
Jadwal dan babak pertandingan tidak dilaksanakan seperti turnamen resmi. Banyak faktor yang menyebabkan, salah satunya jumlah pemain tidak sama dengan pertandingan resmi.
Hari ini semifinal bulutangkis, butuh satu langkah lagi bagi Adji dan Desi untuk lolos ke babak final.
Murid-murid sudah ramai berdatangan, namun, perlombaan belum di mulai karena masih terlalu pagi.
Para panitia pelaksana yang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.
''Pras.'' panggil Adji.
Terlihat Pras baru memasuki gedung itu seorang diri, mungkin pasangannya belum datang.
Sementara Desi yang di sebelahnya langsung menoleh.
''Ngapain manggil Pras, Ji?'' tanya Desi lirih.
''Nggak papa.'' balas Adji.
Pras yang dipanggil oleh Adji pun langsung mendekat. Langkah itu yang membuat detak jantung Desi semakin memburu. Ada-ada saja si Adji.
''Selamat ya Ji, sudah lolos ke semifinal.'' ucap Pras terlebih dulu.
''Terima kasih loh, bro. Selamat juga buat kamu dan Yulia. Semoga kita bertemu di final besok, hehe.'' ujar Adji diikuti candaannya.
Pras pun langsung tertawa mendengarnya.
''Nggak yakin bakal masuk final haha''
Pras merendahkan diri sendiri, ia hari ini berhadapan dengan pasangan adik kelas yang salah satunya ia ketahui pernah masuk ke salah satu academy badminton saat masih SMP.
''Eh, kok gitu?'' timpal Desi spontan atas rasa tidak terimanya. Karena dia sangat berharap mereka bertemu di final.
Seketika Adji dan Pras langsung menatap Desi heran.
''Hehe maaf, maksudnya kenapa harus pesimis? pertandingan aja belum di mulai. Lagian yang menentukan menang kalahnya itu pas sudah di lapangan.'' jelas Desi.
Adji tersenyum mendengarnya.
''Kita aja optimis bakal berhadapan dengan kalian di final besok.'' ujar Adji.
''Hmm, betul betul betul.'' timpal Desi semangat mengikuti gaya bicara Upin Ipin.
''Ayo dong semangat, biar kita naik podium sama-sama, meskipun di nomor yang berbeda.'' bathin Desi penuh harap.
Pras menaikkan sudut bibirnya tertawa kecil.
''Kalian ini pasangan yang cocok ya, sama-sama optimis.'' tutur Pras.
Seketika itu Desi langsung terdiam memikirkan apa maksud dari perkataan Pras yang terdengar ambigu itu.
''Ya ... ya kita harus cocok, harus komunikasi, harus sama-sama optimis supaya menang.'' tutur Desi diikuti senyum kakunya.
Pras hanya tersenyum tipis, ia kemudian pamit karena teman dari sekelasnya sudah datang.
Waktu terus berjalan, para peserta lomba sudah siap. Hari ini di babak semifinal akan segera di mulai, pasangan Desi dan Adji berada di urutan tanding paling akhir. Mereka ikut bergabung sebagai penonton terlebih dulu agar bisa mempelajari setiap permainan mereka.
''Benar omongan kamu Des, yang menentukan kemenangan ya pas mereka sudah di lapangan. Sepertinya lawan mereka berada di bawah tekanan, apalagi itu si Dicky, kayaknya dia terbebani alumni academi badminton jadinya malah eror terus walaupun arah-arahnya sebetulnya bagus.'' terang Adji menganalisa permainan lawan dari Adji.
''Nah, itu yang ku maksud, Ji. Terkadang yang non unggulan malah bisa menang karena dia bermain lepas tanpa tekanan apapun. Sedangkan yang sudah punya embel-embel seperti pernah juara, pernah masuk club malah terbeb, kalau dia nggak bisa mengatasi itu, dia bakal kesusahan melawan dirinya sendiri.''
Adji dan Desi kembali fokus memperhatikan pertandingan.
Waktu berjalan 35 menit.
Akhirnya babak semifinal untuk ganda campuran pertama dimenangkan oleh Pras dan Yulia. Hal tersebut tinggal menunggu hasil dari pertandingan Adji dan Desi yang berhadapan dengan kelas lainnya. Di antara mereka, pasangan Pras dan Yulia sudah pasti menunggu di final setelah memastikan kemenangan melawan adik kelas.
__ADS_1
Desi bertepuk tangan keras saat Pras dan Yulia memastikan kemenangan. Meskipun kemenangan untuk dirinya sendiri belum dipastikan, tetapi hal itu akan ia jadikan bekal semangat supaya lolos ke final juga. Semoga bukan malah menjadikan bebannya sendiri.
YEEEEYYYYY
Tepukan tangan dan teriakan Desi mencuri perhatian orang-orang disekitarnya. Selain suaranya yang nyaring, Pras bukan teman satu kelasnya.
Hehe
Desi kembali duduk setelah menyadari pandangan-pandangan yang mengarah kepadanya.
''Kamu dukung mereka banget ya?'' tanya Adji setelah Desi duduk.
''Seperti yang kita bilang kemarin, aku penasaran melawan mereka yang solid banget, Ji.'' jawab Desi berbisik.
''Ohh, gitu? semoga kita menang juga ya Des.'' balas Adji dengan senyum tipisnya.
"Aamiin." jawab Desi.
Desi mengangkat tangan tanda semangat untuk pertandingan semifinal hari ini.
Masih ada dua pemain lagi yang akan bertanding, sehingga Adji dan Desi memilih untuk menunggu giliran bermainnya dengan menonton. Ganda putri dan ganda putra.
''Selamat Pras, Yul.'' ucap Adji setelah pasangan yang baru memenangkan pertandingan itu lewat di depannya.
Pras menyambut tos dari tangan Adji yang diikuti oleh Desi.
''Makasih Ji, Des ... good luck ya untuk kalian.'' balas Yulia yang terus berlalu karena akan beristirahat.
--
Sudah waktunya Desi dan Adji masuk ke lapangan untuk siap bertanding, merebutkan satu tempat di babak final. Satu wakil ganda campuran sudah menunggu di final lewat pasangan Pras dan Yulia. Tinggal menunggu pemenang atas pertandingan Adji-Desi vs kelas lainnya.
Kedua pasangan sama-sama ngotot untuk menang. Pendukung masing-masing wakil kelasnya saling bersahutan memberikan semangat.
Game pertama dimenangkan oleh kelas lain, sementara game kedua dimenangkan oleh pasangan Adji dan Desi. Sehingga memaksakan keduanya untuk bermain lebih safe dan berani di game penentuan ini, demi meraih tiket babak final.
''DESIIII''
''ADJIIIIII''
Seru salah satu penonton pria yang memberikan semangat kepada wakil kelasnya, Adji dan Desi. Suaranya yang menggelegar itu mampu membungkam suara-suara lainnya yang berada di gedung berukuran hampir sama dengan balai desa.
Desi siap-siap melakukan servisnya. Tatapannya penuh keyakinan, tetapi jantungnya juga merasakan deg-degan.
''Bismillahirrahmanirrahiim''
Servis sangat baik, shuttle cock yang dikira keluar, ternyata masuk. Hakim garis melakukan tugasnya dengan baik dan jujur.
Adji berseru tanda mendapatkan poin tambahan, begitu juga dengan Desi, dan mereka langsung tos.
Game terus berlanjut, sepertinya pasangan Adji dan Desi sudah merasa nyaman, sedangkan pasangan lawan terlihat sangat tegang di game penentuan ini.
Skor di game ketiga atau game penentuan sudah menunjukkan 20-16 untuk keunggulan pasangan Adji dan Desi.
Servis siap dilakukan lawan setelah memutus perolehan poin Adji dan Desi.
''Bismillah 1 lagi, fokus!'' ujar Desi pada Adji.
YAAAAAYYY!!!!!!
Spontan Desi dan Adji melepaskan raket dari genggamannya.
Adji dan Desi langsung berteriak setelah memastikan kemenangannya. Kedua langsung sujud.
''Alhamdulillah ... alhamdulillah ya Allah.'' ucap Desi di dalam sujudnya.
__ADS_1
Adji dan Desi kembali berdiri, lalu tos. Tak lupa juga bersalaman dengan lawan.
Pendukung kelas Adji dan Desi pun lebih heboh bersorak-sorai setelah menyaksikan perjuangan wakil kelas mereka yang meraih kemenangan.
''Kita menang, Ji.'' ucap Desi dengan wajah yang sumringah.
''Kamu hebat, terima kasih sudah berjuang bersama.'' balasnya.
''Terima kasih juga, Ji.'' balas Desi
Setelah pertandingan selesai, Adji dan Desi langsung menghampiri teman-temannya yang berada di gedung itu.
Ucapan selamat mereka terima dari satu persatu teman-temannya yang disana.
''Gara-gara kehebohan kalian nih, haha.'' ujar Desi.
''Sengaja biar lawan grogi.'' balas teman Desi.
''Eh, tapi, kelas sebelah juga heboh kok. Untung aja Desi sama Adji kokoh dan terpercaya, jadinya nggak goyah.'' timpal teman lainnya.
''Di pikir kita ini semen kali yak.'' protes Adji yang langsung di sambut gelak tawa.
Pertandingan hari ini selesai pada siang hari. Pas sekali cuaca hari ini lumayan cerah, sehingga membuat tenggorokan semakin kering.
Selesai bertanding, Adji dan Desi sudah berpisah dan bergabung dengan masing-masing teman akrabnya. Namun, Desi yang masih keringetan memilih untuk beristirahat di depan kelas sembari menunggu angin.
''Ya ampun ... kasian banget sih partner aku.'' ujar Adji yang langsung duduk di sebelah Desi.
''Panas tau.'' balas Desi lalu menekuk kakinya.
Desi selonjoran di depan kelas dan menyandarkan punggungnya di tiang koridor. Tangan kanannya pun memegang sobekan kardus air mineral untuk kipas-kipas.
Di pandang mata, Desi sangat mengenaskan karena seperti anak hilang, hahaha.
''Nih minum sama kue.'' ujar Adji menyodorkan sesuatu di tangannya.
Adji memberikan air mineral dingin dan juga kue untuk Desi agar kembali bertenaga. Apalagi melihat pasangannya itu duduk selonjoran seperti orang hilang, membuatnya menatap kasihan dan juga ingin tertawa.
''Kamu di liatin orang-orang, Des. Kayak orang hilang tau nggak?''
Sedari tadi banyak murid-murid mondar mandir melewati koridor. Desi hanya bertugas menyapa dan membalas sapaan mereka.
''Masih kayak, Ji. Belum hilang beneran.''
''Eh, astaghfirullah ... nggak boleh bicara yang tidak-tidak. Harus ngomong yang baik-baik, ucapan adalah do'a.'' imbuh Desi mengoreksi ucapannya sendiri.
Melihat ekspresi Desi mengatakan sendiri dan mengoreksi perkataannya sendiri, membuat Adji tertawa.
''Minum dulu, Des. Tenggorokan kamu pasti sudah kayak sawah di musim kemarau.''
''Ah, iya tau aja. Btw, terima kasih banyak nih kue dan minumnya, sangat bermanfaat.'' ucap Desi lalu meneguk air mineral itu lebih dulu.
''Oke, sama-sama partner kesayangan.'' balas Adji diikuti senyumnya.
Dua muda mudi itu mengobrol banyak dengan topik perbincangan yang tidak kemana-mana, yaitu masih seputaran bulutangkis. Apalagi besok akan bertanding di babak final, tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, mereka harus bermain habis-habisan walaupun masih level satu sekolahan. Karena, juara sejati itu adalah dia yang selalu serius menjalaninya tanpa meremehkan lawan dan level permainan.
Desi terus berbicara banyak dengan menatap lurus ke depan, sampai tidak menyadari orang di sebelahnya itu menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Manis."
"Ha? apanya yang manis, Ji?" tanya Desi setelah mendengar suara lirih Adji.
"Hah? e, itu kuenya manis, 'kan?" Adji yang salah tingkah langsung mencari alasan, untung saja Desi sedang menggigit kue darinya.
"Oh, iya manis, kayak aku kan? haha''
__ADS_1
Adji tersenyum tipis melihat gadis di depannya itu yang tengah tertawa karena candaannya sendiri.
"Iya, kamu manis, Des." ujar Adji dalam hati.