Dia, Amaya

Dia, Amaya
Menikmati Setiap Reaksi yang Kamu Perlihatkan


__ADS_3

"Pak, kenapa kita ke sini? Bukannya Pak Dave bilang mau antar saya ke kost?" tanya Amaya heran saat Dave meminta Pak Budi untuk mengantar mereka ke sekolah di hari libur.


"Aku mau ajak kamu masuk ke sekolah kita dulu. Walau kamu sekolah di sini tidak sampai lulus, tapi tetap saja kamu salah satu siswa di sini!"


Amaya memperhatikan sekolahnya dulu. Tidak ada yang berubah. Semenjak dia memutuskan untuk kembali tinggal di kota belum pernah Amaya mengunjungi sekolahnya yang dulu. "Masih sama, Pak!" ucap Amaya yang masih memperhatikan sekolah mereka dari jauh.


"Kita masuk, yuk!"


Amaya menatap Dave ragu. "Tenang saja, tidak ada yang akan larang kita."


"Pak Dave yakin?" Dave mengangguk senang. Dia memutuskan keluar lebih dulu, setelah itu membukakan pintu untuk Amaya yang terlihat begitu ragu untuk keluar dari mobil.


"Pak Budi tunggu saja di sini! Kita tidak akan lama." Dave mengajak Amaya masuk ke sekolah.


Mereka tidak masuk lewat gerbang depan karena digembok. Dave mengajak Amaya masuk lewat jalan rahasia.


"Pak Dave yakin? Temboknya tinggi loh, Pak!" Amaya mendongak memperhatikan tembok yang menjulang tinggi di depan mereka.


Dave mengajaknya memanjat tembok tersebut dan Amaya yakin tidak akan bisa melakukannya. "Kita pulang saja, Pak. Saya tidak bisa memanjatnya!"


Dave terkekeh pelan. Dia menarik Amaya ke sisi belakang sekolah dan melihat ada celah di antara tembok tersebut. Dia masuk lebih dulu dengan menyamping diikuti oleh Amaya.


Setelah bisa masuk ke sekolah lewat celah tersebut mereka tertawa bersama, Amaya baru tahu jika ada jalan rahasia. Dia memicingkan mata, menatap Dave lekat. "Pak Dave dulu suka lewat jalan itu?"


"Menurutmu? Apa menurut kamu aku tidak pernah melakukan kenakalan?"


"Tentu pernah, apa mau saya sebutkan?"


Dave menggeleng. Dia meraih tangan Amaya. Mengajak Amaya ke gedung sekolah daripada membahas tentang hal yang pasti nanti berujung dengan kenangan menyakitkan itu.


Di lapangan basket yang berada di tengah-tengah bangunan sekolah, Amaya berhenti. Dia mendongak, tatapannya tertuju pada rooftop di sisi kirinya. Menghela napas pelan mengingat kejadian naas siang itu.


Dia mengingat di mana saat itu, dirinya dan David berada di sana. Amaya menyaksikan David menginjak kacamatanya sendiri, menangis histeris setelah menerima perlakuan buruk dari siswa lainnya karena dituduh mencuri. Bukan karena itu saja, David lelah dengan perbuatan buruk Dave dan gengnya.


Amaya menoleh, dia tersenyum tipis dan menunjuk ke rooftop tersebut. "Di sana David mengakhiri hidup, Pak, dan saya tidak bisa melakukan apa pun." Amaya menghela napas, dia menyesal dan menginginkan waktu bisa diputar kembali.


"Maaf, May. Pasti saat itu kamu ketakutan!" Amaya mengangguk. Dia mendapatkan tatapan tuduhan dari semua temannya, mengira dirinyalah yang telah mendorong David untuk mengakhiri hidup. Padahal saat itu, ada Dave yang hanya diam menyaksikan.

__ADS_1


Tidak memberi kesempatan Amaya untuk memberi penjelasan dan membuatnya memutuskan untuk pindah sekolah.


"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat!"


Amaya menatap Dave lekat. Dia membiarkan saja Dave mengajaknya pergi ke salah satu kelas. Entah dapat kunci dari mana, Dave bisa membuka pintu dan mengajak Amaya masuk.


"Masih ingat tidak apa yang terjadi di sini?" tanya Dave. Dia memilih duduk di bangkunya dulu, sedangkan Amaya berdiri di depan kelas sambil mengingat kejadian apa yang Dave maksud. "Lupa?"


"Memang ada kejadian apa?"


"Huh. Aku saja masih ingat, masa kamu lupa!"


Amaya memicingkan matanya. Dia sama sekali tidak ingat kejadian yang Dave maksud. Ada begitu banyak kejadian di sekolah dan semua tentang hal yang tidak menyenangkan.


"Dulu kamu berdiri di situ, pegang bunga melati yang kamu bawa entah dari mana lalu ...."


Amaya membelalak, mengingat kejadian yang Dave maksud. Dia mendekati Dave yang terkekeh pelan melihat reaksinya lalu menutup mulut Dave dengan telapak tangannya.


"Pak Dave kenapa masih ingat kejadian memalukan itu, sih?" keluh Amaya karena kesal.


Dia menjauh dan memilih duduk di kursi guru. "Padahal momen itu menjadi yang paling favorit loh. Lihat wajah kamu yang memerah karena malu, tapi maaf saat itu aku langsung tolak kamu, May!" Amaya mengangguk paham.


Amaya menghela napas pelan. Dia membaca tulisan di meja guru tersebut. Senyum tipis tersinggung di bibirnya lalu telunjuknya mengukir tulisan itu.


"Sepertinya julukan guru galak masih dipegang sama Bu Yuni, Pak. Di sini ada coretan samar siswa kalau Bu Yuni guru galak!"


"Benarkah?" Dave menghampiri Amaya. Membaca tulisan yang Amaya maksud dan terkekeh pelan.


Detik-detik berikutnya mereka membahas tentang kelakuan para guru dulu. Tanpa sadar setengah jam mereka berada di kelas itu hanya untuk membahas tentang tingkah para guru.


"May, aku mau ajak kamu ke suatu tempat deh. Cuma sebentar setelah itu aku akan antar kamu pulang!"


"Ke mana, Pak?"


"Kantin!" jawab Dave penuh semangat. "Aku mau buka satu rahasia ke kamu," bisik Dave yang membuat Amaya menjadi setuju mengikuti Dave.


Mereka pergi ke kantin yang tampak lengang. Meja-meja begitu rapi, tidak seperti hari sekolah di mana kantin menjadi tempat favorit para siswa. Tidak terkecuali Amaya dan Dave.

__ADS_1


Dave membawa Amaya duduk di tempat paling pojok, bahkan Dave memaksa Amaya duduk di tempatnya dulu sering duduk.


Dave memilih duduk di depan Amaya lalu meraih tangannya. "Mungkin terkesan mengada-ada, tapi aku akan bicara jujur. Mungkin juga ke depannya akan banyak kejutan yang kamu terima!"


Amaya memilih diam. Menunggu ucapan Dave selanjutnya. "Sejujurnya setiap kamu di duduk di sini dengan beragam reaksi, baik itu rasa takut atau cemas, aku selalu menikmatinya. Dulu aku mengira karena senang melihatmu menderita, tetapi ternyata salah, May. Aku menikmati setiap reaksi yang kamu perlihatkan karena rasa suka. Dulu aku belum bisa membedakannya."


Amaya menarik tangannya. Dia menatap tidak percaya Dave dengan ucapannya itu. "Pak Dave ngaco. Mana mungkin Pak Dave suka sama saya sejak dulu!"


"Mungkin itu hanya alasan buat kamu, tapi aku serius, May!" ucap Dave sungguh-sungguh.


Amaya menjadi kikuk dengan tatapan Dave. Dia tidak tahu harus mengatakan apa dan memilih bangkit berdiri dari duduknya. "Kita sudah terlalu lama di sini, Pak. Sebaiknya kita pulang!"


Amaya memutuskan pergi lebih dulu. Namun, langkahnya terhenti setelah mendengarkan perkataan Dave yang membuatnya makin bingung untuk bereaksi.


"May, kamu mau, kan, terima aku? Aku janji akan perbaiki semuanya sampai tidak ada lagi tersisa rasa sakit di hati kamu!"


Amaya mendengar langkah kaki mendekat, dia memperhatikan tangannya yang diraih Dave dan beralih menatap Dave yang terlihat berbeda hanya dalam waktu beberapa detik saja. "May, kamu mau, kan?"


"Tuhan, aku harus jawab apa?"


"May, jawab, dong! Tidak masalah kalau kamu masih belum ada rasa lagi sama aku, biar aku yang akan hadirkan rasa itu di hati kamu lagi. Aku cuma mau kamu jawab iya!"


Amaya menghela napas pelan. Sedikit kesal dengan ucapan Dave yang memaksanya menerima. "Dasar tukang maksa!"


"Tunangan Bapak gimana?"


Kening Dave berkerut samar. Dia menggeleng lalu melepaskan genggamannya. "Aku tidak punya tunangan. Gabriella selamanya hanya sepupu, adiknya Ari. Sudah itu saja!"


"Bapak yakin?"


Dave mengangguk. "Jadi gimana? Kita tidak akan pulang kalau kamu belum kasih jawaban! Dan jawabannya harus iya!" tegas Dave yang membuat Amaya kesal.


"Kalau gitu apalagi yang harus saya jawab kalau hanya satu jawaban saja yang Bapak mau!"


"Nah gitu, dong!" Dave begitu girang dan langsung meraih tangan Amaya. Dia menggenggam tangan tersebut dan mengajaknya pergi dari sekolah lewat gerbang depan, bukan jalan rahasia yang tadi dilewati mereka dengan susah payah.


"Kita lewat sini?" tanya Amaya bingung.

__ADS_1


Dave hanya mengangguk dan menunjuk ke arah pos jaga di mana ada satpam di sana.


__ADS_2