Diam Diam Suka

Diam Diam Suka
Ulat


__ADS_3

Happy reading


"aneh mereka" heran viola.


setelah memesan makanan,Brayen dan viola pun langsung memakannya.sembari asik berbincang bincang viola terus mengunyah makanan nya.


"sebentar lagi ujian akhir semester,rencana kak Brayen ingin kuliah kemana?" tanya viola kepada Brayen.


"rencananya aku ingin ke Paris,tapi aku memilih tetap tinggal dan kuliah di sini karena kasihan melihat kondisi ayah yang sering sekali sakit sakittan." penjelasan Brayen


"ouhh kak Alvin juga kata nya ingin ke Paris,apa kalian berlima sudah mempunyai kesepakatan bersama?" bingung viola saat tau Brayen juga ingin sekali kuliah di paris persis seperti apa yang di inginkan Vano.


"ya kita berlima sudah sepakat ingin kuliah bersama di Paris,tapi sayangnya aku tidak bisa pergi." musam Brayen.


"kuliah di mana saja itu sama saja,jangan sedih gitu dong" viola memegang kedua sudut bibir Brayen dengan jemari nya dan melengkukkan nya ke atas hingga wajah Brayen terlihat seperti orang tersenyum.


"nah gini kan tampan" cengir viola.


Brayen mengacak acak rambut viola merasa gemas.sembari dengan tersenyum kecil seperti orang menahan tawa.


"lagian,kalau aku pergi nanti pasti ada yang merasa kesepian dan rindu." cebik Brayen di sela sela kunyahan nya


viola melongo mendengar perkataan Brayen,lalu menatap pria itu penuh tanda tanya.

__ADS_1


"apa nantinya kamu rela seandainya aku pergi jauh ke Paris untuk waktu yang cukup lama? " tanya Brayen kepada viola.


apa maksudnya Brayen mengatakan hal itu?apa dia sudah tau tentang perasaan viola terhadap diri nya?ah seandainya itu benar viola sangat merasa malu sekali.


"aku..?kenapa...aku?" viola dengan terbata bata menggigit sendok batagor milik nya.


"aku bertanya" kata Brayen.


"ee.....aku,a..ku...tak tau,lagian untuk apa aku merindukan kakak?" viola berusaha mencairkan kecanggungan di antara mereka.


"jadi kau tak akan merindukan ku?" Brayen mendekat kan wajah nya kepada wajah viola,hingga tubuh viola terhimpit di dinding samping tempat duduk nya.


"apa kau yakin?" tanya lagi Brayen lebih mendekatkan tubuh mereka hingga kedua netra itu saling bertemu dengan jarak yang cukup dekat.


banyak pasang mata melihat ke arah Brayen dan viola dengan mata yang terbuka lebar.ada yang terkejut menutup mulut nya,ada juga yang teriak merasa baper melihat nya.wahhh sangat memanaskan pemandangan ini,seorang Brayen berani bermesraan di depan umum seperti ini.sosok balok es yang dulu sangat terkenal dingin kini bisa mencair begitu saja dan kini malah orang lain lah yang membeku karena tingkah Brayen yang tak bisa di duga.


tangan satu nya Brayen pun meraih sesuatu di rambut nya viola,dan WEKK...WEK......


"ada ulat di rambut mu" ujar Brayen seusai berhasil mengambil ulat tersebut dengan tangan nya.


akhh sialan kulkas udah bikin jantung aku gak karuan,aku kira ingin apa.


geruntu viola dalam hati,lalu kembali duduk di posisi semula.dengan raut wajah yang sudah memerah,karena panas dengan perlakuan Brayen tadi.

__ADS_1


"kenapa harus sepeti itu ha? kakak kan bisa langsung bilang sama aku kalau di rambutku ada ulat" geruntu viola langsung menyambar minuman nya.lalu beranjak pergi karena merasa malu kepada anak anak yang ada di sana.


Brayen mengejar viola,entah ia tak tau mengapa viola menjadi marah sepeti ini.padahal yang dia lakukan itu tidak salah.dia sengaja seperti itu,karena jika ia memberi tahu viola,gadis itu pasti akan teriak ketakutan.


"Vi kamu kenapa sih?salah aku di mana?" tanya Brayen sembari masih mengejar langkah viola.


...*******...


Kringg......


bel pulang pun berbunyi,baru saja viola keluar dari kelas nya.do sana dia sudah di sambut oleh Brayen yang entah sejak kapan berdiri di sana.viola melihat ke kana dan ke kiri,tapi tidak menemukan keberadaan kakak nya yaitu Vano.


kemana kak Vano?mengapa hanya ada kak Brayen saja di sini.


batin viola,biasa nya vano selalu menunggu nya di depan kelas jika kelas dia yang lebih dulu di bubarkan.


"pulang ke rumah ku ya" ucap Brayen


"gak,aku males...." jawab viola.


"bunda ingin kamu datang ke rumah,tadi dia telfon kata nya ingin bertemu kamu." kata Brayen.


viola tak bisa menolak saat mendengar kata bunda yang meminta nya.entah sejak kapan viola merasa,saat dekat dengan bunda nya brayen.ia merasa seperti memiliki seorang ibu lagi.

__ADS_1


Bersambung........


jangan lupa tinggalkan jejak kalian like, komen, and vote nya😘


__ADS_2