Diam-diam Suka Dia

Diam-diam Suka Dia
DDSD 14 : Saya Pasti Akan Bertanggungjawab


__ADS_3

Mereka berempat duduk di kursi, wasit yang tadi bertugas mendekati Desi dan menanyakan keadaannya.


''Sakit banget ya, Des?'' tanya guru tersebut.


''Lumayan, Pak hehe''


''Dasar kamu ini, masih saja cengengesan.''


''Masih lebih sakit kalau dicampakkan, Pak, hihi.'' canda Desi.


Desi kembali cengengesan yang kemudian ia tahan.


Guru tadi menggeleng lagi mendengar candaan Desi.


''Di bawa ke tempatnya bu Mida saja, beliau tukang pijat langganan yang bisa membenarkan otot-otot kram.''


''Pernah dengar, tapi, dimana itu rumahnya, Pak?'' tanya Desi.


''Satu kampung sama aku.'' sahut Pras.


''Nah, itu Pras tau. Tanggung jawab Pras, itu karena perbuatanmu, lho.'' ujar pak guru lalu tertawa.


"Iya Pak, saya pasti akan tanggung jawab." jawab Pras lalu ikut tertawa pelan.


Sementara Adji terlihat langsung tersenyum yang dipaksakan. Meskipun itu hanyalah candaan, tapi, ntah kenapa perasaannya tidak suka.


''Jadi, langsung sekarang nih Pak ke tempatnya bu Mida?'' tanya Desi.


''Nggak, kamu bisa nunggu bulan ke tiga belas tanggal 33.'' jawab guru tersebut.


Desi langsung tertawa terbahak-bahak seakan-akan tidak merasakan sakit. Begitu juga dengan teman-teman lainnya. Guru yang satu ini memang cukup humoris saat berhadapan dengan murid-muridnya. Selain itu, dirinya juga merupakan bujang berusia matang. Untuk itu, Desi sering becanda jika berjumpa dengan salah satu guru tersebut. Tapi, tidak dengan guru lainnya yang dikenal sulit untuk menerima candaan.


Beberapa orang dari murid-murid dan beberapa guru menghampiri Desi. Memastikan gadis itu tidak mengalami cedera parah.


Setelah memastikan Desi masih terlihat baik-baik saja, satu persatu pergi meninggalkan gedung tersebut karena pertandingan sudah selesai.


''Bisa aja Pak hehe ... 33 kan umur Bapak sekarang.'' ujar Desi lalu menutup mulutnya.


Pak guru tersebut langsung melotot ke arah Desi.


''Maaf Pak ... ngomong-ngomong, terima kasih ya Pak atas rekomendasinya. Do'akan saya ya Pak.'' ucap Desi.


''Yaaa.'' jawab guru tersebut.


Berhubung acara di gedung tersebut sudah selesai, beberapa orang sudah meninggalkan gedung tersebut. Bagi yang menggemari olahraga bulutangkis ada yang menempatinya untuk berlatih.


Desi berjalan dengan di papah oleh Yulia menuju depan, sedangkan Adji dan Pras masih mengambil motornya masing-masing.


''Des, beneran kamu cedera?'' tanya Siska yang tiba-tiba berlari lalu menghadang temannya itu.


Siska mendapatkan tugas mengurus konsumsi, sehingga tidak sempat menonton jalannya pertandingan. Ia mendapatkan kabar dari teman lain yang menonton.


''Nggak kok, keseleo dikit, amaan.'' jawab Desi.


''Jangan bilang aman, Des. Katanya mau main di level yang lebih tinggi, cepat di obati.'' ujar Siska


''Iya ini mau di bawa ke tempat bu Mida.''

__ADS_1


''Oh ya, ya ... dulu kakakku habis kecelakaan dibawa ke tempat beliau.'' ujar Siska.


''Do'akan nggak kenapa-kenapa ya.'' pinta Desi


''Pasti.'' balas Siska.


''Maaf aku nggak ikut antar kamu, Des.'' sambungnya.


''Nggak papa, semangat tugasnya. Ada Yulia kok.''


Desi dan Yulia duduk di kursi yang ada di depan gedung tersebut sembari menunggu Adji dan Pras mengambil motor yang ada di tempat parkir.


Tak lama kemudian, kedua laki-laki itu datang dengan jenis motor yang berbeda.


''Ayo Des.'' kata Adji.


Desi tampak bingung karena Adji membawa motor besar. Dia mengalami kesulitan untuk naik kesana.


''Sama aku aja, kayaknya kamu kesulitan naik motornya Adji.'' ujar Pras dengan motor maticnya yang berwarna hitam.


''Ha?''


Desi berpaling menatap Pras dengan mulut terbuka karena terkejut.


Demi apa Pras menawarkan diri untuk memboncengnya. Desi sampai melongo mendengarnya.


"Oh, Desiiiiiii, Pras hanya sedang bertanggung jawab, jadi stop berpikir dia memiliki perasaan lebih." bathin Desi merutuki dirinya sendiri.


''Emm.''


Dengan terpaksa, Adji tetap tersenyum tipis melihat Desi di bonceng oleh teman lainnya.


''Ji, bonceng Yulia.'' ujar Desi.


''Iya.'' jawab Adji.


Pras yang sudah turun terlebih dulu dari motornya membantu agar Desi duduk dengan baik di jok motornya bersama dengan Yulia karena Desi duduk menyamping. Sedangkan Adji cukup melihat mereka tanpa berbicara apapun.


Tas Desi dibawakan oleh Yulia yang sekarang sudah nangkring di jok motor besar milik Adji.


"Pelan-pelan Pras." seru Yulia.


"Iya-iya." jawab Pras.


Desi menatap Pras dari belakang lalu beralih menatap Yulia dengan senyum tipis.


"Chemistry mereka cukup bagus." bathinnya.


Ke empatnya langsung menuju rumah bu Mida setelah diberikan izin dari pihak sekolah.


Lebih lima belas menit mereka tiba di kediaman bu Mida. Kebetulan pintu rumahnya terbuka dan dipastikan orangnya juga masih ada di rumah, karena terkadang ada pasiennya yang mengundang datang ke rumah.


Mereka sengaja mengendarai motornya tidak ngebut, kalau biasanya Pras bisa nggak sampai sepuluh menit untuk tiba di sekolahan.


Setelah menghentikan laju motornya di halaman rumah bu Mida, Pras turun terlebih dulu karena hendak membantu Desi.


"Nggak papa, Pras. Bisa kok." ujar Desi.

__ADS_1


Adji dan Yulia yang berada di belakang pun menyusul. Yulia langsung turun dari motor dan membantu Desi.


"Assalamu'alaikum." ucap Pras.


"Wa'alaikumussalam"


"Oalah Pras, tak kirain siapa, masuk-masuk." sambut wanita itu.


Semuanya langsung dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu.


"Kenapa ini?" tanya wanita itu melihat kaki Desi.


"Ini Bu, kami tadi lagi main bulutangkis." jawab Pras.


Desi pun juga ikut menjelaskan atas apa yang ia rasakan. Dan kemudian ia diminta untuk duduk selonjor di bawah yang ada di ruangan khusus bu Mida saat menangani pasien. Ruangan itu cukup lebar dan bersih, ada dipan, lemari kecil dan juga toilet, sehingga mirip ruangan pasien di rumah sakit.


Dengan ditemani Yulia, Desi meluruskan kakinya. Bu Mida mulai memijit dengan pelan.


Desi menggigit lengannya agar tidak mengeluarkan suara, karena itu sangat sakit.


"Mamaaakkk!!!" seru Desi yang akhirnya tidak bisa menahan.


Pras dan Adji yang masih menunggu di ruang tamu pun langsung berlari ketika mendengar teriakan Desi yang menggelegar itu.


"Kenapa Des?" tanya Pras dan Adji bersamaan di tengah pintu.


Bu Mida malah tertawa. "Nggak papa, cuma kesakitan sedikit."


"Sedikit?? enak aja, ini sakit bangeettt!" teriak Desi dalam hati.


Tiba-tiba ponsel Adji berdering. Ia pun langsung izin menjawab.


Tidak lama kemudian, Adji kembali lagi, Pras sudah berada di ruang tamu.


"Kenapa Ji?"


"Pras, kayaknya aku nggak bisa nunggu Desi, ada kabar pamanku meninggal." ujar Adji.


"Turut berdukacita ya, Ji."


Adji mengangguk. "Terima kasih."


"Jadi, kamu mau pulang sekarang?" tanya Pras.


"Iya Pras, mau gimana lagi. Tolong panggil Yulia dong."


Setelah dipanggil, Yulia langsung menghampiri di ruang tamu dan mendengarkan kabar dari keluarga Adji.


"Kejauhan dong kalau mbakku jemput aku kesini, tadi aku nggak bawa motor." ujar Yulia.


"Nginep disini aja." usul Pras.


"Nggak mau." tolak Yulia.


"Kalau gitu, aku ikut kamu aja, Ji. Aku turun di sekolahan."


Adji pun menyetujui saja, ia langsung berpamitan dengan Desi dan bu Mida.

__ADS_1


__ADS_2