Diam Diam Suka

Diam Diam Suka
Nyaman


__ADS_3

Tanpa aku ucapkan sepatah katapun, Rehan langusng menarik pergelangan tanganku pergi dari depan mading.


‘’Kenapa sih?'' tanyaku pada Rehan, sehingga cowok itu melepaskan tanganku. Dikoridor sekolah ini sunyi, hanya ada aku dan Rehan saja.


Aku tersentak kaget, saat Rehan memegang kedua pundak ku, sehingga tubuhku hampir saja menubruk tubuhnya. Matanya yang indah itu bertatapan dengan mataku. ''Kamu kenapa sih?'' tanyaku sedikit gugup, bagaimana tidak jika cowok itu menatap ku, seakan-akan ingin menerkam diriku.


''Jadi lo beneran mau lepas dari gue?'' Pertanyaan dari Rehan membuatku menaikkan alis ku sebelah. Sudah dari dulu dia tahu akan hal itu, jika aku ingin lepas darinya, namun mengapa dia kembali bertanya?


‘’Kamu udah tahu jawabnya, bos,'' balas ku membuatnya langusng melepaskan tanganya dari kedua pundak ku.


''Lo nggak nyaman sama gue''


Deg...


Pernyataan yang di berikan Rehan membuat jantung ku tidak karuan, nyaman seperti apa yang dia maksud?

__ADS_1


‘’Maksud kamu apa?'' tanyaku pada cowok itu, membuatnya menatap ku kembali.


Perlu aku katakan, jika mata Rehan begitu indah, tajam penuh pesona. Bisa ku katakan, ketampanan milik Rehan bisa di sandingi dengan ketampan milik Devan Tirtayasa.


Dalam keadaan seperti ini, aku bisa melihat ketampanan milik Rehan secara keseluruhan, dengan menatap satu sama lain.


''Lo nggak nyaman sama gue?'' Rehan kembali melontarkan pertanyaan yang sama.


Aku menghembuskan nafas berat, aku tidak paham. Kenyamanan apa yang Rehan maksud?


‘’Kenyamanan apa yang kamu maksud, aku nggak paham,'' balas ku kepada Rehan.


Tring....


Bell masuk berbunyi, aku menatap Rehan lebih dulu, sebelum meninggalkanya. ''Aku ke kelas dulu, aku nggak mau sampai nggak masuk kelas lagi,'' pamitku pada Rehan.

__ADS_1


Rehan mencekal pergelangan tangaku, membalikkan tubuhku, sehingga aku langusng berhadapan dengan cowok itu, bahkan jarak ini lebih dekat dari yang tadi. Aku bisa merasakan deruh nafas milik Rehan, aroma parfum cowok itu begitu memabukkan untuk kaum murahan seperti aku ini.


Matanya begitu mengintimidasi, membuatku berulang kali meneguk saliva susah payah.


''Lepasin tangan aku, Han. Bel masuk udah bunyi, aku nggak mau sampai telat lagi.'' Aku memelas pada cowok itu, agar dia melepaskan tanganku.


Mungkin Rehan kasihan padaku, sehingga cowok itu melepaskan tanganku, dengan cepat aku langusng pergi, baru beberapa langkah, suara milik Rehan memanggil ku.


''Nadine,'' panggil Rehan, membuat langkah kaki ku tehenti, aku langusng membalikkan tubuhku, melihat cowok biang rusuh itu.


Aku menunggu cowok itu meneruskan ucapanya, karna dia hanya memanggil ku saja. Aku yakin, dia ingin mengatakan sesuatu.


Begitu lama, akhirnya aku kembali melangkahkan kaki ku, pergi meninggalkan Rehan. Langkah kaki ku begitu lebar, karna kulihat Ibu Juwita di lapangan sekolah siap menuju kelas ku.


Rehan mengusap wajahnya kasar, lalu dia menendang angin, lalu mengumpat. ''Sial!'' gerutu cowok itu. ''Lo kenapa bodoh sih, Rehan. Nyaman apa yang lo maksud Hah!'' Cowok itu menyalahkan dirinya sendiri, lalu pergi dari koridor menuju kelasnya, karna kedua sahabtnya sudah menunggu dalam kelas.

__ADS_1


Kata-kata nyaman selalu melekat pada pikiran cowok itu, tiba-tiba saja dia mengucapkan kata nyaman pada Nadine.



__ADS_2