Dia, Amaya

Dia, Amaya
Siapa yang Buatnya Terburu-buru?


__ADS_3

"Aku harap kamu betah tinggal di sini!"


Amaya memperhatikan dengan saksama apartemen tipe studio milik Dave tersebut. Apartemen berukuran 20,82 meter persegi itu tampak mewah untuknya, walau tidak sebesar rumah yang ditempati Dave dan Rose.


"Apa kamu suka?"


Amaya tercekat, dia mengikuti Dave yang mengajaknya duduk di sofa. "Tenang saja, di sini kamu aman. Pria itu tidak akan ganggu kamu lagi!"


"Tapi ini berlebihan, Mas. Saya bisa atasi tingkah Leo, sungguh!" Amaya merasa tidak nyaman jika tinggal di apartemen milik Dave seorang diri. Bukan karena tempatnya, melainkan dirinya tidak mau membebani Dave dan terlalu takut jika di kemudian hari malah akan membuat masalah.


Dave menghela napas pelan, dia merapikan anak rambut Amaya dan menyelipkannya di belakang telinga. "May, kamu kekasihku dan sudah sewajarnya aku lindungi kamu. Leo bisa saja terus ganggu kamu dan aku tidak suka itu."


"Tapi, apartemen ini sama perusahaan cukup jauh jaraknya, Mas. Aku tidak mau kalau Mas Dave harus bolak-balik untuk antar jemput. Merepotkan."


Dave terkekeh lalu meraih tangan Amaya dan mengusap punggung tangannya lembut. "Kamu tenang saja, yang capek, kan, Pak Budi. Bukan aku!" Amaya tersenyum masam mendengarnya. "Jadi kamu mau, kan?"


"Baiklah!" Dengan terpaksa Amaya menerimanya. Dia juga tidak mau jika Dave berpikiran dirinya terlalu keras kepala.


Amaya kembali memperhatikan ruangan apartemen tersebut, hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, dan juga ruang tamu.


"Heem, sebenarnya aku tidak terlalu minat beli apartemen ini, May!" Amaya mengerutkan keningnya. Dia memperhatikan Dave yang memilih menghidupkan televisi. "Tapi, entah kenapa aku sampai membelinya juga dan, ya, ternyata sekarang berguna."


"Tentunya akan sangat berguna, Mas."


Dave mengangguk. "Kamu benar. Saat itu karena asal memilih aku sampai pilih apartemen tipe ini, sedangkan ada tipe lainnya yang aku yakin lebih nyaman. Ya, kamu tahu sendirilah, May. Walau aku yang punya perusahaan, tapi sebenarnya itu bukan hanya punyaku saja."


"Mas mau bilang kalau beli apartemen ini sesuai budget?" tebak Amaya dan langsung diangguki oleh Dave.


"Kamu benar! Susah banget mau bilangnya, apa karena gengsiku yang besar, ya?"


"Bisa jadi, Mas!"


Dave berdeham dan dalam hitungan detik usapan lembut itu terhenti. Dave menjarak darinya untuk menerima panggilan entah dari siapa. Namun, dari raut wajahnya dia terlihat begitu serius.

__ADS_1


Sesekali di saat berbicara dengan orang di seberang, Dave melirik ke arahnya dan tidak lupa memberi senyuman tipis yang terpaksa.


"Baiklah, aku akan segera ke sana!"


Dave mengakhiri percakapan mereka lalu menghampiri Amaya yang masih setia duduk di sofa. "Kenapa, Mas?"


"May, aku harus pergi sekarang. Kamu tenang saja, apartemen ini aman kok. Aku sudah sekali tidur di sini. Maklum, Mama tidak kasih izin aku untuk tinggal sendiri!" Amaya mengangguk dan bangkit berdiri. Dia akan mengantar kepergian Dave, walau rasa penasaran dengan alasan Dave yang terkesan buru-buru.


"Besok aku akan jemput kamu!"


"Mas!"


"Ya? Ada apa, May?" Dave memperhatikan tangannya yang dipegang erat oleh Amaya lalu beralih menatap mata. "Jangan takut, di sini aman!"


Amaya menggeleng. Dia melepaskan tangan Dave dengan bibir mencebik. "Bukan itu, tapi apa saya boleh tahu alasan kamu buru-buru pergi?"


"Aku janji besok pagi akan cerita sama kamu, sekarang kamu istirahatlah! Lagipula aku juga harus jemput Pak Budi yang masih menunggu di dekat kostmu."


Bahu Amaya merosot dan mengangguk. Dia membiarkan saja Dave yang memegang kepalanya lalu mengecup keningnya lama sebelum pergi.


"Kamu dibawa pergi ke mana sama Pak Dave, May? Sampai-sampai tidak balas pesanku!" Amaya hanya menanggapi kekesalan Fhea dengan seulas senyuman tipis. Dia masih memikirkan saat Dave tadi pagi tidak jadi menjemput dan hanya ada Pak Budi.


Di kantor pun, sampai jam makan siang pria tersebut masih tidak bisa dihubungi.


"Aku diminta tinggal di apartemen Pak Dave, Fhe. Dia tidak mau kalau Leo terus ganggu."


"Wow, apartemen. Pasti mewah!" tebak Fhea penuh semangat.


Amaya berdeham lalu tatapannya tertuju pada pintu masuk cafe. Lani datang seorang diri, tanpa siapa pun. Namun, dirinya memilih mengabaikannya saja. "Fhe, gimana keadaan Leo semalam? Apa Femi datang?"


"Tidak. Aku sudah telepon dia dan malah Femi marah-marah. Sampai dia suruh aku buang saja Leo di kali! kacau mereka, padahal baru menikah!"


"Jadinya?"

__ADS_1


"Aku pesankan ojek online untuk bawa dia pulang. Malas banget tampung dia!"


"Kamu memang teman yang baik!" puji Amaya yang langsung mendapatkan tatapan horor dari Fhea.


Perempuan berambut sepundak itu berdecak sebal lalu menyeruput jus semangkanya sampai tersisa sedikit. "Sejak kapan aku sama dia jadi teman?"


"Maaf, Fhe. Aku terima panggilan dari Pak Dave dulu!" Amaya lekas keluar dari cafe untuk menerima panggilan dari Dave yang sejak pagi terus saja dia khawatirkan.


"Mas, di mana? Kenapa tidak masuk kerja, tidak kabari saya juga! Mas sakit? Tadi Pak Budi bilang Mas minta diantar ke rumah sakit!" cerocos Amaya tidak henti. Dia mengerutkan kening saat mendengar suara tawa renyah dari Dave di seberang sana. "Mas, lagi ngapain?" Kekhawatiran Amaya berubah menjadi curiga.


"May, aku lagi di rumah sakit temani Adam yang babak belur. Maaf karena tadi pagi tidak beri kabar apa pun."


"Adam sakit apa?"


Terdengar helaan napas kasar, Amaya yakin jika terjadi hal buruk terhadap Adam sampai dirawat di rumah sakit. "Dia dibegal semalam dan ditinggalkan gitu saja di jalanan sepi dekat perkebunan tebu."


"Apa saya boleh jenguk dia?" Amaya menjadi begitu khawatir, meski Adam dulu orang yang ikut merundungnya dan juga sering membuatnya kesal. Tetap saja, Amaya punya utang ucapan terima kasih untuknya yang telah berhasil meyakinkan dirinya tentang perasaan Dave dan berbaik hati mengantarnya ke rumah sakit saat Dave dirawat.


"Boleh. Kita akan jenguk dia sore nanti sama-sama."


"Bukannya Mas ada di sana? Aku bisa pergi sendiri, Mas tinggal kasih tahu saja dia dirawat di lantai dan kamar nomor berapa."


"Aku ada janji temu dengan salah satu teman lama, May, setelah itu akan ke perusahaan untuk jemput kamu!"


Amaya mengangguk dan saat itu secara cepat ponselnya terjadi, mengakibatkan ponselnya mati. Dia berbalik dan melihat Lani yang terlihat seperti buru-buru.


"Maya, maaf. Aku akan ganti ponselmu, tapi sekarang aku harus segera balik ke perusahaan. Ari lagi tunggu aku!" Lani begitu saja pergi dengan membawa makanan dan minuman yang dipesannya di cafe.


Amaya memperhatikan langkah Lani yang lebar dan begitu terburu-buru. Sampai-sampai dia melihat Lani menjatuhkan ponselnya ketika akan masuk ke mobil yang baru berhenti, padahal jam istirahat masih cukup lama. Jarak dari cafe ke perusahaan juga tidak terlalu jauh. "Ada apa sama dia?"


Amaya memunguti ponselnya dan menghela napas kasar. Layar ponselnya retak.


"Apa yang sebenarnya buat dia buru-buru begitu?" Amaya lalu mengingat sesuatu. Dia ingat jika tadi Ari menemuinya dan mengatakan jika seharusnya dia dan Dave pergi ke Jakarta untuk urusan penting.

__ADS_1


"Jadi, siapa yang buatnya terburu-buru?"


__ADS_2