
"Kamu tidak becanda, kan, bilang kalau resign? Ayolah, May, kenapa harus sampai berhenti? Seharusnya kalian bisa selesaikan kesalahpahamannya!"
Amaya hanya terdiam dengan perhatian tertuju pada cangkir teh di depannya. Dia merasa sudah begitu yakin keputusannya memang tepat. Tidak ada guna sama sekali untuk tetap bekerja dengan seseorang yang mencurigainya, meski dia sadar salah karena tidak mau jujur.
"May!" Fhea menyentuh tangan lembut Amaya membuat perhatiannya teralihkan. Dia tersenyum lembut menanggapi ucapan Fhea. "Kamu harus tahu deh, Pak Dave tidak baik-baik saja!"
Bibir Amaya masih terkatup rapat, tidak ada komentar apa pun darinya pada ucapan Fhea mengenai Dave.
"Pak Dave sering marah-marah, bahkan Sekar yang diminta sementara waktu menjadi sekretarisnya sudah angkat tangan. Kemarin dia menangis karena dibentak sama Pak Dave!" Fhea menjauhkan tangannya, menghela napas kasar dengan tatapan tertuju kepada Amaya.
"Fhe, aku ke kamar sebentar, ya!" Amaya segera berdiri dan pergi meninggalkan Fhea di ruang tamu.
"May, ada apa? Kenapa wajahnya murung!" Amaya mencoba bersikap tenang saat masuk ke kamar dan melihat neneknya berada di sana. Sedang memperhatikan dengan tatapan heran.
Amaya menggeleng dan memilih membuka pintu lemari untuk mengambil sesuatu. Dia memegang kuat sebuah kalung dengan bandul kupu-kupu yang Dave berikan kepada.
Amaya menahan napas, mengenggam erat kalung tersebut dan dengan memantapkan hati membawanya keluar. Dia memilih mengabaikan neneknya yang hanya diam memperhatikan.
"Fhe, aku bisa minta tolong?" Amaya kembali duduk dan dengan sedikit keraguan dia menyerahkan kalung tersebut kepada Fhea.
"Ini maksudnya apa, May?" Amaya tersenyum simpul walau hatinya terasa perih mengingat bagaimana Dave mengenakan kalung tersebut kepadanya. "Kalung buat siapa?"
"Tolong kasihkan ke Dave, ya. Aku lupa kembalikan kalung itu!" ucap Amaya dengan napas tertahan yang menyesakkan.
Mendengar ucapan Amaya membuat mata Fhea membesar. Dia menggeleng dan dengan tegas menolaknya. "Aku tidak mau!"
Fhea mengembalikan kalung tersebut kepada Amaya. Dia mendesah pelan lalu mengerutkan keningnya. "Sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu harus lakuin ini?"
Amaya terdiam, enggan memberi jawaban apa pun kepada Fhea. Dia hanya memperhatikan kalung di tangannya itu. "Kalau kamu mau kembalikan, jangan lewat aku atau siapa pun. Lakukan sama kamu sendiri!"
"Aku tidak bisa, Fhe!"
"Kenapa?" Fhea menautkan kedua alisnya memperhatikan Amaya yang masih terdiam.
"Aku ... Fhe, dia meragukan aku. Jujur aku tidak sanggup dicurigai begini, aku takut kalau terus ada di sisinya, Danu akan terus berulah!"
"Danu?" Amaya mengangguk. "Kakaknya Pak Dave?"
__ADS_1
"Iya!" Amaya menghela napas pelan lalu tersenyum hangat kepada Fhea. "Jadi bisa, kan, kamu kembalikan ini untuknya?"
"Heem!" Fhea menerima kalung tersebut kembali lalu mengangguk. "Oke, tapi aku tidak mau tanggung jawab kalau ada apa-apa!"
***
Amaya merasa begitu berbeda bekerja di tempat yang baru. Biasanya dia akan selalu menyapa Dave dan membawakan kopi di waktu yang selalu sama, dia mengira tugas yang sudah dia lakukan selama enam bulan lebih itu akan mudah terlupakan. Namun, ternyata tidak!
"Mbak!"
"Ah, ya?" Amaya mencoba tersenyum ramah, meski terasa berat. Pria di hadapannya itu memiliki perawakan yang hampir sama dengan Dave, bahkan suara pria tersebut pun sama.
Amaya tercekat saat pertama kali mendengar suaranya, pupil matanya membesar melihat sosok pria yang tersenyum manis itu lalu buru-buru Amaya mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Apa ada Pak Karyo?"
"Ada, akan saya panggilkan." Amaya segera pergi meninggalkan pria tersebut untuk memanggil Pak Karyo yang ingin ditemuinya itu.
Dia melihat pria tersebut yang sebenarnya tidak memiliki kemiripan apa pun. Dia mendesah pelan dan memilih menyibukkan diri untuk tidak memperhatikan pria tersebut.
***
Dengan langkah ragu, Amaya memilih menemui Mita yang menggantikan Sekar menjadi sekretaris Dave.
"Pak Dave ada?" Mita yang sedang sibuk di depan komputer terkejut lalu menghentikan kegiatannya. Fhea nyengir saat Mita menatapnya kesal. "Sori, tapi Pak Dave ada?"
"Ada! Masuk saja!"
"Eh!" Fhea terkejut lalu merasakan keringat dingin mulai membasahi keningnya. "Masa langsung masuk saja? Anter, dong!"
Mita menggeleng lalu memutuskan untuk kembali menyibukkan dengan pekerjaannya. "Ayo, dong. Ini demi Amaya!"
Mita mengerutkan keningnya. Menatap Fhea ragu. "Kamu yakin?"
"Iya! Masa bohong!" ucap Fhea sedikit kesal karena Mita malah meragukannya.
"Apa ada berkas yang mau kamu berikan?" Tubuh Fhea membeku mendengar suara Dave, matanya membesar sambil menelan ludahnya kasar.
__ADS_1
Sial bagi Fhea saat Mita memilih pura-pura tidak tahu apa pun.
"Pak!"
"Kamu ke sini tidak bawa berkas?" Fhea menggeleng. Dia menunduk merasa takut dengan tatapan tajam penuh intimidasi Dave.
Baru seminggu Amaya pergi, perubahan pria tersebut begitu drastis.
"Saya tidak ada banyak waktu. Cepat katakan apa yang ingin kamu lakukan?"
Fhea menyerahkan kalung dari Amaya kepada Dave. "Kemarin saya ke tempat Amaya dan dia menitipkan kalung itu kepada saya untuk dikembalikan kepada Pak Dave!"
Tidak ada tanggapan apa pun dari Dave. Pria tersebut terdiam dengan tatapan nanar pada kalung tersebut.
Kilasan saat dirinya membelikan kalung tersebut membuatnya hendak melempar kalung itu. Namun, dia memilih mengurungkannya dan memasukkan kalung tersebut ke saku jas.
"Mita, saya akan pergi menemui klien. Kalau ada yang mencari saya, katakan saja saya sedang tidak bisa diganggu!"
"Baik, Pak!"
Dave beranjak pergi tanpa mengatakan apa pun kepada Fhea yang merasa lega.
Di dalam lift, Dave mengambil kalung tersebut. Dia memandangi kalung dengan bandul kupu-kupu itu menjadi benda terakhir yang dia belikan untuk Amaya. Dia meminta perempuan tersebut untuk menyimpannya dan sekarang kalung itu kembali kepadanya.
"Apa aku keterlaluan, May? Tapi, aku sakit hati saat tahu kamu memilih berbohong!"
Dave sama sekali tidak menyangka saat Danu mengatakan dengan begitu tenang tentang perasaannya kepada Amaya. Dulu, Danu sering menceritakan Amaya kepadanya. Namun, Dave sama sekali tidak menyangka jika perempuan yang diceritakan itu Amaya.
Danu mencintai Amaya dan dengan tegas meminta kepadanya untuk melepaskan Amaya. "Maaf, May. Ternyata aku yang salah!"
Dia keluar dari lift. Mengabaikan karyawan yang menyapanya dan beranjak keluar dari kantor.
Langkahnya terhenti saat seseorang tepat berdiri di depannya. Menghalangi langkahnya itu. Dave memasukkan kembali kalung tersebut ke saku jas dan memilih mengabaikan Danu yang berdiri di hadapannya itu.
"Aku sedang sibuk!"
"Apa kamu sama sekali tidak mau beritahu di mana tempat tinggal Amaya?" Dave mengepalkan tangannya. Dia tidak menyangka jika Danu begitu gigih untuk mengejar Amaya yang memilih pergi.
__ADS_1
"Kamu sudah melepasnya dan sekarang giliranku yang mengejarnya!" Dave memicingkan matanya lalu beralih menatap Danu dengan tajam.