Diam-diam Suka Dia

Diam-diam Suka Dia
DDSD 7 : Demi Kelas Kita


__ADS_3

Rapat osis untuk membentuk panitia dalam memperingati hari Pekan Olahraga Nasional sedang berjalan.


''Karena aku juga ikut salah satu lomba, maka, ketua panitia pelaksanaan lomba ini ku serahkan ke Ricka selaku wakil osis dan kebetulan tidak mengikuti lomba.'' jelas Pras dengan tegas.


Nama yang disebutkan juga sudah berdiri tegak disebelahnya.


Meskipun bernama Ricka yang terdengar girly, tetapi Ricka selalu berpenampilan tomboy. Badannya tinggi semampai dengan rambut pendek seleher, hidungnya mancung, tapi, mancung ke dalam. Ia memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam mengekspresikan dirinya. Karena penampilannya yang tomboy, ia kerap di panggil Ricko, padahal kelas lain sudah ada yang bernama Ricko dan laki-laki tulen. Biarpun penampilan tomboy, ia tetap tertarik dengan lawan jenis.


Ricka mengambil alih menjelaskan tentang susunan perlombaan sederhana di sekolahan mereka itu. Pertama yang ia tuliskan di white board adalah nama-nama anggota osis yang mengikuti lomba, lalu nama-nama anggota osis yang tidak mengikuti lomba. Sehingga memudahkan untuk nama-nama yang tidak mengikuti lomba dan segera dibentuk susunan panitia.


''Yak, hampir setengah dari anggota yang mengikuti lomba, jadi karena ini lomba internal sekolahan kita aja, kita nggak perlu cari tambahan. Kita pakai seadanya saja.'' tegas Ricka.


Semuanya pun setuju dengan apa yang diucapkan oleh Ricka. Usul-usulan nama untuk tugas masing-masing berlangsung. Setelah hampir satu jam berlalu, akhirnya susunan panitia sudah tersusun.


''Oke, panitia lomba sudah siap. Untuk peserta lomba semoga menghasilkan yang terbaik untuk kelasnya masing-masing.'' ujar Ricka memberikan semangat kepada semuanya.


°°


Latihan perdana serius bersama dengan seluruh nama-nama yang ikut dalam lomba cabang bulutangkis. Latihan di awasi langsung oleh dua guru olahraga yang di miliki oleh sekolah tersebut.


Dua lapangan badminton digunakan langsung. Semua sudah siap dengan raket andalannya masing-masing.


''Bisa!'' seru Desi lalu melakukan tos bersama pasangannya, Adji.


Adji menepuk pundak Desi memberikan semangat.


Tak di pungkiri, ketegangan itu menyelimuti Desi, meskipun masih latihan. Ia kerap menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan keras ke udara agar lebih plong.


Latihan perdana, Adji dan Desi berhadapan dengan kelas X. Yang bertugas menjadi umpire, service judge, dan hakim garis adalah teman-teman lain yang belum kebagian tempat.


Latihan sangat seru, Desi menggunakan waktu kesempatan latihan ini seperti bermain serius.


Setelah melakoni latihan pertandingan dengan waktu 41 menit, akhirnya sesi latihan dimenangkan oleh pasangan adik kelas dengan skor ketat, dua kali buangan shuttle cock terakhir dari Adji terlalu lebar dan dinyatakan keluar garis, sehingga point untuk lawan.


''Maaf Des.'' ucap Adji setelah murid lain yang bertugas sebagai hakim garis memastikan shuttle cock tersebut out.


''Nggak papa, nggak papa.'' jawab Desi memenangkan Adji yang merasa tidak enak.


''Aku akan latihan lebih giat lagi, Des. Demi ki- ... demi kelas kita.'' pungkas Adji dengan cepat.


''Mantap!'' balas Desi menunjukkan jempolnya.


Latihan hari ini untuk Adji dan Desi sudah selesai. Keduanya istirahat terlebih dulu sebelum nanti gantian bertugas.


''Kita harus menang di pertandingan asli. Maaf banget untuk erorku tadi.'' ucap Adji dengan rasa bersalahnya.


''Santai aja kali Ji, kayak sama siapa aja. Kamu juga udah coverin aku, lari sana sini buat nangkis bulu angsa itu, haha.''

__ADS_1


Adji langsung tertawa, dalam berpasangan memang harus seperti ini. Tidak ada yang boleh merasa paling benar, komunikasi yang paling utama.


''Adji, Desi! sebentar lagi waktunya kalian!'' seru salah satu teman mereka.


''Oh, ya ya!''


Mereka langsung meneguk air mineralnya masing-masing. Dan merapikan perlengkapan mereka sebelum bertugas.


''Udah seperti pak Jaohari Latif belum nih?'' canda Adji kepada Desi.


Jaohari Latif merupakan salah satu wasit badminton asal Indonesia yang sudah memiliki sertifikat badminton dunia. Tak heran jika saat kita melihat pertandingan badminton level atas, pasti ada sosok beliau. Sisi lain dari beliau, orangnya sangat menghibur dalam postingan di sosial media pribadinya.


''Mirip-miriplah dikit.'' balas Desi dengan menunjukkan ujung jari kelingkingnya.


''Yaahh, jauh dong kalau gitu.''


Hahaha


Keduanya sama-sama tertawa.


Adji bertugas sebagai wasit untuk sesi latihan kelas lainnya. Sementara Desi bertugas sebagai service judge.


Latihan pertandingan di mulai, Adji dan lainnya siap menjalankan latihan layaknya pertandingan yang sebenarnya.


--


''Anak-anak!"


"Ibu akan memberikan pengumuman penting, mengenai gebyar SMK yang sebelumnya akan dilaksanakan pada sebelum semester ganjil ternyata akan di undur pada bulan Februari tahun depan.'' ujar Bu Heny dengan tegas.


''Pas prakerin dong Bu?'' tanya salah satu murid.


''Iya benar, untuk itu seleksi nama-nama yang akan diikutsertakan dalam lomba pada gebyar SMK nanti akan diselesaikan sebelum semester dilaksanakan. Dan nama-nama yang lolos seleksi akan mendapatkan keringanan saat menjalankan tugas prakerin nanti karena harus menjalani sesi latihan.'' terang guru tersebut.


Tak ada yang protes, karena sejatinya mereka masuk ke sekolah memang harus siap dengan tugas-tugas yang diberikan. Termasuk juga mengenai jadwal yang memiliki perubahan.


''Jadi, kalian harus giat belajar. Yang bagian olahraga juga jangan bermalas-malasan untuk mendapatkan kesempatan ini.'' imbuhnya.


''Baik Buuuu.'' jawab seluruh murid yang ada di kelas itu.


Hasil rapat seluruh guru-guru sekolah menengah kejuruan beberapa waktu yang lalu menentukan waktu pelaksanaan gebyar SMK. Setelah sebelumnya pihak sekolah yang seharusnya menjadi tuan rumah mengirimkan email belum siap jika dilaksanakan dalam waktu dekat.


''Untuk lomba yang berkaitan dengan mata pelajaran, tentu saja aku menyerah. Tapi, bulutangkis??!! aku harus giat! aku mau ikut lomba! aku pasti bisaa!!'' bathin Desi.


''BISAA!!'' seru Desi keceplosan.


Setelah menyadari suara bathinnya lepas, Desi langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri.

__ADS_1


Semua murid langsung menatapnya heran, apalagi yang teman sebangkunya, mungkin telinganya sudah hampir lepas karena seruan Desi. Desi dibuat nyengir karena sikapnya sendiri.


''Hehehe maksudnya sekolah kita pasti bisa juara umum lagi seperti tahun sebelumnya.'' ujar Desi bersyukur mendapatkan alasan yang nyambung.


''Harus ya! kita harus optimis untuk mempertahankan itu. Dengan catatan harus lebih giat supaya nilainya lebih baik dari tahun lalu.'' respon guru tersebut.


''Baik Bu.''


°°


Beberapa hari ini Desi selalu aktif berlatih bersama teman-temannya yang lain, sampai seluruh tubuhnya merasa sakit-sakit, terutama di bagian punggung dan siku hingga pergelangan tangan kanannya.


Hari ini mamak memanggilkan tukang pijit yang nggak pakai plus-plus. Tukang urut wanita itu sudah lumayan senior di kampung ini dan dari kampung-kampung lain pun banyak yang menggunakan jasa urut beliau. Jika mendapati keadaan terdesak pun beliau bisa menangani wanita melahirkan. Tetapi, beliau tidak fokus kesana, apalagi sekarang di kampung-kampung sudah memiliki banyak tenaga kesehatan yang memiliki izin praktek. Untuk puskesmas dan klinik juga tidak terlalu jauh. Wanita itu lebih fokus ke pijit biasa.


''Ikut lomba opo lho Nduk Desi?'' tanya ibu itu. Tangannya masih bergerak membaluri punggung Desi dengan body lotion.


''Bulutangkis Bude, hehe.'' jawab Desi yang masih tengkurap.


''Oalah, dimana lombanya?'' tanyanya lagi.


''Di sekolahan aja Bude, lomba antar kelas. Soalnya memperingati hari olahraga.''


''Ooo gitu.''


''Iya hehe''


Desi tau, beliau juga tidak paham.


Mamak yang ikut duduk menemani Desi sedang di pijit pun memulai obrolannya. Dari membahas hasil kebun sampai terpancing untuk ghibah tentang orang lain.


Desi melirik mamaknya cukup tajam, ia tidak suka melihat mamaknya membicarakan orang lain, seakan-akan kita tidak mempunyai aib.


Memang tidak dipungkiri, setiap perkumpulan yang terjadi, ada saja pembahasan mengenai orang lain. Yang diam saja juga bisa terbawa karena bergabung dengan para tukang ngerumpi.


Mamak langsung diam setelah menyadari mendapatkan tatapan dari putrinya. Beliau mencoba mencari pembahasan lain. Membiarkan bude tukang pijit melanjutkan pembahasannya yang sedang asyik membicarakan tentang salah satu tetangga mereka. Jangan sampai kita ikut menimpali, cukup dengarkan saja apa yang di sampaikannya.


''Udah, enak ini buat latihan besok lagi.'' ujar tukang pijit itu.


''Terimakasih Bude.'' ucap Desi dan langsung bergeser.


Mamak mendekatkan nampan yang berisi teh hangat dan kue untuk disuguhkan kepada bude itu.


"Monggo Bude." ujarnya.


"Oh iya, terima kasih."


Desi yang sudah selesai di pijit pun pamit ke kamar. Sementara bude tukang pijit masih mengobrol dengan mamak. Tak lama kemudian, dari dalam kamar, Desi mendengar bude itu pamit.

__ADS_1


__ADS_2