Dia, Amaya

Dia, Amaya
Baikan


__ADS_3

Amaya berhenti sejenak melihat sosok pria yang sudah sebulan ini tidak pernah ditemuinya. Raut wajahnya berubah datar dan kembali melangkah, mengabaikan Dave yang berada di teras rumahnya sambil memperhatikannya memasuki rumah.


"May, tamunya kenapa tidak ditemui?" Amaya berhenti sejenak, dia berbalik badan menghadap ibunya yang menatapnya heran. "Dia sudah satu jam di sini. Katanya nungguin kamu!"


"Suruh dia pulang saja, Bu!" Amaya melirik ke arah luar, dia yakin Dave bisa mendengar ucapannya yang memang sedikit keras. "Maya capek!" Dia memutuskan untuk kembali masuk.


Lelah bagi Amaya yang terus saja mendapatkan pertanyaan dari ibu dan neneknya tentang alasan dirinya tidak juga kembali ke kota dan malah menerima pekerjaan lain.


Dirinya juga sama sekali tidak menyangka, pria yang dia kira tidak akan pernah lagi ditemui sekarang berada di rumah.


"Untuk apa dia ke sini?" gumam Amaya heran. Dia memilih mengambil pakaian ganti untuk dibawa ke kamar mandi. Namun, saat keluar kamar dirinya melihat Dave dan sang ibu sedang bicara.


Lebih terkejutnya lagi di antara mereka ada Rose. Amaya yakin, dia tadi tidak melihat ada Rose atau karena berpura-pura tidak melihat Dave membuatnya tidak menyadari keberadaan Rose?


Amaya lekas pergi ke kamar mandi. Dia ingin menyegarkan tubuh dan pikirannya dengan mengguyurkan air dingin pada seluruh tubuhnya yang lengket karena keringat.


Saat sedang mandi, samar-samar dirinya mendengar percakapan antara Dave juga sang nenek. Keningnya berkerut dalam, dia tidak dapat mendengar dengan jelas. Hanya ucapan sang nenek yang mengatakan jika Dave sudah berbaik hati membatu semua pengobatan ibunya juga membantu sang ayah untuk menebus kembali sawah yang digadai.


Amaya sama sekali tidak menyangka tentang itu, dia buru-buru menyelesaikan mandinya dan segera keluar. Dia akan menanyakan yang didengarnya kepada sang nenek, tetapi tubuh Amaya membeku saat melihat Dave berdiri tidak jauh darinya. Menatapnya dengan tatapan yang menakutkan dan membuat tidak nyaman.


"Rambutmu basah, tetapi kenapa masih ada busa?" Amaya mendelik, sontak tangannya mengusap rambutnya yang masih terdapat busa. Dia langsung mundur sampai hampir terjatuh saat Dave membelai rambutnya begitu saja.


"Sekarang sudah bersih!"


Dave tersenyum simpul memperhatikan raut wajah kesal Amaya. Dia tidak peduli lalu meraih tangan Amaya dan mengajaknya ke halaman belakang.


Pria tersebut menyuruh Amaya duduk di bangku kayu di bawah pohon nangka, sedangkan pria tersebut memilih berdiri.


"May, masih marah?"


Amaya melengos, enggan menatap Dave yang sedang memperhatikannya.


Bagaimana mungkin Dave mengatakan hal seperti itu? Jelas saja dia marah.

__ADS_1


"Maaf!" Amaya mengalihkan pandangan ke wajah Dave yang terlihat menyesal dan memohon maaf kepadanya. Dia menghela napas lalu mengangguk pelan. "Sungguh!"


"Ya. Sekarang kamu pulang!" usir Amaya. Dia menatap tajam kepada Dave, meski di dalam hati dirinya merutuki ucapannya itu.


Padahal jelas sekali dia ingin mengetahui tentang Dave yang membantu ayahnya dan pria tersebut berdiri di depannya. Namun, karena masih menyimpan kekesalan membuatnya terlalu gengsi untuk melakukan.


"Tapi, aku tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya!"


Amaya mengerutkan sekitar matanya, menatap Dave yang bicara dengan begitu serius. "Kedatanganku ke sini untuk menyelesaikan semuanya. Maaf karena sudah mengatakan semuanya, aku melakukan itu karena cemburu. Kamu tidak jujur, May!"


Amaya merasa bersalah. Memang tidak sepenuhnya kesalahan dari Dave. Dia juga bersalah karena tidak berani bicara jujur hanya agar pria di depannya itu tidak curiga. Namun, siapa sangka Danu yang akan melakukan semuanya dan membuat Dave salah paham.


Amaya masih diam memperhatikan Dave. Dia masih ingin mendengar apa saja yang akan Dave katakan. "Bisakah kamu memaafkanku, May? Aku merasa begitu bersalah sampai-sampai kembali konsumsi obat tidur dalam jumlah banyak, May!"


***


"Kenapa sampai bawa mamamu ke sini? Biar berhasil bujuk aku?" tanya Amaya kesal. Baru saja beberapa menit lalu dia terbebas dari Rose yang terus saja memintanya untuk kembali bersama dengan Dave, sebelum diantar ke penginapan.


Amaya mendengkus kesal. "Kamu benar yang membantu semua biaya pengobatan ibuku? Juga membayarkan kembali sawah ayah?" tanya Amaya dengan tatapan menelisik.


Dave mengangguk tenang. Dia memperhatikan bintang-bintang di langit yang lumayan banyak. Mengabaikan tatapan Amaya kepadanya. "Kenapa?"


"Tidak ada alasan!"


"Tidak mungkin!"


Dave terkekeh. Dia lalu membalas tatapan Amaya yang masih belum beralih kepadanya. "Apa aku harus ada alasan untuk membantu, May?" Pria tersebut mengambil sesuatu dari saku celananya lalu memperlihatkan kepada Amaya.


"Kalung itu?" Amaya tidak menyangka Dave menyimpan kalung yang dia kembalikan lewat Fhea.


Dave mengangguk. "Mau memakainya kembali?"


Amaya terdiam saat Dave tanpa menunggu persetujuannya memakaikan kalung tersebut. Sudut bibirnya tertarik saat melihat senyuman di wajah Dave. "Kalung itu memang cocok buatmu."

__ADS_1


"Dave ...!"


"May, aku mau memulai semuanya dari awal. Tidak perlu lagi memikirkan hal yang pernah terjadi, juga tentang perasaan Danu kepada kamu!"


"Kenapa sama Danu?"


Dave terdiam cukup lama sebelum akhirnya kembali bicara, "Dia mengalah demi kita, May. Untuk itu aku harap kamu tidak mengecewakan dirinya dengan menolakku!"


Amaya sebenarnya penasaran apa yang terjadi kepada Danu. Namun, dirinya sadar bukan waktu yang tepat untuk menanyakan tentang pria tersebut kepada Dave. "Oke. Aku akan terima kamu. Tapi ... aku mau kamu berhenti konsumsi obat tidur lagi!"


"Tentu!" ucap Dave penuh semangat. Dia meraih tangan Amaya untuk digenggam. Namun, dengan cepat Amaya menghindar.


"Sudah malam, sekarang kamu ke penginapan saja. Pak Budi sudah datang!" Amaya menunjuk mobil yang berhenti di depan rumahnya itu.


"Tapi, biarkan aku memelukmu sebentar!"


Amaya terdiam. Dia ingin menolak, tetapi melihat Dave yang begitu memohon dia tidak tega melakukannya dan membiarkan Dave memeluknya. Singkat. "Sudah, sekarang kembalilah!"


***


"Kamu tidak mau kembali ke kota, May?" Amaya menggeleng. Semalam Dave menyuruhnya kembali ke kota, tetapi dia menolak. Dia masih ingin bersama dengan kedua orang tuanya.


Apalagi saat melihat interaksi antara Dave dan ayahnya membuat dia sadar ada yang harus dia perbaiki.


"Ibu tidak kecewa, kan, aku tetap di sini?"


"Tidak. Eh, tapi pria yang kemarin sama ibunya gimana?" Ibunya menatap dengan tatapan menelisik. Amaya hanya tersenyum tipis menanggapi rasa penasaran ibunya itu. "Kemarin ibu pria itu bilang kalau dia mau kamu jadi mantunya. Ibu rasa takut, May. Mereka orang kaya, sedangkan kita?"


"Tapi mereka sama sekali tidak memandang status, Bu. Tante Rose juga orang yang baik, dia tidak pernah membedakan aku sama sekali."


"Kamu benar, Ibu bisa melihat ketulusannya!"


Amaya meletakkan pisau di talenan, meski belum selesai mengiris wortel. Dia meraih tangan ibunya dan mengusap punggung tangan tersebut dengan pelan. "Ibu benar!"

__ADS_1


__ADS_2