Diam-diam Suka Dia

Diam-diam Suka Dia
DDSD 23 : Tugas Mengartikan Peribahasa


__ADS_3

Kedua pasangan itu menerima hadiah, sama-sama kotak yang terbungkus oleh kertas kado. Hanya ukuran kotaknya saja yang membedakan. Adji dan Desi saling berbisik dan bertanya-tanya mengenai isi dari kotak tersebut.


''Kayaknya jajanan nih.'' ujar Adji.


''Kayaknya sih iya.'' jawab Desi setuju.


Mereka foto bersama di nomor podium masing-masing. Setelah itu, lanjut bergabung menjadi satu di podium 1. Adji dan Desi berpindah untuk gabung bersama Pras dan Yulia. Kedua remaja itu pun langsung bergeser untuk memberikan ruang pada Adji dan Desi.


''Isinya bom kali ya, hihi.'' canda Yulia.


''Bisa jadi, Yul.'' jawab Desi.


Keempatnya berpose dengan senyum yang lebar sampai gigi terlihat. Tidak ada medali ataupun piala. Tetapi sederhana seperti ini sudah membuat mereka sangat senang. Ada yang menjadi kenang-kenangan yaitu piagam penghargaan. Kelak bisa dijadikan bukti pada anak cucunya. Begitulah yang ada dibenak Desi.


Gemuruh tepuk tangan kembali terdengar. Keempatnya turun dari podium setelah selesai berfoto bersama-sama dengan banyaknya yang diambil.


Siska mengacungkan jempol pada Desi, bahwa ia sudah berhasil mengambil video dan banyak gambar.


Gedung yang tadi ramai, kini kembali sepi karena murid-murid sudah kembali ke kelas masing-masing.


''BAGI DONG HADIAHNYA!'' seru salah satu teman Desi.


''Sabaaarrrr!'' jawab Desi tak kalah menaikkan volume suaranya.


Adji meletakkan kardus itu di atas meja. Semua masuk ke dalam kelas karena penasaran apa isinya, kecuali yang anggota osis dan tidak ikut lomba, mereka sudah tau.


Adji membuka kertas kado itu, di dalamnya kardus air mineral kemasan.


''Bimsalabim isinya apa, hayooooo!'' seru Desi.


''Buruan Des!''


''Lah? kita yang dapat hadiah, situ yang nggak sabaran.'' protes Desi.


Huuuuuuuu


Sorak lainnya saat melihat Fian, murid bandel itu banyak protes. Tapi, remaja laki-laki itu sudah tebal telinga dari sekian banyaknya protes dan teguran yang ia terima.


Adji membuka kardus tersebut, dan isinya sesuai dengan apa yang mereka tebak, makanan ringan.


''Bisa rata nih.'' ujar Adji.


Anggota osis yang menjadi panitia rupanya sudah paham kalau hadiahnya pasti akan ditagih oleh teman-teman sekelasnya, sehingga mencari yang bakal bisa dibagi rata.


''Sabar, sabaarr.'' ujar Desi sembari membagikan jajanan itu agar merata. Ia sudah mirip sebagai petugas pembagian sembako.


''FOTO DULU, GUYSS!!'' seru Fian.

__ADS_1


Ia mengambil ponsel dari dalam sakunya dan berdiri paling depan. Semua siap menghadap ke arah kamera.


Dengan senyum lebar sembari menunjukkan jajanan itu, cekrek cekrek. Sekitar sepuluh kali pengambilan gambar dengan berbagai pose. Meskipun menyebalkan, Fian memiliki sisi yang seru kalau lagi waras. Sehingga banyak yang merasa sepi kalau tidak ada dia di kelas.


''Nanti tak share di grup ya guys yaaa.'' seru Fian lalu pergi dari kelas. Ia melenggang pergi sembari membuka bungkus makanan ringan itu dan memakannya sembari berjalan.


Semua bubar setelah mengucapkan terima kasih pada Adji dan Desi. Mereka ada yang duduk di depan kelas, ada yang pergi ntah kemana, ada yang kembali ke bangku masing-masing. Sedangkan Adji dan Desi, tetap duduk di bangkunya. Lebih tepatnya bangku Desi dan Siska. Kebetulan Siska sedang sibuk, jadinya Adji belum pergi.


''Des, kaki kamu benar-benar baik-baik aja, 'kan?'' tanya Adji.


''Iya, kenapa emangnya?'' balas Desi.


''Tadi 'kan kamu berdiri cukup lama, jalan dari kelas kesana, balik lagi, itu lumayan. Aku khawatir, Des.'' jawab Adji.


Desi tertawa kecil lalu menggigit wafer roll itu.


''Sweet banget sih partner andalanku. Aku nggak kenapa-kenapa kok, sekalian latihan gerak juga.'' ujar Desi.


Siska yang sudah selesai menjalani tugasnya sebagai anggota osis pun kembali ke kelas. Ia mengomel sendiri karena lelah.


''Capek aku, capeekk! capek hati! capek pikiran!'' omelnya.


''Kenapa sih ayang? ngomel terus?'' tegur Desi.


''Kenapa Sis?'' timpal Adji yang sedari tadi masih menemani Desi.


''Minggir, Ji. Tempatku ini.'' usir Siska.


''Iyaaa, sabar.'' jawab Adji kemudian beranjak.


Dengan sangat terpaksa, Adji harus pindah karena pemilik bangku sudah datang.


''Iniiii.'' ujar Desi menyerahkan dua bungkus snack itu pada Siska.


''Hahaha, paham deh.'' balas Siska sembari menerima pemberian Desi.


Siska langsung membuka kemasan itu dan menggigitnya. Meskipun menjadi panitia, ia tak kebagian jatah yang sama dengan peserta lomba.


Pagi ini belum ada pelajaran, tapi, sudah ada informasi bahwa jam 11 nanti mulai pelajaran seperti biasa setelah beberapa hari diisi dengan kegiatan memperingati hari Pekan Olahraga Nasional.


Beberapa murid yang kurang menyukai pelajaran hanya bisa menggerutu karena tidak sekalian libur belajar.


''Nanggung banget sih.''


''Bilang aja malas belajar.'' protes teman lainnya.


Jam 11 siang tidak lama lagi, Desi dan Siska tidak ke kantin. Sekalian nanti saja pada jam istirahat kedua karena waktunya lebih panjang.

__ADS_1


Seorang guru masuk dengan langkah yang gagah. Guru senior di sekolahan tersebut, sudah mengabdi sejak awal sekolahan itu berdiri. Dari jaman guru tersebut masih status lajang dan kini sudah memiliki dua anak dari satu istri saja.


''Kalian pasti mikirnya nggak ada pelajaran, 'kaan?'' ujar guru tersebut yang sudah bisa menebak isi pikiran murid-muridnya.


Sehingga gelak tawa pun langsung terdengar karena yang dikatakan oleh guru tersebut memang benar adanya.


Sebelum memulai pelajaran, guru tersebut mengabsen murid-muridnya terlebih dahulu. Ada dua murid yang tidak hadir tanpa keterangan. Juga tidak ada yang tau mereka sedang ada urusan apa atau sedang sakit.


Pak Tama memulai pelajaran bahasa Indonesia. Ada yang semangat menyimak, ada yang mulai menguap dan susah dihentikan. Yang ada semakin berjalannya mata pelajaran, kedua mata semakin lengket.


''Sekarang, tugas yang harus kalian kerjakan adalah mengartikan perihabasa yang ada di halaman 95.'' ujar pak Tama dengan tegas.


Para murid pun langsung membuka buku masing-masing halaman 95. Ada 20 soal perihabasa yang harus diartikan. Beberapa menggaruk kepala karena tidak menyimak dengan baik saat pak Tama menjelaskan.


''Waktu 30 menit dari sekarang, kalau sudah selesai, kumpulkan di meja Bapak.'' ujar pak Tama.


''Baik Paaaaakkk''


Pak Tama melangkah maju, mengawasi murid-muridnya yang tengah mengerjakan tugas itu.


''Hayoooo, kerjakan masing-masing, jangan bisik-bisik.'' tegur pak Tama pada murid yang sedang berbisik-bisik.


''Iya Paak, ini masih dikerjakan.'' jawab murid itu.


Selesai berkeliling, pak Tama kembali ke kursi guru. Kedua matanya tetap menatap mengelilingi seluruh ruang kelas untuk mengawasi.


''Sepuluh menit lagi! ayo-ayo tidak usah tanya kanan kiri!'' serunya.


''Isshh, pak Tama nih bikin panik murid.'' gerutu Siska.


Desi yang mendengar gerutuan dari Siska pun langsung menyenggol lengan teman sebangkunya itu. Siska langsung terdiam, ia menggaruk kepalanya dengan pena.


''Bismillah, benar atau salah, yakin aja.'' bathin Desi.


Desi sudah menyelesaikan soal-soal itu. Ia menoleh ke arah belakang untuk melihat jam dinding. Masih ada waktu lima menit lagi, ia langsung berdiri dan maju ke depan.


''Sudah?'' tanya pak Tama.


''Sudah Pak.'' jawab Desi.


''Bagus ... semoga jawabannya tidak asal-asalan.'' balas pak Tama yang justru membuat Desi takut.


Desi hanya nyengir karena bingung mau jawab apa lagi.


''Ayo yang lain, mana?? tiga menit lagi!'' seru pak Tama.


Satu persatu murid-murid sudah mengumpulkan buku di meja guru. Hingga tak terasa waktu sudah mendekati jam istirahat kedua, atau bertepatan dengan waktu shalat dzuhur.

__ADS_1


Suara sirine dari kantor sekolah sudah dibunyikan tanda jam pelajaran selesai. Adji membantu pak Tama membawakan tumpukan buku-buku tersebut ke kantor.


__ADS_2