
Nadine melenggang dari kamarnya, untuk segera keluar. Benar saja, dia sudah melihat Rehan di ruangan tamu sederhana bercerita bersama dengan papa Nadine.
Aku melihat Rehan dan Papa sedang bercengkrama hingga seperti orang yanh sudah lama kenal, padahal baru saja kemarin mereka kenal tapi mereka sudah akrab begini.
''Pa,'' panggil ku kepada papa, karna dia sedang asik mengobrol dengan Rehan.
Bukan hanya papa saja yang melirik ku, tetapi juga Rehan. Bahkan dia tersenyum penuh arti melihat ku.
''Nak Rehan udah nungguin Kamu dari tadi,'' ucap Papa seraya tersenyum hangat padaku..
Sebelum berangkat sekolah, akan mencium punggung tangan papa lebih dulu, karna mama sedang ke pasar baru-baru saja.
''Hati-hati,'' peringat papa padaku dan ku balas anggukan kepala.
''Iya, Pa.''
Aku tersentak kaget saat Rehan juga mencium punggung tangan milik papa, membuat ku tidak bergeming melihat tindakan cowok itu.
''Kenapa lo?'' tanya Rehan padaku dan ku balas gelengan kepala atas pertanyaan yang diberikan cowok itu.
''Nggak boleh?'' tanya Rehan lagi membuat ku bernafas berat.
Aku langsung menarik tangan Rehan untuk segera pergi dari sini.
__ADS_1
''Loh... Motor kamu mana, Han?'' tanyaku kepada Rehan, karna kulihat di depan rumah tidak ada motor parkir. Melainkan hanya ada mobil mewah terparkir di depan rumah ku.
''Lo nggak lihat di depan lo, kalau gue bawa mobil bukan motor,'' cerocos Rehan padaku.
''Kenapa nggak naik motor aja sih, Han. Biar lebih cepat sampainya.'' Aku mengeluh pada Rehan. Lebih tepatnya lagi, aku tidak mau jadi bahan omongan orang-orang julid di sekolah. ''Atau nggak, gue naik bus aja. Gue udah biasa naik bus,'' lanjut Nadine kepada Rehan.
''Enak aja. Gue sengaja bawa mobil supaya hukuman Lo dorong mobil, bukan dorong Motor!'' jelas Rehan membuat ku langsung melotot kan mataku.
Yah. aku ingat soal hukuman itu, tapi bukan yang ini. ''Apa-apaan sih kamu, Han. Aku nggak bisa dorong mobil, dorong motor aja aku bisa pingsan!'' keluh ku kepada Rehan membuat cowok hanya mengedikkan kedua bahunya.
''Panggil gue bos Rehan. Jangan pake embel-embel, Han!'' ketus Rehan. Belum sempat aku membalas ucapan cowok itu, dia sudah menarik tangan ku untuk masuk kedalam mobil.
Aku langsung masuk kedalam mobil milik Rehan, atas dorongan cowok itu. Bisa gila aku jika terus-terusan berurusan dengan cowok seperti Rehan.
''Gue nggak peduli.'' Rehan langsung menyalakan mesin mobilnya untuk segera ke sekolah.
Ku pejamkan mataku saat gesekan tembok bersatu pada mobil milik Rehan, ku yakini mobil cowok itu sudah tergores parah.
Apa lagi mobil Rehan begitu mewah, membuat ku tidak yakin jika Rehan itu kalangan bawah. Ku yakini, dia sosok cowok kaya, namun berpenampilan sederhana.
''Han...''
''Ch! Udah berulang kali gue bilang, panggil gue bos Rehan! Kalau lo ulangin kesalahan lo lagi, gue bakalan umumin di sekolah, kalau Nadine Adeline adalah salah satu penggemar Devan!'' Ancam Rehan membuat ku meneguk salivaku susah payah.
__ADS_1
Jika sudah di ancam seperti itu, aku akan diam seperti anak kecil yang sudah di berikan permen oleh tuannya.
Rehan tersenyum kemenangan melihat ku diam begini, ku yakini dia akan semakin menjadi-jadi lepas ini..
Aku hanya memejamkan mataku, saat mobil Rehan melaju begitu cepat membelah kota Jakarta pagi ini.
''Lo takut naik mobil karna takut lambat'kan? Ini udah kencang belum, atau gue tambahin kecepatannya?'' tawa Rehan seketika melihat wajah ku menjadi pucat karna ucapan gila cowok itu.
''Jangn, Bos Rehan,'' ucapku pada cowok itu, dengan wajah memeleas membuatnya semakin gencar untuk mengerjai ku.
''Kalau kecepatannya kamu tambah, maka aku akan muntah di mobil kamu. Aku mabuk kalau naik mobil begitu kencang,'' jujur ku kepada Rehan, membuat raut wajah cowok itu langsung berubah drastis dengan perkataan ku barusan.
''Awas aja lo muntah, gue bakalan turunin Lo di tengah jalan,'' ancam Rehan padaku.
''Makanya, jangan kencang bawa mobilnya,'' ucapku kepada Rehan.
Dia mulai memelankan laju mobilnya membuat ku tersenyum penuh bangga. Setidaknya Rehan tidak melajukan mobilnya begitu kencang lagi.
''Nggak usah senyum-senyum Lo! Gue ini bukan supir lo!'' ketus Rehan padaku.
''Iya bos Rehan, aku paham kok,'' ucap ku pada cowok itu..
Berurusan dengan Rehan, entah berapa lama membuat ku tidak bisa tidur nyenyak. Bagaimana jika aku berurusan dengan Rehan sampai lulus? Itu artinya, hidup ku akan di kelilingi wajah-wajah badboy milik Rehan?
__ADS_1
Aku menghembuskan nafas berat, aku harus menyelesaikan urusan ku dengan Rehan dengan cepat. Bagaimanapun caranya.