Diam-diam Suka Dia

Diam-diam Suka Dia
DDSD 29 : Sungguh Aneh


__ADS_3

Desi membuka pesan satu persatu dari tiga temannya itu, di mulai dari pesan Siska yang paling pertama. Temannya itu menanyakan apakah dia berangkat sekolah atau tidak.


Ternyata bukan hanya Siska, pertanyaan yang sama di kirim oleh Pras dan Adji. Mereka menawarkan diri untuk menjemput Desi dan berangkat ke sekolah bersama.


''Kalau Pras sudah jelas karena dia merasa bertanggungjawab.'' bathin Desi.


''Adjiii??''


''Ah, mungkin cuma pertanyaan basa basi.'' tebaknya dalam hati.


Desi membalas pesan dari kedua teman laki-lakinya itu dengan mengatakan bahwa ia berangkat bersama Siska.


''Maaf.'' gumam Desi.


Ponsel itu ia letakkan di atas meja. Desi lanjut bersiap-siap supaya nanti saat Siska datang, ia sudah siap untuk berangkat ke sekolah.


Pukul 07.15 WIB, Siska dan Desi tiba di sekolahan. Suasana sudah cukup ramai. Hal yang paling membuat kurang nyaman adalah saat hendak lewat, malah banyak anak laki-laki nongkrong memenuhi perlintasan itu. Seketika ingin putar balik atau berputar lewat jalan lain.


''Ceweekk, suit ... suiiit.'' goda murid laki-laki itu.


''Apa, cowok!'' seru Desi.


Perkembangan kakinya sudah lebih baik lagi. Jadi, meskipun masih belum bisa berjalan dengan sempurna, sudah terlihat lebih baik daripada kemarin-kemarin.


''Jangan galak-galak, Des.'' goda temannya itu lagi.


Desi malas merespon, ia sudah berlalu begitu saja. Sisi lain dari ceria yang di miliki oleh Desi adalah ia anak gadis yang cukup galak pada lawan jenis, terutama untuk yang tidak begitu akrab. Desi hanya bisa terlihat ramah pada laki-laki yang memang sudah kenal baik. Misalkan saja teman-teman satu kelasnya.

__ADS_1


''Dia itu galak, jutek, tapi, ternyata lucu juga.'' bathin seseorang yang baru saja datang.


Sekolahan sudah terlihat full, murid-murid sudah masuk ke dalam kelasnya masing-masing untuk menerima pelajaran di jam pertama hari ini.


Satu persatu guru yang bertugas di jam pertama pun sudah mendatangi kelasnya masing-masing.


''Selamat pagi ... assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh'' ucap guru tersebut.


''Pagiiii, Buuuu.''


''Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh''


Para murid pun menjawab dengan serempak. Jam pertama hari ini di isi dengan mata pelajaran matematika. Pelajaran yang membuat otak Desi serasa ingin lepas dari kepala. Mata pelajaran yang menurut Desi paling sulit.


Desi paham ketika guru menerangkan, tapi, saat jam pelajaran selesai, seketika apa yang baru saja diterangkan oleh guru, ikut pergi bersama guru tersebut. Sungguh aneh, tapi, itulah kenyataan yang Desi rasakan.


''Sudah, Buuu.''


''Jangan sekarang, Buu.''


Murid-murid saling menyahut tentang pekerjaan rumah yang ditugaskan pada minggu lalu. Seperti pada biasanya, selalu ada saja yang belum mengerjakan tugas dari guru.


''Ibu kasih PR-nya sudah dari satu Minggu yang lalu, lho ... jadi, tidak ada alasan kenapa belum mengerjakan PR.''


''Kumpulkan buku ulangan harian kalian di meja Ibu, setelah itu ada tugas lagi yang harus kalian kerjakan.'' ujar guru tersebut dengan tegas.


''Untungnya sudah di kerjakan ya, Sis.'' bisik Desi.

__ADS_1


''He'em.'' balas Siska sembari mengeluarkan buku ulangan hariannya itu.


Murid yang belum mengerjakan tugas dari gurunya itu langsung garuk-garuk kepala. Karena ia benar-benar tidak mengerjakan. Sudah sering mendapatkan hukuman dari guru-guru yang berbeda, tetapi masih saja di ulangi. Kali ini, guru matematika itu tidak memberikan ampun.


''Untuk yang tidak mengerjakan PR, silahkan bersihkan toilet sekolahan sampai benar-benar bersih!'' seru guru tersebut.


''Yaahh, Buu, saya kerjakan sekarang deh.'' tawar murid itu.


Desi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu.


''Ibu tugaskan pada kalian untuk kerjakan tugas itu di rumah dan hasilnya dikumpulkan sekarang. Waktunya sudah dari satu minggu yang lalu, jadi, sekarang Ibu kasih pilihan ... rambut kamu Ibu potong atau bersihkan toilet sekolahan dalam waktu 30 menit?!'' tegasnya.


''Yaahh, Buu.'' tawarnya lagi.


Guru tersebut mengambil sesuatu dari dalam map besarnya.


''Ibu sudah siapkan gunting.'' tegas guru tersebut.


''Iya, Bu, saya bersihkan toilet sekarang.'' jawab murid itu yang langsung keluar dari kelas.


Guru tersebut langsung menarik nafas panjang. Menjadi seorang guru memang harus memiliki stok sabar yang sangat luas.


''Kalau kalian mau seperti temanmu itu, ya silahkan tidak usah kerjakan tugas!''


''Tidak mau, Buu.''


Guru tersebut memulai pelajaran hari ini. Tugas yang di kumpulkan akan diperiksa nanti saat di kantor, karena sudah pasti memerlukan waktu yang lama.

__ADS_1


__ADS_2