
Setelah melalui beberapa kali seleksi, akhirnya nama-nama yang akan mengikuti lomba pun sudah di pilih oleh wali kelas.
Desi bersama dengan salah satu temannya yang bernama Adji terpilih sebagai ganda campuran mewakili kelas mereka. Sekarang latihan mereka pun lebih keras demi kelas masing-masing.
Setiap hari Desi pulang sore karena harus latihan terlebih dahulu bersama teman-temannya itu. Sedangkan Siska yang tidak mengikuti lomba apapun jadinya ia pulang terlebih dulu, dan Desi diantar oleh pasangannya, yaitu Adji.
Latihan tiga lawan tiga segera dimulai, Desi sudah siap dengan posisinya sebagai play maker atau pemain depan. Latihan terlihat seru dan juga serius. Bukan hanya diandalkan sebagai pemain depan, rotasi pemain harus berjalan dengan baik. Terkhusus untuk perempuan yang sering menjadi incaran lawan.
''MANTAP!'' seru Adji setelah melayangkan satu smash kerasnya dan tidak berhasil ditangkis oleh temannya itu.
''Serasa jadi Mohammad Ahsan, ya bro haha.'' seru Ricko yang gagal menangkis smash keras dari Adji.
''Asli, hahaha'' balas Adji bangga karena sangat mengidolakan sosok Mohammad Ahsan itu. Atlit spesialis ganda putra sebagai penggebuk, yang saat ini berpasangan dengan Hendra Setiawan. Gelar-gelar yang sudah diraihnya pun sangat banyak.
''Istirahat dulu!'' seru Adji.
Latihan pun berhenti, semuanya duduk selonjoran di tepi lapangan sembari meneguk air mineral dari botolnya masing-masing. Mereka saling mengoreksi permainannya.
''Penggebukku nih Bosss, haha.'' canda Desi seraya menepuk pundak Adji.
''Playmaker-ku nih Bosss, haha.'' balas Adji.
Di lapangan sebelah juga di pakai untuk berlatih kelas lain, tetapi, karena waktu sudah sore, kelas Desi memilih untuk menyudahi latihan hari ini.
''Kita wajib berlatih lebih keras, tapi, jangan sampai melupakan kesehatan ya.'' ujar Adji bijak.
''Siap ketua.'' jawab Desi.
Adji tertawa, begitu juga dengan yang lain.
''Besok lagi, semangat.''
Semua merapikan raket dan shuttle cock yang selesai digunakan. Setelah melihat lapangan kembali rapi, mereka meninggalkan gedung tersebut. Tak lupa juga menyapa kelas lain yang masih berlatih.
Karena teman yang biasanya bersama sudah pulang lebih dulu, Desi pulang di antar oleh Adji. Teman yang rumahnya tidak searah, tetapi keduanya tinggal di desa yang sama.
''Pacarmu siapa sih, Des?'' tanya Adji sedikit berteriak karena bersimpangan dengan kendaraan lain.
''Masih dalam rencana Tuhan, Ji.'' seru Desi kemudian terkekeh.
''Haha bisa ae.'' sahut Adji.
''Berarti jomblo dong.'' ledek Adji.
''Jangan keras-keras kali Jii, nanti ketahuan orang-orang bahaya.'' balas Desi.
''Bahaya kenapa?''
''Nanti banyak buaya pada ngantri, haha''
Belum sempat Adji membalasnya, sepeda motor yang dikendarai oleh Adji sudah berhenti di halaman rumah Desi.
''Makasih ya, Ji.'' ucap Desi.
''Sama-sama, semangat ya untuk kelas kita.''
Adji mengangkat tangannya memberikan semangat.
''Siap partner andalan.'' balas Desi optimis lalu mengajak tos kepada Adji.
Adji menyambut tos dari Desi.
''Ya sudah aku pulang dulu.'' pamit Adji.
''Oke bro.'' balas Desi.
__ADS_1
''Desi, aku bukan buaya!'' seru Adji terus berlalu tanpa menunggu jawaban dari Desi.
Desi mengernyitkan dahi. Sesaat kemudian langsung masuk ke dalam rumah tanpa memusingkan perkataan temannya yang memang beberapa kali terlihat mendekatinya, tetapi ia merespon dengan biasa saja layaknya pada teman lainnya.
Desi meletakkan perlengkapan bulutangkisnya dengan rapi. Perlengkapan itu ia dapat tidak mudah, harus menabung sekian waktu dan akhirnya terkumpul untuk membeli raket yang layak. Itupun masih ditambahi oleh bapaknya.
Desi bersyukur, hobinya itu di dukung oleh kedua orangtuanya. Sehingga ia tak perlu merasa sedih. Karena banyak sekali anak-anak yang memiliki hobi dan impian diluar akademis. Tapi, orang-orang disekitarnya tidak peduli atau pura-pura tidak peduli. Kehidupan dikampung rata-rata orang sukses harus yang mengenakan kemeja. Sehingga selalu di tuntut untuk berjalan yang tidak disukainya.
''Capek?'' tanya mamak Desi.
Desi yang bersandar di kursi plastik yang berada di dapur itu langsung menoleh.
''Nggak Mak, ini mau lanjut marathon 50 KM.'' celetuk Desi.
''O... baguslah, semangat ya.'' ledek mamaknya.
Desi tidak menjawab lagi. Mamaknya ini memang sangat spesial, selain mudah terpancing emosi, mamaknya juga suka becanda.
Setelah cukup berkurang keringat yang dihasilkan dari berlatih bulutangkis. Desi langsung membersihkan badannya agar lebih segar.
-
Desi, mamak, dan juga bapaknya duduk di ruang tengah. Menonton televisi sembari menunggu adzan Maghrib.
''Gimana latihannya, Des?'' tanya bapak.
''Alhamdulillah lancar, Pak. Karena semakin dekat jadi harus lebih giat lagi.'' jawab Desi.
''Yang penting tetap jaga pola hidupnya. Fisiknya harus bagus, jangan sampai cedera.'' ujar bapak mengingatkan.
''Iya Pak.'' jawab Desi.
Desi membuka buku pelajaran tentang kearsipan, materi khusus di jurusan yang ia ambil.
Setelah merasa cukup belajar malam ini, Desi menutup buku-buku pelajarannya. Sekarang beralih ke buku pribadinya yang berisikan tentang kata-kata indah yang sering ia rangkai saat hujan turun.
''Apa aku bisa bermain dengan baik di perlombaan nanti?''
''Dari sembilan kelas, kira-kira apa aku bisa ya bertemu dengan Pras di final gitu.'' khayal Desi.
Desi memandang halaman bukunya yang kosong, ia belum menulis apapun.
''Semangat Desi, pasti bisa, yakin dengan dirimu sendiri!'' gumam Desi bersemangat.
Desi membuang nafas ke udara. Bagaimana pun juga, faktor nonteknis dapat mempengaruhi kondisi permainan. Skill yang mumpuni, jika faktor nonteknis lebih menguasai diri, maka yang terjadi permainannya tidak akan maksimal. Akan banyak keraguan dalam mengolah permainannya. Desi harus bisa mengatasi hal itu, jangan sampai skill yang ia miliki tidak terlihat.
Desi kembali menutup bukunya. Ia berganti beralih ke ponsel untuk menonton video pertandingan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang berhadapan dengan pemain asal China, yaitu Zhang Nan dan Zhao Yunlei.
''Mereka benar-benar hebat banget.'' komentar Desi.
''Gokiiilllll.''
Tak terasa tontonan itu sudah berakhir, Desi menutup ponselnya dan lanjut istirahat.
°°
''Pak, Siska izin.'' ujar Desi.
''Oh iya, nanti Bapak pulang jam tujuh.'' balas bapak.
Bapak selalu ke kebun setelah shalat Subuh dan hanya menyeruput kopi beserta cemilan. Terkadang jam 8 pulang untuk sarapan atau membawa bekal saat ke kebun satunya yang tempatnya lumayan jauh.
''Ok Pak.'' jawab Desi.
Bapak sudah meninggalkan rumah. Desi bergegas menyapu lantai di setiap ruangan yang ada di rumahnya, tidak sampai ke rumah tetangga juga. Selain malu, seperti orang kurang kerjaan.
__ADS_1
Jam 06.30 WIB, Desi segera mandi lalu bersiap-siap dengan seragam senamnya, karena ini hari Jum'at, jadinya langsung memakai kaos olahraga untuk mengikuti senam rutin setiap Jum'at pagi.
''Duhai cintaku, sayangkuuuu.''
Desi menyisir rambutnya sembari bernyanyi, meskipun suaranya sangat fals, ia tetap nekat bernyanyi di dalam kamarnya sendiri, tidak untuk di depan orang lain. Karena bisa menurunkan harga sembako, eh salah, maksudnya menurunkan harga dirinya.
''Sayangkuuu ... dia nggak sayang aku, sakit tapi tidak berdarah ......''
Lirik yang dinyanyikan oleh Desi semakin tidak terarah, bahkan nadanya pun ntah masuk kemana. Nyanyian itu berakhir pada deheman.
''Heemmmmmm... heeemmmmm...''
Bayangan Pras seperti hadir dicermin lemarinya, ia tersenyum sendiri, kemudian mengusap wajahnya agar tersadar.
''Sarapan Des!'' seru mamak sembari membuka pintu kamar putrinya itu.
''Ya Allah Mak, bikin kaget aja.''
''Iya bentar lagi Mak.'' ujar Desi.
''Jangan lama-lama, nanti bapakmu keburu pulang.''
''Iya Maaakk.''
Mamak kembali menutup pintu kamar Desi yang tidak dikunci itu. Desi langsung mengusap dadanya sendiri.
Di sekolah
Desi mencium punggung tangan bapaknya setelah turun dari boncengan.
''Belajar yang rajin.'' ujar bapak.
''Siap Pak.'' jawab Desi.
Suasana sekolah sudah ramai, berbagai macam motor yang dikendarai murid-murid berdatangan dan menuju tempat parkir yang biasanya.
''Siska mana?''
''Ya Allah Adji! bikin jantungan aja!'' protes Desi.
''Hehe maap-maap, kok jalan kaki?'' tanya Adji.
''Siska izin, aku tadi di antar sama bapakku, Ji.'' balas Desi.
''Ohhh, izin kenapa Siska? sakit?'' tanya Adji lagi.
''Duuhh sweetnya ... perhatian banget, cie cieee.'' balas Desi menggoda temannya itu.
Keduanya mengobrol sembari menuju kelas. Adji sudah tiba di sekolahan terlebih dahulu.
''Cemburu ya??'' goda balik Adji.
''Hahahaha kepedean! nggaklah. Siska ada acara keluarga di kota katanya, dia sudah diizinkan langsung sama ayahnya ke kepala sekolah.''
Senyum Adji tiba-tiba menciut.
''Ohh gitu.'' balasnya.
Desi hanya mengangguk. Gadis yang selalu menampakkan keceriaannya itu memang selalu berhasil terlihat ceria.
''Duluan ya Ji, mau siap-siap senam.''
''Ohh, iya-iya.'' balas Adji dengan tersenyum tipis. Ia diam mematung, menatap gadis yang meninggalkannya itu.
Desi berlari ke dalam kelasnya, memasukkan tas ke dalam laci lalu kembali keluar kelas dengan cepat. Ia ikut menyusun perlengkapan untuk senam.
__ADS_1
Semua murid sudah siap untuk mengikuti senam pagi ini. Sebelum senam di mulai, para guru-guru dan beberapa anggota osis mengatur barisan murid-murid agar rapi.
Senam siap di mulai, barisan depan tentu yang sudah mahir dalam gerakan senam. Barisan tengah selalu mencontoh barisan depannya. Sedangkan barisan belakang bergerak semau mereka.