
Amaya menggeliat tidak nyaman setelah merasa sedang ditatap, perlahan dia membuka mata dan betapa terkejutnya saat pertama kali yang dilihatnya mata Dave dengan sorot begitu meneduhkan.
Amaya langsung menunduk, menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Dia menutup mata saat Dave terus saja menatapnya. "Masih mau tidur? Sekarang sudah hampir jam tujuh!"
"Hah, astaga!" Amaya langsung bangun begitu saja. Dia memperhatikan sekeliling kamar pria yang tidur di sampingnya itu lalu tatapannya tertuju pada jam dinding yang masih menunjuk ke angka lima.
Amaya menunduk dan menatap Dave kesal. Dia mengabaikan Dave yang tertawa karena berhasil mengerjainya.
"Kamu menggemaskan sekali!" Amaya tidak peduli dengan yang Dave katakan. Dia menyingkap selimut dan hendak turun, tetapi tangannya ditarik oleh Dave sehingga tubuhnya terjatuh di samping pria tersebut.
"Pak, saya harus pulang!"
Bukannya melepaskan, Dave malah memeluk Amaya erat. "Sebentar lagi, May. Ini masih subuh!"
"Tapi, Pak!"
Tidak ada jawaban dan Amaya tidak ada tenaga untuk membebaskan diri dari pelukan Dave. Satu-satunya yang bisa dia lakukan menikmati perlakuan pria yang sampai saat ini masih dibencinya itu.
Amaya memilih untuk tenang, dia mendekatkan kepalanya pada dada Dave. Terdengar jelas suara detak jantung Dave yang berdetak kencang. Amaya mendongak, menatap Dave yang memejamkan mata dengan senyum yang mengembang.
"Ada apa denganku? Tidak mungkin perasaan itu masih ada, kan?"
"May ...."
Amaya berdeham. Tatapannya masih tertuju pada wajah Dave. Mata pria tersebut masih terpejam. "Bisakah seperti ini terus?"
Amaya menunduk, dia tidak menjawab pertanyaaan Dave dan memilih membalas pelukan pria tersebut. Tidak Amaya ketahui Dave tersenyum merasakan pelukannya.
"Tidur sebentar lagi, May. Ini pagi yang menyenangkan!"
***
Pukul delapan pagi mereka sudah selesai bersiap dan sama-sama sarapan.
Dave melarang Amaya pulang dan meminjamkan pakaian sepupunya yang tertinggal. Beruntung saja pakaian tersebut sangat pas dipakai Amaya, seakan pakaian tersebut memang dibeli mengikuti ukuran tubuh Amaya.
"Apa makanannya kurang enak?"
Amaya menggeleng. Dia sama sekali tidak berani menatap Dave. Kejadian satu jam lalu membuatnya begitu malu. Dia tidak sadar saat mengatakannya, meminta Dave untuk tidur lebih lama.
__ADS_1
Beruntung saja Dave menyadarkannya jika sudah pagi. Saat akan pulang, Dave melarang. Dia mengizinkan Amaya untuk menggunakan kamar mandinya, sedangkan pria itu menggunakan kamar mandi yang lain.
"Kamu tidak pernah melihat tubuh pria, May?"
Amaya menggeleng. Sungguh, Amaya begitu kesal karena Dave menanyakan hal yang membuatnya tadi sampai menjerit panik.
"Kamu ternyata masih polos sekali, aku kira kamu sering melihat tubuh bagian atas pacarmu itu!"
"Pak, tolong berhenti membahasnya!"
"Baiklah, tapi biasakan kalau bicara tatap lawan bicaramu, May! Apa aku menakutkan?"
Amaya mengangkat wajahnya, dia menatap Dave yang sedang menguyah makanannya sambil membalas tatapan Amaya. "Maaf, Pak. Tapi, saya malu."
Dave terkekeh, dia hampir saja tersedak. "Oh, astaga May. Kamu lucu sekali. Tapi, biasakan untuk tidak terkejut saat melihat tubuh pria yang tidak berpakaian. Nantinya saat kamu menikah, malah seluruh tubuh priamu akan kamu lihat!"
Amaya memalingkan wajahnya. Dia tertekan dengan ucapan Dave yang begitu berani. "Baiklah, jangan marah, May. Aku hanya ingin mencairkan suasana saja. Sejak tadi kamu diam dan selalu menunduk!"
Amaya hanya mengangguk. Dia menguyah makanannya dalam diam. Menghela napas pelan lalu memberanikan diri menatap Dave yang sedang memperhatikan dirinya. "Makasih, ini kedua kalinya aku bisa tidur tanpa harus bermimpi buruk. Sentuhanmu ajaib sekali, May!"
Amaya merasa begitu sulit menelan makanannya saat melihat senyum manis Dave. Dia terus saja memperhatikan Dave yang saat ini sedang menatap arloji di pergelangan tangan kirinya. "Kamu sudah selesai? Bukankah sebentar lagi aku ada pertemuan dengan salah satu calon investor kita?"
"Tapi, makanmu belum selesai!"
Amaya melirik makanan di piringnya yang masih tersisa. Dia menggeleng. "Saya sudah kenyang. Lagipula kita harus bisa tepat waktu bertemu dengan calon investor perusahaan kita, Pak!"
Dave mendesah pelan lalu mengangguk. Dia menurut saat Amaya mengajaknya untuk segera berangkat kerja.
***
Amaya tidak menyangka jika calon investor yang mereka temui, teman masa SMA dulu. Amaya sama sekali tidak nyaman dengan tatapan pria yang di hadapannya itu. Beberapa kali bicara dengan memperhatikan dirinya.
"Jujur, aku pangling sekali. Kamu benar-benar Amaya Sukma?"
Amaya hanya mengangguk. Dia begitu risih dengan tatapan teman lamanya itu yang terlihat mesum. "Kamu cantik, May! Padahal dulu kamu gemuk dan ... maaf kalau aku salah satu orang yang juga ikut merundungmu!"
"Tidak masalah. Lagipula itu sudah lalu!"
"Kenapa kamu harus bahas masa lalu, Dam? Sekarang fokusnya tentang perusahaan!" Dave terlihat tidak suka kepada sahabatnya itu yang terus saja memperhatikan Amaya. "Pembahasan kita sudah selesai, bukankah kamu banyak urusan? Lebih baik pergilah, selesaikan pekerjaanmu!"
__ADS_1
Amaya melihat kedua sahabat itu sedang saling menatap tajam, lalu dia melihat bagaimana Adam mengangguk pasrah dan pamit pergi.
"Ah, baiklah. Aku akan pergi. Yang kamu bilang memang benar, aku orang sibuk!" Dia mengajak mereka bersalaman, tetapi saat akan menjabat tangan Amaya dengan cepat Dave yang menggantikan Amaya melakukannya. "Huh, dasar!"
Amaya hanya diam saja. Dia tidak peduli dengan kekesalan Adam. Dia bahkan memilih untuk membalas pesan Fhea daripada mengantar kepergian Adam.
"Kamu kelihatan tidak suka dengan Adam. Apa aku benar?"
Amaya meletakkan ponselnya di meja lalu menatap Dave yang menunggu jawabannya. "Dengan semua orang yang dulu pernah bersikap buruk dengan saya," jawab Amaya. Dia membalas tajam tatapan Dave.
"Denganku juga?"
Amaya tersentak melihat tatapan terluka Dave saat bertanya begitu. Amaya merasa bingung, melihat kesedihan di mata Dave membuatnya merasa tidak tega. Apalagi saat mengetahui kemalangan yang dialami pria tersebut.
"Sudahlah, kenapa harus membahasnya?"
"Kamu benar. Minumlah, sejak tadi minuman yang kamu pesan malah diabaikan!"
Amaya mengangguk saja. Dia terus saja memperhatikan Dave yang saat ini memilih menerima panggilan tanpa pergi meninggalkan dirinya.
"Baiklah!" Amaya memalingkan wajahnya saat Dave menatapnya sambil tersenyum. "Ada apa?"
Amaya menggeleng. Tidak menjawab pertanyaan Dave. "May, malam ini bisakah kamu menemaniku lagi?"
"Maaf, saya tidak bisa!"
"Huh. Baiklah, aku tidak bisa memaksamu. Setidaknya semalam aku bisa tidur nyenyak."
Amaya kembali memperhatikan Dave yang sedang menyesap kopinya. Dia hendak bicara, tetapi memilih urung melakukannya.
"Mamaku tadi menghubungi, dia akan kembali besok. Biasanya ada dia yang selalu menemaniku. Kamu tahu, May? Aku persis seperti anak usia di bawah sepuluh tahun. Tidur selalu ditemani Mama di sisiku!"
"Kenapa tidak diobati, Pak?"
Dave terkekeh pelan. Dia lalu berkata, "Aku sudah lelah menemui psikolog ataupun psikiater. Semuanya tidak ada yang berhasil membantuku, May! Mereka semua mengatakan aku harus mengatasinya dengan bersama orang yang membuatku mengalaminya!" Tatapannya begitu dalam kepada Amaya. "Dan, yang mereka katakan kurasa benar. Kamu obatnya, May! Tapi, aku sadar, kamu membenciku setelah apa yang telah kulakukan dulu!"
Amaya tidak mengatakan apa pun lagi. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia takut jika Dave hanya akal-akalan saja mengatakannya untuk membuatnya merasa bersalah.
"Jangan dipikirkan, May. Sekarang kita kembali ke kantor!"
__ADS_1
Dave memilih pergi terlebih dahulu, meninggalkan Amaya yang masih saja terpaku dan menatap punggung tegap Dave menjauh darinya.