Dia, Amaya

Dia, Amaya
Senyum Rose Masih Sama, bahkan Sentuhan Tangannya Pun Tetap Sama


__ADS_3

Amaya mengira makan malam mereka hanya ada tiga orang saja atau lebih banyak empat orang. Namun, perkiraannya salah. Ada empat orang yang telah menunggunya, bersama dirinya dan Dave yang baru saja datang, total semua ada enam orang.


Kali ini bukan kecemasan pada penerimaan Rose tentang hubungannya dengan Dave, tetapi tentang dua orang yang Amaya baru lihat dari dekat.


Ari dan Lani.


Setidaknya gosip yang dikatakan oleh ketiga teman sesama sekretaris benar, Ari memiliki hubungan dengan sekretaris pribadinya itu. Lani.


Setidaknya memang benar, Lani yang jarang sekali gabung dengan mereka atau bahkan enggan masuk grup khusus pada sekretaris juga karena ada hubungannya dengan Ari.


Kalau tidak benar, mana mungkin Lani ada di antara mereka. Di dekat Ari dan terlihat begitu mesra.


Lamunan Amaya tentang keduanya buyar saat Gabriella berdeham. Amaya menjadi malu dan salah tingkah. Beruntung saja Dave menyadari itu dan langsung mengajak Amaya untuk duduk, bergabung dengan mereka.


"Ngapain ke sini?" tanya Dave yang tatapannya tertuju pada ketiga orang di seberangnya.


Amaya melihat Gabriella cemberut, Ari yang terlihat begitu cuek, dan Lani yang pastinya sama seperti dirinya. Bingung harus melakukan apa. "Mama yang undang mereka. Ya sekalian saja, kan, biar makan malam kita jadi makin ramai!"


Rose menengahi keadaan yang sepertinya akan terjadi perang mulut itu, terlihat Dave yang menghela napas kasar dan Ari yang tetap saja tidak peduli.


"Pak Dave mau ke mana?" tanya Amaya pelan. Dia menahan tangan Dave yang akan meninggalkannya sendiri. Amaya memohon agar Dave tetap di sisinya, tidak pergi ke mana pun.


"Kamu di sini saja dulu, aku cuma mau ke kamar sebentar. Taruh tas saja!"


"Tapi, Pak ...."


"Kayak bocah," cibir Gabriella yang berhasil membuat Amaya mengalah. Dia melepaskan tangan Dave dan membiarkannya pergi.


"Gimana kalau sekarang kita makan malam. Tante sudah lapar nih!" ajak Rose kepada mereka semua yang memilih tutup mulut semua.


Rose menghampiri Amaya dan mengajaknya. "Yuk, Sayang. Tante tahu kamu pasti lapar." Amaya mengangguk senang, kecemasannya benar-benar tidak terbukti.


Senyum Rose masih sama, bahkan sentuhan tangannya pun tetap sama.


"Tante tunggu, dong!" seru Gabriella. Gadis manis itu seakan tidak menyukai kedekatan Rose dan Amaya, dia langsung menggamit lengan Rose yang sedang menggandeng tangan Amaya.


"Apa yang mereka lakukan di sana?"


Amaya melihat Ari dan Lani yang masih duduk di ruang tamu. Mereka tidak langsung pergi ke ruang makan.


"Kenapa, May?"


"Tante, maaf ada yang tertinggal di depan!" Amaya lekas meninggalkan Rose dan Gabriella di ruang makan.


Saat hampir dekat dengan ruang tamu, Amaya mendengar percakapan mereka berdua dan terdengar begitu serius.


"Lihatlah, Tante kamu saja bisa terima Amaya sebagai kekasih anaknya, tapi mamamu tidak. Padahal antara aku dan Amaya semuanya lebih baik aku, kan?"

__ADS_1


Amaya terdiam. Tidak menyangka dengan yang dikatakan Lani, meski memang benar. Dirinya tidak lebih apa pun dari Lani yang terlihat sempurna. Jika disandingkan pun akan terlihat jelas perbedaannya.


Lani memiliki tubuh tinggi semampai dan langsing, sedangkan dirinya termasuk kriteria perempuan bertubuh pendek. Tinggi badannya hanya 157 cm dan bobot 50 kg. Wajah mereka pun begitu berbeda, wajah Lani begitu mulus. Amaya yakin, lalat saja akan terpeleset jika hinggap di wajahnya. Apalah wajahnya yang suka sekali berjerawat, memiliki komedo membandel, bahkan terdapat bopeng yang jika dilihat dari dekat akan sangat terlihat.


Beruntung makeup bisa membantunya. Dari semuanya satu hal yang bisa Amaya banggakan pada tubuhnya, dia memiliki tubuh putih bersih. Keturunan dari ayahnya. Hanya itu. Lainnya, sangat berbeda jauh dari Lani.


"Kamu harus sabar. Kita sudah berjanji akan berjuang sama-sama. Untuk kekasih Dave, dia hanya beruntung saja! Nasibnya baik!" Amaya mengintip Ari mencubit hidung mancung Lani. Tanpa sadar Amaya memegang hidungnya. Pesek.


"Huh, seharusnya aku memang bersyukur bertemu dengan Pak Dave," gumam Amaya. Dia memilih untuk mengurungkan diri mengambil tasnya. Namun, saat berbalik dirinya dikejutkan dengan sosok tinggi di depannya yang sedang menatap dengan tatapan serius.


"Astaga, Pak Dave!" Amaya mengelus dadanya karena terkejut. Dia mendengkus pelan saat melihat Dave yang tertawa kecil lalu mengacak rambutnya. "Pak, rambut saya berantakan!"


"Kamu ngapain di sini?"


"Oh, itu? Eem, saya sebenarnya ...." Amaya bingung sendiri mau bilang apa.


"Kamu nguping obrolan mereka?" Amaya menggeleng. Dia tidak sengaja melakukannya. "Iya, tahu kok. Kamu dengar obrolan mereka, tapi tidak sengaja!"


Kini Amaya mengangguk senang karena Dave paham. "Tapi benar, kamu memang beruntung, May!"


Amaya memicingkan matanya, menatap Dave curiga. "Kamu beruntung dicintai cowok seganteng aku, tapi aku lebih beruntung karena kamu mau jadi pacar aku, May!" ucap Dave bangga. "Lagipula buat apa punya pacar kayak pacarnya Ari kalau ucapannya jahat. Padahal dia juga perempuan!"


Amaya menghela napas pelan. Dia merapikan rambutnya yang berantakan karena ulah Dave. "Pak Dave dengar juga?"


"Tentu!"


"Aku suka kamu kayak gini, May. Kayaknya nanti malam tidurku bakalan nyenyak banget deh!"


"Apa masih suka mimpi buruk?" tanya Amaya setelah melepaskan pelukannya.


"Jarang. Memang benar, cuma kamu obatnya, May!"


"Syukurlah!" Amaya tersenyum membalas senyuman Dave.


"Kalian ngapain malah masih di situ? Ayo, makan dulu baru ngobrol lagi!" Amaya menjadi salah tingkah saat ketahuan oleh Rose sedang begitu dekat dengan Dave. Namun, sikap Dave terlihat biasa saja. Dia tidak malu menggandeng tangan Amaya dan mengajaknya ke ruang makan.


***


Amaya baru saja akan duduk kembali di kursinya setelah makan siang bersama dengan Sekar dan Fhea di kantin saat Lani tiba-tiba saja datang.


Perempuan itu terlihat begitu serius, terengah-engah seperti baru saja selesai lari. "Lani, ada apa?" tanya Amaya yang merasa heran. Tidak biasanya Lani sampai mendatanginya.


Kalaupun karena semalam, rasanya tetap saja aneh. Mereka tidak banyak bicara dan lebih sering saling cuek.


"Sibuk tidak?" Amaya menggeleng. "Aku mau ajak kamu ngobrol sebentar. Bisa?"


"Harus sekarang?"

__ADS_1


"Iya. Karena aku ada waktu senggangnya sekarang. Pak Ari lagi ada di luar untuk bertemu seseorang selama dua jam. Gimana?"


Amaya mengangguk. Dia lalu mengajak Lani ke ruang meeting di sebelah ruang kerja Dave daripada di ruang tunggu. Amaya yakin yang akan dikatakan Lani begitu penting.


"Kamu mau bahas apa? Kelihatannya serius banget!" ucap Amaya setelah mereka duduk.


Terdengar helaan napas pelan dan panjang dari Lani, Amaya hanya memperhatikan setiap reaksi dan gerakan tubuh Lani.


Lagi Amaya merasa memang mereka begitu berbeda. Berhadapan dalam jarak dekat begini dirinya bisa melihat perbedaan nyata tersebut.


"Aku yakin kamu pasti tahu tentang hubunganku dan Pak Ari. Apalagi semalam aku ... ya, aku yakin kamu pasti tahu!"


Amaya mengangguk. "Bukan hanya saya, tapi sepertinya semua karyawan di sini!"


"Kamu benar. Sebelumnya bisa tidak bicaranya jangan kaku? Kamu tidak perlu pakai saya, gunakan aku saja. Bisa?" Amaya berdeham walau sedikit kesal.


"Jujur, aku iri sama kamu. Tante Rose terima kamu dan kelihatan banget kalau dia sayang sama kamu. Tapi, aku malah dapat perlakuan berbeda dari mamanya Pak Ari. Mamanya tidak pernah mau terima aku, selalu saja perempuan itu mengatakan tidak selevel hanya karena pekerjaanku sebagai sekretaris."


Amaya merasa kasihan kepada Lani, pasti jadi Lani begitu tertekan sampai-sampai Lani menyebut 'perempuan itu' untuk mama kekasihnya.


"Jujur saja, aku kerja karena bosan di rumah. Orang tuaku mereka semua dosen, bahkan kakakku seorang dokter bedah terkenal di Negara Singapura. Tapi, tetap saja aku dianggap tidak selevel. Menurutmu aku harus gimana?"


"Hah? Gimana maksudnya? Kamu minta pendapatku?" Lani mengangguk dan berhasil membuat Amaya tertekan. "Maaf, tapi aku tidak tahu!"


"Apa benar-benar kamu tidak bisa kasih pendapat, May?"


"Sebenarnya aku tidak tahu cara meluluhkan hati seseorang, tapi mungkin kamu harus lebih bersabar dan buktikan kalau kamu dan Pak Ari selevel seperti yang dikatakan orang tua Pak Ari."


Lani mengangguk, dia memainkan kukunya yang dikutek. "Huh. Jujur saja aku kesal dan juga itu sama kamu. Tentu aku juga minta maaf karena semalam malah membandingkan hidupmu denganku. Aku sama sekali tidak ada maksud untuk membandingkan status ekonomi dan sosial kita, aku ...." Lani menghela napas pelan.


"Aku paham. Kamu tidak perlu memikirkannya." Amaya tersenyum tipis, dia mengangkat kepala memperhatikan Lani yang tiba-tiba berdiri. Dia membiarkan saja perempuan tersebut yang pergi tanpa mengatakan apa pun dengan raut wajah kecewa. "Sabar, Maya, sabar!"


Amaya memilih keluar dari ruangan tersebut dan bertemu dengan Dave yang sedang duduk di ruang tunggu sambil bermain ponsel. Dirinya menghampiri Dave dan ikut duduk di sana. "Apa yang Pak Dave lakukan di sini? Bukannya akan bertemu dengan Pak Adam?"


Dave tidak menjawab dan hanya menghela napas pelan. "Kenapa kamu harus bicara panjang lebar dengan Lani? Padahal dia cuma mau merendahkan kamu?" Tatapan Dave terlalu mengintimidasi Amaya. "Kamu apa tidak tahu juga alasan Lani jauh dari karyawan lainnya? Dia terlalu angkuh, May!"


"Maaf, Pak. Saya hanya merasa kasihan saja dengannya. Dia seperti orang yang frustrasi karena tidak diterima baik sama keluarga kekasihnya!"


"Lain kali abaikan saja dia. Aku tidak mau kamu selalu insecure kalau di dekat dia. Kamu harus percaya diri seperti biasanya!"


"Gimana aku tidak insecure kalau pacarku saja orang yang sempurna?"


"Ya sudah, aku akan bertemu Adam. Kamu pulang saja, May! Tidak ada kerjaan lagi, kan?"


"Boleh, Pak?"


"Tentu! Tapi kamu mau ke mana, kenapa jadi semangat?" Dave memicingkan mata melihat Amaya yang begitu semangat setelah diberinya izin pulang cepat.

__ADS_1


Amaya beranjak berdiri dan membuat Dave makin penasaran. "Rahasia, Pak!"


__ADS_2