
"Masih lama nggak sih, Han?" tanyaku pada cowok itu karna sudah hampir tiga puluh menit menunggu Dimas, namun cowok itu belum juga menampakkan dirinya.
Saat ini aku dan Rehan berada dibawah pohon dekat parkiran sekolah, duduk di bangku ber cat putih bersama dengan Rehan.
Rehan melirik ku sehingga mataku dan juga matanya saling bertatapan. Tak dipungkiri wajah Ryhan memang tampan, bulu mata lentik, hidung yang mancung, alis yang hitam serta matanya yang indah dilihat, tak lupa pula wajahnya yang putih dengan sedikit luka diwajahnya karna bekas perkelahiannya dengan Vicky saat itu.
"Nggak usah lo lihatin gue. Entar lo putar haluan," kata Rehan membuat ku melototkan mata dengan posisi ku masih bertatapan denganya.
"Enak aja yah kamu," balasku pada Rehan.
"Nggak ada yang tau. Hari ini lo suka sama Devan, mungkin besoknya lo suka sama gue."
Lagi dan lagi perkataan Rehan membuat ku tak percaya dengan tingkat kepedean cowok itu. Ku akui jika ketampanan milik Rehan dan Devan imbang, karna mereka sama-sama tampan. Yang menjadi nilai plus untuk Rehan, karna cowok itu mempunyai gigi gingsul, sehingga saat di tertawa atau tersenyum terlihat sangat manis.
"Nggak bakalan ada yang gantiin, Devan," kataku pada Rehan. Sedangkan cowok itu hanya mengangkat bahunya.
Aku harap, apa yang dikatakan oleh Rehan tidak akan terjadi. Bagaimana jika hal itu terjadi bisa-bisa aku akan mengutuk diriku sendiri.
"Masih lama nggak sih, Han?" tanyaku lagi pada Rehan. Karna pertanyaan ku tadi belum juga dijawab cowok itu.
"Nggak tau," balas Rehan sekenanya membuat ku menghentakkan kaki. Cowok itu kelewat santai menjawab pertanyaan ku.
"Kenapa lo?" tanya Rehan kepada ku. "Nggak usah buru-buru pulang, emangnya lo punya anak sama suami dirumah buat lo ladenin?" lanjutnya membuat ku refleks mencubit perut cowok itu.
"Awh."
Keras. Ternyata perut cowok biang rusuh itu keras. Aku yakini jika dia rajin berolahraga apa lagi tubuhnya sangat wow, seperti seorang atletis saja.
Rehan sempat meringis saat aku mencubit perutnya. Siapa suruh bicara seenak jidatnya saja.
"Lo kira cubitan lo tuh, nggak sakit," keluh Rehan memegang perutnya yang sedikit perih. Karna mendapatkan cubitan secara mendadak dari ku.
"Siapa suruh, mulut nggak bisa di rem!" ketusku pada Rehan.
Tidak puaskah cowok itu mengejek ku. Apa lagi saat mengingat kejadian dikelas tadi membuat ku ingin ganti wajah saja.
__ADS_1
"Satu lagi, Han. Jangan pernah ke kelas MIPA lagi yah. Kamu kesana buat aku malu sama guru dan teman sekelas aku," aduhku pada cowok itu saat mengingat kejadian tadi.
Sampai-sampai teman sekelas ku mengira jika aku dan Rehan berpacaran. Padahal itu tidaklah benar sama sekali.
Aku masih mengingat kata-kata Rehan yang ingin melihat babu kesayangannya. Dan aku tau julukan itu untuk aku karna aku saja babu Rehan. Namun bedanya, dia tidak mengatai diriku babu genit, tetapi babu kesayangan.
Mungkin saja dia ingin menjaga perasaan ku, supaya tidak malu pada teman kelasku. Namun tetap saja aku malu, karna ulah Rehan yang berbicara seenak jidatnya saja.
Cowok biang rusuh yang tampan itu memang selalu aneh. Dia selalu mengutang makanan dan rokok di kantin pak Harto.
Rehan melirik Nadine yang sedang menguap dengan matanya melihat kearah atas. Melihat daun-daun diatas.
Rehan kembali melihat kearah depan, tidak melirik Nadine lagi. Dia juga capek ingin segera pulang namun dia harus menunggu Dimas.
Ryhan tau, jika sahabatnya itu sedang bicara serius dengan Vanesa. Tidak ada yang serius bagi Dimas selain Vanesa. Jika cowok itu nampak dingin, cuek dengan sekitarnya. Percayalah dengan Vanesa sifat yang diats hilang semuanya.
Glek.....
Rehan terdiam saat kepala Clara tersandar di bahunya yang tegak. Dia melirik gadis itu dia melihat matanya terpejam. Dia bisa merasakan hembusan nafas gadis itu yang beraturan membuat Rehan tidak enak jika membangunkan Clara.
Rehan membiarkan Clara tidur dibahunya, untung saja sekolah Saat ini sudah sepi sehingga tidak ada yang melihat Nadine dan juga Rehan.
Hembusan angin sore ini menerbangkan anak rambut milik Nadine yang sedang tertidur dibahunya Rehan. Sepertinya gadis itu nyaman karna tidak terganggu sama sekali meski dia hanya tidur dibahu kekar milik Rehan.
Rehan masih memperhatikan wajah milik Nadine, dalam jarak yang sangat dekat. Tanpa sadar dia menyungkirkan senyuman tipisnya melihat Nadine tertidur dipundaknya.
Manis.
Kata itu terbesit dalam pikiran Rehan, wajah yang dimiliki oleh Nadine membuat seseorang tidak akan bosan melihat wajahnya.
Tangannya bergerak menyelipkan anak rambut milik Nadine yang ditiup oleh angin.
Cekrek....
tanpa Ryhan tau seseorang memotretnya dirinya yang sedang menyelipkan anak rambut Nadine yang sedang tertidur.
__ADS_1
Seseorang yang mengambil potret Rehan dengan Nadine menyungkirkan senyum tipisnya.
"Ternyata sih cupu bisa romantis juga," menolong orang itu sembari melihat hasil potretannya. "Dan pastinya menjadi nilai plusnya ada Rehan."
Seseorang itu langsung pergi setelah dia berhasil memotret objek yang dia dapatkan.
Nampaknya tidur Nadine tidak terganggu meski angin menerpah wajahnya yang manis itu.
Dimas berjalan kearah Ryhan.
"Kit...." Perkataan Dimas langsung tercekat di tenggorokannya saat Rehan menempelkan jari telunjuknya dibibirnya.
Sehingga Dimas tidak jadi melanjutkan perkataannya, dia melirik Nadine yang sedang tertidur begitu nyenyak seperti tanpa beban saja.
"Udah selesai, lo?" tanya Rehan dengan suara pelan kepada sahabatnya itu.
Terlebih dahulu Dimas menarik nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya.
"Gue nggak tau gimana lagi buat yakinin, Nesa," kata Dimas dengan tidak semangatnya menjawab pertanyaan dari Rehan.
"Vanesa kenapa?" tanya Rehan.
"Lo tau sendiri 'kan. Kalau Nesa suka sama seseorang," jawab Dimas membuat Rehan turut merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Ditambah lagi suaranya yang lesuh.
"Dan lo masih mau pertahanin hubungan lo, sama Vanesa?" Rehan kembali bertanya kepada sahabatnya itu. Dia juga kasihan kepada jalan percintaan Dimas yang tidak mulus.
Dimas tentu saja mengangguk mengiyakan ucapan Rehan, membuat Rehan bernafas berat mendapatkan jawaban dari Dimas.
Rehan juga belum tau, siapa yang disukai oleh Vanesa karna Dimas belum mengatakan kepadanya. Dimas hanya mengatakan jika Vanesa menyukai seseorang.
Rehan tidak habis pikir dengan arah pikiran Vanesa. Padahal Dimas itu tampan bahkan pacarnya itu menjadi bahan incaran anak-anak SMA.
Sementara dia yang sudah mempunyai ikatan dengan Dimas ingin menyia-nyiakan begitu saja.
"Lo pulang duluan, aja," kata Rehan. "Entar gue nyusul setelah gue bangunin babu gue." Lanjutnya.
__ADS_1
"Ok....Gue duluan," pamit Dimas berjalan kearah motornya untuk segera pulang menenangkan pikirannya yang menghiasi nama Vanesa, sang kekasih.