Dia, Amaya

Dia, Amaya
Berapa Grup yang Kalian Punya, May?


__ADS_3

Ketukan pintu kamarnya berhasil membuat Amaya terjaga dan terpaksa membuka pintu.


"Sudah tidur, ya, May?" Amaya mengangguk. Dia menguap karena begitu mengantuk, lelah sekali setelah seharian bekerja juga beradu argumen dengan Lani setelah mereka selesai makan siang. "Ada tamu, tuh, May. Katanya penting mau ketemu sama kamu!" ucap teman samping kamar Amaya.


Kedua alis Amaya terangkat, dia mengintip ke arah ruang tamu, tetapi tidak melihat siapa pun di sana. "Dia di teras, May!"


"Kamu tahu dia siapa?" tanya Amaya penasaran. Tidak biasanya ada orang yang mau bertemu dengannya sampai datang tiba-tiba. Amaya mengira jika orang yang ingin bertemu, bukan orang yang dekat dengannya.


"Tahu, duh siapa, ya. Aku lupa, namanya. Tapi, aku sering kok lihat kamu sama dia pergi bareng!"


"Cowok?" Temannya itu mengangguk lalu pamit pergi ke kamarnya.


Amaya menghela napas pelan. Dia sudah tahu siapa orang yang menunggunya saat itu dan memutuskan untuk menemuinya.


Benar saja tebakan Amaya, Leo orang yang datang menemuinya. "Mau apa lagi kamu ke sini?" tanya Amaya tanpa basa-basi, bahkan karena dirinya yang bicara begitu saja di saat Leo tidak melihat, pria tersebut begitu terkejut.


Leo berdiri, menghampiri Amaya yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum kecut. "May, ada yang mau aku bicarakan sama kamu!" Amaya hanya mengangguk. "Tapi, bisakah kita bicara di tempat lain? Bukan di sini!"


Amaya mendengkus kesal. Dia lalu berjalan ke arah bangku yang berada tidak jauh dari rumah kost. Amaya memutuskan duduk di sana dan membiarkan Leo duduk di sampingnya.


"May, untuk ucapan Femi kemarin sungguh aku minta maaf. Kamu pasti mengira kalau aku pria jahat!" Amaya mengangguk. Bukan lagi perkiraan, tetapi memang kenyataannya bagi Amaya begitu.


Di saat sedang menjalin hubungan, Leo berani sekali bermain hati dengan Femi, teman kerja yang dia kenalkan kepada Amaya, bahkan sampai hamil.


"Jujur, aku sendiri sebenarnya ragu apa benar Femi hamil anakku!"


Ucapan Leo membuat Amaya menatapnya tajam. Dia tidak menyangka Leo akan bicara begitu. "Sungguh, May. Aku yakin dia menjebakku. Dia sudah merencakanan semuanya biar aku bisa nikah sama dia, May!"


Amaya tersenyum masam mendengarkan ucapan Leo dengan tanpa tahu malu menyudutkan perempuan yang sekarang menjadi istrinya.


"Le, kalau yang mau kamu bicarakan tentang hal itu, aku tidak peduli. Bagiku apa yang kamu lakukan dengan Femi itu sebuah perselingkuhan. Bisa saja, kan, kalau aku masih belum tahu kamu akan menikah tanpa undang aku? Kamu akan tetap nikah sama dia dan tetap jadikan aku pacarmu?"


Amaya sudah muak dengan Leo. Dia bangkit berdiri dan sebelum pergi meninggalkan Leo yang terlihat merasa tertekan, dirinya berkata, "Tidak seharusnya apa yang kalian perbuat, kamu limpahkan semua kesalahannya sana Femi. Kalian semua salah!"


"May, tunggu!" Leo mengejar Amaya. Dia berhasil meraih tangan Amaya dan menariknya di dalam pelukan. "May, tolong ngertiin aku. Aku terpaksa nikah sama dia. Aku sama sekali tidak cinta sama dia, May!" Leo terus bicara dan menahan tubuh Amaya agar tidak lepas dari pelukannya.

__ADS_1


"Lepas, Leo!" Amaya berusaha berontak. Namun, tenaganya kalah telak. Dia terus saja mendengarkan perkataan Leo tentang penyesalan dan ketidaksukaannya kepada Femi.


"Leo!" Suara keras tidak jauh dari mereka berhasil membuat Amaya terlepas dari pelukan Leo.


Amaya mendorong tubuh Leo dan hampir terjatuh, tetapi kesialan harus dia rasakan saat perempuan yang memanggil nama Leo dengan lantang menamparnya begitu keras.


"Kamu sengaja suruh Leo ke sini dan minta dipeluk, kamu lupa dia siapa?" Amaya mengusap pipinya yang terasa kebas dan panas karena ulah Femi. Dia begitu geram sampai giginya bergemelutuk menahan amarah.


"Femi, ngapain kamu ke sini?" Amaya melihat bagaimana marahnya Femi, sampai perempuan itu tega mendorong tubuh suaminya dan terjatuh.


"Kamu harusnya tahu diri, Leo itu suami aku!" Femi mengikis jarak dengan Amaya. Bicara dengan penuh penekanan untuk menyadarkan Amaya, bahkan tatapannya begitu mengejek Amaya yang masih memilih diam.


"Kita pulang!"


Amaya membiarkan saja Leo menarik tangan Femi menjauh darinya. Namun, tidak mau begitu saja membiarkan Femi melukainya, Amaya menghampiri mereka dengan langkah lebar. Dia berhasil menarik rambut Femi. "May, lepas!" pekik Femi kesakitan.


Amaya tidak peduli. Sudah cukup dirinya direndahkan selama ini dan dia tidak mau lagi, apalagi sampai dituduh melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan. Untuk membalas rasa sakit di pipinya yang memerah, Amaya menampar wajah Femi sama keras seperti yang diterimanya.


"Itu balasan karena kamu tampar pipiku," ucap Amaya tanpa merasa takut sama sekali. Tatapannya beralih kepada Leo. "Sebaiknya kamu jangan pernah lagi temui aku. Lebih baik urus istrimu itu, awasi dia!"


Di sana dirinya sudah disambut dengan tepuk tangan Fhea yang terlihat begitu senang. "Gila, keren banget kamu, May, bisa balas Femi gitu!" Fhea memberikan dua jempol untuknya.


"Itu balasan karena sudah tampar aku!" Amaya mengusap pipinya yang masih terasa sakit.


"Pasti sakit banget, May. Aku bantu kompres, ya!" Amaya mengangguk, dia tidak mau menyiakan tawaran Fhea yang mau mengompres pipinya.


***


"May, kenapa sama pipi kamu? Sakit gigi?" tanya Dave heran saat melihat pipi Amaya terlihat sedikit bengkak.


Amaya menyentuh pipi kirinya. Sakitnya sudah tidak terasa, tetapi masih bengkak. "Bukan karena sakit gigi, Pak."


"Terus?" Dave menghampiri Amaya dan mengajaknya duduk di sofa. Dia memperhatikan pipi kiri Amaya dan hendak menyentuhnya, tetapi Amaya menghindar. "Kenapa pipi kamu bisa sampai bengkak?"


"Semalam Femi tampar saya, Pak!"

__ADS_1


"Astaga. Apa yang terjadi sampai dia berani lakukan itu?" Amaya tersenyum tipis melihat kekesalan Dave.


"Dia salah paham, mengira saya mengundang suaminya ke kost. Padahal Leo datang sendiri dan mengatakan menyesal telah menikah dengan Femi. Wajar sekali kalau istrinya marah dan menampar saya begini, Pak!"


Dave menggeleng. Dia tidak setuju dengan kalimat terakhir Amaya tersebut. "Tidak bisa begitu, May. Kamu tidak berhak dikasari begini!"


"Pak Dave tenang saja, saya tidak diam saja saat dia melakukan ini. Mungkin pipinya lebih bengkak dari saya dan rambutnya rontok." Dave mengangkat sebelah alisnya. "Saya menjambak rambutnya dan juga menamparnya balik dengan lebih keras, Pak! Saya tidak mau terus ditindas seperti dulu saat sekolah."


Dave mengangguk paham. Dia meraih tangan kanan Amaya dan mengenggamnya. "Aku janji tidak akan membiarkan siapa pun melakukan perbuatan jahat sama kamu, May. Tidak ada yang bisa menindasmu lagi. Kamu percaya, kan?"


"Tentu. Tapi, apa yang mau Pak Dave lakukan kalau tahu siapa yang sudah menyebarkan tentang hubungan kita di kantor?"


"Memang kamu tahu siapa orang yang sudah melakukannya?"


Amaya mengangguk. Dia lalu memberitahu hasil screenshot yang diberikan Sekar kepadanya. "Lani?"


"Iya, Pak. Dia memberitahu semua karyawan tentang hubungan kita di grup yang saya tidak masuk di dalamnya!"


"Sebenarnya ada berapa grup yang kalian punya, May?" Amaya terkekeh pelan melihat kebingungan Dave. Dia menarik tangannya yang masih digenggam dan mengambil laporan yang harus Dave periksa dan tanda tangani.


"Daripada bingung memikirkan berapa grup, lebih baik Pak Dave mulai kerja! Saya akan kembali dengan membawakan kopi tepat pukul sebelas nanti!" Amaya memutuskan keluar dari ruangan Dave.


"Pak Dave ada?"


"Ada! Lani, bisa kita bicara sebentar?"


Lani yang sudah akan mengetuk pintu ruangan Dave mengurungkan niat dan menyetujui permintaan Amaya.


"Boleh saya tahu alasan kamu memberitahukan kepada semua karyawan tentang hubungan saya dengan Pak Dave? Apa yang kamu mau?" tanya Amaya kepada Lani.


"Kamu mau tahu?" Amaya mengangguk. "Bukankah harusnya kamu berterima kasih denganku, May? Dan, ya, seharusnya juga kamu tahu alasan aku sampai memberitahu mereka!" ucap Lani sambil menyeringai menyebalkan.


Amaya terdiam dan membiarkan saja Lani yang mengetuk pintu ruangan Dave. Saat akan masuk, Amaya mengatakan sesuatu yang membuat Lani terdiam sejenak.


"Kamu ingin melihat reaksi semua karyawan tentang hubungan kita, bukan? Kamu juga mau lihat siapa yang lebih pantas bersanding dengan petinggi di perusahaan ini. Iya, kan?"

__ADS_1


__ADS_2