
Hari demi hari, nanti malam rombongan kelas XII akan melakukan perjalanan ke tempat wisata yang ada di provinsi ini. Yang pertama akan dikunjungi adalah museum, dan dilanjutkan ke pantai. Pihak sekolah sengaja mengambil bukan akhir pekan, karena sudah pasti tempat wisata sudah mulai sangat ramai.
''Jaket sudah, handuk sudah, baju ganti sudah, underwear sudah, perlengkapan mandi sudah, mukena sudah, cemilan sudah, obat-obatan sudah, bantal leher sudah, tisu sudah''
Desi menyusun barang-barang tersebut diatas kasurnya, ia tak ingin ada yang tertinggal satu pun, jadi persiapan itu harus dimatangkan lagi.
Satu tas ransel, 1 tas gendong kecil, dan 1 tas tenteng yang ia gunakan untuk wadah cemilan.
Di tengah persiapan itu, ponselnya berdering dan ada panggilan video masuk. Desi meliriknya, nama Adji tengah memanggil.
Desi segera mengambil dan menjawab.
''Assalamu'alaikum Adji Pangestu!'' seru Desi.
''Hahaha, nggak pakai Pangestu, Desi Ratnasari!!''
''Eh, wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh sayangku, hahaha....'' lanjut Adji yang langsung tertawa ketika mendapat tatapan tajam dari Desi.
''HEH, NGAWUUR!!!'' protes Desi.
''Canda Beb, haha''
''Eh, Des, jadi berangkat nanti malam?'' tanya Adji.
''In syaa Allah, Ji, ini lagi siap-siap.'' jawab Desi yang merubah kamera belakang dan memperlihatkan persiapannya itu pada Adji.
''Anj*y malah disuruh lihat daleman, haha''
__ADS_1
Adji kembali terbahak-bahak, untung saja kedua orangtua Desi sedang tidak ada di rumah karena menghadiri acara pernikahan di desa sebelah, yang juga masih keluarga. Mereka hadir lebih awal karena nanti malam akan mengantarkan Desi ke sekolahan.
Desi cepat-cepat mengembalikan ke kamera depan, ia lupa bahwa perlengkapan yang akan ia bawa masih berjejer di luar tas, termasuk underwear.
''Heyy, LUPAKAN! AKU NGGAK SENGAJA, ADJII!!'' protes Desi.
Adji masih berusaha menghentikan tawanya.
''Ya, yaaa, semoga nanti malam perjalanan kalian lancar-lancar ya.'' ucap Adji.
''Aamiin ya Allah.'' jawab Desi sembari menyandarkan ponselnya ke meja belajarnya.
''Gimana latihannya, Des? apa masih lancar?'' tanya Adji.
''Ya, Alhamdulillah masih kok.'' jawab Desi.
''Masih sering latihan sama Yulia juga?'' tanya Adji.
Tidak terasa obrolan mereka sudah lebih dari 30 menit.
''Des.''
''Hem, apa?'' jawab Desi.
''Gimana soal Pras? apa sudah ada kemajuan?'' tanya Adji.
Desi langsung mengernyitkan keningnya. Dari mana Adji mengetahui soal ini.
__ADS_1
''Maksudnya?'' tanya Desi masih butuh lebih jelas lagi.
''Des, aku tau kok kalau selama ini kamu diam-diam suka sama Pras, kayak selama ini aku diam-diam suka sama kamu.'' jawab Adji.
Deg!
Jantung Desi langsung berdetak kencang. Ia menyadari perasaan Adji, tapi, memang perasaannya hanya sebatas teman biasa.
''Maaf Ji,'' ucap Desi.
''Tidak masalah, kita memang cocok berteman seperti ini, Des, lebih plong dan lebih nyaman.'' jawab Adji.
''Gimana?'' tanya Adji lagi.
Desi terdiam menunduk. Ia tidak tau harus menjawab apa, selama ini ia sudah tidak saling komunikasi Pras, hanya sekedar menyapa ketika berpapasan.
''Kamu tau dari mana, Ji?'' tanya Desi.
''Sikap kamu menunjukkan semua itu, Des.'' jawab Adji.
''Tapi, aku nggak mau berharap apapun, Ji. Setelah Pras memastikan aku sembuh, kita sudah nggak pernah lagi komunikasi. Dan, sepertinya dia sama Yulia memang ada hubungan spesial, apalagi kalau dilihat-lihat mereka itu cukup mirip. Katanya, jodoh itu mirip.'' jelas Desi.
Adji hampir tertawa, tapi, ia langsung menutup mulutnya.
''Eh, ngapain kamu ketawa? seneng banget lihat temannya jadi sadgirl!'' protes Desi.
''Haha, enggaaaak, bukan gitu, Desiiii ... apapun itu, kamu pasti akan bahagia dan selalu bahagia.'' balas Adji.
__ADS_1
''Aamiin ya Allah.''
Obrolan mereka berakhir ketika Desi mendengar suara motor yang menandakan kedua orangtuanya sudah pulang.