Diam Diam Suka

Diam Diam Suka
Makan malam


__ADS_3

Aku pikir Rehan tidak akan mengiyakan ajakan makan malam dari Mamah. Tapi aku salah, karna cowok itu tidak menolak.


Mama Nia menyiapkan makanan diatas meja dibantu oleh Nadine yang sudah mengganti baju sekolahnya lebih dulu.


Sementara Rehan sedang bercerita dengan papah, Nadine. Papah Nadine bernama pak Anas.


"Sejak kapan kamu kenal sama, Nadine?" tanya pak Anas.


Rehan melirik pria paruh bayah yang tengah duduk diatas kursi roda.


"Udah mau dua bulanan, pak," jawab Rehan kepada pak Anas. Mereka berdua saat ini berada diruangan tv yang tidak terlalu luas yang berdekatan dengan meja makan.


Sementara Nadine dan Nia sedang mempersiapkan makanan untuk makan malam mereka. Apa lagi malam ini mereka kedatangan tamu, lebih tepatnya lagi Nia mengajak Rehan untuk mampir makan malam saat mengantarkan Nadine pulang sekolah.


"Kamu panggil papah sama nak, Rehan untuk makan," kata Nia setelah makanan dimeja telah terhidang dengan baik.


"Iya, Mah," jawab Nadine lalu berjalan menghampiri Rehan dan juga sang papah yang tengah asik bercerita.


"Makan malamnya udah siap. Nadine nungguin papah sama Rehan dimeja makan," kata Nadine dan dibalas anggukan setuju oleh papah.


Aku langsung berjalan kearah meja makan,.dan duduk dikursi.


Tidak butuh waktu lama, Rehan dan papah ikut bergabung dengan aku berhadapan dengan Rehan dan papah berhadapan dengan mamah.


Mataku dan Rehan saling bertatapan membuat ku langsung mengalihkan pandangan ku mengambil lauk untuk diriku sendiri.


Sedangkan Mamah memberikan lauk dipiring milik papah.


"Na," panggil mamah sehingga pergerakan tangan ku yang ingin memasukkan nasi kedalam mulut ku langsung terhenti.


"Kenapa, Mah?" tanyaku.


Mamah memberikan ku kode, melihat kearah Rehan. OMG rupanya cowok itu belum mengambil makanan sedikitpun.


Aku yang sudah tau maksud mamah, langsung mengambil nasi dan menyimpannya diatas piring milik Rehan.


Mungkin saja tindakan aku membuat Rehan terkejut, karna aku seperti sang istri memberikan suami makanan.


"Lo apa-apaan sih!" desih Rehan tertahan. Suara cowok itu hanya Nadine yang mendegerkanya karena suaranya yang pelan. Sementara kedua orang tua Nadine sudah makan dengan khidmat.


"Kamu sih, nggak gerak ambil makanan," kataku kepada cowok itu dengan pelan juga. Takut jika mamah mendengarkannya. Setelah memberikan Rehan nasi, sayur, dan juga ikan, aku langsung makan-makanan yang sempat tertunda karna memberikan Rehan makanan.

__ADS_1


Rehan melihat makanan yang berada diatas piringnya. Makanan yang sederhana namun mampu membuat perutnya meronta-ronta untuk segera dicicipi.


Rehan menatap Nadine yang sedang khidmat makan, dan juga kedua orang tuanya makan dengan tenang membuat Rehan tersenyum simpul.


Keluarga yang bahagia bukan?


Tangan Rehan bergerak memasukkan makanan tersebut kedalam mulutnya.


Enak!


Kata itu itu langsung terbesit dalam pikiran Rehan saat memasukkan sayur dan juga nasi kedalam mulutnya. Dia kembali mengambil ikan goreng yang diatasnya ada rempah berwarna merah.


Tak dipungkiri makanan tersebut enak-enak membuat Rehan suka.


Pantasan aja Nadine nggak suka sarapan dikantin.


Sayur Rehan telah habis dipiringnya, sedangkan perutnya meminta lagi dan lagi.


"Babu." Rehan bersuara pelan sehingga Nadine yang sedang menyantap makanannya terhenti dengan suara Rehan yang seperti sedang berbisik-bisik.


Nadine menaikkan alisnya sebelah kearah Rehan, menandakan ada apa memanggilnya.


Aku ingin tertawa geli, rupanya Rehan ingin menambah sayur kangkung tumis kedalam piringnya yang sudah habis.


Tangan ku langsung bergerak mengambil sayur tersebut dan meletakkannya kedalam piring Rehan.


"Udah nggak usah, Na. Gue udah kenyang!" Nadine langsung melototkan matanya, saat Rehan mengatakan kata seperti itu.


Nadine melirik kedua orang tuanya yang sedang menatapnya karna suara Rehan yang tidak pelan.


Aku yakin cowok itu sengaja!


Aku melihat mamah menggelengkan kepalanya ke arah ku. "Na, kalau orang udah nggak mau lagi, jangan ditambah. Kasihan nak Rehan," kata mama kepada ku. Padahal kenyataannya itu tidak seperti itu.


"Nggak apa-apa. Rehan tetap memakannya, dari pada mubasir," kata cowok itu lalu memakan makanannya, seakan-akan apa yang dia lakukan tidaklah terjadi.


Aku lihat mamah mengangguk lalu pergi meninggalkan aku dan Rehan dimeja makan sembari mendorong kursi rodah milik papah.


"Han!" aku menatap Rehan dengan tatapan garam yang tertahan. Entah mengapa cowok itu selalu membuat ku ingin memakannya mentah-mentah.


Rehan menaikkan alisnya sebelah sembari tersenyum jenaka kearah ku.

__ADS_1


Mood ku makan langsung hancur, aku minum lalu beranjak dari kursi. Belum sempat aku melangkah Rehan sudah menghentikan langkah kakiku.


"Mau mamah lo marah ninggalin tamu sendiri dimeja makan?" tanya Rehan padaku lebih tepatnya sebuah pernyataan.


Aku melihat cowok itu yang tengah menikmati makan malamnya. Aku menghentakkan kaki ku dengan terpaksa kembali duduk didepan Rehan.


"Lo harus ingat buat minta izin, kalau besok lo pulang terlambat," kata cowok itu sembari meminum airnya.


"Iya, Han.....Aku tau," jawabku kepada cowok itu sedikit malas.


"Good!" balas Rehan kepada ku.


Pukul delapan malam, akhirinya Rehan pamit pulang. Sehingga aku harus mengantarnya kedepan rumah.


"Besok gue jemput!" Rehan langsung memasang helm fullfacenya membuat ku tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh cowok itu.


Aku pikir itu semua tidak penting. Rehan membunyikan klakson motornya lalu pergi meninggalkan pekarangan rumah.


Aku langsung masuk kedalam rumah lalu menutup pintu rumah.


"Baru kali ini kamu diantar sama cowok pulang, Han," kata papah dan dibalas anggukan setuju oleh mamah.


Pasalnya, selama ini aku selalu pulang naik bus dan berjalan kaki sampai depan rumah. Selama aku bersekolah, ini pertama kalinya cowok mengantar ku pulang sampai rumah.


"Sekali-kali, pah," balasku kepada papah lalu duduk dilantai ikut menonton bersama dengan ke-dua orang tuaku.


"Berkali-kali juga nggak apa-apa. Mamah lihat nak Rehan itu baik," kata mama membuat ku memutar bola mata malas.


"Dia orangnya memang baik mah. Saking baiknya, motor nggak rusak aja disuruh dorong sebagai hukuman Nadine."


Aku melihat mamah tersenyum kearah ku. "Asal jangan sampai jatuh cinta," kata mamah. "Aku lihat nak Rehan itu bukan kalangan biasa," kata mamah kepada ku.


Aku hanya diam, aku tidak tau bagaimana kehidupan Rehan yang sebenarnya. Karna kalau disekolah cowok itu selalu mengutang dikantin milik pak Harto.


Apakah itu dibilang seseorang yang berada?


Nadine menggelengkan kepalanya, dia tidak mau menilai Rehan dari luarnya saja. Dia baru mengenal Rehan jadi dia belum tau bagaimana sosok cowok itu sebenarnya.


Kalau memang Rehan orang kaya, berarti dia cowok yang menyembunyikan itu semuanya dari kalangan sekolah.


Yah, begitulah dalam pikiran ku saat ini.

__ADS_1


__ADS_2