
Setelah kejadian waktu itu, Ari terlihat selalu menghindar saat mereka berada dalam satu tempat. Amaya dapat melihat kemarahan Ari kepada Dave, tetapi dirinya juga tidak bisa melakukan apa pun karena semua keputusan ada di tangan Dave.
Sore itu, di saat Dave mengajak Amaya untuk pulang, Ari datang menghampiri mereka dengan membawa laporan yang cukup tebal. Tanpa mengatakan apa pun, pria tersebut melemparkannya ke arah Dave dan jatuh tepat di kaki Dave.
Amaya menutup mulutnya saking terkejut. Dia beranjak hendak mengambil laporan tersebut, tetapi Dave melarangnya dan malah meminta dirinya untuk menunggu di lobi.
"Baik, Pak!"
Dengan langkah takut, Amaya pergi menjauh dari mereka yang berdiri berdekatan saling menatap tajam.
Amaya dapat melihat Dave yang berusaha menahan amarahnya, dia tersenyum dan mengangguk seakan mengatakan kepada Amaya jika semua akan baik-baik saja. Dengan ragu Amaya masuk ke dalam lift seorang diri.
Di dalam ruangan yang terbatas dan terasa dingin itu, Amaya tidak hentinya berdoa supaya tidak ada perkelahian di antara mereka. Mengetahui jika pertengkaran antara kedua pria tersebut viral di kantor, membuat Amaya merasa tidak tenang. Apalagi dia mendengar sendiri, beberapa karyawan menganggap Dave arogan sampai menendang Ari keluar dari perusahaan.
Amaya segera keluar dari lift dan melangkah ke arah kursi tunggu di lobi. Namun, dirinya tersentak kaget saat tangannya tiba-tiba saja ditarik paksa menuju ke toilet oleh Lani.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa dikunci pintunya?" Amaya berusaha membuka pintu, tetapi Lani berhasil menariknya paksa dan mendorong ke wastafel.
"Jawab yang jujur, kamu yang kasih tahu Ari tentang hubunganku sama Adam, kan?" Tangan Lani mencengkeram erat leher Amaya sampai membuatnya kesulitan bernapas. Pukulannya pada lengan Lani pun sama sekali tidak ada reaksi apa pun.
"Sekarang kamu berhasil buat Dave singkirkan Ari dari perusahaan Apa mau kamu?" Lani melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Amaya terjatuh sambil terbatuk-batuk.
Amaya mendongak dan menatap Lani kesal sambil mengusap lehernya yang sakit, dengan susah payah dirinya bangkit, tetapi harus menerima tamparan dari Lani. "Itu akibat karena kamu sudah membuat hubunganku sama Ari berantakan!"
"Apa maksud kamu? Saya tidak tahu apa-apa. Kamu salah kalau menganggap sayalah yang sudah mengacaukan semua perbuatanmu itu!" Amaya menatap tajam Lani yang terdiam.
Dia mengabaikan rasa sakit di pipi dan lehernya karena perbuatan Lani tersebut dan kembali bicara, "Kalau kamu mengira saya yang memberitahu Pak Ari tentang hubunganmu dengan Adam, kamu salah!"
Amaya memperhatikan raut wajah panik Lani, tetapi dia tetap berusaha untuk tenang mendengarkan ucapan Amaya. "Kamu orang yang sudah dijadikan taruhan oleh Pak Ari dan Dave!"
Lani membelalak terkejut, dirinya lalu meraih tangan Amaya dan mencengkeramnya erat. "Jangan asal kamu!"
"Buat apa saya asal bicara? Pak Ari sudah tahu sejak awal hubungan kalian, mungkin juga sebenarnya dia tahu tentang hubunganmu dengan ayah tirinya." Lani langsung melepaskan tangan Amaya, bola matanya berputar tidak tenang, seakan sedang mencari alasan yang tepat.
__ADS_1
"Mungkin itu juga alasan Pak Ari tidak terlalu memperjuangkan kamu di keluarganya. Dia hanya ingin bermain-main denganmu saja!" Amaya tersenyum saat Lani menatapnya tajam lalu memilih pergi dari toilet begitu saja tanpa bicara apa pun.
Amaya sama sekali tidak ada niat untuk mengorek kesalahan Lani, tetapi perbuatan perempuan tersebut yang membuatnya kesal dan memilih melakukannya.
Tubuh Amaya terasa lemas, agar tubuhnya tidak jatuh dia memegang pinggiran wastafel dengan membuang napas kasar berulang kali lalu berbalik menatap pantulan wajahnya di cermin.
Amaya tersenyum getir melihat warna merah samar di pipi sebelah kirinya. Perlahan tangannya mengusap sebelah wajahnya itu. Dia mengingat bagaimana kegelisahan Lani karena ucapannya itu, bisa saja nantinya hubungan Lani dan Ari makin memburuk.
Amaya memilih membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar sebelum keluar.
Senyumnya mengembang sempurna setelah keluar dari toilet dan melihat Dave menunggunya di teras perusahaan. Dia bergegas menghampiri Dave dan membuat pria tersebut sedikit terkejut.
"Ada apa sama kamu?" Kening Amaya berkerut dalam, dia menghindar saat Dave akan menyentuh pipi sebelah kirinya.
"Kita pulang sekarang?" Amaya membalas tatapan Dave kepadanya lalu tersenyum manis sambil menggandeng tangan Dave. Dia mengajak Dave menuju ke parkiran di mana Pak Budi sudah menunggu mereka.
***
"Kamu gugup mau ke rumahku, May?" Amaya mengangguk. Sejak Dave kembali mengingatkan jika nanti malam dia diundang datang ke rumah pria tersebut, perasaan cemas terus saja menemani Amaya.
Amaya menghela napas pelan lalu menatap Dave dengan tatapan lembut lewat pantulan cermin. "Bagaimana penampilan saya, Mas?"
"Perfect!"
Amaya tersenyum tipis saat melihat Dave yang antusias sampai memberikan dua jempol untuk memujinya. Dia bangkit berdiri dan menghampiri Dave. "Kita berangkat sekarang?"
"Tentu!"
Mereka segera keluar dari apartemen dengan Dave yang terus saja mengandeng tangannya.
Di depan lift, Dave merapikan anak rambut Amaya dengan menyelipkannya di belakang telinga. "Pakaiannya cocok banget sama kamu! Kamu jadi makin cantik," bisik Dave yang berhasil membuat Amaya tersenyum malu-malu.
"Meskipun ini jadi terlalu mahal, Mas, buatku!"
__ADS_1
"Itu harga yang masih murah!"
Amaya mendengkus pelan. Bisa-bisanya Dave mengatakan harga gaun dua juta itu dianggap murah, padahal bagi Amaya pakaian yang saat ini dikenakannya itu bisa untuk membeli beberapa potong pakaian. Tidak hanya satu.
"Sudahlah, ayo kita masuk."
***
"Ada lagi yang harus Maya lakukan, Bi?" tanya Amaya kepada Bi Tri setelah menaruh sup di meja makan.
"Sudah selesai, Non."
Amaya memindai ruangan di sekitarnya, dia mencari keberadaan Dave yang tidak terlihat di mana pun. "Bi, kenapa sepi? Di mana orang-orang?" tanya Amaya heran, padahal tadi saat masuk rumah dia sempat berbicara singkat dengan Rose dan Dave juga sebelum meminta izin untuk membantu Bi Tri di dapur.
"Oh, itu tadi Ibu sama Mas Dave lagi di kamar Ibu, Non. Tapi kayaknya bentar lagi mereka ke sini!"
Amaya mengangguk saja. Dia berencana akan ke ruang tamu saja, menunggu mereka di sana. Namun, tatapannya beralih ke sisi kirinya saat Bi Tri tiba-tiba menyapa seseorang.
"Mas Danu."
"Siapa, Bi?" Mulut Amaya seketika tertutup rapat, dirinya begitu terkejut melihat seorang pria yang beberapa hari lalu mengajaknya bicara dan sekarang berada tidak jauh darinya.
"Non, itu Mas Danu anak pertamanya Ibu!" Amaya menatap Bi Tri tidak percaya lalu beralih ke pria bernama Danu tersebut.
"Hai, May. Tidak sangka kita akan bertemu di sini. Padahal aku sudah berencana akan mencari kamu di apartemen untuk kita bisa bicara," ucap pria bernama Danu tersebut setelah Bi Tri pamit ke dapur.
"Kamu ...."
Seakan paham apa yang akan dikatakan oleh Amaya, pria tersebut mengangguk dan tersenyum canggung. "Begini, May. Aku mau jujur sama kamu, sebenarnya Will itu nama sahabatku! Saat itu aku terpaksa melakukannya. Aku ...."
"Jadi, waktu itu kamu bohong?" Pria tersebut mengangguk ragu. Amaya hendak mengecer pertanyaan, tetapi melihat Dave dan Rose menghampiri mereka, dia memutuskan untuk menundanya.
"Kalian sudah saling berkenalan?" Rose menghampiri putra pertamanya itu lalu memperkenalkan Amaya sebagai kekasih Dave.
__ADS_1
"Oh, jadi dia pacar yang sempat kamu ceritakan itu?" Dave mengangguk, dia meraih tangan Amaya dan menggenggamnya. Danu tersebut getir saat melihat kedekatan mereka. "Kalian serasi sekali, iya, kan, Ma?"
"Tentu!"