
Amaya dibuat bingung dengan kedatangan Dave ke kost, apalagi Dave datang tidak sendiri. Ada Gabriella yang ikut dengannya.
"Kenapa tatapanmu begitu? Kamu kayak lihat hantu saja!" Dave jail kepada Amaya dengan mencubit hidung pesek Amaya.
"Pak Dave!" tegur Amaya kesal. Dia melirik Gabriella yang terlihat kesal. "Ngapain ke sini? Terus ada dia juga?"
Dave menghela napas pelan. Dia lalu mendekatkan diri kepada Amaya, membisikkan sesuatu, "Kamu lupa sama yang aku bilang kemarin?" Kening Amaya berkerut mendengar ucapan Dave tersebut. "Ternyata kamu lupa. Sudahlah, kamu pasti belum sarapan, kan?"
Dave menarik lembut tangan Amaya dan menyuruhnya masuk ke mobil. Pria tersebut meminta Gabriella untuk duduk di kursi belakang. "Tapi, Kak!" seru Gabriella tidak terima. Dia menatap kesal Amaya yang sudah duduk tenang dan menghentakkan kakinya.
"Huh, nyebelin banget!" Amaya hanya memperhatikan kelakuan Gabriella tanpa mengatakan apa pun.
"Kita sarapan dulu, kamu pasti belum makan, kan?"
"Belum, Pak. Tapi, tumben banget Pak Dave jemput saya!" Amaya masih saja belum memahami apa pun yang terjadi hari ini.
Dia sama sekali tidak ingat apa pun yang dikatakan Dave kemarin selain paksaan untuk menerimanya sebagai kekasih. Selain itu, pikirannya hanya dipenuhi perasaan yang mulai muncul kembali.
"Kak, kita sarapan bubur ayam, yuk. Di tempat langganan kita," ajak Gabriella begitu semangat. Namun, semangatnya seketika sirna karena penolakan Dave. "Kenapa, sih? Padahal Kakak bilang suka bubur ayam!"
"Suka bukan berarti harus memakannya. Lagipula aku sudah bilang, kalau kamu maksa ikut jangan banyak minta!" Amaya menoleh ke belakang, dia melihat betapa kesalnya Gabriella karena ucapan Dave tersebut.
"Kita sarapan bubur ayam saja. Lagipula aku sudah lama tidak makan itu!"
"Ogah!" tolak Gabriella sambil memutar bola matanya malas.
"Oke, kita makan bubur ayam." Amaya mengangguk senang. Dia memilih mengabaikan saja tatapan tidak suka Gabriella kepadanya yang berhasil membuat Dave menurut.
"Kamu guna-guna calon tunangan aku, ya?" Gabriella memajukan tubuhnya dan mengatakan hal tersebut tepat di dekat telinga Amaya.
Amaya menoleh, menatap heran Gabriella dan tanpa mengatakan apa pun Dave kembali membelanya. "Tanpa diguna-guna pun aku tetap suka sama dia. Lagipula siapa juga calon tunangan kamu?"
"Kakak! Aku sudah bilang, pokoknya kita tetap akan tunangan!"
"Tidak!"
"Harus!"
"Kamu mau aku jadi cadangan kamu, kan? Kamu lagi nungguin Lele makanya kamu maksa tetap mau tunangan sama aku?" Dave memperhatikan raut wajah kesal Gabriella dari kaca spion kecil di tengah.
__ADS_1
"Lele?" tanya Amaya bingung.
Dave mengangguk. "Lele jumbo. dia cinta pertamanya Ella dan sekarang lagi kuliah di luar negeri."
Amaya mengangguk paham lalu menoleh ke belakang dan bertanya kepada Gabriella. "Namanya lele jumbo?"
Gabriella tidak menjawab dan memilih memalingkan wajahnya. Dave tertawa kencang karena kepolosan Amaya dan juga kekesalan sepupunya itu. "Itu hanya julukan, namanya Levi Suneo."
"Oh! Aku kira namanya benar-benar lele. Pasti orang tuanya suka sekali makan lele, ya!"
Dave kembali tertawa dan berhasil membuat Gabriella murka. "Kamu kalau tidak tahu apa-apa mending diam. Mana ada nama orang lele jumbo?"
"Iya, aku tahu. Namanya Levi Suneo, kan? Pak Dave sudah kasih tahu!"
"Bukan! Namanya Levi Susanto dan dia bukan cinta pertama aku!" Amaya dan Dave memilih diam. Tidak membalas ucapan Gabriella sampai di tujuan.
"Kamu serius pacaran sama Kak Dave?" tanya Gabriella setelah mereka keluar dari mobil dan Dave sedang memarkirkan mobilnya.
Amaya mengangguk saja, tatapannya tertuju pada warung bubur ayam yang terlihat ramai. "Tapi, yang aku lihat kamu kayak tidak suka sama dia!"
"Memang terlihat suka harus bagaimana?" tanya Amaya bingung. Dia memperhatikan Gabriella yang sedang berpikir lalu mengangkat kedua bahunya. Dia memilih pergi meninggalkan Amaya.
***
Pria tersebut baru berhenti saat ada karyawan yang datang menghadap. "Dia kenapa, sih? Aneh banget!" gumam Amaya. Dia memilih pergi ke toilet yang selalu sepi. Tidak ada yang menggunakannya selain dirinya sendiri.
"Mungkin kerja di lantai yang sama dengan Fhea akan menyenangkan. Tidak seperti di sini yang sepi dan yang dilihat hanya Pak Dave saja!" Amaya membasuh wajahnya. Dia memperhatikan wajahnya pada cermin. "Apa benar dia sudah suka sama aku sejak dulu? Kalau iya, kenapa dia menyebalkan?"
Tentu saja tidak ada jawaban yang bisa Amaya dapatkan. Dia hanya seorang diri di sana.
Puas memandangi wajahnya yang tetap sama saja, Amaya memutuskan keluar dari toilet. Namun, dirinya dikejutkan dengan kehadiran Dave yang entah sejak kapan berada di depan toilet.
"Kenapa kamu basuh wajah?"
"Hanya mau saja, Pak!" jawab Amaya asal.
"Bukan karena tadi saya tunjuk pipi kamu sama telunjuk, kan?"
Dave memicingkan mata saat melihat Amaya hanya mengangkat kedua bahunya dan berlalu meninggalkan dirinya. "Nanti malam Mama undang kamu makan malam di rumah!"
__ADS_1
Langkah Amaya terhenti. Dia berbalik menatap Dave lekat. "Kenapa? Tidak percaya?" Amaya menggeleng. "Mama tahu kita pacaran dan mengundang kamu untuk kasih selamat!"
Dave meninggalkan Amaya dalam keterkejutan setelah mengatakannya.
***
Amaya mengangkat wajahnya saat melihat pintu ruangan Dave terbuka, dia buru-buru kembali fokus pada layar komputer. Pura-pura tidak tahu jika pria tersebut berjalan ke arahnya dengan menenteng tas.
"Lembur?" Amaya hanya mengangguk tanpa menatap Dave sama sekali. "Kamu tentu tidak lupa, kan, dengan yang kukatakan siang tadi!"
"Yang mana, Pak?" tanya Amaya. Dia harus terlihat tidak ingat untuk bisa mengulur waktu bertemu dengan Rose.
Dave meletakkan tasnya di meja kerja Amaya. Dia melepaskan dasinya dan menyampirkan dasi tersebut begitu saja di pundak. "Kamu lupa atau benar-benar lupa? Apa undangan makan malam tidak berarti buatmu?"
Amaya menjadi merasa bersalah melihat tatapan Dave yang kesal kepadanya. Dia langsung menunduk, merasa bingung bercampur cemas berlebihan.
Amaya teramat takut jika reaksi Rose seperti yang dipikirkannya. Rose tidak akan menyukainya lagi setelah tahu dia dan anaknya menjalin hubungan, apalagi Amaya merasa minder dengan keluarganya yang tidak harmonis dan status sosial mereka terlampau jauh berbeda.
"May!"
"Pak, bisakah saya tidak datang hari ini?"
"Kenapa?"
Amaya menghela napas pelan. Dia mematikan komputernya dan bangkit berdiri. "Pak, saya mungkin menerima Bapak jadi kekasih, tapi saya tidak pernah berpikir bisa diterima baik sama keluarga Pak Dave!"
Kedua alis Dave terangkat. Menatap asing Amaya yang terlihat menjadi salah tingkah. "Status kita, Pak. Meskipun Tante Rose baik dan tulus, tapi belum tentu akan terima dengan status sosial saya, kan? Apalagi Pak Dave punya calon tunangan yang sama-sama kaya!" Amaya mengigit bibirnya.
"Kenapa kamu jadi pesimis begini? Mamaku bukan orang yang seperti itu, May. Kalaupun iya, aku tidak akan peduli dan akan tetap perjuangkan kamu!"
"Untuk Ella, sudah aku katakan dia hanya sepupu. Tidak ada yang bisa melarangku untuk mengambil keputusan!" Amaya tertegun dan membiarkan saja saat Dave meraih tangannya. "Jadi, mau, kan, terima undangan makan malam ini?" tanya Dave dengan suara lebih lembut.
Amaya menatap Dave lekat, dia tetap saja masih ragu hanya untuk sekadar memberi jawaban yang memuaskan hati Dave. "May!"
"Baiklah, Pak, saya mau. Tapi ...."
Dave menjadi gemas sendiri dengan Amaya. "Tapi apa, May!"
"Tapi, Pak Dave jangan jauh-jauh dari saya!"
__ADS_1