Dia, Amaya

Dia, Amaya
Grup Khusus Ghibah


__ADS_3

"Pagi Pak Dave," sapa Amaya ketika pria tersebut baru sampai di kantor. Amaya merasa lega melihat Dave yang terlihat bugar dan baik-baik saja.


Amaya memutuskan pulang saat masih subuh sebelum Dave terbangun. Dia juga sampai meminta kepada Bi Tri agar tidak memberitahu Dave jika dirinya ke sana.


"Amaya ...." Baru saja dia akan duduk, Dave keluar dari ruangan dan memanggilnya.


"Pak, ada yang bisa saya bantu?"


Dave mendekat dengan seulas senyum yang tidak pernah meredup. Binar mata pria tersebut begitu menyilaukan Amaya sampai membuatnya memilih menundukkan pandangan.


"May, semalam kamu ke rumah?" Baru saja dia menunduk, tetapi sekarang dia sudah kembali menaikkan pandangan dan menatap Dave bingung. "Pak Budi yang kasih tahu. Tapi, kenapa saat aku bangun kamu tidak ada?"


"Saya pulang subuh, Pak!"


Dahi Dave berkerut dalam lalu kembali bertanya, "Kenapa? Aku bisa antar kamu pulang. Ah, ya, makasih untuk perhatianmu."


Amaya mengangguk. Dia memilih diam saja tanpa membahas apa yang terjadi semalam saat Dave mengigau. "Ya sudah deh. Kamu balik kerja lagi. Hari ini aku ada beberapa kerjaan yang harus dikerjakan!"


"Baik, Pak!" Dave tanpa membuat ulah yang menyebalkan kembali ke ruangannya. Amaya menghela napas pelan. Setelah meminta Bi Tri untuk tidak memberitahu, Amaya lupa ada sopir di rumah Dave yang bisa saja mengatakannya dan tentu saja Dave tahu dari sopirnya itu.


Amaya memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya, tetapi dia mulai tertarik dengan grup di WhatsApp yang terlihat begitu ramai. Merasa tidak terlalu banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan, dirinya memilih ikut masuk dalam grup kantor khusus sekretaris itu.


Amaya tertawa pelan saat membaca salah satu pesan dari rekannya yang mengeluh memiliki bos super bawel, bahkan pakaiannya saja selalu mendapat komentar.


Amaya merasa lega bekerja dengan Dave. Walau Dave menyebalkan, tetapi pria tersebut tidak pernah mengomentari hal apa pun pada dirinya.


[Sumpah, gue pengen jadi sekretarisnya Pak Dave saja. Sekarang dia tidak pernah marah-marah lagi]


[Iya, masa Pak Tono bilang kalau aku tidak boleh pacaran. Umurku sudah memasuki kepala tiga]


[Pak Dave angkat aku jadi sekretarismu]


Amaya tersenyum membaca beberapa pesan dari rekan-rekannya itu yang menginginkan berada di posisi Amaya. Sejujurnya pun sampai saat ini Amaya masih tidak percaya dengan gosip yang beredar tentang Dave. Selama bekerja dengan pria tersebut tidak sekali pun Dave memarahinya.

__ADS_1


"Apa yang buat kamu senyum-senyum begitu sambil lihat ponsel?" Amaya mengangkat wajahnya dan terkejut Dave berdiri di hadapannya dengan kepala menunduk untuk mengintip isi percakapan grupnya.


Dengan cepat Amaya memasukkan ponselnya di tas dan terlihat gugup saat Dave menatapnya selidik. "Kalian bergosip?"


Amaya menggeleng. Dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya kalau memang mereka sedang bergosip tentang bos mereka. "Tidak, Pak!"


Dave mengangguk saja. Dia memilih menjauh dan merogoh saku celananya. "Buat kamu!" Dave meletakkan gelang di meja Amaya. "Kenapa?"


Amaya kembali menggeleng. Dia masih memperhatikan gelang sederhana di mejanya tanpa berniat untuk diambil. "Ini sebagai ucapan terima kasihku sama kamu. Aku harap kamu menerimanya."


"Pak, sepertinya tidak perlu!" Amaya terkejut saat Dave meraih tangan kirinya dan dia memakaikan gelang tersebut.


"Aku harap kamu menerimanya, anggap saja ini sebagai perjanjian biar aku tidak memberitahu para manajer atau direktur yang lain kalau kalian suka bergosip tentang kita!" Dave memperhatikan gelang yang sudah menghiasi pergelangan tangan Amaya dengan senang. Dia lalu menatap Amaya yang terlihat gugup lalu tersenyum. "Kamu kaget aku tahu?"


"Pak Dave mengintip?"


"Konyol. Tidak, buat apa juga? Aku pernah mendengarnya saja saat kalian kumpul. Apa kamu begitu juga, May?" Amaya menggeleng. "Oh, syukurlah. Ingat, tidak baik membicarakan orang lain!" Dave memilih kembali ke ruangannya, sebelum itu dia mengerling menyebalkan kepada Amaya yang hanya diam saja.


"Kamu kenapa, May? Ada yang mengganggu pikiranmu?" Amaya menatap Dave yang sedang memperhatikannya lalu menggeleng. "Aku lihat sejak tadi kamu bengong. Apalagi saat tadi lihat ada yang sedang dilamar ... kamu juga ingin dilamar?"


Amaya menelan ludahnya kasar, dia tidak kuat terus-menerus mendapat tatapan dari Dave yang membuat jantungnya berdetak cepat. Dia memalingkan wajahnya dan menggeleng. "Loh? Bukannya tujuan pacaran untuk berujung ke pernikahan? Oh, kalian mau langsung menikah saja tanpa proses lamaran, begitu?"


"Pak, waktu istirahat sudah hampir habis. Sebaiknya kita selesaikan makan siangnya!" Amaya mengalihkan pembicaraan. Malas membahas hal seperti itu kepada Dave.


"Baiklah. Kita habiskan makanannya."


Tidak ada lagi yang mereka bahas. Amaya memilih sibuk menikmati makan siangnya tanpa memedulikan Dave yang dia sadar terus saja memperhatikannya.


"May, aku ke luar sebentar. Kamu habiskan saja makan siangmu!"


"Pak Dave mau ke mana?"


"Aku cuma mau ke mobil sebentar, sepertinya dompetku tertinggal! Kalau kamu tidak percaya, ponselku biar di sini saja!" Dave langsung meletakkan ponselnya di meja dan dia pergi ke parkiran tanpa menunggu persetujuan dari Amaya.

__ADS_1


"Huh. Dia kira aku peduli apa yang mau dilakukannya?" Amaya mengambil ponsel Dave yang tergeletak begitu saja. Baru saja dia mengangkat ponsel tersebut, layarnya menyala dan sudah ada pesan masuk.


Tanpa sengaja Amaya membaca sekilas. Pesan dari Adam dan pria tersebut menyebut namanya di pesan itu. "Mereka membahasku?" gumam Amaya. Dia ingin memeriksa isi pesan Dave dengan Adam, tetapi melihat Dave yang sudah akan kembali masuk. Amaya memilih mengurungkan niatnya.


"Aku akan tanya!" Amaya meletakkan ponsel Dave di tempat semula. Berawal ingin mengamankan ponsel tersebut, pada akhirnya tidak dia lakukan.


"May, sudah selesai?"


"Sudah, Pak!"


"Baiklah. Aku akan bayar dulu. Kamu tunggu di sini sebentar!"


Amaya mengangguk. Dia terus saja memperhatikan Dave yang terlihat berbeda. Dave seperti sedang menahan marah entah kepada siapa. Dia terus saja melihat Dave yang sedang sabar menunggu. "Apa dia tahu aku ada niatan mau baca pesan Adam?"


"May, yuk!"


Amaya tersentak. Dia terkejut karena Dave sudah kembali. Pria tersebut tersenyum tipis kepadanya, menutupi raut wajahnya yang sedang marah.


Setelah mengambil ponselnya, Dave berjalan duluan meninggalkan Amaya. Selama perjalanan juga, Dave sama sekali tidak mengajak Amaya bicara. Baru setelah mobil memasuki area perusahaan, Dave mulai kembali bicara.


"Kamu benar-benar serius sama pacarmu itu, May?"


Amaya menatap Dave heran lalu mengangguk. "Aku sebenarnya merasa heran, apa pacarmu tidak marah saat kamu dua hari ini menginap di rumahku, May? Atau kamu tidak memberitahukan dia?" Dave mematikan mesin mobilnya, dia menatap Amaya yang hanya diam saja.


"Tidak semua yang saya lakukan harus dia tahu. Lagipula kalaupun tahu, dia tidak akan mempermasalahkannya!"


"Kamu yakin?" Dave terus saja menatap Amaya lekat. Tidak sedikit pun dia mengalihkan tatapan.


"Tentu. Pak Dave berharap apa?"


Dave menggeleng. "Tidak. Aku cuma berharap kalian memang saling mencintai. Tapi, May, kalau dia berani melukai kamu, aku akan ada untukmu. Jangan merasa sendiri, May! Datang padaku!" Dave bicara dengan begitu serius.


Amaya tertegun mendengar ucapan Dave yang terdengar begitu tulus, tetapi dia memilih diam saja. Dia hanya tidak tahu kenapa tiba-tiba Dave mengatakan hal seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2