
Akhirnya ....
Aku bernafas legah saat mobil milik Rehan memasuki parkiran sekolah khusus untuk mobil.
Baru saja aku ingin membuka pintu mobil, namun suara milik Rehan langsung menghentikan pergerakan tangan ku.
''Mau kemana lo?'' tanya Rehan, membuat ku melirik cowok itu.
Buat apa lagi dia bertanya, dia sudah tahu kalau aku ingin segera turun dari mobilnya. Tidak mungkin juga aku harus bersemedi di sini.
''Mau turun bos Rehan,'' jawabku pada Rehan, seraya tersenyum. Kalau aku tidak tersenyum Rehan akan kembali menegur ku dan mempermasalahkannya lagi. Dan ujung-ujungnya dia mengancam ku lagi.
''Bawa tas gue.'' Rehan melepaskan tasnya lalu memberikannya kepada Nadine.
Nadien langsung mengambil tas milik Rehan. ''Jangan turun sebelum gue,'' peringat Rehan lagi dan hanya ku balas anggukan kepala saja.
Rehan membuka pintu mobilnya lalu dia turun, lalu kemudian di susul oleh Nadine.
Nadine seperti biasa, mengikuti Rehan dari belakang. Ingat, dia itu babunya Rehan sosok cowok tukang onar di sekolah ini.
''Wah...Ada cowok pengecut.'' Seketika langkah kaki Rehan terhenti saat suara itu menyapa gendang telinga milik Rehan.
Tentu dia tahu siapa pemilik suara itu, siapa lagi kalau bukan Vicky, sosok cowok yang pernah berantem denganya di lapangan sekolah.
''Aku duluan atau gimana?'' tanyaku pada Rehan, karna saat ini Vicky sedang menghadang kami di sini.
Rehan mengangguk, memberikan gadis itu izin untuk pergi meninggalkan dirinya dan juga Vicky.
Nadine langsung pergi meninggalkan kedua cowok yang merupakan biang onar di sekolah ini.
Di sepanjang koridor sekolah, banyak pasang mata menatap Nadine dengan tatapan yang sulit gadis itu tebak, tatapan apa yang di berikan padanya itu.
''CIE!!!'' Suara sorakan langsung menggema di telinga ku saat aku masuk kedalam kelas, banyak yang mengucapkan selamat padaku, aku baru saja melakukan hal apa, sehingga mereka memberikan selamat padaku.
__ADS_1
Aku duduk di dekat Anya, karna dia sepertinya begitu tahu mengenai hal ini.
''Nadine, selamat ya.'' Itu adalah ucapan selamat dari teman-teman ku di dalam kelas.
Aku hanya tersenyum simpul, karna tidak tahu maksud mereka semua.
''Anya,'' panggil ku kepada gadis berkacamata itu. ''Ini ada apa sih? kok mereka gembira Banget, baru kasi aku ucapan selamat,'' bingung Nadien kepada Anya.
''Kamu nggak tahu atau pura-pura nggak tahu,'' goda Anya padaku membuat ku semakin tidak mengerti Dengan situasi ini.
''Aku serius, Nya. Ini ada apa sih?'' Tuntut ku kepada Anya agar gadis itu memberikan ku jawaban sekarang juga, karena saking penasarannya aku.
''Bentar,'' ucap Anya seraya mengambil ponselnya didalam tas, membuat aku semakin penasaran.
Aku merasa ada yang sedang menimpa aku sekarang ini.
''Nih!'' Anya melihatkan ku postingan seseorang di ig.
Dan lebih syoknya lagi, aku menyandarkan kepalaku di pundak milik rehan, mataku terpejam dan ku pastikan saat itu aku tidur.
''Kamu jadian'kan sama Kak Rehan,'' celetuk Anya membuat ku langsung menggelengkan kepalaku dengan kuat, membantah ucapan itu jika aku dan cowok biang masalah di sekolah ini pancaran.
''Anya, aku nggak pacaran sama cowok Itu. Beneran, aku nggak pacaran sama Rehan. Foto itu, aku juga nggak tahu siapa yang foto aku sama Rehan,'' jelas ku pada Anya membuat gadis itu tertawa kecil..
''Nggak usah malu-malu, Na. Sekarang kamu terkenal di sekolah ini, karna kamu jadian sama kak Rehan. Kak Rehan nggak kalah populernya sama kak Devan. Muka kamu udah di tandai sebagai pacar kak Rehan. Dan satu lagi, mereka semua nggak percaya kalau kamu bisa pancaran dengan Rehan,'' ucap Anya membuat ku kembali melotot kan mataku.
Aku sudah terkenal di sekolah ini? Itu berarti aku....Nggak mungkin, aku nggak mau di gosip pacaran dengan Rehan.
''Oiya, Na. Foto-foto kamu juga udah di pajang di mading. Pokoknya kamu udah terkenal, Na.''
Deg...
Jantung ku berdetak tidak karuan, foto ku dengan Rehan di pasang di mading sekolah?
__ADS_1
Oh...TIDAK!!!
Aku menyimpan tas milik rehan diatas mejaku, lalu ku langkahkan kaki menuju mading untuk segera mencabut foto-foto itu.
Aku tidak mau terkenal di sekolah ini, dikenal sebagai pacar Rehan. Aku tidak mau, aku hanya menyukai Devan. Bukan Rehan.
Benar saja, saat aku sampai di depan mading, aku langsung di suguhkan foto ku tidur di pundak kekar milik Rehan.
''Siapa yang fotoin aku sama Rehan? Kurang kerjaan banget sih!'' gerutu ku seraya melepaskan foto itu di papan mading lalu merobeknya.
''Kenapa di robek?''
Deg...
Suara milik Devan menyapa gendang telinga ku, dengan ragu aku membalikkan badan ku, dan melihat sosok cowok yang selama ini aku kagumi sedang berdiri di belakang ku.
Mulut ku kakuh, aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun saat ini, melihat siapa yang berada di depan ku.
''Kak...Devan.'' Kulihat cowok itu mengangguk lalu tersenyum kecil, senyuman yang mampu membuat aku meleleh, seperti ice cream yang di jatuhkan dari kulkas.
''Jadi Lo pacaran sama Rehan?'' tanya Devan padaku, membuat aku meneguk salivaku susah payah saat ini juga.
''Nggak!'' jawabku dengan cepat kepada Devan. ''Aku juga nggak tahu kenapa foto aku sama kak Rehan bisa kesebar gini,'' jelas ku kepada Devan.
''Tapi itu beneran lo'kan? Bukan editan?'' tanya Devan lagi membuat aku semakin mematung didepannya..
''Gue cuman mau ngucapin selamat. Karna Lo udah buat sosok Rehan jatuh cinta,'' ucap Devan padaku, seperti sosok cowok yang sudah sangat mengenal Rehan..
''Itu memang foto aku sama Rehan, bukan editan. Tapi aku nggak pacaran kok sama Rehan. Lagian, Rehan itu ganteng, nggak pantas untuk aku yang hanya Upik abu di sekolah ini,'' balasku seraya tersenyum kikuk Kepada Devan.
Kulihat cowok itu tersenyum simpul lalu berkata. ''Lo cantik, pantas-pantas aja sama Rehan.''
Deg....
__ADS_1