
Kejadian tidak terduga saat tiba-tiba saja Sekar menemuinya tanpa memberitahu.
Perempuan yang usianya lebih tua dua tahun dari Amaya itu mengagetkan Amaya yang baru saja menghidupkan komputer.
"Astaga, Sekar. Kamu ngapain di sini?" Amaya celingukan mencari seseorang selain Sekar, tetapi tidak ada siapa pun.
"Kamu benar ada hubungan sama Pak Dave?" tanya Sekar tanpa peduli dengan pertanyaan Amaya. Dia begitu antusias tidak sabar menunggu jawabannya. "May!"
Amaya terpaksa mengangguk dan tanpa diduga Sekar langsung memeluknya begitu saja. Mengucapkan berulang kali kata selamat. "Akhirnya aku menang!" ucap Sekar sambil melerai pelukannya.
Ucapan Sekar berhasil membuat Amaya bingung. Keningnya berkerut dalam memperhatikan Sekar yang terlihat begitu semangat lalu menerima panggilan dari seseorang.
"Oke, makan siang, ya!" Amaya hanya mendengarkan obrolan Sekar entah kepada siapa. Dia hanya tersenyum masam saat Sekar memperhatikannya.
"Kar, maksud ucapan kamu tadi apa, ya?" tanya Amaya setelah Sekar selesai bicara.
"Yang mana, May?" Sekar memperhatikannya Amaya bingung. Bisa-bisanya dia lupa dengan perkataan yang beberapa waktu lalu diucapkannya. "Oh, makan siang? Kamu ikut, kan? Atau mau makan siang sama Pak Dave?"
"Bukan yang itu, Kar!"
"Duh, May, maaf! Aku harus balik ke bawah. Biasa!" Dengan buru-buru Sekar meninggalkan Amaya setelah mendapatkan panggilan dari atasannya.
Amaya menghela napas pelan dan memilih duduk. Dia merasa aneh dengan ucapan Sekar yang begitu senang karena menang. Entah menang karena apa.
"Ada yang lagi kamu pikirkan?" Amaya mendongak. Dia mendengkus pelan saat melihat Dave yang berdiri di depannya. Menatapnya heran.
"Tidak!"
"Kalau gitu ikut aku, yuk!"
"Ke mana, Pak? Saya baru saja mau mulai kerjakan yang Pak Dave minta!" Dave segera menarik Amaya untuk ikut dengannya, bahkan dia tidak membiarkan Amaya untuk mematikan komputernya dulu.
"Pak, kita mau ke mana?" tanya Amaya kembali setelah mereka berada di lift.
"Mau ke ruangannya Ari! Ada hal penting yang harus aku bahas sama dia!"
"Berhubungan sama pekerjaan?" Dave menggeleng. Dia merapikan anak rambut Amaya yang berantakan, tidak lupa terus saja menampilkan senyum manisnya. "Terus kenapa saya harus ikut? Kalau tahu begitu saya bisa kerjakan pekerjaan saya tadi, Pak!" kesal Amaya. Dia menepis tangan Dave dan membiarkan saat Dave menatapnya heran.
__ADS_1
"Jangan marah, May. Masa minta ditemani sama pacar sendiri tidak boleh!" Amaya menatap Dave kesal. Baginya saat ini pria di sampingnya itu terlihat seperti anak kecil.
"Bukan marah, Pak. Hanya saja saya harus apa di sana? Tidak mungkin hanya diam menjadi pendengar obrolan kalian, kan?"
Dave merangkul pundak Amaya agar tubuh mereka makin dekat. Dia lalu menatap lurus ke depan dan berkata, "Kamu nanti ngobrol saja sama Lani."
Amaya menjauhkan tangan Dave. Dia hendak protes, tetapi saat itu pintu lift terbuka dan kebetulan ada Lani dan Ari yang berdiri di depan lift. Melihat mereka.
Dave yang tadi bisa berekspresi banyak dengan Amaya berubah menjadi datar. Dia menggenggam tangan Amaya erat, seakan tidak ingin melepasnya. "Kita perlu bicara!" ucap Dave yang langsung keluar begitu saja. Mengabaikan Lani dan Ari.
"Kamu tunggu di sini dulu, oke? Aku akan bicara serius sama dia!" ucap Dave lembut kepada Amaya, dia bahkan mengerlingkan matanya. Namun, saat bertatapan dengan Ari dan Lani, ekspresinya berubah.
"Lani, minta tolong Pak Budi buatkan kopi untuk kita!" Ari menatap Dave kesal.
Amaya dapat melihat Ari yang berusaha tenang berhadapan dengan Dave yang angkuh.
"Baik, Pak!" Keduanya lantas masuk ke ruangan Ari, meninggalkan Amaya dan Lani. "Kamu mau minum apa?"
"Tidak perlu."
Lani lekas menghubungi office boy dan meminta dibuatkan pesanan Ari.
Amaya yang bingung harus melakukan apa, memilih duduk di kursi depan meja Lani. Dia memperhatikan Lani yang tampak sibuk mengerjakan pekerjaannya.
"Apa kamu tahu yang dibahas mereka berdua?"
Amaya memperhatikan Lani yang bicara tanpa menatapnya dan memilih sibuk dengan laporan di meja. "Tidak!"
Lani mengangkat wajahnya, menatap Amaya. "Benarkah? Kalau begitu kenapa kamu ke sini?"
"Pak Dave yang minta!" jawab Amaya singkat.
"Benarkah? Bukan karena hubungan kalian yang sudah diketahui semua karyawan?" Amaya mendesah pelan. "Apa kamu tidak takut menjadi bahan gunjingan karyawan? Kamu tahu, kan, orang seperti kita ... ah, tidak! Maksudnya apa kamu tahu resiko orang seperti kamu punya hubungan sama bos akan gimana?"
Amaya memicingkan mata, menatap Lani yang terlihat sekali sedang mengejeknya. "Saya tahu. Tapi, apa saya harus selalu merasa takut? Tidak, kan? Lagipula Pak Dave tidak pernah berniat untuk menyembunyikan hubungan kita!" balas Amaya telak.
Lani mendengkus kesal. Dia sampai meletakkan pena dengan kasar. "Kamu Sepertinya bangga sekali bisa punya hubungan sama Pak Dave!"
__ADS_1
"Kamu benar!"
"Huh. Tetaplah di sini, aku akan mengantar kopi untuk mereka!" Amaya memilih diam saja, dia membiarkan Lani yang mengambil alih nampan berisi dua kopi untuk dibawa ke ruangan Ari.
***
"Kalian jadikan saya dan Pak Dave bahan taruhan?" tanya Amaya kepada ketiga temannya itu.
Amaya sama sekali tidak menyangka, ternyata ucapan Sekar pagi tadi yang terlihat begitu senang karena menang taruhan.
"Ya sebenarnya kita tidak ada maksud begitu, May! Kita cuma penasaran alasan kamu bisa bertahan begitu lama kerja sama Pak Dave yang terkenal pemarah!"
"Bukan cuma itu saja, May. Yang buat kita makin penasaran itu Pak Dave bisa berubah drastis semenjak kamu uang jadi sekretarisnya. Makanya, kita buat taruhan begini!" ungkap Mita.
"Lagipula uang taruhan ini buat makan-makan kita juga kok!" Amaya menghela napas pelan. Tidak ada gunanya dia marah, semua telah terlanjur terjadi.
"Tapi, dari mana kalian tahu tentang hubungan saya dan Pak Dave? Siapa yang menyebarkan informasi itu?"
Amaya begitu penasaran tentang siapa penyebar informasi tentang hubungannya. Dia telah mencurigai Fhea, tetapi dia juga merasa ragu Fhea akan melakukannya.
"Kamu benar tidak tahu, May?" tanya Sinta heran Amaya menggeleng.
"Aku yakin, sih, kamu pasti akan kaget kalau tahu siapa orangnya!" Amaya beralih menatap Mita yang kini sibuk dengan ponselnya. "Lihat deh! Kita tahu informasi ini, kan, dari grup!"
Mita memperlihatkan beberapa foto Amaya dan Dave di rumah pria tersebut. Ada juga keterangan untuk foto-foto itu yang memberi selamat tentang hubungan mereka.
Amaya menghela napas pelan. "Kamu tidak masuk ke grupnya, ya?" Amaya menggeleng. "Kar, gimana, sih? Kok kamu tidak masukkan Amaya ke grup semua karyawan? Huh, parah!" keluh Sinta kesal yang hanya ditanggapi Sinta dengan cengiran menyebalkan.
"Jadi, Lani yang lakukan itu?" Ketiganya mengangguk. Terlihat merasa bersalah.
"Ya, kalau bukan dari dia kita tidak akan tahu, May! Lagipula kamu sama Pak Dave kelihatan kayak atasan dan sekretaris normal!"
"Sudahlah, Pak Dave juga sama sekali tidak mempermasalahkannya dan dia merasa terbantu dengan itu. Hanya saja, sejujurnya saja merasa risih dengan tatapan dan tanggapan beberapa karyawan!"
"Kamu tenang saja, May! Kita bertiga tidak akan beranggapan buruk sama kamu. Kita tahu kok kamu orang baik!" ucap Mita yang duduk di sampingnya sambil mengusap punggungnya.
Amaya hanya bisa mengangguk sambil tersenyum tipis membalasnya. "Yakin, deh. Pak Dave pasti tidak akan tinggal diam. Dia, kan, petinggi di perusahaan ini!"
__ADS_1
"Hai, boleh gabung?" Amaya dan ketiga temannya sama-sama menatap rekan mereka yang baru datang dengan senyum manisnya.