhirnya.
Amaya mengangguk setuju. Dia mengangkat cangkir kopinya dan menyeruput dengan perlahan. "Meski kesal dengan semua yang kamu lakukan dulu, aku sudah maafkan."
"Syukurlah." Tatapan Danu berubah menjadi begitu serius. Dia meraih tangan Amaya di meja dan menggenggamnya erat. "Tapi May, ada satu kejujuran lagi yang ingin kusampaikan!"
Amaya merasakan dadanya bergemuruh hebat, dia menjadi tidak tenang dengan tatapan Danu yang dia yakin ada sesuatu hal serius akan disampaikan. "Aku masih mencintaimu, tapi kamu tenang saja karena aku tidak akan menghancurkan hubungan kalian. Hanya saja, aku janji akan datang jadi pahlawan kembali saat kamu terluka karena Dave!"
Amaya tersenyum masam lalu menarik tangannya. Dia merasa risih dengan tatapan Danu kepadanya itu lalu membuang muka.
__ADS_1
Danu tiba-tiba saja tertawa, tawa hambar yang begitu terasa. Amaya kembali memperhatikan Danu dan membalas tawa tersebut dengan senyum tipis.