
Amaya menghindari pertanyaan nenek dan ibunya. Dia selalu beralasan sedang cuti beberapa hari dan setelah itu memilih untuk pura-pura tidak mendengar.
"Hari ini jadwal terapi Ibu, kan?"
"Iya. Ibu bersyukur sekali, Nak Dave begitu baik hati sampai mau membiayai semua biaya pengobatan Ibu." Sudah hampir seminggu di rumah, pujian kepada Dave tidak henti-hentinya Amaya dengar. Namun, pujian itu sama sekali tidak membuat Amaya tertarik untuk menyebut namanya.
"Dia memang baik, Bu!"
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau ke rumah Bi Nani. Ada hal yang harus aku lakukan!" Wajah cerah ibunya berubah menjadi mendung. Amaya sadar, menyebut nama perempuan yang telah merusak rumah tangga ibunya itu di rumah adalah hal yang salah.
Kesakitan itu akan selalu terkenang. Keakraban yang terjalin berhasil terputus untuk selamanya karena pengkhianatan.
"Mau apa ke sana?" tanya perempuan paruh baya yang duduk di kursi roda itu dengan suara tenang.
"Nanti aku akan kasih tahu, tapi sekarang aku harus pergi dulu!" Amaya memutuskan pergi ke rumah Nani dengan berjalan kaki karena jarak rumah mereka yang tidak terlalu jauh.
Dia memutuskan untuk menerima tawaran perempuan itu bekerja di koperasi. Seharusnya Tina yang bekerja di sana, tetapi gadis yang baru lulus kuliah itu menolak. Alasannya karena ingin bekerja di kota seperti dirinya.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga. Jadi gimana, sudah kamu putuskan?" Amaya mengangguk, dia mengabaikan wajah senang perempuan yang telah membuatnya begitu membencinya itu.
"Kapan aku bisa kerja?"
"Bibi tidak bisa memutuskan. Tapi sekarang kita ke koperasi dulu dan nanti kamu akan dijelaskan semuanya sama Pak Yakup!"
Amaya mengangguk. Dia menurut saja saat harus pergi ke koperasi, karena itu lebih baik daripada lama-lama berduaan dengan Nani, orang yang jelas-jelas tidak dia sukai.
"Kita naik motor," ajak Nani.
"Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri ke sana!" tolak Amaya, tetapi ucapan Nani berhasil membuatnya mau menerima ajakan perempuan tersebut untuk dibonceng.
Beruntungnya jarak rumah ke koperasi tidak terlalu jauh. Di sana mereka bertemu dengan Pak Yakup yang merupakan ketuanya.
Amaya dipekerjakan di bagian sekretaris. Tentu saja dia tidak akan menolak. Dia berharap dengan bekerja di koperasi bisa mengumpulkan uang untuk membayar semua yang telah Dave keluarkan.
Amaya sama sekali tidak mau berhutang budi dengan Dave, dia sama sekali tidak mau berurusan dengan pria itu.
"Terima kasih, Pak Yakup. Besok aku akan datang tepat waktu!"
__ADS_1
"Itu bagus, May. Bapak suka semangatmu. Sebenarnya juga sudah lama Bapak mau minta kamu kerja di sini, tapi karena tahu kamu butuh uang banyak untuk ibumu, Bapak memilih tidak melakukannya."
Amaya hanya tersenyum menanggapi ucapan pria yang selalu ramah kepada siapa pun.
Selang beberapa waktu Amaya dan Nani memutuskan pulang. Nani kembali menawarkan Amaya untuk dibonceng, tetapi kali ini Amaya menolaknya.
Dia tidak ingin berlama-lama bersama dengan Nani karena ingatan tentang penderitaan ibunya selalu terbayang.
"May, kalau kamu lagi ditelepon sama pacarmu itu bilang dari Bibi makasih, ya. Dia baik banget mau pekerjakan Tina di kantornya."
Amaya hanya berdeham dan memutuskan pulang lebih dulu, bahkan di jalan dia bertemu dengan ayahnya dan Amaya kembali memutuskan untuk mengabaikan saja. Dia sama sekali belum siap untuk bicara.
"Amaya!" Amaya terdiam. Tubuhnya terasa kaku saat mendengar suara yang amat dikenalnya memanggil. Dia berbalik dan menatap lekat sosok yang berdiri di hadapannya itu.
"May!" Tubuhnya terasa begitu ringan. Dia sama sekali tidak merespons pelukan yang diterimanya itu. "Hei, ada apa dengan kamu? Seminggu pergi kamu jadi berubah?"
"Tidak. Aku cuma terkejut saja. Kenapa kamu ke sini?" Amaya menatap Fhea dengan curiga. Dia tidak menyangka sahabatnya itu akan menemuinya tiba-tiba.
"Kamu penasaran? Heem, aku tidak mau kasih tahu. Rahasia, dong!"
__ADS_1