
Pras langsung duduk di kursi kayu, namun, ada busanya itu.
''Des, kamu nggak duduk?'' tanya Pras menyadarkan lamunan Desi yang masih berdiri di ambang pintu.
''Oh, iya, hehe''
Dengan langkahnya yang masih kesulitan, Desi menuju kursi dan duduk disana.
''Sendiri?'' tanya Desi memulai percakapan. Yang sebenarnya dia tidak tau akan berbicara apa.
''Iya sendiri, memangnya kenapa?'' tanya Pras.
''E ... nggak ngajakin Yulia?'' balas Desi bertanya.
''Nggak, lagi sibuk dia. Lagian rumah kita jauh, aku disana ... dia disana ..,'' jawab Pras menunjuk arah rumah yang berbeda.
Desi hanya menjawab dengan ''Ohh''
''Bahkan Pras tau kalau Yulia lagi sibuk.'' bathin Desi semakin sedih dan yakin tentang hubungan kedua temannya itu.
''Oh, ya, ini titipan dari ibuku. Dan aku tadi mampir beli buah disana.'' ujar Pras menunjuk dua kantong plastik yang ia letakkan di atas meja.
''Nggak usah repot-repot, tapi, terima kasih banyak untuk semua ini.'' ucap Desi diikuti senyumnya.
Pras mengangguk.
''Eh, apa tadi? ibu? ibumu tau kalau kamu mau kesini?'' tanya Desi setelah tersadar.
Pras mengangguk lagi.
''Iya, kemarin pas dari antar kamu pulang, aku cerita sama ibuku soal final. Dan aku yang sudah membuat kakimu cedera.'' terang Pras.
''Terus ... apa kata ibumu?'' tanya Desi penasaran.
''Eh, bentar jangan dijawab dulu, Pras.'' cegah Desi.
''Sebentar.''
Desi langsung beranjak dari kursi dan berjalan ke belakang.
''Dia sukanya apa ya? kopi? teh? susu? air dingin?''
''Kalau ditanyakan dulu, pasti jawabannya nggak usah repot-repot.'' bathin Desi.
Akhirnya Desi membuatkan teh dan juga air mineral kemasan gelas plastik yang sudah ia dinginkan untuk ia suguhkan.
Desi membawa nampan ke depan. Saat tiba di pintu antara ruang tengah dan ruang tamu, Pras langsung bergegas mengambil alih benda yang Desi bawa.
''Eh! jangan Pras, nggak papa biar aku aja.'' tolak Desi.
__ADS_1
Pras tetap memaksa dan akhirnya Desi melepaskan benda itu.
''Aku kira kamu mau ke toilet. Nggak perlu repot-repot, Des.'' ujar Pras setelah meletakkan nampan itu ke atas meja.
Benar 'kan tebakan Desi kalau responnya pasti nggak usah repot-repot.
''Nggak repot kok, silahkan di minum, tapi, masih panas. Ada yang dingin juga.'' ujar Desi.
''Terima kasih.'' ucap Pras lalu kembali duduk.
Desi pun mengangguk dan menyusul kembali ke tempat duduknya yang semula.
"Maaf tadi sempat terputus, jadi, apa tanggapan ibumu?" tanya Desi.
"Pastinya khawatir dan meminta anaknya supaya tidak lari dari tanggung jawab, kemarin pas aku pulang memang belum cerita. Jadi baru sempat cerita pas dari antar kamu pulang." jawab Pras sedikit tertawa karena teringat pada memintanya untuk tanggung jawab seolah sudah menghamili anak orang.
Desi mengangguk-angguk, ia senang dengan rasa khawatir yang diberikan oleh ibu dari seseorang yang ia sukai.
"Baiknya calon ibu mertua, hihi." bathin Desi.
"Astaghfirullah! sadar Des, sadaaarr!!" rutuk Desi masih di dalam hati
''Oh, ya, orangtuamu kemana kok kayak sepi?'' tanya Pras.
''Bapak sama mamakku lagi ke kebun, nanam batang singkong.'' jawab Desi.
''Ohh''
Desi langsung mengontrol ekspresi wajahnya agar tidak tampak sedang membathin.
''Oh, ini kenapa di anggurin, sih..,'' ujar Desi lalu membuka kantung plastik di atas meja.
''Ini beneran ibumu yang ngasih?'' tanya Desi penasaran.
Pras mengangguk. ''Iya, kenapa memangnya? kamu nggak percaya ya?'' tanyanya.
''Bukan ... bukan nggak percaya, tapi, ini banyak banget.'' jawab Desi lalu mengeluarkan isinya.
''Maaf, karena aku nggak menyuguhkan apapun, jadi, ini bisa menjadi teman teh.'' ujar Desi membuka kemasan roti.
''Nggak papa, lagian aku kesini hanya untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja. Karena bagaimanapun juga, aku sangat merasa bersalah atas kejadian kemarin, Des.'' jelas Pras.
Desi mengangguk paham, ia tau dan sadar. Sikap ini tak lebih hanyalah bukti rasa tanggung jawab Pras.
''Kamu nggak perlu terus-terusan dihantui rasa bersalah, Pras. Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, 'kan?'' ujar Desi tetap tersenyum.
''Gimana aku mau mengiyakan kalau kamu baik-baik saja? sedangkan aku lihat kakimu belum bisa berjalan dengan baik, Des.'' balas Pras.
Desi langsung terdiam.
__ADS_1
''Kaki kamu adalah aset yang berharga. Ya, bukan hanya kaki, tapi, pasti dengan kaki yang sehat, kita bisa kemana-mana.'' imbuh Pras.
Desi mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
''Apakah yang dihadapanku ini benar-benar Pras yang ku cintai secara diam-diam? kalaupun iya, kenapa dia terlihat berbeda dengan Pras yang ku kenal selama ini? ohh ... Desi, sadarlah, dia milik Yulia.'' bathin Desi akhirnya kembali tersadar.
"Dan, kamu harus bersyukur karena Yulia tidak marah karena Pras sudah melakukan ini." imbuhnya yang masih tetap di dalam hati.
''Terima kasih, Pras. Tapi, aku benar-benar tidak papa, jadi jangan larut dalam rasa bersalah.'' pinta Desi lalu tersenyum.
Pras mengangguk. ''Terima kasih.''
''Silahkan diminum, kayaknya sudah hangat.'' ujar Desi mengalihkan pembahasan.
Pras mengangguk lagi, ia langsung meminum teh yang dibuat oleh Desi untuknya.
Desi membuka juga kantong plastik satunya yang berisikan buah-buahan, lalu mempersilahkan pada Pras.
Sebelum mendatangi kediaman Desi, Pras mampir di toko buah yang ada di desa tempat tinggal Desi. Pras membeli beberapa macam, ada apel, jeruk, dan juga kelengkeng. Ntah kebetulan atau memang sudah tau, buah kelengkeng sangat di sukai oleh Desi, sedangkan jeruk menjadi favorit bapaknya. Kalau mamak, apa saja dimakan selagi itu halal.
''Btw, terima kasih banyak. Ini kesukaanku dan ini kesukaan bapakku.'' ucap Desi menceritakan.
''Wah, pas banget dong kalau gitu, syukurlah.'' balas Pras dengan tersenyum.
Desi memulai mengambil satu buah kelengkeng dan mengupasnya. Pras tampak senang karena tidak salah memilih dalam membeli buah.
''Sebentar aku ambilkan pisau buat ngupas apelnya.'' ujar Desi.
''Eh, jangan, nggak usah, Des. Aku makan ini aja, itu buat orangtuamu nanti.'' cegah Pras.
Desi pun kembali merapikan duduknya. Tidak ada obrolan yang panjang diantara mereka. Hanya perbincangan yang sangat canggung.
''Pras, nanti sampaikan ke ibumu, aku berterima kasih sebanyak-banyaknya.'' ujar Desi.
''Iya, nanti aku sampaikan.'' jawab Pras.
Keduanya kembali saling terdiam.
''Kamu sering main badminton, ya?'' tebak Pras saat sorot matanya menuju luar jendela.
Desi pun mengikuti arah pandangan Pras.
''Kadang-kadang sih, suka mainan sama anak-anak sekitar sini.'' jawab Desi.
Pras kembali menghadap Desi.
''Pantesan permainan kamu sangat baik, karena sering berlatih.'' puji Pras.
''Ah, itu karena Adji yang mainnya bagus, jadi aku kebawa dan kekuranganku ketutup.'' balas Desi terasa gugup.
__ADS_1
Pras langsung berdiri dan berlutut di depan Desi.