
"Mama berlebihan banget, May. Padahal sudah kubilang kalau ini luka kecil!" Amaya diam saja sambil mengobati luka di sudut bibir Dave. Dia sama sekali tidak merespons apa yang Dave katakan kepadanya itu.
"May, ada apa?" Amaya menatap Dave dengan tatapan kesal dan menarik tangannya yang digenggam oleh Dave. Dirinya kembali mengobati luka tersebut, meski Dave kembali juga menghentikannya. "Ada masalah apa? Kenapa murung, hem!"
Amaya mendengkus kesal lalu memperhatikan Dave dengan lekat. "Kenapa kamu menyepelekan luka yang kamu terima malam ini? Kamu juga anggap Tante Rose berlebihan? Kalau saya jadi Tante, saya juga akan bereaksi sama, Mas. Tante khawatir karena anaknya pulang dengan wajah penuh luka!"
Dave mengangguk dan langsung memeluk Amaya yang bicara dengan penuh emosi. "Maaf, May. Jangan marah, aku tidak ada maksud meremehkan kepedulian kalian!"
Amaya memaksa melepaskan diri dari Dave. Dia tidak mengatakan apa pun dan memilih menyelesaikan mengobati luka di sudut bibir kekasihnya itu.
"Sekarang kamu istirahatlah!" Dave menahan tangan Amaya saat dirinya beranjak berdiri dan akan pergi. Amaya menunduk untuk dapat menatap mata Dave yang seolah memintanya untuk tetap di sisinya. "Mas, saya cuma mau taruh kotak obatnya saja!"
"Biarkan saja dulu, kamu temani aku lebih lama di sini, May! Aku mohon!" Amaya menghela napas lalu mengangguk dengan seulas senyum.
Dia kembali duduk dan membiarkan saja tangannya terus digenggam oleh Dave.
"Sudah bisa kasih tahu siapa yang buat Mas begini?" tanya Amaya sambil memperhatikan wajah Dave yang banyak lebamnya.
Dave mengangguk setuju. "Leo. Tadi kita bertemu. Dia entah dari siapa dapat nomorku dan memaksa bertemu!"
"Leo?" Dave berdeham. "Astaga apa yang dia mau sampai ajak kamu bertemu?"
"Dia sama sekali tidak mau kehilangan kamu, May, dan akan rebut kamu dariku setelah istrinya melahirkan. Tapi kamu tenang saja, ya? Aku sudah buat dia lebih parah lagi dan dia akhirnya janji tidak akan ganggu kamu!" Amaya mengangguk lega. "Kamu tenang saja, dia sudah dibawa ke rumah sakit. Untung tadi Pak Budi lerai kita, kalau tidak mungkin dia akan berakhir di kuburan!"
Amaya menggeleng lalu mengusap tangan Dave yang mengenggam tangan kirinya. "Jangan lakuin itu lagi, ya?" Tatapannya tidak pernah luput memindai setiap inci wajah Dave.
"Baiklah. Ah, May, aku sudah mengantuk. Bisakah kamu temani aku tidur?"
***
"Makasih, Nak, kamu sudah mau bantu Tante obati Dave. Dia keras kepala sama sekali tidak mau dibawa ke rumah sakit!"
Amaya memeluk Rose yang sudah lebih tenang. "Tante tenang saja, Mas Dave sekarang sudah tidur. Saya sudah mengobati semua lukanya."
"Kamu memang yang terbaik. Tante orang yang gampang histeris kalau lihat anak-anak Tante terluka. Apalagi Dave!" Amaya mengangguk. Dia memperhatikan wajah Rose.
__ADS_1
"Kalau begitu kita berdua pulang dulu, Tante. Selamat malam!"
"Malam, Nak! Biarkan Pak yang antar kalian pulang!" Amaya dan Fhea memilih setuju, apalagi sudah pukul sebelas malam.
Mereka lekas pergi dengan diantar Pak Budi yang selalu siap sedia.
"Pak, makasih karena tadi sudah melerai perkelahian mereka," ucap Amaya tulus.
"Iya, Non. Bapak juga telat sebenarnya karena sempat ke toilet dulu, kebelet!" Amaya tersenyum menanggapi kekehan pelan pria tersebut.
"Memang Pak Dave berantem sama siapa, May?"
"Leo. Dia bilang mau ceraikan Femi setelah lahiran dan kita balikan!" Amaya memijat pangkal hidungnya karena merasa sakit kepala. Sama sekali tidak menyangka dirinya pernah menerima perasaan pria yang berani berkhianat.
"Leo parah tidak, ya? Aku berharap dia parah karena dihajar habis-habisan sama Pak Dave!"
"Orang yang tadi sudah dibawa ke rumah sakit, Non. Kalau tadi Bapak lihat, ada giginya yang patah!"
"Patah?" Pak Budi mengangguk, tanpa disangka Fhea yang awalnya terkejut seketika tertawa senang. Dia sampai menepuk tangan saking senangnya.
***
"Mana Dave?" Ari tiba-tiba saja menghampiri Amaya yang sedang mengeprint sambil marah-marah.
Pria tersebut terlihat begitu kesal, karena tidak mendapatkan jawaban dari Amaya, pria tersebut memilih segera masuk ke ruangan Dave.
Amaya begitu bingung harus melakukan apa. Dia tahu Dave sedang tidak ada di ruangan, tetapi malah tidak mencegah Ari masuk.
Benar saja, tidak lama pria dengan dasi yang sudah tidak tapi itu keluar dan menggebrak meja kerja Amaya. "Mana Dave?" bentak Ari kepada Amaya.
"Pak Dave sedang keluar sebentar, Pak. Saya akan hubungi Pak Dave!"
"Hah, tidak perlu!" Ari memilih pergi begitu saja, tetapi langkahnya terhenti dan dengan sorot mata tajam dirinya menatap Dave yang sudah berdiri di depannya dengan begitu tenang. "Sialan lo!"
Tanpa aba-aba Ari menendang perut Dave begitu keras sampai tubuh pria tersebut tersungkur ke lantai keramik yang dingin.
__ADS_1
Amaya hendak menolong Dave yang mengerang kesakitan, tetapi tatapan Ari membuatnya takut. "Bangun lo!"
Dave bangun dengan sudah payah lalu berhasil menghindar saat Ari akan menyerangnya lagi. "Sialan!" desis Ari kesal.
"Apa mau kamu, hah? Kamu bisa-bisanya memecat aku? Sinting? Kenapa?"
Dave yang sedang kesakitan tersenyum tipis menanggapi ucapan Ari tersebut. Dia beralih pergi ke ruang tunggu dan duduk di sana.
Sebelumnya, saat melewati Amaya yang terlihat sekali ketakutan, pria tersebut tersenyum penuh maksa kepadanya. Seakan mengatakan 'Aku baik-baik saja' dan berhasil membuat Amaya merasa sedikit tenang.
Ari mendengkus kesal sambil tangannya meremas kertas di tangannya kuat dan beralih menemui Dave.
"Kurasa jabatan yang kamu duduki itu sudah seharusnya ditiadakan. Lagipula aku masih bisa mengatasinya!"
"Sialan!"
Dave mengangguk lalu memperhatikan remasan kertas di tangan Ari dan tersenyum kecil. "Sudah waktunya kamu berkembang dengan perusahaan yang kamu kembangkan sendiri, Ri."
"Kamu kira aku bodoh? Kamu pasti mau menguasai sendiri perusahaan ini, kan? Apalagi Danu enggan untuk ikut mengelola perusahaan ini!"
Dave berdeham. Dia mengendurkan cengkeraman erat dasinya. "Bukankah perusahaan ini milik keluargaku? Papaku yang pertama kali membangunnya!"
"Papaku juga, sial–"
"Papamu hanya membantu dengan pikiran, sedangkan papaku dengan semua yang dia punya!" Dave memotong ucapan Ari yang kembali akan mengumpatnya.
"Sudah, aku harus menyelesaikan pekerjaan. Sekarang kembali ke ruanganmu dan selesaikan semua pekerjaan sebelum kamu keluar dari sini!" Dave memilih mengabaikan Ari yang hendak protes.
"Sepertinya berita aku dan Ari bertengkar akan viral di kantor ini!" Ucapan Dave membuat kebingungan Amaya. Dirinya tidak tahu kenapa Dave mengatakan hal tersebut.
Dave terkekeh pelan saat melihat wajah bingung Amaya. "Tadi, ada salah satu karyawan yang baru keluar dari lift, tapi balik lagi!"
"Mas tahu?" Dave mengangguk. "Siapa orangnya?"
"Nanti juga kamu akan tahu, May. Bersabarlah!" Setelah mengatakannya Dave memilih masuk ke ruangan.
__ADS_1
Di dalam ruangan di merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata. Lukanya belum juga sembuh, tubuhnya masih merasakan sakit dan sekarang Ari kembali menyerangnya.