
"Nih dari Leo sama Femi!" Fhea tiba-tiba saja menyerahkan kartu undangan pernikahan mantan kekasihnya saat baru masuk ke kamar.
Amaya hanya melihat foto mereka yang tampak mesra dan serasi lalu memberikannya kembali kepada Fhea.
"Loh kok malah dibalikin?"
"Kamu dapat juga?" Fhea mengangguk. Dia memperlihatkan bukti percakapannya dengan Femi di WhatsApp. "Judes banget, Neng," canda Amaya setelah membaca sekilas percakapan mereka.
Fhea mendengkus pelan. "Nyebelin banget. Ternyata mereka ada hubungan sejak lima bulan lalu. Artinya waktu kamu masih jadi pacar Leo, kan?" Amaya hanya mengangguk dan memilih santai dengan menikmati buah apel yang dibelinya sepulang kerja tadi.
"Kalau aku jadi kamu, sudah aku sunat itu Leo. Kesel banget. Mana sombong gitu si Femi!" lanjut Fhea yang masih belum puas untuk bicara.
"Biarin saja! Lagipula aku juga sudah punya yang baru!"
Ucapan Amaya berhasil membuat potongan apel di tangan Fhea terjatuh. "Biasa saja, Fhe! Ya terserah kamu mau bilang aku gimana, yang jelas aku tidak mau terlalu lama memikirkan tentang kelakuan mereka."
Fhea mengibaskan tangannya di depan wajah Amaya. Dia mencomot potongan buah apel dan memakannya. "Aku tidak masalah. Malah bersyukur karena kamu cepat move on, cuma siapa orangnya?"
"Kepo. Nanti juga kamu tahu!" Amaya menghela napas pelan. Dia kembali memakan potongan buah apelnya. "Cuma, aku sekarang lagi dilanda insecure parah!"
Amaya menatap lurus ke arah pakaian yang digantungnya. Pakaian yang dipinjamkan Dave dan belum sempat dia kembalikan.
"Insecure gimana? Apa pacar baru kamu kalah ganteng dari Leo?"
"Bukan!" Dave malah lebih tampan dari Leo dan memiliki segala kelebihan dari Leo.
"Terus apa alasan sampai kamu jadi insecure? Jujur ini bukan kamu banget, May!" tanya Fhea yang begitu penasaran.
"Keluarganya. Sebenarnya mereka semua baik, mamanya terima aku. Cuma aku merasa harus sadar diri, Fhe ..., gimanapun mereka punya segalanya yang aku tidak punya."
"May, kalau mereka baik dan bisa terima kamu, harusnya kamu bersyukur. Tidak adil banget rasanya kalau kamu malah jadi minder begini cuma karena hal begitu!" Amaya mengangguk, merasakan kehangatan sentuhan tangan Fhea pada punggung tangannya.
Harusnya dia seperti yang dikatakan Fhea. Namun, tetap saja rasa rendah diri seakan enggan pergi menjauh dari hidup Amaya.
"Jadi, menurut aku daripada kamu merasa insecure dan malah akhirnya buat hubungan kamu berantakan, lebih baik terima saja. Tidak semua orang seberuntung kamu!"
__ADS_1
"Kamu benar. Makasih loh nasihatnya. Malam ini serasa aku lagi duduk sama orang bijak!" Amaya terkekeh melihat tingkah Fhea yang menggemaskan karena ucapannya.
***
Ini kali kedua Amaya dan Ari berasa dalam satu ruangan. Mereka menjadi begitu dekat dan hanya ada sekat tipis.
Mereka berada di dalam lift hanya berdua dengan tujuan ke lantai berbeda.
Sesekali Amaya melirik ke arah Ari yang hanya diam dan fokus dengan ponselnya. Amaya melihat ada persamaan antara Ari dengan Dave. Mereka terlihat lebih tampan jika sedang diam. Apalagi hidung mancungnya itu. Berhasil membuat Amaya iri.
Amaya menjadi salah tingkah saat Ari menoleh ke arahnya dan melihat dengan tatapan aneh dirinya yang sedang memegang hidungnya.
Amaya langsung menurunkan tangannya. "Pak," sapanya kikuk dan sama sekali tidak direspons apa pun oleh Ari.
"Sabar, May!"
Amaya mengelus dadanya. Selain tampan dan terlihat angkuh, Ari juga begitu cuek.
Beruntung saja pintu lift terbuka dan Ari segera keluar. Namun, saat pintu lift akan menutup kembali, Ari menahannya.
"Kamu pacar Dave, kan?"
"Hah? Gimana, Pak?" tanya Amaya kaget. Dia langsung mengangguk saat melihat Ari yang kesal sampai menghela napas kasar.
"Baiklah! Saya cuma mau bilang, hati-hati saja dengan dia. Dave sedikit gila!" Setelah mengatakannya pria tersebut menjauh dan pergi begitu saja, sedangkan Amaya terdiam karena mendengarkan ucapan Ari tentang Dave.
Dave sedikit gila.
Satu sudut bibirnya terangkat lalu dia berdeham pelan. "Dia memang sedikit gila!"
Amaya lekas menemui Dave di ruangannya untuk menyapanya sebagai rutinitas di pagi hari, seperti biasa.
"Pagi, Pak!"
"Baru sampai, May?" Amaya mengangguk. Dia menghampiri Dave dan membantunya merapikan berkas-berkas yang berantakan. "Maaf, aku tidak jadi jemput kamu. Tiba-tiba Mama minta diantar ke stasiun pagi-pagi."
__ADS_1
"Tidak masalah, Pak. Tapi, buat apa Tante Rose ke stasiun?"
"Iya, biasa acara rutin dua bulan sekali sama ibu-ibu arisan pergi ke Solo untuk kunjungan, May!" ucap Dave. Dia memilih duduk dan membiarkan Amaya mengambil alih kegiatannya tadi.
"Pasti menyenangkan kegiatannya Tante Rose, ya, Pak," ucap Amaya setelah selesai merapikan meja kerja Dave. "Oh, ya, Pak Dave mau saya buatkan kopi?"
Dave tidak memberi jawaban, tetapi menarik tangan Amaya sampai membuat perempuan tersebut jatuh di pangkuan Dave.
Dave mengunci tubuh Amaya dengan memeluknya, bahkan dia menyandarkan kepalanya di pundak Amaya. "Pak!"
"Bentar, May! Aku butuh energi setelah semalam mimpi buruk lagi!"
Amaya terdiam beberapa saat setelah mendengarkan pengakuan Dave dan membiarkan saja Dave yang sekarang makin mengeratkan pelukannya. "May, gimana kalau kamu pindah ke rumahku. Biar kita bisa tidur sama-sama terus, jadinya aku tidak mimpi buruk lagi!"
"Yang dibilang Pak Ari benar, ya. Pak Dave sedikit gila atau memang gila!" Amaya melirik Dave yang menjauhkan kepalanya dan tersenyum tipis. "Mana mungkin kita tidur bersama tanpa status pernikahan. Cukup waktu itu saja, Pak. Maaf," ucap Amaya merasa bersalah.
Dia mencoba melepaskan pelukan Dave, tetapi Dave makin mengeratkannya. "Tidak masalah, May. Lagipula yang kamu katakan memang benar dan aku berpikir seharusnya aku segera menikahi kamu!"
"Maaf, Pak. Tapi untuk itu saya tidak mau buru-buru."
"Kenapa? Kamu percaya ucapan Ari kalau aku gila?" tanya Dave kesal.
"Bukan. Walau tanpa Pak Ari kasih tahu juga, saya sudah tahu kalau Pak Dave memang sedikit gila!"
"Astaga, May. Tega banget bilang pacar sendiri begitu?" Amaya tertawa melihat Dave yang cemberut, dengan inisiatif sendiri dirinya menangkup wajah Dave dan mengecup keningnya lama. "May, lagi, dong!"
Amaya terkekeh lalu menggeleng. Dia menatap Dave dengan begitu serius. "Saya pernah mencintai Pak Dave, tapi karena kecewa perasaan itu perlahan terkubur dengan perasaan benci, Pak. Sekarang, saya menerima Pak Dave dan berharap Bapak bisa menumbuhkan kembali perasaan itu seperti janji Bapak. Jadi, bisakah bersabar sampai perasaan itu kembali hadir?"
Dave terdiam cukup lama. Dia membiarkan Amaya yang turun dari pangkuannya lalu pamit keluar.
"May!" panggil Dave saat Amaya akan menutup pintu.
"Ya, Pak?"
"Aku janji akan hadirkan kembali perasaan itu." Amaya mengangguk dan tersenyum manis kepada Dave sebelum menutup pintu.
__ADS_1