
Pras celingukan di ruang tamu. Tadi menunggu Desi sembari bermain game online bersama dengan Adji, sedangkan sekarang sendirian.
"Pras!" seru bu Mida.
"Iya Bu." jawab Pras dan langsung bergegas menemui bu Mida.
"Ada apa, Bu?" tanya Pras ketika sudah dekat.
"Nggak ada apa-apa, ngobrol aja disini, daripada kamu juga sendirian di depan." ujar bu Muda
"Oh, iya Bu." jawab Pras.
"Kayaknya nanti kamu bakal jadi omongan orang-orang lho, Pras." ujar bu Mida.
Desi langsung menatap bu Mida dan Pras secara bergantian.
"Memangnya kenapa Bu?" tanya Desi.
"Memangnya saya kenapa, Bu?" timpal Pras yang juga bertanya-tanya. Karena ia tidak merasa melakukan perbuatan yang mengganggu ketertiban masyarakat.
"Lha kamu belum pernah kelihatan bonceng cewek lho, Pras, haha." jawab bu Mida yang diikuti gelak tawanya.
Desi langsung menatap tak percaya.
"Ah, masa sih, Bu?" balas Pras malu.
Bu Mida justru tertawa lagi karena melihat Pras yang malu.
''Yang bener aja, Pras belum pernah bawa cewek?'' bathin Desi.
Gadis itu menyembunyikan senyum tipisnya.
"Memangnya rumah kamu dekat sini, Pras?" tanya Desi.
"Iya, jalan kedua dari jalan raya." jawab Pras.
"Berarti tadi ngelewatin dong?" tanya Desi.
Pras mengangguk.
Desi baru memahami apa yang dimaksud oleh bu Mida. Menjadi perbincangan di masyarakat rasanya hal yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Apalagi yang dikatakan oleh bu Mida bahwa Pras belum pernah terlihat membawa perempuan. Tidak seperti pada anak-anak muda pada umumnya.
"Jangan sampai tetangganya Pras mikir kita habis yang macam-macam." bathin Desi.
"Ajak mampir ke rumahmu, Pras." goda bu Mida.
"Tidak-tidak!" seru Desi.
Lagi-lagi bu Mida tertawa melihat kedua anak remaja yang tampak malu-malu ini.
**
Hari ini hari Minggu, ada waktu untuk Desi mengistirahatkan tubuh setelah menjalani perlombaan yang berakhir dengan sedikit cedera. Dan harus puas dengan hasil akhir sebagai runner-up.
__ADS_1
Kemarin Pras mengantarkannya pulang ke rumah setelah sekalian seluruh badan Desi di pijit. Pada saat menunggu, Pras pun izin pulang ke rumahnya. Ia tidak tau harus berbuat apa di rumah bu Mida. Bahkan saat perjalanan mengantarkan Desi, keduanya juga tidak melakukan percakapan apapun.
Namun, Pras mengantarkan Desi ke rumah dengan rasa tanggung jawab. Ia meminta bertemu langsung dengan orang tua temannya itu. Pras juga mengatakan yang sebenarnya dan siap untuk menanggung biaya sampai kaki Desi benar-benar sembuh.
Bapak dan mamak Desi pun memaklumi karena itu murni musibah. Tidak ada yang secara sengaja untuk melukai putrinya itu.
Siska juga sudah mengunjungi Desi setelah pulang dari sekolah kemarin.
''Sudah nggak papa, namanya juga belum rezeki untuk jadi juara. Sudah sampai di final kan bukan hal yang mudah.'' ujar bapak menyadarkan lamunan Desi.
Bapak tau putrinya itu sangat mengharapkan sebuah juara. Namun, tetap saja jika takdir belum memihaknya untuk menjadi juara, manusia harus tetap menerima.
Desi tersenyum tipis.
''Aku nggak sedih kok, Pak, hehe''
''Gimana kakimu?'' tanya bapak.
''Sudah baikan kok, Pak. Cuma keseleo aja ini.'' jawab Desi sembari menggerak-gerakkan kakinya.
''Alhamdulillah kalau sudah baikan.'' ucap bapak.
Desi masih belum bisa berjalan dengan lancar. Tapi, ia sudah merasakan sakitnya berangsur-angsur berkurang setelah kemarin dibuat menangis oleh bu Mida.
Ya, andaikan mereka hidup di tempat yang sudah memiliki fasilitas lengkap, mungkin kondisinya bisa langsung diperiksa pada ahlinya.
Namun, bagaimana pun juga, Desi lahir dan tumbuh menjadi gadis remaja di kampung ini. Kampung yang memiliki banyak kesan terindah. Kampung yang akan selalu ia rindukan kalau suatu saat nanti memiliki kesempatan untuk hidup di tempat yang jauh.
''Desi ... sarapan dulu.'' seru mamak dari belakang.
Desi masih duduk di kursi rotan ruang keluarga. Mamaknya melakukan aktivitas sendiri karena melarang Desi untuk membantu.
Desi menuju meja makan berbahan kayu dan berukuran lebar itu. Sangat khas dengan masyarakat perkampungan jaman dulu, karena meja tersebut memang sudah dibuat sejak dirinya belum lahir.
''Terima kasih Mamakku yang cantik, kesayangan bapak.'' ucap Desi lalu menggoda mamaknya.
''Ngawur!'' protes mamak yang malu-malu ketika anaknya menggoda.
Desi tertawa pelan, dia sangat senang melihat ekspresi mamaknya ketika sedang di goda seperti ini. Tapi, kalau sama bapak, Desi tidak memiliki keberanian.
''Mamak mau ikut ke ladang bantuin bapakmu nanam singkong, biar cepat selesai. Kalau mau makan, lauknya ada di rak paling atas, ditutup baskom.'' ujar mamak memberi pesan.
Rutinitas orangtuanya memang di kebun. Mamak tidak setiap hari membantu bapak, tapi, untuk hal-hal tertentu, bapak mengajak mamak agar ada yang membantu.
''Iya, Mamakku.'' jawab Desi.
''Cie-ciee berduaan.'' goda Desi lagi sambil mengunyah makanannya.
''Ngawur!'' protes mamak lagi dan langsung ke belakang.
Mamak dan bapak sudah berangkat ke kebun, Desi sendirian di rumah. Setelah sarapan, ia hanya bingung mau ngapain. Sedari tadi hanya melatih kakinya.
''Karena cedera, akhirnya aku bisa sedekat itu sama Pras.'' gumam Desi. Bibirnya tersenyum tipis, membayangkan momen kebersamaan kemarin.
__ADS_1
Desi kembali duduk tegak setelah bersandar. Tiba-tiba ia teringat teman-temannya itu.
''Kenapa Pras kalau sama Yulia bisa terlihat akrab? bahkan chemistry mereka bagus saat berpasangan. Tapi, ke cewek-cewek lain, Pras terlihat dingin?'' gumam Desi bertanya-tanya.
Desi kembali mengingat Pras. Laki-laki itu hanya akan berbicara dengan lawan jenis ketika memiliki keperluan saja.
''Apa jangan-jangan mereka ituuuu??'' tebak Desi.
Desi menyandarkan kepalanya lemas. Ia sudah menduga bahwa Pras dan Yulia memiliki hubungan yang lebih.
''Nasibmu, Deeessss!'' gumam Desi meratapi nasibnya.
''Bahkan mereka terlihat mirip kalau pas lagi senyum.''
''Issshhhh!!'' desisnya.
Desi semakin dibuat sedih dengan dugaan-dugaan yang ia dapatkan itu. Apa ini tandanya dia harus mundur sebelum berperang?
Tok tok tok
''Assalamu'alaikum''
Desi langsung terperanjat ketika mendengar suara ketukan dan salam itu.
"Awh!" rintihnya karena kakinya terasa sakit.
''Salah dengar nggak, sih?'' gumam Desi celingukan ke jendela ruang keluarganya.
''Assalamu'alaikum''
Tok tok tok
Suara ketukan dan salam kembali terdengar. Kali ini Desi bisa lebih fokus.
''Di ruang tamu kayaknya.'' gumam Desi.
Desi berjalan pelan dengan kondisi kakinya yang belum sembuh.
''Motornya Pras?'' gumam Desi melihat motor di luar sana dari dalam ruang tamu.
Dengan mempercepat langkahnya yang susah itu, Desi langsung membukakan pintu.
''Wa'alaikumussalam.'' jawab Desi setelah pintu terbuka.
Desi masih berdiri dengan memegangi handle pintu. Ia terkejut dengan kedatangan Pras.
''Desi.'' panggil Pras.
''Eh, iya, masuk.'' balas Desi lalu membuka pintu ruang tamu dengan lebar.
''Terima kasih.'' balas Pras.
Desi bergeser sedikit untuk memberikan jalan pada Pras agar masuk ke ruang tamu.
__ADS_1
Apa kabar jantung Desi?
Tentu saja sedang tidak baik-baik saja.