
Amaya tertegun melihat dua orang yang berada tidak jauh darinya. Dia benar-benar tidak percaya dengan yang saat ini tengah dia lihat. Pria yang dia kira selalu tulus mencintai dan jujur kepadanya, ternyata sedang bermesraan dengan perempuan lain tanpa tahu malu.
Amaya menahan tangan Fhea yang menariknya pergi ke tempat lain. Dia melepaskan tangan Fhea dan berjalan mendekati dua orang yang berada di antara banyaknya orang-orang yang lalu lalang.
"Leo!" Amaya memperhatikan ratu wajah Leo yang mulai menegang saat menyadari kehadirannya. Pria tersebut melepaskan genggaman tangan perempuan di sampingnya itu. "Sudah pulang dari luar kota?"
"Amaya ..."
"Hai, Amaya. Apa kabar?" Amaya melirik sinis perempuan yang terlihat biasa saja bersikap kepadanya, bahkan sampai berani menyapa. "Oh, iya. Jangan salah paham gitu, May. Aku yang minta Leo temani aku cari heels!"
Amaya tidak peduli dengan perempuan yang tampak tenang itu. Dia kembali menatap Leo yang hanya diam menatapnya cemas. "Wajah kamu kenapa pucat? Panik?" tanya Amaya berusaha tenang, walau dia sebenarnya sangat ingin sekali memaki Leo di depan semua orang.
Amaya masih memiliki nurani dan tidak ingin membuat mereka malu.
"Astaga, Leo ... Femi!" Fhea menghampiri mereka. "May, mereka selingkuh?" Amaya mengangguk tenang tanpa menatap Fhea. Dia terus saja memperhatikan Leo dengan tatapan mengintimidasi.
"Ah, gila banget. May, aku boleh hajar mereka?"
"Jangan. Buat apa lakuin hal yang akan buat kamu jadi orang jahat!" Amaya melarang Fhea yang hendak maju. Dia menarik tangan Fhea menjauh dari mereka. Mengabaikan panggilan Leo begitu saja.
"May, harusnya mereka kamu permalukan saja. Tampar atau tendang tuh barang berharganya Leo!" ucap Fhea geram. Amaya hanya diam saja. Dadanya benar-benar bergemuruh kesal. Dia menyeka air matanya yang mengalir tanpa permisi. "May!"
"Aku mau pulang, Fhea. Maaf, aku tidak bisa temani kamu di sini!" Amaya berhenti, menatap Fhea dengan mata berkaca-kaca.
"Aku ikut. Kita pulang bareng!"
Amaya menggeleng. "Aku mau sendiri, Fhe!" tolak Amaya. Dia berusaha untuk tetap tenang walau rasanya begitu sulit. "Aku tidak apa-apa. Saat ini aku cuma butuh sendirian, tolong!" Dia berusaha tersenyum saat Fhea menatapnya ragu.
"Ya sudah. Tapi, kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi aku, ya!" Amaya mengangguk. Dia membiarkan saja Fhea memeluknya.
__ADS_1
Saat akan pergi, Leo yang menghampirinya menarik tangan Amaya. "May, tunggu dulu. Aku bisa jelasin!"
Amaya menatap Leo tajam. "Lepas!" Leo teguh pendirian menolak melepaskan cekalannya pada tangan Amaya. "Kamu mau aku teriak di sini?"
"Dengarkan aku dulu. Yang kamu lihat tadi, bukan berarti aku selingkuh!"
"Leo sudahlah. Ngapain kamu bujuk dia. Lagian kamu bilang bosan sama dia. Dia itu terus saja suka abai sama perasaan kamu, Leo!"
Amaya menatap Femi memegang pundak pria tersebut dengan tatapan kesal. "Yuk!"
Amaya tertawa sinis. "May!"
"Kamu tahu aku paling tidak suka dibohongi. Kamu bilang akan berada di luar kota beberapa hari lagi. Tapi ini apa? Kamu juga bilang aku abai sama perasaan kamu? Bagian yang mana?"
"Sudahlah Leo. Di tidak akan mau ngalah. Ayo pergi!"
Fhea menarik tangan Femi menjauh dari Leo yang diam saja lalu dia menampar wajah Femi keras. "Sumpah, aku kesal banget sama kamu. Kamu perempuan tidak tahu malu, ya?"
"Lepaskan aku, Leo!" Leo menggeleng membuat Amaya begitu kesal. "Kamu mau lebih malu lagi dari ini? Tidak kasihan dengan kekasihmu itu?"
"Dia bukan kekasihku!" tolak Leo tegas.
"Aku tidak peduli. Lepaskan aku sekarang!"
"May ... akh!" Leo menjerit kuat saat Amaya tiba-tiba saja menendang bagian tubuhnya di antara kedua pangkal pahanya dengan lutut. "May ...."
Amaya tidak peduli, dia memilih pergi meninggalkan Leo dan orang-orang di sana yang pasti terkejut dengan tindakannya. Dia bahkan melupakan Fhea yang masih saja melampiaskan kekesalannya kepada Femi.
Amaya keluar dari mall, dia memilih berdiri di pinggir jalan raya menunggu taksi yang lewat. Di saat seperti ini dia memikirkan satu orang yang siang tadi memberinya janji. Dia ingin menghampiri pria tersebut dan memintanya menepati janji itu.
__ADS_1
Lama menunggu tidak ada taksi yang lewat, Amaya memilih berjalan di trotoar menuju ke halte. Namun, baru beberapa langkah menjauh dia merasakan tangannya ditarik.
Langkahnya terhenti dan merasakan tubuhnya masuk ke dalam pelukan seseorang. Tanpa peduli siapa yang melakukannya, Amaya membalas pelukan tersebut dan menangis.
***
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu berjalan di trotoar sendirian? Bahkan kamu tidak dengar aku terus memanggilmu!"
Amaya memilih diam sambil menikmati es krim yang baru saja dibelikan Dave untuknya.
Saat ini mereka berada di taman dekat kantor. "Kamu kenapa menangis tadi, May? Ada yang buat kamu sedih?"
Amaya masih dengan menikmati es krimnya menatap Dave yang terus saja memperhatikannya. "Kenapa bawa saya ke sini, Pak?"
Bukannya menjawab pertanyaan Dave, Amaya memilih bertanya alasan Dave membawanya ke taman dekat kantor mereka. "Tidak ada alasan. Hanya saja aku bingung mau bawa kamu ke mana! Kamu tadi tiba-tiba saja langsung menangis!"
Amaya mengangguk. Dia menghela napas kasar lalu memilih menghabiskan es krimnya. "Pak Dave tahu? Dulu waktu aku sedih setiap kalian bully aku. David selalu belikan aku es krim rasa vanila ini. Tapi, bertahun-tahun setelah dia memilih mengakhiri hidupnya, tidak ada lagi yang melakukannya dan sekarang ada Pak Dave!" Amaya menatap Dave yang tidak pernah lepas memperhatikannya.
"Kamu sedang sedih?"
"Entah. Aku sendiri bingung, Pak. Aku sedih karena Leo ternyata selingkuh, tapi di sisi lain aku merasa lega!" Dia menghela napas kembali. "Mungkin karena salah satu impikanku terwujud!"
Amaya terkekeh pelan melihat wajah bingung Dave karena ucapannya. "Aku selama ini selalu berharap ingin memberi rasa sakit pada pria yang jahat padaku dengan menendang harta berharga mereka. Tujuan awalnya milikmu, Pak!" Dave tertegun. Dia menelan ludahnya kasar dan Amaya tersenyum tipis. "Dan sayangnya orang pertama yang merasakannya Leo!"
"Itu pasti sakit sekali!"
"Itu bagus. Aku tidak peduli jika miliknya tidak bisa berfungsi dengan baik. Lebih baik begitu, pria yang berani selingkuh, dia pantas mendapatkan itu." Dave mengangguk pasrah.
Amaya mendongak, menatap langit malam yang hanya sedikit bintang. Dia menahan diri untuk tidak menangis lalu kembali menatap Dave yang setia di sampingnya. "Apa yang Pak Dave katakan siang tadi masih berlaku?"
__ADS_1
Dave terdiam sejenak lalu mengangguk. "Tentu!" Dia tersenyum lembut kepada Amaya. Senyuman itu membuat Amaya tidak dapat menahan tangisnya. Dia kembali masuk dalam dekapan Dave karena pria tersebut yang menariknya untuk dapat dipeluk.
"Aku akan selalu menepati janjiku, May! Percayalah!"