Diam-diam Suka Dia

Diam-diam Suka Dia
DDSD 11 : Malah Jadi Overthinking


__ADS_3

Desi kembali ke rumah dengan kondisi yang sudah kucel dan bau keringat.


''Assalamu'alaikum.'' ucap Desi.


Pintu rumahnya dalam keadaan terbuka, sehingga ia langsung masuk tanpa harus ketuk-ketuk terlebih dulu.


''Wa'alaikumussalam.'' jawab mamak dari dari dalam yang masih dengan kegiatan favoritnya di waktu istirahat dari aktivitas sebagai ibu rumah tangga, yaitu menonton drama ku menangis.


Meskipun yang katanya menonton televisi untuk mencari hiburan, pada kenyataannya justru malah terbawa emosi oleh alur ceritanya. Ntah dimana letak nilai hiburannya, Desi belum menemukan itu, yang penting mamak bahagia.


Desi mencium punggung tangan mamaknya, sedangkan bapaknya mungkin masih istirahat siang setelah menjalani aktivitas di kebun dari pagi hingga siang menjelang dzuhur.


''Langsung mandi.'' suruh mamak.


''Iya Mak.'' jawab Desi.


Desi langsung masuk ke dalam kamar setelah meletakkan sepatu pada tempatnya. Sepatu termahalnya yang khusus ia beli untuk pertandingan ini. Harga memang membawa rupa, sepatu khusus ini sangat nyaman digunakan selama ia mengikuti lomba.


Tas yang tidak berisi buku pelajaran itu ia letakkan di meja, isinya hanya dua buku kecil dan peralatan tulis karena memang sudah dipastikan tidak ada mata pelajaran selama perlombaan belum selesai.


Pakaian untuk ganti sudah ia bawa ke dalam kamar mandi. Waktu dzuhur akan segera habis. Ia sengaja tidak menjalankan shalat di masjid seberang sekolahannya karena pakaian yang ia kenakan sudah sangat bau keringat, begitu juga dengan badannya.


''Sepatunya di lap sekarang apa nanti ya?'' bathin Desi tengah mempertimbangkan.


Desi sudah menenteng sepatu kebanggaannya itu untuk dibersihkan, supaya besok saat tampil di final akan terlihat bersih dan lebih pede dalam bermain.


''Ah, nanti aja deh, nanti keburu habis waktu shalatnya.''


Desi meletakkan kembali sepatu itu, hanya kaos kakinya yang ia bawa untuk di rendam terlebih dahulu.


--


Saat Desi baru keluar dari kamar selesai shalat Dzuhur, bapaknya juga terlihat sudah bangun.


Waktu siang menjelang sore menunjukkan pukul 14.20 WIB.


''Gimana Des? lolos nggak?'' tanya bapak yang selalu menantikan informasi tentang perlombaan yang sedang diikuti oleh anak gadisnya itu.


''Alhamdulillah Pak, kita menang.'' jawab Desi sumringah.


Bapak langsung tersenyum lebar setelah mendengar jawaban itu. Suatu kebanggaan tersendiri untuk di pertandingan pertama putrinya itu.


''Alhamdulillah, semoga besok lebih baik lagi mainnya.'' ujar bapak memberi pesan.


''Siap Pak.'' jawab Desi.

__ADS_1


''Istirahat yang cukup.'' ujar bapak lagi.


''Iya Pak.'' jawab Desi.


"Jangan begadang mainan hp." sahut mamak.


"Iya Mamaaakk." jawab Desi.


--


Malam menjelang tidur, niat hati ingin cepat-cepat istirahat agar besok bangun pagi badan dan pikiran lebih fresh. Tapi, kenyataan yang Desi lakukan justru hanya berguling-guling ke kanan dan kiri karena efek pikirannya terus tertuju pada hari esok.


Jam di ponselnya masih menunjukkan jam 21.00 WIB, Desi sengaja ingin tidur cepat supaya besok bangunnya juga bisa lebih cepat dari biasanya. Tapi, justru malah mengalami kesulitan.


Desi yang sudah rebahan akhirnya kembali duduk dan membuka ponselnya. Ponsel yang tadinya sudah ia ubah ke mode pesawat kini diaktifkan lagi datanya.


''Tenang dong, Des ... jangan gugup terus kayak gini.'' gumam Desi dalam hati.


Berkali-kali ia menarik nafas panjang agar rasa gugupnya berkurang. Masih saja belum berkurang rasa gugupnya.


Terlihat beberapa notifikasi masuk di ponselnya. setelah data di aktifkan. Ada pesan dan juga pemberitahuan dari sosial medianya.


''Adji.'' gumam Desi.


~Des, lagi sibuk nggak?~


~Desi~


2 panggilan tak terjawab


~Sudah tidur ya? ya sudah sorry ya🙏 semangat buat besok💪~


Desi tersenyum membaca pesan dari temannya itu, kemudian membalasnya.


~Maaf Ji, tadi niatnya memang mau tidur cepat, eh ternyata malah susah~


Baru beberapa detik Desi mengirimkan balasan pesannya, sudah terlihat tanda pesan itu dibaca.


"Lah, belum tidur juga anak ini." gumam Desi setelah melihat tulisan mengetik dibawah nama Adji.


~Nggak papa, aku juga malah jadi overthinking hehe~


Desi kembali menyandarkan tubuhnya pada dinding sembari membaca pesan tersebut.


~Ternyata begini ya rasanya ikut lomba, baru juga lawan satu sekolahan sendiri~

__ADS_1


~Pokoknya yang penting kita semangat dan terus kompak ya, Ji~


Desi mengirimkan dua pesan pada Adji untuk saling memberikan semangat.


~Terima kasih Des, semangat💪~


Saling mengirim pesan itu Desi akhiri setelah ia mulai merasakan kantuk. Tak lupa ia kembalikan ke mode pesawat.


--


Semalam Desi benar-benar bisa tidur setelah sudah lewat jam 12 malam. Ia terus gusar dalam pikirannya memikirkan hari final. Karena bukan hanya permainannya saja yang ia pikirkan, tetapi juga lawan yang akan berhadapan dengannya. Desi terus menerus merasa khawatir jika tidak bisa fokus di pertandingan.


Alarm membangunkan Desi sebelum waktu subuh. Setelah shalat Subuh, Desi melakukan olahraga pagi dengan lari di sekitar rumahnya.


Tiga puluh menit Desi melakukan olahraga pagi. Setelah itu ia kembali ke rumah untuk membantu mamak yang pastinya sedang sibuk di dapur.


''Kok sudah pulang?'' tanya mamak.


''Iya Mak, yang penting sudah keluar keringat.'' jawab Desi lalu duduk di kursi plastik dengan kaki di luruskan.


Desi menuangkan air mineral dari teko plastik itu ke dalam cangkir yang juga berbahan sama. Sekali tegukan langsung habis, dan ia menuangkan lagi.


Setelah itu, Desi membantu mencuci bekakas yang sudah kotor dan menumpuk di tempat cucian. Tidak banyak yang ia cuci, hanya beberapa yang habis digunakan, karena setiap selesai makan malam, Desi langsung mencucinya.


Satu pekerjaan selesai, Desi beralih menyapu lantai di dalam rumah. Untuk halaman rumah sudah ia sapu kemarin sore, masih terlihat bersih.


''Buruan mandi, nanti temanmu datang kamu belum siap.'' seru mamak memberikan peringatan pada putrinya.


''Iya Mak, ini bentar lagi.'' balas Desi nggak kalah menaikkan volume suaranya karena berjauhan supaya mamak mendengar jawabannya.


Selama mengikuti lomba ini, Desi berangkat di jemput oleh pasangannya, yaitu Adji. Hal itu juga sudah di sampaikan pada Siska yang biasanya selalu mengantar jemput Desi.


Desi meletakkan kembali sapu itu ke tempat semula, lalu bersiap-siap untuk membersihkan badan.


--


Desi menatap dirinya sendiri di dalam cermin. Ia siap untuk bermain di final hari ini. Ia optimis membawa juara untuk kelasnya.


''Jangan grogi, jangan gugup, jangan malah baper.....,'' gumam Desi dalam hati.


''Ok, mantap!!''


Desi mengambil tasnya untuk di bawa ke kursi, sedangkan ia akan mengisi perutnya terlebih dulu agar nanti kuat menerima smash dari ayang, eh maksudnya dari lawan.


Desi menikmati sarapannya di dapur. Sedangkan bapaknya ada di depan sedang mengasah gergaji legendnya. Pria paruh baya itu tidak ke kebun dulu, sengaja menunggu putrinya berangkat ke sekolah.

__ADS_1


__ADS_2