
"Amaya, Tante senang kamu datang." Amaya terkejut saat Rose mendekati dan menggenggam tangannya yang terasa dingin.
"Tante, maaf ...."
Rose menggeleng. "Kamu tidak salah apa-apa. Tante senang kamu jenguk Dave. Sekarang masuklah dan jenguk dia. Tante harap dia akan cepat sadar!"
"Tante jangan begini!" Amaya memperhatikan perempuan yang mendekati Rose dan memegang pundaknya. "Tante duduk saja dulu atau lebih baik istirahat di rumah, Kak Dave biar aku yang jaga!"
"Tidak perlu, Gab! Kamu pulanglah dengan Tante Rose. Aku yang akan jaga Dave di sini!" sela Adam. Pria tersebut menatap Amaya yang hanya diam.
"Tapi aku ... baiklah. Kalau ada apa-apa kamu kabari aku!"
"Tentu!"
Amaya memperhatikan Rose dan perempuan yang Amaya belum tahu namanya itu pergi menjauh darinya. Dia melihat perempuan tersebut seakan tidak suka dengan kehadirannya. Menatap dengan tatapan sinis yang kentara sekali.
"Jangan dipikirkan. Dia memang begitu!"
Amaya mengangguk. "Apa saya boleh jenguk Pak Dave?"
"Tentu. Mau kutemani?" Amaya mengangguk. Dia tidak ingin seorang diri menjenguk Dave, pasti rasanya akan sangat tidak nyaman nantinya. "Ayo!"
Amaya membiarkan Adam memasuki ruang rawat Dave lebih dulu. Pertama kali masuk Amaya sudah disuguhkan dengan suara dari elektrokardiograf yang berada di samping ranjang Dave.
"Dia ...."
"Dia menyedihkan, May! Pria yang dulu suka merundungmu sekarang terbaring tidak berdaya. Mungkinkah ini karma?"
Adam menoleh ke arah Amaya yang terus saja memperhatikan Dave. "Mungkin kamu sudah tahu, May, kalau Dave jadi punya trauma berat. Dia sulit tidur setelah kejadian mengerikan itu. David meninggal dan kamu langsung pindah sekolah!"
"Anda tahu juga?"
Adam terkekeh pelan. "Kamu kenapa jadi kaku begitu, May? Untuk masalah Dave tentu saja aku tahu. Bahkan dia menderita karena kamu pun aku tahu!"
Adam menghadap Amaya lalu menepuk pundaknya pelan. "Sekarang waktunya kamu buat Dave sadar kembali. Aku akan tunggu kamu di luar!"
"Tapi ...." Belum sempat dirinya selesai bicara, Adam sudah lebih dulu pergi meninggalkannya bersama dengan Dave saja.
Amaya menghela napas pelan lalu mendekati Dave. Dia duduk di kursi yang berada di dekat ranjang lalu dengan ragu mengenggam tangan Dave.
Amaya tidak mengatakan apa pun karena tidak tahu harus berkata apa kepada pria yang sedang terbaring di depannya itu. Amaya hanya memperhatikan tangan besar yang tidak bisa membalas genggamannya.
"Huh, apa benar sesulit itu hidupmu selama ini? Aku kira ucapanmu hanya omong kosong. Kalau memang iya, tidurlah yang nyenyak dan bangun tanpa pernah mengingat hal buruk yang pernah kamu lalui!"
Merasa tidak ada lagi yang ingin dikatakan, Amaya memilih keluar dari ruangan tersebut. Dia melihat Adam yang duduk di kursi tunggu sambil berbicara dengan seseorang di telepon.
"Sudah selesai?" Amaya mengangguk. Dia memperhatikan saja Adam yang sudah mengakhiri percakapannya dan berdiri. "Mau ngobrol sebentar?"
__ADS_1
Amaya menatap Adam lamat lalu mengangguk. "Ke kantin rumah sakit bagaimana? Mungkin sekalian kita makan malam bersama di sana!"
"Boleh!"
Amaya membiarkan Adam berjalan terlebih dahulu. Dia terus saja memperhatikan punggung tegap dan lebar milik Adam. Kedua sahabat itu memiliki postur tubuh yang tidak berbeda jauh, bedanya Adam sedikit lebih pendek dari Dave dan memiliki rambut sedikit ikal. Berbeda dari Dave yang memiliki rambut lurus.
"Mau pesan apa?"
"Teh hangat saja!" Adam mengangguk lalu meninggalkan Amaya untuk memesan makanan.
Amaya memilih tempat duduk di bagian pojok. Dia mengingat kembali saat sekolah dulu, saking takutnya sering dirundung oleh teman-teman yang lain karena tubuh gemuknya, Amaya selalu memilih duduk di bagian paling pojok kantin agar tidak menjadi pusat perhatian.
"Kenapa duduk di sini?" Amaya mendongak, menatap Adam yang membawa nampan berisi teh hangat pesanannya dan makanan untuk Adam sendiri.
"Di sini terasa nyaman!"
"Aku traktir kamu!"
"Makasih!" Amaya mengambil gelas tehnya dan menyesap perlahan. "Ada yang lucu?" tanya Amaya heran saat Adam tertawa melihatnya menikmati teh hangat pesanannya.
"Ah, tidak. Aku hanya baru sadar saja kalau selama dua tahun kita satu sekolah baru kali ini satu meja untuk makan bersama!" Amaya tersenyum masam menanggapi ucapan Adam. "Nikmatilah!"
"Saya boleh tanya?"
"Tentu. Mau tanya apa? Nomor ponsel atau nomor sepatu yang kukenakan?"
Amaya melongo mendengar pertanyaan absurd Adam lalu mengatupkan bibirnya dan menggeleng. "Bukan itu!"
"Tentang Dave. Maksud saya Pak Dave!" Amaya terdiam sejenak lalu kembali berkata, "Apa yang dia katakan benar? Dia pernah bilang sulit tidur, apa itu benar?"
"Oh, ayolah. Kamu kira hal seperti itu kebohongan?"
Amaya terhenyak melihat tatapan kesal Adam kepadanya. Dia lalu menunduk dan berucap lirih, "Maaf!"
"Eits. Aku salah bicara. Jangan tersinggung, May. Aku tidak marah, hanya saja pertanyaanmu pasti akan menyakitkan untuk Dave!"
Amaya masih saja menunduk. Dia sendiri merasa bersalah telah ragu dengan yang Dave katakan selama ini. Dia menemani Dave hanya karena merasa kasihan saja tanpa sebab.
"Semenjak kejadian itu, Dave terus saja mengalami mimpi buruk, May. Kalau dia bilang sudah banyak psikolog atau psikiater yang dia datangi itu memang benar. Sayang, tidak ada satu pun yang berhasil membuat Dave agar berhenti mimpi buruk!"
***
Amaya terus saja kepikiran tentang ucapan Adam. Dia benar-benar merasa bersalah, sehingga membuatnya memutuskan untuk menjenguk Dave sebelum pergi ke kantor.
Di depan ruang rawat Dave dia kembali bertemu dengan sepupu perempuan Dave yang duduk seorang diri.
Amaya mendekati dan menyapanya. Dia ingin membuktikan jika yang dia lihat dan pikirkan tentang perempuan tersebut semalam itu salah.
__ADS_1
"May, akhirnya kamu datang juga!" Amaya mengerutkan keningnya bingung melihat Adam yang keluar dari ruang rawat Dave dengan wajah ceria. "Masuklah. Ada yang sedang menunggumu!"
Amaya melirik perempuan yang menatapnya dengan ekspresi datar lalu memalingkan wajahnya. Dia membiarkan saja Adam menarik tangannya memasuki ruangan tersebut.
"Hai, Amaya!"
Amaya tertegun mendengar suara itu lagi. Dia menatap mata Dave yang sudah terbuka dan tanpa sadar mendekati pria tersebut. "Kamu sudah sadar?"
"Seperti yang kamu lihat!"
"Hah, yang kubilang juga apa. Kayaknya memang Amaya obatnya!"
Amaya menunduk mendengar ucapan Adam. Dia merasa malu, apalagi di ruangan tersebut ada Rose juga.
"Amaya terima kasih!" Amaya mengangkat kepalanya dan menatap Rose yang kembali mengenggam tangannya erat lalu memeluknya. "Tante senang sekarang Dave sudah sadar!"
"Tante! Gimana kalau kita keluar dulu. Biar mereka bisa bicara berdua!" Rose melepas pelukannya. Dia merapikan rambut Amaya yang sedikit berantakan lalu mengangguk setuju dengan ajakan Adam.
Saat ini kembali hanya ada mereka berdua saja dan Amaya merasa canggung sekali. "Duduklah di sini." Amaya menurut tanpa tanpa membantah sama sekali.
"Adam sudah cerita semuanya. Kamu semalam datang menjengukku!"
"Itu karena saya merasa bersalah!"
"Apa sekarang juga?" Amaya mengangguk, membenarkan. "Huh. Bukan karena khawatir?"
"Pak!" Amaya menjadi bingung saat Dave terlihat kecewa. "Saya juga khawatir. Di kantor tidak ada yang meminta saya mengantarkan kopi setiap pukul sebelas seperti biasa!"
"Kamu merindukannya ternyata."
"Tidak, Pak. Hanya merasa kurang saja menjalankan rutinitas!" Amaya lalu membalas tatapan Dave yang begitu dalam kepadanya. "Apa selama tidur di rumah sakit masih mimpi buruk?"
"Kenapa? Kamu khawatir?" Amaya mengangguk. "Tidak. Tapi, semalam saya bermimpi bertemu kamu. Kamu meminta saya untuk segera sadar, May!" Amaya tersenyum tipis menanggapi ucapan Dave barusan. "Tidak percaya?"
"Saya percaya, Pak."
"Oh, iya. Apa kemarin kamu bersenang-senang dengan teman sesama sekretaris? Apa kalian bergosip tentang kami?" Amaya hanya mengangguk sebagai jawabannya. "Dan kamu ikut melakukannya juga?"
"Maaf!"
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak ada, hanya mereka membahas kalau Pak Dave sudah tidak pernah lagi marah-marah. Tapi, apa tidak ada yang tahu Pak Dave dirawat?"
"Baguslah kalau begitu! May, terima kasih sudah menjengukku!" Dave meraih tangan Amaya dan menggenggamnya erat. Saat pria tersebut hendak mencium tangan Amaya, pintu kamarnya dibuka. Pria tersebut menggeram kesal.
Amaya tersenyum tipis melihat reaksi Dave lalu mengambil kesempatan untuk melepaskan diri dari Dave. "Kalau begitu saya permisi, Pak!"
__ADS_1
Amaya lekas keluar dari ruangan tersebut. Dia kembali bertemu dengan perempuan yang tadi hendak disapanya, tetapi tidak ada Rose di sampingnya.
"Sepertinya kalian dekat sekali! Kamu kekasih Dave?" Amaya menatap heran perempuan di depannya itu yang menatap tajam kepadanya, seolah menganggapnya musuh. "Ah, tidak mungkin. Mana mungkin Dave memiliki selera yang biasa saja!"