Diam Diam Suka

Diam Diam Suka
Peliharaan


__ADS_3

Jantungku tidak karuan, saat Devan mengatakan jika aku ini cantik, dia berkata seperti itu menggunakan mulutnya sendiri.


Itu berarti, cowok itu memuji ku secara terang-terangan, jika aku ini cantik. Aku berusaha menetralkan detak jantungku saat ini yang tidak karuan, karna ucapan Devan barusan.


''Aku nggak cantik kok,'' ucapku, seraya menggaruk tengkukku yang tidak gatal sama sekali, aku tidak ingin di katakan geer karna Devan memuji ku cantik.


Aku masih tidak percaya, jika cowok di hadapan ku ini adalah cowok yang aku kagumi, sejak kapan dia ingin berbicara dengan anak upik abu di sekolah ini.


Rasa-rasanya, aku tidak percaya jika yang di depan ku ini adalah Devan Tirtayasa.


Devan tersenyum padaku, untung saja bell jam pelajaran sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, sehingga orang-orang tidak akan melihat aku bersama dengan Devan Disini.


''Semua perempuan itu cantik. Masa iya aku bilang cewek ganteng,'' balas Devan dengan tawa kecilnya membuat cowok itu semakin tampan.


Aku kembali menggaruk tengkuk yang tidak gatal sama sekali, aku hampir saja geer karna pujian dari Devan.

__ADS_1


Berduaan dengan Devan, menegajak ku mengobrol saat ini, seperti sesuatu yang mustahil. Ingin ku katakan ini mimpi, tapi angin menerpah wajah ku begitu nyata.


''Apa aku mimpi,'' gumam ku yang masih di dengar oleh Devan, sehingga cowok itu menaikkan alisnya sebelah.


''Lo lucu,'' ucap Devan lagi membuat ku meneguk salivaku susah payah.


Lucu apanya lagi? Kenapa ucapan Devan seakan-akan memberikan ku lampu hijau untuk terus maju, meski saingan ku banyak, termasuk Vanesa dan kak Tiara.


''Nama gue Devan.'' Devan menjulurkan tanganya kepada ku, tanganya begitu putih bersih aku tatap, aku belum menyambut uluran tanganya itu.


Tanganku langsung terlepas dari tangan Devan, saat seseorang menarik tangan ku dari belakang.


Rehan!


Cowok itu menarik tubuhku yang mungil ini di belakang punggungnya yang begitu kokoh. ‘’Jangan pegang-pegang peliharaan gue,'' ucap Rehan membuat aku langsung melototkan mataku.

__ADS_1


Peliharaan? Apa lagi ini!


''Han, kamu kok bilangin aku peliharaan kamu? Memangnya aku ini binatang?'' protes ku pada Rehan.


Aku tidak tahu, sejak kapan cowok itu ada di sini, langkah kakinya tidak terdengar sehingga aku tidak tahu jika dia sudah ada di sini.


Rehan memutar tubuhnya sedikit, sehingga aku langsung bertatapan dengan cowok Itu. ''Lo'kan emang babu gue,'' ucap Rehan tanpa beban.


‘’Iya, aku emang babu kamu. Tapi yang kamu bilang tadi itu, kalau aku ini peliharaan kamu,'' protes ku lagi kepada Rehan.


''Gue nggak minta saran dari lo, terserah gue mau kasi lo julukan apa. Itu hak gue selama gue jadi bos lo!'' ucap Rehan menekan setiap perktaanya.


Aku ingin membalas ucapan cowok itu lagi, namun dia langsung membisikkan sesuatu sehingga aku langsung membeku.


''Nggak usah banyak protes lo. Kalau nggak, saat ini juga gue kasi tahu cowok yang lo suka ini, kalau lo salah satu pengagumnya yang membawa surat alay di lemari lokernya,'' bisik Rehan dengan penuh penekanan, dia kembali mengancam ku.

__ADS_1


Aku menggeleng, bertepatan mataku dan mata Devan bertemu. Sial! Kenapa Devan begitu tampan jika dia bingung seperti itu, melihat ku dengan Rehan!


__ADS_2