Diam Diam Suka

Diam Diam Suka
Melamun


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Nia melirik putrinya itu yang sedang belajar didepan Tv.


“Nadine,” panggil Nia.


“Iya mah,” jawab Nadine tanpa mengalihkan pandangnya dari bukunya.


“Sudah jam 9, waktunya tidur,” kata Nia membuat pergerakan tangan Nadine yang menulis rumus terhenti.


Aku membereskan buku ku, setelah membereskan buku. Aku ingin mengutarakan sesuatu sama mama tentang besok aku akan pulang telat. Karna harus menjalankan hukuman gila dari Rehan.


Dan pastinya aku tidak mengatakan jika ingin melakukan hal ini, karna semua atas perintah gila Reh''an itu.


“Mah,” panggil ku kepada mama yang sedang menonton film kesukaannya.


“Kenapa, Han?” Tanya mama.


“Besok Nadine pulang lambat lagi,” kataku dengan ragu-ragu.


Kulihat mamah tersenyum kearah ku. “Mau jalan yah sama, Rehan?” kata Mama membuat ku menggelengkan kepalaku.


“Terus mau ngapain?”tanya mamah.


“Emmmm…Han ngajak Nadine buat keliling naik motor,” bohong ku, memang aku ingin bersama Rehan besok, tapi bukan keliling naik motor melainkan mendorong motor Rehan yang menjadi hukuman ku.


Kulihat papah menggelengkan kepalanya. “Sama aja itu, Han,” sahut Papah membuat mamah jadi tertawa kecil, “papah lihat, Nak Han itu baik,” lanjut papah.


Tunggu, kenapa mereka malah bahas Rehan? Mereka saja tidak tau, jika anaknya ini menjadi babu Rehan disekolah.''


“Nggak apa-apa kamu keluar aja. Tapi, sebelum jam 9 kamu sudah ada di rumah,” kata mamah.


Aku menggelengkan kepalaku, tidak sampai jam begitu juga aku menjalankan hukuman, tapi aku hanya mengangguk saja.


“Yaudah, Nadine ke kamar dulu yah,” kata ku dan dibalas anggukan kepala oleh mamah dan papah.


Anas dan Nia saling berpandangan. “Anak kita sudah beranjak dewasa, pah,” kata Nia membuat Anas tersenyum.


“Iya mah, dia sudah membawa laki-laki kerumah ini, padahal dia tidak pernah melakukan hal ini, apa lagi sampai di boncengin,” kata Anas.


“Aku harap, siapapun jadi pendamping anak kita, Semogah dia seperti kamu. Yang sabar dan penyayang,” kata Nia membuat Anas tersenyum hangat kearah istrinya.


Seharusnya dia yang beruntung memiliki Nia, bahkan dalam keadaan seperti ini istrinya itu tidak meninggalkan dirinya. Dia hanya duduk di kursi roda dan tidak bisa berjalan sejak dia kecelakaan, saat itu Nadine kelas 3 Smp.


“Makasih, Nia. Kamu masih mau bertahan dengan mas sementara kondisi mas seperti ini,” kata Anas dengan buliran air mata.

__ADS_1


Nia langsung menghapus air mata suaminya itu. “Karna aku mencintai mas dengan tulus,” kata Nia memeluk suaminya itu yang tengah duduk di kursi roda.


———-


Pagi ini aku sudah siap dengan seragam sekolah kebangga ku, yaitu seragam Sekolah SMA.


Tring…


Aku yang ingin memakai ikat rambut langsung terhenti, karna ku dengar notif ig ku. Aku mempunyai ig, aku tidak menggunakan namaku dan juga fotoku.


Profil ig ku saja foto anime, aku hanya mengikut Devan Tirtayasa di ig dan akun anime kesukaan ku.


Kulihat bagian atas ig, rupanya notif itu memberitahukan jika salah satu orang yang aku ikuti sedang melakukan siaran langsung, dan itu adalah kak Devan.


“Pagi-pagi gini kak Devan siaran langsung sama siapa,” ucapku dengan kepo lalu ku perbaiki duduk ku diatas kasur, karna kulihat Devan tengah melakukan siaran langsung dengan seseorang.


Jlebbbbb


Saat aku membukanya, membuat ku semakin tercabik dan menjadi upik abu di sini. Aku melihat, Devan tengah melakukan siaran langsung bersama dengan Tiara. Yah, Tiara yang merupakan kakak kelas yang sangat di idolakan karna baik, cantik dan tidak sombong.


Dan menurut ku, Devan sepertinya mempunyai hubungan dengan Tiara, apa lagi mereka hampir selalu bersama. Mulai dari ambil organisasi yang sama yaitu OSIS, dan mereka juga satu kelas.


“Kak Devan sama Kak Tiara emang cocok,” kataku dengan sedih. Padahal baru saja aku kemarin bahagia. Karna kak Devan.


Aku menjadi lesuh, ku lihat siapa saja yang bergabung menonton siaran langsung kak Devan sama kak Tiara.


Dan aku mulai membaca komentar mereka satu persatu, di siaran langsung kak Devan dan Kak Tiara.


“Ya ampun, kak Devan ganteng banget!”


“Kak Devan kenapa mau sama Kak Tiara sih!”


“Kak Devan sama kak Tiara emang cocok, sama-sama berkelas.”


“Kak Devan sama kak Tiara jadian yah?”


“Patah hati banget aku lihat kak Devan sama kak Tiara siaran langsung berdua.”


“Cocok banget sih!”


“Semogah mereka jadian!”


“Duh, kalau mereka jadian di sekolah ini bakalan heboh. Mereka berdua kan murid terkenal di sekolah.”

__ADS_1


“Aku dukung kak Devan sama kak Tiara.”


“Dih, ceweknya sok cantik banget sih!”


“Palingan cuman pelampiasan doang. Devan kan nggak suka pacaran!”


“Kalau mereka jadian, itu cewek yang gatal!”


Aku membaca komentar para pengikut Devan dan juga Tiara. Ada yang mendukung hubungan Devan dan Tiara ada juga yang menjudge Tiara.


Padahal, Tiara sudah hampir sempurna tapi masih ada saja yang tidak suka padanya.


Aku mulai berhenti membaca komentar para pengikut kak Devan sama Tiara, jika aku membaca seluruh komentar mereka bisa-bisa aku lambat ke sekolah.


Aku lesuh, pagi ini di suguhkan sesuatu yang membuat aku jatuh.


Sebelum menutup ig, aku tidak sengaja melihat nama ig Vanessa tengah menonton siaran langsung Devan dengan Tiara.


Ku tunggu gadis itu berkomentar, namun dia tidak berkomentar padahal aku tau jika dia menyukai Devan, terbukti dari surat yang dia simpan di lemari loker Devan.


“Sepertinya Vanesa sama kayak aku,” lesuh ku.


Jika terjadi persaingan antara Vanesa dan Tiara, sudah dipastikan persaingan itu akan lebih seruh. Dua gadis cantik di sekolah ini yang parasnya sudah tidak di ragukan lagi.


Aku tersenyum kecut, jika aku masuk dalam List persaingan sudah dipastikan aku akan menjadi bahan bullyan, dan aku tidak ingin itu semu terjadi padaku. Dan perktaan Rehan akan terbukti jika aku akan terkenal melalu jalur pembulian.


“Nadine.”


“Nadine!”


“Han.”


Aku langsung tersentak kaget saat mamah menepuk pundak ku.


“Mamah ngagetin Na, aja,” ucapku membuat Mamah menggelengkan kepalnya seraya tersenyum tipis.


“Kamu lagi mikirin apa, Nadine? Dari tadi mamah panggil loh, kamunya nggak nyahut,” ungkap Nia membuat ku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal.


“Nggak ada kok mah,” bohong ku.


“Kalau udah siap, kamu keluar yah. Nak Rehan nungguin kamu diluar.”


“Hah?” Aku langsung kaget saat mamah mengatakan jika Rehan ada diluar.

__ADS_1


“Memangnya Rehan nggak bilang sama kamu, kalau dia mau jemput kamu ke sekolah?”


Aku menggelengkan kepalaku kuat. “Nggak mah,” kataku kepada Mamah.


__ADS_2