
Sedari tadi Rehan tidak konsentrasi, berulang kali Dimas dan Rafli memanggilnya, namun cowok itu tidak mendengarnya.
''Itu anak kenap sih?'' tanya Rafli.
Dimas melirik Rafli, lalu berkata. ''Gue juga nggak tahu,'' jawab Dimas, karna dia juga tidak tahu Rehan kenapa.
Berulang kali Rehan menghembuskan nafas berat, itu semua di dengar jelas oleh kedua sahabatnya, dia seperti menanggung beban yang begitu banyak saat ini.
Bell istirahat berbunyi, membuat murid-murid di kelas ips segera keluar, untuk menuju kantin mengisi perutnya yang kosong.
''Lo kenapa, Han.'' Rafli menepuk pundak Rehan, membuat cwok itu terkejut.
''Gue lagi mikirin babu gue,'' balas Rehan santai mampu membuat Dimas dan Rafli saling menatap satu sama lain. Mereka berdua tidak paham, maksud ucapan Rehan memikirkan babunya?
''Babu lo kenapa?'' tanya Rafli dan Dimas bersamaan, sehingga Rehan langusng menatap kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
‘’Kayaknya gue suka sama dia,'' jawab Rehan dengan santai, raut wajah yang dia tampilkan begitu polos. Saat mengucapkan jika sepertinya dia menyukai Nadine.
''Wah, parah lo, Han!'' Rafli menggeleng tidak percaya, dengan apa yang barusan Rehan katakan itu.
''Kenapa?'' tanya balik Rehan dengan santai. ''Apa ada yang salah kalau gue suka sama, Nadine?'' lanjut Rehan.
Sementara Dimas memilih untuk, menyimak obrolan Rehan dan Rafli.
''Nggak salah sih kalau lo suka sama, Nadine. Dia itu cewek sederhana yang gue kenal, dia juga manis. Nggak bosan buat di lihat,'' jelas Rafli, seraya mengingat wajah milik Nadine. ‘’Cuman, lo nikung gue kalau ceritanya kayak gitu!'' lanjut Rafli memanyunkan bibirnya.
''Pada kepedean, emangnya Nadine suka kalian berdua.'' Sebuah pernyataan yang di lontarkan Dimas, membuat kedua cowok itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ‘’Kalian tahu'kan, kalau sih Nadine itu suka sama Devan Tirtayasa, bukan Rehan apa lagi Rafli,'' lanjut Dimas dengan dingin, namun ucapanya itu mengejek kedua sahabatnya.
''Iya juga ya,'' gumam Rafli.
‘’Kalian boleh aja bersaing sama cowok manapun, tapi jangan bersaing sama cowok yang dia sukai.'' Ucapan Dimas tersirat arti yang dalam, membuat Rafli mencernah ucapan Dimas.
__ADS_1
Sementara Rehan tersenyum mengejek kearah Dimas. ''Kata-kata itu juga cocok buat lo!'' sosor Rehan membuat Dimas diam.
Rehan dan Rafli tertawa keras, mereka sudah tahu jika pacar Dimas, yaitu Vanesa menyukai cowok lain. Hanya saja, mereka belum tahu, siapa cowok yang Vanesa sukai, itu masih menjadi misteri.
''Udah-udah, bantu gue berpikir. Bagaiamana caranya, biar gue tahu. Kalau gue beneran suka sama Nadine atau ini cuman perasaan gue doang.'' Rehan meredakan sisa tawanya membuat Rafli ikutan berpikir juga.
''Lo peduli sama, Nadine?'' tanya Rafli memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Rehan tanpa beban.
Sementara Dimas hanya menyimak saja obrolan kedua sahabtanya, setelah dia di tertawai tadi.
''Kalau Nadine dekat sama cowok lain, apa lo cemburu?'' tanya Rafli lagi dan kembali dibalas anggukan kepala oleh Rehan.
''Gue lihat Nadine ngobrol sama Devan aja, udah buat darah gue mendidih aja.'' Rehan mengingat dimana Nadine dan Devan mengobrol bareng di depan mading sekolah.
''Ok, Fix! Lu beneran suka sama sih Nadine!'' putus Rafli setelah dia berhasil bertanya-tanya kepada Rehan, dia sudah menemukan jawabanya.
__ADS_1
‘’Gimana menurut lo, Dim?'' tanya Rehan pada Dimas, karna sahabatnya yang satu itu jauh lebih normal dari Rafli.