
Rehan tidak tau bagaimana cara memulai membangunkan Nadine yang tengah tertidur dipundaknya. Yang dia pikir mengapa dia harus memikirkan ketenangan gadis itu?
"Weh babu!"
Hanya satu kali cowok itu bersuara membuat Nadien membuka matanya secara perlahan-lahan. Gadis itu mengucek matanya.
Huakkk!!!
Aku langsung berteriak begitu keras saat mataku bertatapan dengan mata Rehan begitu sangat dekat. Sekali lagi ku jelaskan begitu sangat dekat sampai-sampai hidung ku dengan hidungnya sedikit lagi bersentuhan.
"Ngapain kamu dikamar aku!" Aku langsung mendorong Rehan sehingga cowok itu terjatuh.
"Awk!" pekik Rehan saat bokongnya telah sampai ditanah.
Aku langsung menutup mulut ku dengan kedua tangan ku saat melihat sekeliling ku. Rupanya aku masih berada dilingkungan sekolah!
Aku baru sadar jika aku bukan dirumah, tapi masih berada dilingkungan sekolah. Sementara Rehan masih memperbaiki celananya dan juga bokongnya yang sakit karna aku langsung mendorongnya.
"Enak aja lo, yah!" Rehan berdiri menatap Nadine dengan tatapan siap menerkam. Sementara Nadine meneguk salivanya melihat Rehan.
"Maaf, Bos Han!" Nadine langsung menelengkupkan tangannya didepan Rehan memohon maaf.
"Gue udah pinjemin lo bahu gue buat tidur. Dan seenak jidat lo dorong gue!" seloroh Rehan kepada Nadine
"Yah....Maaf bos Han. Nggak sengaja. Beneran deh." Aku berusaha menyakinkan, sembari tangan ku berbentuk piss kepada Rehan jika yang aku lakukan benar-benar tidak sengaja.
"Minggir lo!" ketus Rehan sehingga Nadine berdiri dari kursi yang dia duduki digantikan oleh Rehan.
Rehan masih jengkel dengan Nadine, karna mendapatkan dorongan yang begitu mendadak membuat Rehan terkejut. Dia tidak menyangka jika gadis itu merasa jika dia sudah dirumahnya.
"Ini masih lingkungan sekolah. Bukan kamar lo. Nggak mungkin gue masuk kamar babu gue sendiri!" beber Rehan kepada Nadine.
"Sekali lagi maaf, Bos Han," kataku kepada Rehan karna cowok itu tidak berhenti mengoceh.
"Harus ada hukumannya," kata Rehan membuat ku menatap cowok itu. Hukuman apa yang akan dia berikan? Rehan suka sekali aneh!
Mana kesadaran ku belum pulih, karna aku masih merasakan kantuk.
"Supaya lo nggak kayak gini lagi sama bos lo sendiri," lanjutnya.
"Hukumnya apa?" tanyaku kepada Rehan. "Jangan aneh-aneh yah, Han," kataku lagi sebelum cowok itu memutuskan hukuman yang dia berikan.
"Pasrah amat lo," kata Rehan tersenyum mengejek kearah ku.
"Han!" Sepertinya kesadaranku sudah pulih.
"Hukumannya dorong motor gue."
__ADS_1
"Motor kamu kenapa? Mogok? Kehabisan bensin atau apa?" tanyaku karna penasaran karna cowok itu memberikan hukuman seperti itu. Sudah jelas bukan jika motor Rehan mogok.
"Motor gue sehat. Nggak mogok," kata Rehan beranjak dari kursi bercat putih yang dia duduki.
"Lah, Terus ngapain kamu nyuruh dorong motor?" tanyaku masih tidak mengerti dengan Rehan.
Cowok itu selalu saja aneh bila masanya tiba.
"Karna itu hukuman buat lo."
Aku langsung membuka mulut ku sedikit terbuka mendengar penuturan cowok didepan ku ini, yang memasang wajah songongnya.
"Jadi kamu nyuruh aku dorong motor yang nggak mogok?" tanyaku memastikan jika aku tidak salah dengar.
Rehan mengangguk mengiyakan ucapan Nadine.
"That's right."
"Han!" geram ku tertahan kepada Rehan.
"Kenapa? Mau gue tambahin hukuman lo dengan lo sendiri yang dorong motor gue?" tanya Rehan membuat ku menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
Apakah dia tidak berpikir jika dia sendiri yang kecapean jika memberikan hukuman seperti itu untuk ku. Secarakan tenaga ku tidak sekuat Rehan tubuhnya seperti seorang atletis.
"Hukumnya yang lain Han. Aku juga buru-buru mau pulang. Mama pasti udah nyariin aku jam segini belum pulang," aku memohon kepada Rehan. Karna aku yakin mama sudah menunggu ku dirumah. Ini yang kedua kalinya aku pulang terlambat.
"Ok..... Hukumannya besok lo jalanin. Lo minta Izin sama orang tua lo kalau besok lo pulang telat." Rehan memberikan penawaran kepada Nadine membuat gadis itu nampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rehan.
Sepertinya otak cowok itu sedang loading.
"Tap_"
"Mau atau tidak?"
Aku menarik nafas ku dalam-dalam, karna kesalahan kecil aku harus menanggung hukuman yang tidak waras dari Rehan.
"Ok."
Rehan berjalan kearah parkiran untuk mengambil motornya, jujur saja ini pertama kalinya aku pulang diantar oleh seorang cowok. Rasanya sangat tegang jika melakukan sesuatu pertama kalinya.
"Naik!"
Rehan memberikan Nadine helm, sehingga Nadine langsung memakai helm yang diberikan oleh Rehan.
"Aku pegang pundak kamu yah, Han. Buat naik keatas motor, soalnya motor kamu tinggi." Aku meminta persetujuan lebih dulu kepada cowok itu.
Aku melihat Rrhan mengangguk dari balik helm fullfacenya. Aku langsung memegang pundak cowok itu langsung naik keatas motor sport hitam miliknya.
__ADS_1
"Pegangan!"
"Ha?"
Aku terkejut saat Rehan mengambil tangan ku mengarahkan tangan ku memeluknya. "Gue nggak mau babu gue ngerepotin gue." Rehan langsung menjalankan motornya membuat Clara menatap kesal cowok itu.
Aku memeluk Rehan begitu erat, bagaimana tidak jika cowok itu melajukan motornya begitu kencang membuat ku ingin sekali berteriak.
"Pelan-pelan, Han!"
Aku ingin cepat sampai dirumah, karna sebentar lagi awan akan menggelap menandakan tidak lama lagi akan malam.
Namun melihat Rehan melajukan motornya seperti ini membuat niatku terurung karna laju motor cowok itu.
Sepertinya Rehan tidak memperdulikan teriakanku, karna cowok itu semakin menambah gas motornya membuat ku semakin memeluk erat Rehan.
Aku menyeritkan alis ku saat Rehan memelankan motornya dan memasuki gank rumah ku. Sejak kapan cowok itu mengetahui rumah ku?
Aku semakin bingung saat Rehan menghentikan motornya pas depan rumah.
Clara langsung turun dari motor Rehan sembari melepaskan helm yang dia kenakan.
"Han, dari mana kamu tau rumah aku disni?" tanyaku pada cowok itu sembari memberikan helm yang dia berikan padaku.
"Apa sih yang nggak gue tau tentang babu gue. Lo udah jadi babu gue, itu berarti lo udah masuk dalam kehidupan gue."
Deg
Entah mengapa perkataan Rehan membuat jantung ku berdetak kencang. Bagian hidup Rehan?
"Nadine."
Aku langsung melihat kearah mama yang menghampiri ku bersama dengan Rehan.
"Kamu tumbenan pulang lambat, Na?" tanya mama kepada Nadine
"Maaf mah." Aku hanya mengucapakan kata maaf.
Nia mamah Nadine melirik Rehan.
"Temannya Nadine?" tanya Nia dan dibalas anggukan kepala oleh Rehan disertai senyuman hangat yang singkat namun mampu membuat Nadine mematung sedetik.
"Mampir makan malam dulu yah, udah mau malam. Maaf karena Nadine udah buat kamu repot," kata Nia meminta maaf kepada Rehan.
"Nggak kok, Tan. Saya nggak bisa makan malam karna ad_" Perkataan Rehan langsung tercekat ditenggelamkannya.
"Mau yah, Nak."
__ADS_1