
"Di mana Lani, kenapa tidak kelihatan?"
Amaya dan Ari memilih duduk berdua, memperhatikan para tamu siang itu yang sedang berdansa mengikuti alunan musik.
Amaya memperhatikan sekitar dan tidak menemukan keberadaan Lani di mana pun.
"Dia tidak di sini!" ucap Ari acuh tak acuh. Amaya mengangguk, sesekali dia memperhatikan Ari yang sedang menikmati makanannya. "Kenapa tidak mau berdansa?" tanya Ari tiba-tiba.
Amaya gelagapan dan langsung membuang muka, dia ketahuan sedang memperhatikan saat pria tersebut mengangkat wajahnya. Alis tebal Ari melengkung terangkat ke atas dengan bibir terkatup rapat. "Apa yang kamu lihat?"
"Tidak ada, Pak!"
"Bohong! Ketahuan memperhatikan orang lain, kamu bilang tidak ada. Apa Dave tahu kalau pacarnya senang mencuri pandang sepupunya sendiri?"
Amaya memandang Ari yang menyeringai. Dia menghela napas pelan dan berkata, "Saya tidak mencuri pandang dengan Anda. Saya hanya sedang mempertanyakan alasan kenapa Anda terlihat begitu tenang saat saya menanyakan tentang Lani!"
"Benarkah?" Amaya mengangguk. "Apa yang mau kamu tahu?"
"Tidak ada satu pun!"
"Aneh!" cibir Ari. Dia memilih kembali menikmati makanannya. "Bagaimana rasanya diterima oleh Tante Rose jadi kekasih anaknya?"
Amaya awalnya sedang memperhatikan para tamu yang berdansa lalu mengalihkan atensinya kepada Ari. "Tentu saja senang. Apa alasan Pak Ari bertanya begitu?" tanya Amaya, meski dirinya tahu alasan pria di depannya tersebut bertanya begitu.
Pria tersebut hanya berdeham. Dia menyudahi kegiatan makannya dan membalas tatapan Amaya. "Mungkin kamu tahu tentang hubunganku dan Lani. Di kantor, meski tidak pernah kami memberitahu semua orang, mereka tetap tahu. Apalagi saat acara makan malam itu. Walau aku dan Lani tidak memberitahu, tetap saja kamu tahu!"
Amaya mengangguk. Dia memperhatikan Ari yang menenggak habis minumannya dan memanggil pelayan untuk meminta minuman kembali.
"Pasti berat bagi Lani, semua karyawan menganggap kalian sengaja menyembunyikan hubungan. Lani juga pernah bercerita jika dia iri dengan saya. Dia ingin juga diakui sebagai kekasih, Pak, oleh orang tua Anda!"
"Memang selalu itu yang jadi permasalahannya. Menurutmu, apa yang harus kulakukan?" tanya Ari yang terlihat begitu frustrasi.
Amaya hendak menjawab. Namun, bibirnya yang sudah terbuka kembali tertutup rapat saat Gabriella dan Leo menghampiri mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Kamu mau merayu kakakku, ya?" tuduh Gabriella, sorot matanya terpancar ketidaksukaan yang siapa saja bisa melihatnya kepada Amaya, terutama Ari dan Levi.
"Untuk apa merayu pria yang sudah punya pacar?"
__ADS_1
"Kamu juga punya pacar!" jelas Ari yang diangguki Amaya.
"Kak Maya mau dansa denganku?" Amaya memperhatikan Levi yang mengajaknya berdansa lalu beralih memperhatikan Gabriella berwajah masam. Mengetahui jika ada alarm bahaya yang mengintai, Amaya memilih menolaknya. "Kenapa? Ayolah, lagipula kapan lagi Kakak akan berdansa dengan pemuda tampan sepertiku?"
Amaya tersenyum tipis lalu menggeleng, sebagai penolakan. "Ngapain, sih, Lev, ajak dia dansa. Dia mana ngerti yang begituan. Yang ada malah buat kamu malu," ucap Gabriella kasar sambil menjatuhkan pantatnya di kursi.
"Kamu benar, saya tidak bisa berdansa!"
Levi menggeleng, dia meraih tangan Amaya dan bersikeras mengajaknya berdansa. "Ayolah, Kak. Aku akan mengajari Kakak caranya dansa, lagipula tidak ada pacar Kakak yang akan marah. Saat ini kita sama-sama jomlo!"
Amaya bangkit berdiri, sebelum beranjak menjauh dari Ari dan Gabriella, dia menatap mereka bergantian. Dia lalu menghela napas dan mengangguk setuju. "Baiklah!"
"Lev!" seru Gabriella kesal saat Levi mengabaikannya dan mengajak Amaya berdansa di antara para tamu.
Amaya tampak canggung saat Levi menyuruhnya untuk mengalungkan kedua tangannya di leher, sedangkan dia memegang pinggang Amaya. "Jangan tegang, Kak. Rileks saja!" Amaya hanya mengangguk, walau dirinya memang benar-benar tidak nyaman.
"Aku sudah tanya sama Gabriella kenapa dia kelihatan tidak suka sama Kakak. Mau tahu apa jawabannya?" Amaya mengangguk. "Karena Kakak sudah berani merebut calon tunangannya!"
Amaya menatap Levi yang tertawa kecil lalu mencondongkan tubuhnya untuk berbisik, "Kalau Kakak nanti sampai dicampakkan sama pacar Kakak, datang padaku saja. Aku akan dengan senang hati menerima, lagipula aku masih jomlo!"
"Kenapa? Gimana kalau Ella berhasil rebut pacar Kakak?"
"Kalau hal itu terjadi, saya akan pergi meninggalkan mereka!" Amaya melirik ke arah Gabriella yang terlihat sekali sedang menahan cemburu. Dia menyunggingkan senyum tipis dan kembali fokus dengan dansanya. "Sepertinya dia malah menyukai kamu!"
***
Saat ini Amaya dan Dave sedang makan malam nasi goreng di depan kost. Sengaja Dave mencegat penjual nasi goreng gerobak dan mengajak Amaya untuk makan malam bersama saat dia datang dalam keadaan kelaparan.
"Kenapa orang kaya suka sekali melakukan pesta begitu, Pak?" tanya Amaya sambil menikmati nasi goreng pedasnya. "Benar-benar buang waktu!"
Dia merasa penasaran sekaligus menyayangkan perbuatan mereka. Walaupun memang menyenangkan dan itu hak mereka untuk menghamburkan uang, tetap saja terasa aneh bagi Amaya.
Dave tidak langsung menjawab, dia meminta Amaya menerima suapannya. "Untuk menghabiskan uang dan mengganti waktu yang mereka tinggalkan, May. Lagipula tujuan mereka bekerja sampai lupa waktu untuk memperkaya diri, ya, karena ingin memamerkan dan mendapat pujian atau kehormatan. Itu tidak semua, ya!"
Amaya mengangguk. "Tadi aku dengar ada dansa, apa kamu ikutan juga?"
Amaya mengangguk kembali. Dia menyuap nasi gorengnya dan merasa tidak nyaman saat Dave mendelik kepadanya. Terlihat menyeramkan. "Dengan siapa kamu lakukan itu?"
__ADS_1
"Levi!" cicit Amaya.
"Bocah tengil itu, apa yang dia lakukan sama kamu?" tanya Dave penuh emosi.
"Kami hanya berdansa, Pak. Tidak ada yang lain lagi setelah itu karena dia pergi dengan Gabriella begitu saja!"
Dave memicingkan mata, dia lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Amaya. Dengan tatapan menyelidik, dia bertanya, "Benarkah dia tidak melakukan apa pun sama kamu? Tampangnya mencurigakan, May!" Amaya mengangguk. "Aku sungguh tidak percaya, May. Bukan tidak percaya padamu, tetapi aku yakin ada yang sedang dia inginkan."
"Bapak benar, dia mengatakan siap menerima saya ketika nantinya Anda mencampakkan saya!"
Dave mendengkus kesal. Dia menyuap nasi gorengnya dengan rakus. "Itu tidak akan terjadi. Lagipula aku hanya cinta sama kamu, jadi mana mungkin aku sampai melakukan hal itu, May?"
Amaya mengangkat kedua bahunya. "Tapi, May, bisakah kamu mengubah panggilan untukku? Jangan terlalu kaku juga."
"Bisakah saat kita hanya berdua, baik itu di kantor atau di luar, kamu tidak memanggilku begitu? Panggil nama atau panggilan khusus, May!"
"Maaf, sudah kebiasaan! Saya akan coba!"
Dave berdeham. "Aku mau besok saat kita bertemu di kantor, aku sudah mendengar kamu tidak lagi memanggilku bapak kalau berdua saja! Rasanya aku kayak bapak kamu."
Amaya tidak menjawab. Dia memilih menikmati nasi gorengnya itu sambil terus memikirkan tentang ucapan Ari tadi. Amaya sungguh merasa kasihan kepada Ari yang pasti tertekan sekali.
***
Amaya datang ke kantor lebih pagi dari Dave. Dia melupakan sesuatu kemarin karena harus ikut ke pesta perayaan pernikahan.
Beberapa kali, Amaya berlatih untuk menyapa Dave dengan panggilan yang sejak semalam dia terus hapalkan. Aneh memang, di saat dengan yang lain bisa bersikap santai, tetapi dengan Dave dia begitu kaku.
Gugup sekali dia rasakan saat mendengar derap langkah menghampirinya. Menelan ludahnya kasar, Amaya tersenyum hangat kepada Dave dan mengikutinya masuk ke ruangan.
"May, siang ini ada agenda aku akan bertemu dengan klien, kan?" Amaya mengangguk. "Kamu tidak perlu ikut, May. Aku bisa atasi sendiri!"
"Baiklah!" Setelah merasa tidak ada lagi yang mereka bahas, Amaya pamit keluar.
Di depan pintu ruangan, saat dirinya memegang gagang pintu, Amaya menoleh ke belakang. Dia memperhatikan Dave yang sedang menandatangani beberapa berkas penting lalu mengatakan hal yang membuat Dave tersenyum cerah.
"Panggilan yang bagus, May. Aku suka!"
__ADS_1