Dia, Amaya

Dia, Amaya
Janji Amaya


__ADS_3

Perjalanan ke rumah sakit untuk menemui ibunya dilalui Amaya hanya dengan duduk diam di atas motor. Dia memilih untuk tidak bicara dengan ayahnya sendiri. Ada rasa marah yang belum bisa dia sembuhkan.


"Kamar ibumu di ruang melati nomor lima!" Amaya mengangguk lantas meninggalkan ayahnya yang sedang memarkirkan motor.


Amaya lekas mencari ruangan yang dikatakan tadi oleh ayahnya. Ruangan tersebut berada di lorong sebelah kiri, tetapi saat akan menuju ke sana Amaya malah bertemu dengan perempuan yang sebenarnya sangat tidak ingin dilihatnya.


Perempuan seusia ibunya itu tersenyum manis kepada Amaya. Menyapa dan seakan tidak pernah terjadi sesuatu.


"Kamu ke sini sama siapa, May? Bibi dengar kamu sudah dapat pekerjaan di kota, ya?" Amaya hanya mengangguk saja. Enggan memberi jawaban yang jelas. "Itu Tina baru lulus kuliah, kalau ada kerjaan di tempat kamu bolehlah kasih tahu!"


Amaya memutar bola matanya malas. Perempuan di depannya itu sama sekali tidak tahu malu. "Oh kamu sama ayahmu, ya. Bibi pergi dulu, ya!"


Amaya menoleh ke belakang, dia melihat ayahnya berjalan ke arahnya. Perempuan yang tadi mengajaknya bicara itu berjalan melewati ayahnya begitu saja. Namun, Amaya tidak peduli. Kisah masa lalu mereka setidaknya tidak akan pernah dia lupakan.


"Apa yang Nani bilang sama kamu? Minta anaknya bisa kerja di tempatmu lagi?" Amaya mendengkus kecil lalu mengabaikan ayahnya yang bertanya tentang mantan selingkuhannya itu.


Senyum Amaya terbit saat menemukan kamar tempat ibunya dirawat. Dia melihat neneknya sedang duduk di kursi dan mengaji, sedangkan ibunya terlihat sedang tidur.


Amaya mengetuk pintu kamar dan mengucapkan salam. Suara mengaji neneknya berhenti dan berganti menjadi kehebohan. Perempuan yang jalannya saja sudah tidak lincah itu tampak semangat menyambut Amaya, sampai membuat ibunya terbangun.


"Nenek senang kamu sudah sampai. Kenapa tidak istirahat saja di rumah, besok baru ke sini!" Amaya diajaknya duduk. Dia begitu dinanti.


"Maya, sudah datang, Nak?"


Amaya mengangguk lalu menghampiri ibunya. Dia memperhatikan ibunya dengan kasihan, perempuan yang selalu semangat dan bergairah itu kini menjadi lemah dan tidak berdaya. "Ibu maaf, Maya baru bisa pulang sekarang!"


Perempuan paruh baya itu mengangguk pelan. Tangan lemahnya mengusap lembut tangan Amaya. "Ibu tahu, kamu pasti sibuk!"


Amaya menggeleng. "Ibu cepat sembuh, ya!" Ibunya hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Amaya tersebut.


"Ibumu bakalan cepat sembuh kalau kamu pulang bawa calon!" Amaya memeluk neneknya. Selalu saja candaan sama yang neneknya ucapkan.


"Ibu, jangan begitu. Amaya masih muda, biar dia bahagiakan dirinya dulu!" Amaya mengangguk senang, membenarkan ucapan ibunya yang tidak pernah memaksanya untuk cepat-cepat menikah.

__ADS_1


***


"Maya gimana kerjaan kamu? Bos kamu tidak suka marah-marah?"


Amaya makin mengeratkan pelukannya pada neneknya. Saat ini mereka sedang berbaring di kamar neneknya, sudah lama sekali dia tidak tidur bersama seperti ini saat malam hari.


"Bos Maya baik, Nek!"


"Syukurlah. Nenek selalu berdoa semoga kerjaan kamu lancar, terus kalau bos kamu masih sendiri jadi jodohnya Maya!"


Amaya membelalak mendengar ucapan neneknya. Tidak menyangka sama sekali, dia lalu melepaskan pelukannya dan memilih duduk. "Kenapa? Katanya ngantuk mau tidur?"


"Maya tidak bisa tidur, Nek. Tapi, Nenek kok bisa doain Maya begitu?" tanya Amaya penasaran. Dia memperhatikan kerutan di wajah neneknya yang makin banyak, meski begitu kerutan tersebut tidak bisa menutupi kecantikan neneknya.


"Biar hidup kamu tidak menderita seperti ibu dan ayahmu. Menikah sama bos kamu bisa buat kamu bahagia. Nenek jamin!" ucap neneknya penuh keyakinan.


Amaya menghela napas pelan. "Gimana kalau ternyata setelah kita menikah, terus dia kayak Ayah?"


"Nduk, tidak semua pria sama seperti ayahmu. Lagipula ibumu saja bisa memaafkan, kenapa kamu masih belum bisa? Kasihan ayahmu selama ini selalu berharap kamu mau maafkan dia!" Amaya membiarkan saja tangannya digenggam. Dia tidak memberi jawaban dari ucapan neneknya itu.


Menghindari perundungan dari teman-teman di kota, dia kembali mendapatkan perundungan dari teman-teman di sekolah barunya karena kasus ayahnya yang diketahui banyak orang.


"Nduk!"


"Maya belum bisa, Nek!" Amaya pamit keluar kamar. Dia memilih untuk keluar rumah dan duduk di teras. Hanya diam sambil memandangi bintang.


Saat seperti ini, ponselnya berdering. Amaya sudah mengetahui siapa yang menghubunginya. Sengaja dirinya membedakan nada dering untuk satu orang tersebut.


"Pak Dave ada apa?"


"Aku sedang menatap bintang di balkon. Kamu gimana?"


Amaya hanya berdeham. Tatapannya tertuju pada bintang-bintang bertaburan di langit lalu menghela napas pelan. "Kapan kamu kembali?"

__ADS_1


"Pak Dave lupa? Saya belum ada satu hari pergi dan sudah tanya begitu?"


"Boleh aku ke sana?"


"Memang Pak Dave tahu aku tinggal di mana?" tanya Amaya, dia senyum sendiri membayangkan wajah menyebalkan Dave saat ini. "Pak Dave kalau benar bisa ke sini, saya akan ajak ke tempat yang bagus di sini."


"Kamu yakin, May?"


"Tentu. Tapi, saya tidak akan kasih tahu tempat saya di mana. Pak Dave harus cari sendiri. Sudah, ya, Pak. Saya dipanggil Nenek. Selamat malam!"


Amaya yakin Dave tidak akan bisa menemukan tempat tinggalnya. Tulang Bawang Barat itu luas dan keyakinannya itu membuat dirinya begitu berani memberi tantangan tersebut kepada Dave.


[Besok aku akan ke sana, May! Tepati janji kamu]


Amaya tersenyum membaca pesan Dave yang meragukan itu. Dave mencintai pekerjaan, mana mungkin pria tersebut akan sanggup meninggalkan pekerjaan demi dirinya yang bukan siapa-siapa.


"Aku tunggu!" gumamnya pelan lalu memutuskan masuk ke rumah.


***


"Kapan anakmu itu akan mau bicara denganku? Ini sudah hampir sepuluh tahun dia mendiamkanku seperti orang bodoh!"


Perempuan yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu hanya bisa menenangkan suaminya dengan ucapan yang selalu sama.


"Dia hanya perlu waktu, Mas! Sabarlah!"


"Sabarku apa kurang? Kesalahanku memang fatal, tapi demi siapa kita sampai pindah ke sini dan aku harus bertemu dengan Nani?" Pria yang hampir seluruh rambutnya dipenuhi uban itu terlihat tampak frustasi. Dia mengempaskan pantatnya di kursi dan membuang napas kasar. "Sudahlah, kamu lebih baik tidur. Aku akan minum kopi di luar!"


Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, pria tersebut keluar dari ruangan itu dan pergi luar rumah sakit. Namun, dirinya harus bertemu dengan perempuan yang selalu dihindarinya.


"Mas, Amaya pulang. Apa kalian sudah baikan?"


"Maya pulang karena ibunya sakit. Apa kamu lupa?"

__ADS_1


"Sampai kapan kamu begini, Mas? Bukan cuma kamu yang menderita. Aku juga! Suami, anakku, bahkan anakmu membenciku."


__ADS_2