Dia, Amaya

Dia, Amaya
Kapan Kita Bisa Ngobrol Berdua, May?


__ADS_3

Karena buru-buru, Amaya sampai tidak sengaja menabrak seorang pria yang sedang berjalan sambil membawa kardus.


Beruntung saja hanya punggung yang Amaya tabrak, tetapi dirinya terdiam sampai kata maaf sulit diucapkan ketika pria tersebut berbalik dan menatapnya heran.


"Kamu tidak apa-apa, May?"


Amaya terkesiap lalu menggeleng. "Maaf karena sudah tabrak kamu. Permisi!" Amaya lekas pergi meninggalkan pria yang memilih terus saja memperhatikannya.


Saat dirinya masuk ke lift, pria tersebut ternyata ikut masuk juga. Sial bagi Amaya saat hanya mereka berdua saja di dalam ruangan sempit tersebut. Dia memilih pura-pura tidak mengenali pria tersebut yang terus saja memperhatikan.


"Kamu sekarang berbeda, May! Kamu berhasil menguruskan badan!" Amaya hanya melirik sekilas dan kembali mengabaikan pria tersebut. "Masih marah karena waktu itu?"


Tidak ada jawaban apa pun, Amaya enggan untuk menjawab dan dia berharap agar lift segera sampai lobi, sehingga dirinya cepat terbebas dari pria yang terus saja memperhatikannya.


"Kapan kita bisa ngobrol berdua, May? Kamu tenang saja, aku hanya mau mengatakan apa yang buat kamu salah paham!"


Amaya menghela napas pelan lalu menatap pria di sampingnya itu tanpa mengatakan apa pun. "May, mau?"


"Bicara sekarang saja!" ucap Amaya setelah beberapa saat diam. Dia mengerutkan keningnya saat pria tersebut menggeleng. "Kenapa?"


Pintu lift terbuka dan Amaya memilih segera keluar. Namun, langkahnya terhenti saat lengannya berhasil dicengkeram. "Ada apa lagi? Kesempatan kamu bicara habis!" putus Amaya. Dia berhasil melepaskan cengkeraman pria tersebut.


"Kesempatan apa? Maksud kamu yang tadi?"


Amaya hanya berdeham. Dia menjadi gelisah, takut jika Dave melihatnya mereka berdua. Dia tidak mau jika Dave menjadi curiga. "Itu tidak adil. Bukankah sebelumnya kamu juga sudah setuju kalau kita akan bicara berdua. Jangan begitu, May. Kamu boleh marah, tapi setelah dengar semua penjelasanku!"


Amaya mendengkus kesal. Dia menghindar saat pria tersebut hendak meraih tangannya. "Oke, hari ini jam enam sore di taman belakang apartemen. Jangan sampai telat." Setelah mengatakannya tanpa peduli dengan tanggapan pria tersebut, Amaya memilih pergi keluar dari gedung apartemen.


"Sudah lama nunggu?"


"Belum." Amaya mengintip ke dalam mobil dan tidak melihat Pak Budi yang biasanya menjadi sopir Dave setelah kecelakaan waktu itu. "Cari Pak Budi?"


Amaya mengangguk. Dia menatap lekat Dave yang membukakan pintu mobil untuknya. "Pak Budi sekarang lagi antar Mama ke Menggala. Ada salah satu teman Mama yang sakit!"


Amaya memilih masuk mobil. Dirinya menoleh ke arah gedung apartemen dan melihat Danu berdiri di dekat pintu utama sambil memperhatikan mereka. Namun, Amaya memilih mengabaikannya. Dia tidak mau peduli lagi dengan pria tersebut.

__ADS_1


***


Saat Amaya masih memikirkan tentang apa yang sebenarnya akan Danu katakan, dia dikejutkan dengan kedatangan Gabriella. Gadis itu berhenti tepat di depannya dan hanya melirik sinis sebelum memutuskan masuk ke ruangan Dave.


"Apa yang mau dia lakukan?" gumam Amaya yang merasa curiga dan memutuskan untuk menyusul Gabriella masuk ke ruangan Dave.


Benar saja, Baru saja gadis tersebut masuk dia sudah bermanja-manja dengan Dave yang tampak begitu risih.


Amaya membuang napas pelan lalu memutuskan masuk. "Mas, sudah waktunya makan siang." Ucapan Amaya membuat keduanya beralih memperhatikan Amaya yang melangkah mendekati mereka.


Dave melirik arlojinya. Dia segera beranjak dari duduknya sambil mendorong tubuh Gabriella untuk menjauh darinya. "Kakak!" seru Gabriella tidak suka.


"Aku akan makan siang. Pulanglah sana!"


Gadis tersebut menggeleng. Dia memilih bergelayut manja pada lengan Dave. Tidak membiarkan Dave lepas darinya dan menatap Amaya dengan pongah.


"Ella, lepas!" Gabriella menolaknya, dia makin mengeratkan pelukan pada lengan Dave. "Jangan sampai aku bertindak kasar, La!"


"Kakak kenapa jadi berubah, sih? Dulu Kakak tidak begini!" Gabriella segera melepaskan Dave, bibirnya mengerucut kesal. "Tapi, semenjak Kakak punya pacar dia, Kakak jadi berubah!"


Amaya memilih diam saja saat Gabriella menunjuknya kesal.


"Apaan, sih? Kenapa bawa-bawa nama Levi?"


"Memang kenyataannya begitu!"


Amaya jadi tidak menyangka jika mereka berdua berakhir dengan adu mulut seperti itu. "Ella, kamu ikut kita saja!" ajak Amaya, tetapi dengan tegas Gabriella menolaknya.


Dia memilih pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. "Jangan ambil hari kelakuannya, May. Dia begitu sebenarnya karena kurang kasih sayang orang tuanya!"


Dave menghampirinya dan meraih tangannya untuk digandeng. "Kita mau makan siang di mana?"


"Di mana saja terserah kamu!" jawab Amaya malas. Pikirannya malah beralih memikirkan tentang ucapan Dave tentang Gabriella. Jika memang benar begitu, dia jadi penasaran seberapa kacau kehidupannya.


***

__ADS_1


Lima menit sebelum pertemuan mereka, Amaya sudah sampai di taman. Dia tadi berhasil mencari alasan meminta Dave untuk membeli beberapa bahan makanan yang sudah habis, pria tersebut meminta Amaya memasak untuknya di apartemen.


Waktu yang Amaya miliki begitu sempit, dengan cemas dia berharap Danu segera datang dan mengatakan semuanya sebelum Dave kembali.


"Sudah lama, May?" Amaya mendongak, menatap lekat pria yang berdiri di depannya itu sambil tersenyum manis. Senyuman yang masih saja sama seperti dulu.


"Belum. Duduklah dan katakan penjelasan apa yang harus kudengar!"


"Kenapa buru-buru, May?"


"Cepatlah, aku tidak mau kalau Dave tahu kita berdua ada di sini!" ucap Amaya dengan kesal saat melihat Danu yang masih saja berdiri. Dia harus terus mendongak untuk melihat wajahnya yang sekilas mirip dengan Dave. Hanya saja senyuman mereka yang terlihat berbeda.


"Baiklah, karena ini menyangkut Dave!"


Amaya mengangguk, dia membiarkan saja pria tersebut duduk di sampingnya. Begitu dekat dan hampir tubuh mereka saling bersentuhan.


"Kamu masih ingat tidak awal kita bertemu?" Amaya hanya berdeham saja. Dia memperhatikan sekitarnya, takut jika Dave sudah kembali dan menemukannya di taman bersama dengan Danu.


"Sebenarnya aku malu mengakuinya, tapi sejak dulu aku sudah menyukaimu. Menyukai pipi chubby kamu itu!" Amaya menoleh dan menatap Danu yang tersenyum manis kepadanya dengan ragu. Dia mengangguk dan kembali menatap lurus ke depan. Mengabaikan Danu.


"Untuk itu aku mengajak kenalan dengan nama Will," lanjutnya.


Amaya bangkit berdiri, dia yakin jika Dave sudah sampai dan memilih meninggalkan Danu yang masih belum selesai bicara.


"May, aku belum selesai bicara!" Danu ternyata mengikutinya sampai ke lobi apartemen. Dia menahan Amaya dengan memegang tangannya erat.


"Aku tidak punya waktu!" Amaya berusaha melepaskan diri, tetapi Danu tetap saja memilih untuk tidak melepaskannya. "Tolong, jangan sekarang. Aku minta maaf karena sudah menyita waktumu, tapi aku tidak mau Dave lihat kita dan curiga!"


Melihat kekhawatiran Amaya membuat Danu mengalah lalu melepaskan Amaya. "Baiklah, besok siang kita bertemu di cafe dekat perusahaan. Aku harus selesaikan kesalahpahaman kamu sebelum kembali," ucap Danu penuh pengharapan.


Tanpa pikir panjang Amaya mengangguk begitu saja. "Janji?"


"Iya, aku janji!" jawab Amaya kesal. Dia menepis tangan Danu yang mengacak rambutnya dan memutuskan keluar dari gedung apartemen begitu saja.


"Memang apa yang aku salah pahami tentang dia?" gumam Amaya kesal sambil merapikan rambutnya yang berantakan.

__ADS_1


"Loh, May, kok di sini?" Amaya menatap Dave terkejut. Dia mendadak takut jika kakak dan adik itu bertemu. "Oh, kamu nungguin pacarmu ini, kan?"


"Ah, iya!" Amaya berbohong agar Dave tidak lagi banyak bertanya dan dia mengajak Dave pergi dari lobi.


__ADS_2