
"Pak, besok saya izin tidak masuk kerja!" ucap Amaya setelah kebisuan di antara mereka selama perjalanan pulang.
Amaya sengaja mendiamkan Dave, dia merasa kesal dengan pria tersebut yang menjanjikan akan selalu ada untuknya, ternyata telah memiliki tunangan.
"Kenapa mendadak sekali?"
Amaya menggeleng. Dia sudah menyerahkan surat izin kepada hrd dan sudah di-ACC. "Tidak mendadak, Pak. Hanya saja saya baru kali ini sampaikan sama Pak Dave. Saya harus pulang karena Ibu sakit!"
Dave menghela napas pelan. "Berapa hari?"
"Tiga hari!"
"Itu lama, May. Sehari saja, ya," pinta Dave yang tidak rela terlalu lama berpisah dengan Amaya.
Mendengar ucapan Dave membuat Amaya kesal. Dia mendengkus kasar. "Tidak bisa, Pak. Lagipula Ibu saya sedang sakit keras. Tiga hari juga waktu yang singkat, loh!"
"Baiklah, tapi janji kamu harus balik lagi. Janji juga kamu akan kabari aku atau setidaknya kamu selalu angkat telepon dari aku, biar aku tidak khawatir, May!"
Amaya hendak protes, tetapi mendapat tatapan penuh permohonan dari Dave membuatnya mengangguk pasrah. Dia tidak mau rencana pulang kampungnya malah batal hanya karena permintaan Dave yang tidak dituruti. "Oh, ya, kampung kamu di mana?"
"Bapak harus banget tahu?"
"Tentu!"
"Tulang Bawang Barat, Pak!" Dave mengangguk paham. "Bapak tahu?"
"Tahu, walau aku belum pernah ke sana, tapi aku sering dengar tempat itu. Sekarang bukannya sudah maju? Bahkan sudah banyak tempat wisata di sana, kan?" Amaya mengangguk. Yang dikatakan Dave memang benar, tempat tinggalnya selama beberapa tahun itu dan juga tempat lahirnya tersebut memang sekarang sudah maju. Pemerintahan di sana mulai menata dengan baik semua sektor yang ada. Tidak seperti dulu yang terlihat gersang dan membuat Amaya ingin kabur saja.
"Kalau kamu lama di sana, aku akan jemput paksa kamu, May!"
Amaya tidak menjawab. Dia memilih pamit untuk keluar dari mobil dan masuk ke indekost. Mengabaikan Dave yang masih setia di depan indekost walau Amaya sudah tidak terlihat.
***
"Iya, Nek. Maya besok jadi pulang, sudah bilang juga sama atasan Maya. Mungkin sampai sana siang!"
"Diantar pacarmu atau sopir bus?"
Amaya terkekeh pelan, meski hatinya miris. Dia sering kali menceritakan tentang Leo kepada neneknya dan berjanji akan memperkenalkan Leo kepada nenek dan ibunya saat pulang. Sayang, sebelum impiannya terwujud, semuanya telah berakhir.
__ADS_1
Amaya tidak bisa menepati janjinya itu. Dia dan Leo telah berpisah.
"Sama bus saja, Nek, nanti suruh Ayah jemput Maya di tempat biasa," ucap Amaya sambil tersenyum miris.
"Loh, terus kapan pacar kamu datang? Seharusnya kamu pulang sambil bawa dia. Kenalkan sama ibumu, pasti dia langsung sembuh!"
Amaya terdiam. Dia bingung harus memberitahu neneknya. Beruntung saja neneknya lebih dulu mengakhiri percakapan mereka. Amaya merasa lega, walau setelahnya dia hanya bisa menyeka air matanya.
Andai saja Leo tidak berkhianat, sudah pasti Amaya akan mengajak Leo ke tanah kelahirannya itu untuk bertemu dengan nenek dan ibunya.
"Maafin Maya, Nek!"
Pupus sudah harapan sang nenek untuk bertemu dengan kekasih cucunya.
***
Amaya tidak tahu sejak kapan Dave sudah berada di depan indekost, jika saja Fhea tidak memberitahu, mungkin Dave akan menunggunya lebih lama lagi.
Amaya segera keluar dari kamar setelah memastikan jika tidak ada barang yang tertinggal. Dia menghampiri Dave yang ternyata akan mengantarnya sampai ke terminal bus.
"Seharusnya Pak Dave tidak perlu repot-repot antar saya, saya bisa pakai ojek ke terminal!"
Dave menyuruh Amaya masuk mobil, dia juga membantu memasangkan sabuk pengaman lalu masuk mobil dan meninggalkan indekost. "Jam berapa kamu pulangnya?"
"Satu jam lagi, Pak!"
"Kalau begitu bisa sarapan dulu, kan?" Amaya mengangguk saja. "Mau sarapan di mana?" tanya Dave tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan yang tidak mulus-mulus saja. "Bubur ayam gimana? Tadi, sebelum ke sini, di depan sana aku lihat ada penjual bubur ayam. Kelihatannya enak, gimana?"
"Boleh, Pak!"
Dave segera menuju ke tempat yang dia maksud. Dia lekas memesan dua bubur ayam. Beruntung saja saat mereka memesan sedang sepi pembeli, sehingga pesanan tidak terlalu lama datangnya.
"Kamu tim aduk atau tidak, May?"
"Aduk, Pak. Biar tercampur merata." Dave terkekeh pelan, membuat Amaya bingung dan bertanya kembali, "Apa ada yang salah, Pak?"
"Tidak kok, kamu persis seperti Mama. Mama suka makan bubur ayam diaduk!"
Amaya hanya manggut-manggut karena tidak ada yang menarik untuk dibahas dari semangkuk bubur ayam yang terhidang.
__ADS_1
Selama menikmati sarapan, eberapa kali mereka terlibat percakapan yang tidak terlalu penting. Pembahasan tentang Rose lebih mendominasi.
"Terima kasih, Pak, sudah diantar sampai sini!" Dave tidak hanya mengantar Amaya sampai terminal, dia bahkan ikut masuk ke dalam bus untuk memastikan di mana tempat duduk Amaya.
Pria tersebut memperhatikan penumpang bus yang beragam. Dia menghela napas pelan saat melihat seorang pria yang duduk bersebrangan dengan Amaya terus memperhatikan. "May, kalau ada yang ajak kenalan jangan dihiraukan, ya. Anggap saja angin lalu!"
"Memang kenapa, Pak?" Amaya penasaran, dia ingin melihat siapa orang yang terus saja diperhatikan oleh Dave tersebut. Namun, Dave melarangnya dan langsung pamit setelah sopir mengatakan akan segera berangkat.
"Pacarnya, ya, Mbak?" Amaya menggeleng. Dia tersenyum canggung kepada seorang ibu yang duduk di sampingnya. Pasti sejak tadi terus memperhatikan tingkah Dave yang kelihatan sekali begitu posesif, padahal tidak memiliki hubungan apa-apa.
"Bukan, Bu!"
"Oh, sayang banget. Kelihatan peduli begitu, apalagi cocok loh!" Amaya membalasnya dengan senyuman kecil, sehingga perempuan yang duduk di sampingnya itu memilih mengakhiri percakapan mereka.
Amaya tidak mau jika perjalanannya pulang malah terisi percakapan mengenai Dave. Siapa pria tersebut sampai harus terus dibicarakan?
[May, sudah sampai?]
Amaya membuang napas kasar saat membaca pesan dari Dave. Baru saja bus jalan, pertanyaan Dave sudah berhasil membuatnya kesal.
Dia memilih mengabaikan pesan Dave dengan menghubungi neneknya, tetapi sampai panggilan ketiga tidak juga diangkat. Amaya merasa cemas jika terjadi hal buruk kepada nenek atau ibunya.
Dia tidak memiliki pilihan lain selain menghubungi ayahnya, hal yang tidak pernah dia lakukan. Bicara dengan sang ayah. Namun, kembali panggilannya pun tidak terjawab dan membuat Amaya menjadi begitu gusar.
"Mungkin orang rumah lagi sibuk, Mbak!" Amaya mengangguk saja, dia membenarkan ucapan perempuan yang duduk di sebelahnya itu.
"Mungkin, Bu!"
"Tuh pacarnya telepon!" Amaya menatap layar ponselnya. Dia berharap neneknya balik menghubungi, tetapi ternyata Dave yang melakukannya.
"Pak, saya belum sampai. Ada apa?" tanya Amaya kesal.
"Aku sudah kesepian tidak ada kamu, May. Aku susul, ya!"
Amaya mendengkus pelan, dia begitu kesal dengan sikap Dave yang selalu menyebalkan. "Pak Dave jangan kayak anak kecil, deh. Lagipula saya cuma tiga hari tidak kerja, Pak. Saya tidak akan kabur!"
"Iya, tahu, tapi biasanya kamu buatkan aku kopi dan sekarang kamu tidak ada!"
"Eh ...." Percakapan terputus begitu saja sebelum Amaya memberi jawaban kepada Dave.
__ADS_1