Dia, Amaya

Dia, Amaya
Melihat Sosok Leo


__ADS_3

Amaya menemani Fhea ke minimarket untuk membeli beberapa keperluannya. Saat itu dia memilih untuk mengambil minuman dingin. Namun, ketika hendak pergi ke kasir dia mendapat pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.


"Kenapa, May?" tanya Fhea yang berdiri di dekatnya. Amaya memilih mengabaikan pesan yang belum dibacanya itu dan mengajak Fhea ke kasir.


Mereka lekas keluar dari minimarket karena tidak ada antrean di kasir. Saat itu Amaya kembali menerima pesan dari nomor yang sama. Belum sempat dirinya membaca pesan tersebut, nomor yang mengiriminya pesan sudah lebih dulu menghubungi.


"Aku terima panggilan ini dulu!" Amaya sedikit menjauh dari Fhea. Dia menerima panggilan tersebut dengan ragu. Namun, saat mendengar suara yang menghubunginya, Amaya menghela napas pelan karena merasa lega.


"Hai. Kenapa pakai nomor baru?" tanya Amaya senang. Dia tidak menyangka setelah seharian kemarin tidak mendapat kabar apa pun dari Leo, pria tersebut menghubunginya.


"Maaf di sini banyak sekali kerjaan. Aku menggunakan ponsel temanku."


"Oh, oke. Besok sampai sini jam berapa? Mau aku masakkan sesuatu?" tanya Amaya antusias.


"May, aku hubungi kamu untuk kasih tahu kalau aku dan tim masih harus di sini selama beberapa hari lagi!"


Amaya menjadi lesu. Dia kira besok akan bertemu kembali dengan Leo dan menghabiskan banyak waktu untuk bercerita. Sayangnya, keinginannya itu harus ditunda dulu. "Oke. Tidak masalah. Have fun!"


Amaya memutuskan panggilan tersebut terlebih dahulu setelah mendengar seseorang memanggil Leo. Dia hapal suara tersebut dan bertambah kesal.


"Kenapa kok wajahnya cemberut begitu?" tegur Fhea saat Amaya kembali menghampirinya.


Amaya menggeleng lalu mengajak Fhea ke kost. Jarak minimarket dan kost yang dekat sehingga mereka memilih untuk jalan kaki, apalagi jalanan lumayan ramai karena ada beberapa pedagang kaki lima.


Amaya terkejut saat Fhea menarik tangannya dan mereka hampir terjatuh. "May, kenapa, sih?"


Amaya mendesah pelan. Dia meminta maaf, hampir saja dirinya terserempet motor yang lewat jika Fhea tidak sigap menariknya. "Kamu tuh bahaya banget kalau bengong sambil jalan."


"Sorry!"


"Huh. Nyebelin kamu tuh. Kenapa, sih?"


Amaya menghela napas pelan lalu menatap lekat Fhea yang memintanya untuk cerita. "Leo tidak jadi pulang besok. Dia masih ada waktu beberapa hari di luar kota karena kerjaan, tapi yang buat aku kesal bukan itu ... Femi ada di sana dan Leo lebih pilih bicara sama Femi dibanding aku!"


Fhea seketika tertawa membuat Amaya kesal. "Jangan tertawa begitu. Lebih baik cepat balik ke kost, yuk!" Amaya menarik tangan Fhea untuk kembali jalan kembali ke kost.


***

__ADS_1


Amaya benar-benar merasa tidak tenang. Tiba-tiba saja dia merasa takut jika sebenarnya ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Leo. "Kenapa hanya suara Femi yang kudengar?" gumam Amaya sambil berbaring menatap langit-langit kamar.


Amaya meraba kasurnya mencari ponsel yang terus saja berdering. Dia terlalu malas untuk bangun dan mencarinya dengan benar. Beruntung saja ponselnya tidak terlalu sulit ditemukan.


"Pak Dave?" Amaya mendesah kesal. Dia begitu malas jika terus-menerus harus berhubungan dengan Dave. Namun, mengingat apa yang terjadi kepada Dave dan kata-kata yang pria itu ucapkan membuatnya tidak tega untuk mengabaikannya.


"Halo Pak Dave? Ada apa?"


"Non Amaya, ini Bibi. Non, bisa datang ke sini? Mas Dave demam, Non!"


Amaya mengerutkan keningnya mendengar suara panik dari pekerja di rumah Dave.


"Bisa datang ke rumah, Non? Bibi bingung harus lakuin apa. Mas Dave terus saja mengigau panggil nama Non Amaya dan ibu lagi tidak di rumah!"


Amaya bangun dari tidurnya lalu memutuskan panggilan tersebut begitu saja. Dia memilih bersiap dan tanpa pikir panjang pergi ke rumah Dave.


Beruntung saat dia keluar kost ada ojek yang baru saja mengantar salah satu temannya dan dia menggunakan ojek untuk pergi ke rumah Dave.


Mendengar Dave demam sampai memanggil namanya membuat Amaya panik. Dia tidak mau terjadi apa-apa kepada Dave dan membuatnya disalahkan.


Sayang, perjalanan ke rumah Dave tidak semudah yang dibayangkan. Di malam hari seperti itu dia harus berada di kemacetan karena ada kecelakaan parah.


"Maaf, Mbak. Kita tidak bisa gerak!" Amaya memperhatikan sekitarnya. Motor yang ditumpanginya terjebak di antara pemotor lain. Jalanan benar-benar macet. "Kalau memang buru-buru, lebih baik jalan kaki sampai depan sana. Kayaknya di sana sudah tidak macet!"


Amaya menerima usulan tersebut. Dia membayar ongkos ojeknya dan memilih berjalan ke depan lewati tempat terjadinya kecelakaan.


Tubuh Amaya menggigil saat melihat darah segar mengalir begitu saja di jalan aspal. Bau amis tercium jelas dan suara teriakan kesakitan korban begitu membuatnya merasa sedih. Amaya teringat akan ayah dan ibunya dulu saat mengalami kecelakaan. Beruntung mereka semua selamat walau ibunya menjadi lumpuh.


"Tuhan, kuatkan aku!" gumam Amaya sambil terus berjalan di antara kerumunan yang berada di sana. Beruntung saja dia tidak perlu jauh berjalan. Dia memilih menggunakan taksi untuk ke rumah Dave.


Amaya begitu merasa mual saat ini, bau darah tadi benar-benar mengganggu indra penciumannya. Namun, dia memilih mengabaikannya dengan fokus memikirkan Dave.


Amaya sekilas melihat sosok Leo memasuki sebuah toko perhiasan seorang diri, tetapi saat mengingat Leo yang sedang berada di luar kota dia meyakini yang dilihatnya salah.


"Yang tadi mirip sekali dengan Leo! Tidak mungkin karena Leo berada di luar kota."


***

__ADS_1


Kedatangan Amaya disambut oleh seorang pria yang bekerja di rumah Dave. "Pak Dave gimana, Pak?"


"Bapak tidak tahu, Non. Ada Bi Tri di kamar Mas Dave!" Amaya mengangguk, tanpa mengatakan apa pun lagi dia ke kamar Dave.


Amaya memasuki kamar Dave, dia menyentuh pundak Bi Tri pelan, tetapi membuat perempuan paruh baya itu terkejut. "Maaf, Bi!"


"Non, Mas Dave terus saja mengigau. Bibi sudah hubungi Ibu dan Ibu tetap tidak bisa pulang malam ini!"


Amaya mengangguk paham. Dia memperhatikan wajah Dave yang terlihat gelisah. Amaya langsung mendekati Dave dengan duduk di sisi ranjang. Menyentuh wajah Dave yang berkeringat.


"Pak Dave!" panggil Amaya pelan. Sayang, pria tersebut tidak memberi respons.


Amaya menghela napas pelan dia lalu menyeka keringat Dave dengan tisu di tasnya. Amaya juga memeluk Dave seperti yang dilakukannya di kantor tanpa merasa sungkan saat ada Bi Tri di kamar tersebut.


Perlahan tubuh Dave mulai tenang, pria tersebut tidak lagi merasa gelisah. Amaya teringat akan ucapan Dave jika dia obat yang Dave butuhkan.


"Mas Dave kelihatannya sudah membaik!"


Amaya mengangguk. Perlahan dia melepaskan pelukannya dan berhasil. "Panasnya masih, apa sebaiknya kita panggil dokter, Bi?"


"Ibu bilang Mas Dave kalau demam sambil mengigau gitu obatnya cuma butuh di tenangkan saja, Non."


Amaya mengangguk paham. Dia berharap Dave memang benar-benar akan membaik setelah dia mencoba menenangkannya. "Bibi istirahat saja. Biar Pak Dave saya yang temani!"


"Tidak apa-apa, Non?" Amaya mengangguk yakin. Dia merasa kasihan dengan wajah lelah Bi Tri. "Baiklah. Kalau ada apa-apa langsung panggil Bibi saja, ya, Non!"


"Bibi tenang saja. Saya akan lakukan hal itu!" Bi Tri akhirnya berpamitan pergi ke kamarnya dan tidak lupa menutup pintu.


Saat ini hanya ada dirinya dan Dave. Amaya memperhatikan wajah Dave yang sudah tidak lagi gelisah, dia menyentuh dahi Dave yang merasakan panas tubuhnya berkurang.


"Apa aku benar-benar obatnya? Tapi kenapa aku?"


Tangan Amaya tiba-tiba digenggam erat oleh Dave. Namun, Amaya memilih untuk membiarkannya saja. "Padahal aku benci kamu. Kamu yang permalukan aku, tapi kenapa aku selalu merasa tidak tega membiarkan kamu menderita begini?"


"Jangan pergi, May. Kumohon!" Amaya menghela napas pelan saat mendengar Dave yang mengigau menyebut namanya.


"Kali pertama aku tahu kamu bosku, sungguh aku ingin sekali tidak menerima pekerjaan ini, tapi sayangnya melihat tatapan matamu itu buatku merasa harus terus bertahan dan sekarang ... malang sekali nasibmu!"

__ADS_1


Amaya mengusap dahi Dave lalu menciumnya lama di sana. "Aku mencintaimu!"


__ADS_2